NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04 - Amblas

​Arak-arakan pembawa keranda membelah jalanan setapak pinggiran Madiun yang diapit deretan pohon jati bertubuh tinggi menjulang. Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah daun jati membiaskan bayangan panjang yang kaku di atas tanah berdebu.

Enam orang pemuda desa, termasuk Bayu dan Galang di barisan depan, memikul bambu penopang keranda besi itu dengan bahu yang menegang keras.

​Setiap kali roda waktu bergerak dan langkah kaki berayun, bambu penopang keranda mengeluarkan suara berderit tajam—kriieek ... kriieek ...—seolah kayu pilihan itu berada di ambang batas kemampuannya menahan beban di atasnya.

Rasa berat yang tak wajar itu tidak berkurang sedikit pun sejak keluar dari rumah. Justru, makin mendekati gerbang Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa yang terletak di lereng bukit kecil, keranda itu terasa bertambah berat, seakan-akan ada tangan-tangan tak berwujud yang bergelantungan di dasar keranda besi tersebut, memikatnya turun ke bumi.

​"Aduh ... berhenti sebentar, Mas ... pundakku rasanya mau patah ini," rintih salah seorang pemuda pengusung keranda di belakang Galang. Dahinya dibasahi peluh deras, padahal jarak dari rumah ke TPU tak sampai satu kilometer.

​"Sabar, sebentar lagi sampai. Jangan ditaruh di tanah sebelum sampai pemakaman!" sahut Mbah Sastro yang berjalan cepat di paling depan sambil memegang sapu lidi dan membacakan tahlil dengan nada tergesa.

​Galang mengatupkan rahangnya rapat-rahat. Otot leher dan pundak kirinya menjerit kesakitan menahan tumpuan bambu. Namun, bukan rasa sakit di tubuhnya yang membuat dadanya sesak, melainkan lirik mata dan bisik-bisik warga yang mengiringi di belakang.

Di antara rombongan pelayat, Bu Retno berjalan dipapah oleh Pertiwi dan Mia. Wajah ibunya tertutup kain kerudung hitam, melangkah kaku bagaikan boneka kayu tanpa jiwa. Tidak ada rintihan duka, tidak ada linangan air mata.

​Hingga akhirnya, rombongan memasuki areal TPU. Pohon-pohon kamboja tua dengan batang berlumut menyambut mereka. Suasana di TPU terasa teramat sepi; bahkan suara burung liar yang biasa riuh di atas pohon jati mendadak senyap begitu keranda memasuki gerbang pemakaman.

​Di sudut timur kompleks TPU, sebuah liang lahat berukuran dua kali satu meter telah digali sejak subuh oleh Pak Slamet dan dua penggali kubur desa. Tumpukan tanah merah yang basah menggunung di sisi liang.

​"Ayo ... perlahan-lahan ditaruh ...." Mbah Sastro memberi instruksi.

​Dengan hembusan napas lega yang memburu, enam pengusung keranda akhirnya menurunkan bambu penopang ke atas tanah. Keranda besi itu mendarat dengan dentuman pelan.

​Galang meluruskan punggungnya yang pegal, memiringkan leher untuk meredakan kram. Ia melangkah mendekati bibir liang lahat dan melongok ke dalam.

Tanah di dasar liang tampak begitu pekat, berwarna merah kehitaman dan memancarkan bau lembap yang tebal. Tiga papan kayu penutup—dandanan kayu jati tua—sudah tersandar di dinding tanah, siap digunakan.

​"Mas Bayu, Mas Galang ... ayo turun ke bawah untuk menerima jasad," panggil Mbah Sastro sambil menyingsingkan lengan bajunya.

​Bayu memandang ke dalam lubang gelap itu dengan tatapan penuh kepanikan yang tersembunyi.

Namun, sebagai anak sulung, ia tidak punya pilihan. Bayu melompat turun terlebih dahulu ke dalam liang lahat yang dalamnya sepinggang pria dewasa, disusul oleh Galang dan Pak Karso.

​Kain hijau penutup keranda dibuka. Bau kemenyan dan tanah basah yang menyengat langsung merebak kembali, menguasai udara pemakaman. Tiga tali pengikat kain kafan diurai perlahan oleh Mbah Sastro dari atas.

