NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Transmigrasi: Demi Kekayaan, Aku Memilih Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.

Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.

Seharusnya ia ikut kabur.

Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.

“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”

Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sebastian berdiri mematung di depan meja kerjanya, jemarinya mengepal erat di tepi meja. Pesan yang baru saja diterimanya terus berputar di kepala, seakan menghantui setiap detik keheningan ruangan. Orang dari keluarga Arvienne. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menonjol samar menahan amarah yang mulai membara.

"Seharusnya sejak awal aku tak membiarkan hal ini berlarut-larut," gumamnya pelan, nada suaranya rendah namun penuh penekanan. "Sekarang justru semakin menjadi-jadi, padahal pernikahan ini bukan sekadar soal kita berdua."

Ia meraih ponsel di saku jasnya, jari-jarinya bergerak cepat di layar.

Sebastian: Cari tahu siapa orang di balik semua ini. Aku ingin seluruh identitasnya, beserta alasan di balik tindakannya. Tak ada satu pun yang boleh terlewat.

Tak lama berselang, balasan masuk.

Asisten: Baik, Tuan. Namun ada satu hal yang perlu Anda ketahui.

Sebastian: Apa itu?

Asisten: Orang yang membuat dokumen palsu itu menerima pembayaran melalui rekening perusahaan yang terdaftar atas nama keluarga Arvienne.

Tatapan Sebastian seketika berubah sedingin es. Bukan hanya satu orang. Seluruh pihak di keluarga Elena ternyata terlibat, sengaja merancang sesuatu untuk merusak pernikahan mereka.

Namun mengapa? Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besar, menatap langit-langit ruangan yang remang-remang. Pernikahan ini memang bukan sekadar penyatuan dua hati.

Ada alasan mendalam mengapa keluarganya begitu bersikeras menginginkannya, namun alasan itu belum boleh boleh diketahui Elena. Belum saatnya. Ia memejamkan mata sejenak, napasnya teratur namun berat.

"Semoga kau tidak ada hubungannya dengan semua ini, Elena."

 ***

Di kamar, Elena baru saja selesai mandi. Uap air masih membumbui udara, menyisakan aroma sabun yang lembut di ruangan itu. Ia mengenakan piyama sederhana berwarna krem, lalu duduk di depan meja rias, memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Matanya kemudian jatuh pada gelang berlian di pergelangan tangannya. Sentuhannya perlahan, seakan tak percaya benda bernilai itu kini menjadi miliknya.

"Benar-benar luar biasa..." gumamnya sambil tersenyum lebar. "Kalau hidup setelah menikah seperti ini, aku tak akan pernah mengeluh."

Ia menatap wajahnya sendiri lewat pantulan kaca. Kecantikan yang dimiliki tubuh ini sungguh nyata namun ia masih belum terbiasa. Terkadang rasanya seperti sedang melihat orang lain.

"Aku benar-benar berada di dunia lain..." bisiknya pelan. "Dan bahkan berhasil menikah dengan Sebastian Hale."

Pikirannya kembali melayang pada ucapan Sebastian tadi siang. Aku ingin memberimu sesuatu yang bisa kau pakai setiap hari. Tiba-tiba pipinya terasa hangat, perlahan memerah.

"Tidak!" Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir perasaan itu. "Jangan berlebihan, Elena. Dia hanya suamimu."

Kata itu terhenti di ujung lidahnya. Ia mengoreksi dirinya sendiri dalam hati. Suami yang kaya raya. Senyum puas kembali merekah di wajahnya. Itulah yang paling penting.

 ***

Sekitar pukul sebelas malam, ketukan pintu terdengar pelan namun jelas. Tok. Tok.

Elena yang sudah berbaring di ranjang langsung membuka mata. "Siapa?"

"Ini aku." Suara Sebastian terdengar dari balik pintu.

Elena segera bangkit. "Sebentar."

Ia membuka pintu. Sebastian berdiri di ambang pintu dengan pakaian rumah berwarna gelap yang sederhana namun tetap rapi.

"Kau belum tidur?" tanyanya pelan.

"Belum."

Sebastian melirik ke dalam kamar. "Boleh aku masuk?"

Elena sedikit terkejut, namun tetap mengangguk. "Tentu."

Ia melangkah masuk dan berhenti beberapa langkah di depan Elena. "Ada hal yang ingin kubicarakan."

Mereka duduk berhadapan di sofa kecil dekat jendela, di mana cahaya bulan malam itu masuk lembut menerangi sudut ruangan. Sebastian menatapnya lekat-lekat.

"Apakah Isabella mengatakan sesuatu lagi kepadamu?"

Elena berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak."

"Apakah dia menghubungimu dengan cara apa pun?"

"Belum."

Sebastian mengangguk pelan. "Kalau sampai dia menghubungimu atau melakukan sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman, beritahu aku segera."

Elena mengerutkan kening sedikit. "Kenapa begitu khawatir?"

"Aku hanya ingin memastikan kau aman di sini."

Elena menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. "Sebastian... kau terlalu berlebihan."

"Aku suamimu."

Kalimat itu begitu sederhana, namun entah mengapa membuat jantung Elena berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa.

"Oh..."

Sebastian memperhatikan perubahan ekspresinya. "Kau tidak suka ketika aku mengatakannya?"

"Bukan begitu!" Elena buru-buru membantah. "Aku hanya... belum terbiasa."

"Belum terbiasa dengan apa?"

"Menjadi istrimu."

Sudut bibir Sebastian terangkat sedikit. "Kalau begitu, biasakanlah."

Elena menatapnya, tak percaya dengan jawaban itu. "Bagaimana caranya?"

Sebastian sedikit mendekat, suaranya lembut namun tegas. "Mulai sekarang, jangan anggap aku orang asing lagi."

Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti berputar. Elena tak mampu berpaling, tak mampu berkata apa-apa. Hanya ada keheningan yang hangat di antara mereka. Hingga akhirnya Sebastian berdiri perlahan.

"Tidurlah, Elena. Besok kau harus bangun pagi."

Elena berkedip, baru tersadar. "Kau tidak tidur di sini?"

Sebastian berhenti di ambang pintu. "Aku tidur di kamar sebelah. Jangan khawatir."

Ia mengangguk pelan. "Baik."

Namun ketika Sebastian hendak melangkah keluar, Elena tiba-tiba bersuara. "Sebastian."

Ia berbalik. "Ya?"

"Terima kasih." Elena menatapnya tulus. "Untuk semuanya."

Sebastian tersenyum tipis, senyum yang jarang ditampilkannya kepada orang lain. "Selamat malam, Elena."

"Selamat malam."

Pintu tertutup pelan. Elena duduk kembali di sofa, tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya yang masih berdebar tak menentu. Kenapa setiap kali bersamanya, hatiku selalu berperilaku seperti ini?

1
MomRea
lanjut Thor... makin penasaran 😊
mauza
next😘😘😘😘😘
mauza
up
mauza
ditunggu upnya thor 😘😘
mauza
next
mauza
nah kan..
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘
mauza
pinisirin ttp lanjut
mauza
up
mauza
😘😘😘😍😍😍/Rose//Rose//Rose//Rose/
mauza
lanjut trussss💪💪
mauza
lanjut kk
mauza
hati" dan ttp semangat
mauza
next
mauza
up
mauza
/Determined//Determined//Determined//Determined/
mauza
next😘😘
mauza
lanjutkan thorrr👍😘😘
mauza
up
mauza
lanjuttt👍💪
mauza
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!