Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Mau Kalau Tara Jadi Mamakmu?
"Tara! Malam nanti kita kepasar malam yuk" Ajak Buk Hayati memecah keheningan dapur. Tangan wanita tua itu terlihat cekatan mengulek bumbu untuk kuah bakso di atas cobek batu.
"Ngapain? Pasar malam dimana?." Tanya Tara. Matanya masih asik menscrol layar ponsel dan berbalas pesan dengan temannya di sebrang.
"Jalan-jalan, sekalian liat-liat,... barangkali ada barang bagus, di lapangan rumahnya Pak Gondo. Mau yah." Ajak Buk Hayati lagi memelas, berharap putrinya mau menemaninya keluar.
"Pergi sama bapak saja sana." Tolak Tara kentara sekali, malas keluar rumah di malam hari.
"Bapakmu juga pergi ko, hanya ibuk maunya jalan sama anak perempuan ibuk." Pinta buk hayati, tak terima penolakan begitu saja.
"Mbah sama aku saja ya." Seru Candra yang tiba-tiba keluar dari ruang tengah menuju dapur.
Buk hayati menoleh ke sumber suara, wanita tua itu tersenyum hangat. "Yaudah! Nanti kita perginya sama-sama ya." Ucap Buk Hayati lembut.
Tara mengerutkan dahinya, menatap bocah itu dengan pandangan heran. "Candra, kamu pergi sama bapkmu saja." Suruh Tara.
Dia merasa heran, Candra ini kupingnya tajem banget setiap ada pembicaraan mau pergi dia langsung mau ikut.
Candra menunduk, bocah itu langsung memasang wajah memelas, memanfaatkan belas kasihan nenek rakitannya. Buk hayati yang melihat raut sedih itu jadi tak tega...
"Wes to Tar, Candra mau ikutnya sama kita." Ucap Buk Hayati menengahi.
Tara semakin mengerutkan dahi, menatap ibunya dengan tatapan penuh kepasrahan. "Buk, sebenernya anak ibuk itu Tara atau Candra sih?" Tanya tara heran.
"Ya! Kamu Tar, Tapi... Candra sudah ibuk anggap seperti cucuk ibuk sendiri." Jawab Buk Hayati, jujur, dari dalam Hati.
"Kenapa ndak sekalian bilang, aku yang Nikah Sama Bapakmu Can! Biar sekalian jadi Mamakmu, Biar masuk." Jawab Tara julit lalu bangkit dari kursi jati meja makan, melangkah menuju arah kamar.
Buk hayati dan Candra yang mendengar kata-kata pedas sekaligus asal ceplos dari Tara hanya bisa saling pandang di tengah Dapur.
"Tadi Dia Bilang apa.Can?" Tanya Buk Hayati memastikan pendengarannya tak salah.
"Mak Tar bilang, kenapa ndak sekalian Mak Tar yang Nikah sama.Bapakku, biar sekalian jadi Mamakku." Jawab Candra sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, merasa sedikit salah tingkah.
Buk hayati tertawa geli mendengar jawaban jujur itu. "Ah bagus juga itu... Emang kamu mau, kalau Tara Jadi Mamakmu?" Tanya buk Hayati menggoda sang cucu.
Candra tersenyum malu-malu, menyembunyikan binar senang di matanya. "Mau-mau saja,..." jawab bocah itu polos.
Buk hayati tersenyum makin lebar. Tangannya terulur mengelus kepala bocah 12 tahun itu dengan penuh kasih sayang.
"Sudah! Sekarang bantu mbah nata mangkok di meja, kalau sudah panggil Mbah Kakung, sama bapakmu sekalian, kita makan siang pake Bakso Ayam. Mbah Uti yang buat." Ucap Buk.Hayati lembut.
Candra mengangguk cepat, dengan sigap bocah itu membantu Buk Hayati menyiapkan perlengkapan makan.
Tara yang kebetulan hendak mandi siang karna gerah melihat hal itu saat keluar kamar membawa handuk, tapi dia cuek saja... memang tipikal cewek judes bin bomat (bodo amat), itulah Tara. Segala hal di depannya di anggap tak menarik.
•♡•♡•♡•
Singkatnya malam hari, Buk Hayati, Pak Anton, dan Candra sudah bersiap rapi. Ketiganya sudah duduk menunggu di depan TV dengan sabar.
"Tara! Cepetan..." teriak Buk Hayati dari depan TV, suaranya melengking menembus pintu kamar.
"Iya sabar!" sahut suara dari dalam.
Klek, pintu terbuka menampilkan sang putri yang terlihat sudah bersiap keluar.
"Astagfirullah Tar! Kamu itu cewek loh, kok pake bajunya gitu sih?" Ucap Buk Hayati kesal setengah mati begitu melihat cara berpakaian Tara.
sukses slalu y 🫶🫶🫶