​"Pegang bagian kepala dan punggungnya dengan tenang, nggih ...," bisik Pak Karso dari dalam liang.

​Jasad Pak Broto dibopong turun dari keranda oleh warga di atas, lalu diserahkan ke dalam dekapan Bayu, Galang, dan Pak Karso yang berdiri di dasar liang.

Saat tangan Galang menyangga bagian pinggang dan paha ayahnya yang terbungkus kain kafan, rasa dingin membeku itu kembali menyengat kulit lengannya. Jasad itu begitu kaku dan keras, seolah-olah seluruh organ dalamnya telah membatu menjadi semen.

​Dengan perlahan dan hati-hati, mereka membaringkan jasad Pak Broto di dasar liang, memiringkannya ke arah kiblat. Pipi kanan jasad yang dilapisi kain kafan didekatkan menempel pada dinding tanah liat.

​"Ganjal dengan gumpalan tanah merah di belakang punggung dan kepalanya supaya tidak terlentang lagi," titah Mbah Sastro dari bibir lubang.

​Galang meraup gumpalan tanah merah basah yang disediakan di sudut liang, lalu menyelipkannya di belakang punggung ayahnya.

Namun, tatkala telapak tangannya menekan punggung jasad Pak Broto agar tertahan miring, kejadian aneh itu dimulai.

​Dari dalam tanah di dasar liang yang dipijaki kaki Galang, terdengar suara gemuruh tipis—suara gertakan seperti akar pohon besar yang dipaksa patah di bawah bumi: Kreeek ... blek ....

​"Lho? Apa itu?!" Bayu tersentak, menghentikan gerakannya yang sedang menata papan kayu jati penutup.

​"Apa ada air di bawah?" tanya Pak Karso heran sambil memandang ke arah pijakan kakinya.

​Seketika itu juga, tanah merah di bawah telapak kaki mereka mendadak membual pelan. Bukannya memadat saat diinjak, dasar liang lahat itu justru terasa melunak secara tidak wajar, menyerupai lumpur hisap yang bergerak pelan.

Bayu dan Galang merasakan pergelangan kaki mereka tenggelam dua sentimeter ke dalam tanah dasar liang.

​"Mbah Sastro! Tanahnya amblas ini, Mbah!" teriak Pak Karso mendongak ke atas dengan wajah panik.

​Warga yang berdiri melingkar di atas bibir liang langsung heboh. Beberapa tetangga maju melongok ke dalam, membelalakkan mata ketakutan.

​"Ayo cepat dipasang papan jatinya! Tutup! Tutup cepat!" seru Mbah Sastro setengah menjerit dari atas. Tangannya mengayun panik mengarahkan papan kayu.

​Pak Karso dan Bayu dengan tergesa-gesa meraih papan kayu jati pertama, menaruhnya miring di atas jasad Pak Broto untuk melindungi tubuh kaku itu dari urugan tanah.

Namun, saat papan kayu jati kedua baru hendak dipasang, suara dentuman keras kembali bergema dari dalam bumi di bawah jasad.

​BUMM!

​Gerakan amblas itu terjadi begitu cepat dan dramatis.

​Dasar liang lahat di bawah tubuh Pak Broto mendadak merekah membelah. Sisi tanah bagian timur liang amblas turun sedalam setengah meter secara tiba-tiba.

Jasad Pak Broto yang semula sudah dimiringkan rapi, terperosok ke dalam rekahan tanah yang amblas tersebut. Papan kayu jati pertama yang baru dipasang terbelah dua dengan bunyi patahan yang sangat nyaring: PRAK!

​"AAAGHH!" jerit Bayu histeris, melompat mundur dan mencoba memanjat dinding liang karena kakinya hampir ikut terperosok ke dalam rongga tanah yang amblas.

​Di atas bibir liang, kepanikan pecah seketika. Para tetangga wanita menjerit-jerit sambil berlari mundur melompati makam-makam lain. Pertiwi pingsan di tempat, ambruk ke pangkuan Mia yang menangis histeris memanggil nama ayahnya.

​"Astagfirullahaladzim! Lindungi kami ya Allah!" teriak Pak RT menutupi mukanya dengan kedua tangan.

​Galang mematung di dalam liang lahat yang kini separuhnya telah amblas dalam. Matanya menatap lurus ke dalam rekahan tanah merah di bawahnya. Jasad Pak Broto yang terperosok ke dalam rekahan itu kini tertimbun sebagian oleh longsoran tanah liat.

Namun, melalui kain kafan bagian kepala yang tersingkap akibat guncangan amblasnya tanah, Galang melihat sesuatu yang membuat darah di sekujur tubuhnya membeku total.

​Di balik robekan kain kafan yang ternoda tanah merah, wajah Pak Broto tidak lagi tertutup rapat. Matanya yang terbuka lebar memancarkan warna kehitaman yang mati, dan mulutnya—bibir pucat yang membiru itu—terbuka sangat lebar, memamerkan deretan gigi yang menghitam.

Senyuman miring yang tadi kaku kini bertransformasi menjadi sebuah seringai kemenangan yang mengerikan.

​Dari dalam rongga rekahan tanah amblas tempat jasad ayahnya terperosok, merembes keluar asap tipis berwarna keabu-abuan. Asap itu tidak membumbung naik ke udara, melainkan meliuk-liuk merayap di atas tanah merah, membawa aroma bau kemenyan terbakar dan bau bangkai yang begitu pekat.

​"Galang! Bayu! Naik! Naik sekarang!" jerit Pak Karso dari atas sambil mengulurkan tangannya yang gemetar ke dalam liang.

​Bayu tanpa berpikir panjang langsung mencengkeram tangan Pak Karso dan memanjat keluar dengan napas memburu dan air mata ketakutan membasahi pipinya.

​Galang masih berdiri terpaku di dalam liang yang berantakan itu. Tangannya gemetar hebat. Ia merasa kakinya seolah ditahan oleh hawa dingin yang merayap naik dari rekahan tanah amblas di bawahnya.

​"Galang! Ayo naik, Nduk! Kenapa diam saja?!" teriak Mbah Sastro histeris dari atas.

​Galang perlahan mengalihkan pandangannya dari jasad ayahnya ke arah atas bibir liang. Di antara kerumunan warga yang panik dan histeris berhamburan, berdiri Bu Retno.

​Ibunya tidak lari. Wanita itu berdiri tepat di ujung bibir liang lahat, menatap lurus ke bawah—tepat ke arah jasad suaminya yang terperosok di rekahan tanah yang amblas.

Di bawah gulungan kerudung hitamnya, tidak ada riak ketakutan di wajah Bu Retno. Bibir tipisnya justru bergumam pelan, mengucapkan kata-kata tanpa suara yang hanya bisa dibaca oleh gerak bibirnya:

​Tanahnya sudah menerima bagiannya.

​"Galang! Cepat naik!" Pak RT ikut mengulurkan tangan, menepis ketakutannya dan menarik kencang bahu Galang hingga pemuda itu terangkat keluar dari dalam liang lahat.

​Tanpa menunggu prosesi pemakaman yang sempurna, Mbah Sastro dengan tangan bergetar hebat langsung menginstruksikan para penggali kubur untuk segera mencangkul dan melempar tanah merah menimbun liang tersebut. Suara cangkulan tanah yang tergesa-gesa: srukkk ... srukkk ... srukkk ... menggantikan doa-doa dan tahlil yang seharusnya mengalun lembut.

​Setiap kali gumpalan tanah merah menghantam jasad Pak Broto di dasar liang yang amblas, Galang bisa merasakan dada dan kepalanya berdenyut hebat. Bau kemenyan dan tanah basah itu seolah telah melekat permanen di pakaian dan pori-pori kulitnya.

​Saat gundukan tanah merah selesai dibentuk secara terburu-buru dan dua patok kayu nisan ditancapkan di atasnya, seluruh warga yang hadir terdiam dalam ketakutan yang mencekam.

Tidak ada yang bertahan lama di area TPU itu. Satu per satu pelayat bergegas pergi meninggalkan pemakaman dengan langkah cepat, menyisakan keluarga Pak Broto yang berdiri mematung di depan kuburan yang baru saja dirapikan secara ganjil.

​Madiun siang itu tampak terang benderang oleh sinar matahari, namun di atas gundukan tanah merah Pak Broto, bayangan gelap dari sebuah perjanjian masa lalu telah resmi menancapkan cengkeramannya.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!