Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pahlawan dan Peta Kekuatan Baru
Keberhasilan party petualang Tier SSS menundukkan naga kuno bersisik baja di Puncak Gunung Vulkanik menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di seluruh pelosok Magical World. Nama Brave—sang pemuda pembawa Petir Ungu Legendaris—menjadi buah bibir di setiap kedai remang-remang, pasar rakyat, hingga balairung istana kerajaan-kerajaan besar. Kisah tentang seorang petualang berjubah goni usang yang sanggup menebas kulit batu dan baja hanya dalam satu tebasan menjadi legenda baru yang menginspirasi ribuan petualang muda.
Di Bar Gurun Perbatasan Kerajaan Molten, suasana kini tak pernah lagi sepi. Walaupun bangunan bar tersebut masih mempertahankan kesederhanaannya dengan dinding batu yang dipenuhi bekas guratan petir, pelanggan dari berbagai wilayah mulai berdatangan. Mereka penasaran ingin melihat langsung markas dari party petualang peringkat teratas yang terkenal sangat misterius namun luar biasa kuat.
Siang itu, Zass sedang duduk di meja paling sudut di belakang bar. Di hadapannya terhampar sebuah peta benua yang dibuat dari kulit domba kusam. Di sekelilingnya, Ryu, Ken, Okta, Kayla, serta Robert berkumpul. Kehangatan dan keakraban di antara mereka semakin erat setelah melewati pertempuran hidup dan mati di Gunung Vulkanik.
"Sejak kejadian di balairung istana dan perpisahanmu dengan Raja David, reputasi party kita melonjak drastis," kata Ryu seraya meletakkan segelas air di meja. "Banyak serikat petualang dari Kerajaan Caelum dan Kerajaan Solis yang mengirimkan utusan. Mereka ingin menyewa jasa kita untuk Misi SSS lainnya."
Kayla menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Zass dengan pendar mata penasaran. "Tapi setelah nama aslimu terbongkar di depan Raja David dan Putri Celestia, apa langkah kita selanjutnya, Zass? Maksudku... Brave?"
Zass mengusap permukaan peta kulit domba di hadapannya. Tatapannya meneliti batas-batas wilayah kerajaan yang terhampar luas. Pengalaman bertarung melawan naga kuno telah menempa energinya hingga ke tingkat yang baru, namun percakapannya dengan Robert beberapa minggu lalu terus bersemayam di pikirannya.
"Mengapa kau bertarung, Zass?" tanya Robert tiba-tiba, memotong keheningan. Pria tua itu menyalakan pipa kayunya, meniupkan asap tipis ke udara. "Kau telah membuktikan kepada Raja David bahwa kau bukan lagi anak penempa besi yang lemah. Kau telah membuat seluruh pengawal Kerajaan Imperial menundukkan kepala dalam rasa malu. Apakah itu cukup bagimu?"
Zass mengangkat pandangannya, menatap Robert dengan iris mata berbingkai pendar ungu tipis yang kini sangat stabil.
"Belum, Paman," jawab Zass mantap. Suaranya terdengar matang dan berbobot, jauh dari kesan pemuda ragu-ragu yang dulu terdampar di padang pasir. "Tujuanku bukan sekadar membuat Raja David merasa malu atau membuktikan keberadaanku. Aku ingin menciptakan sebuah era di mana kekuasaan dan takdir seseorang tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan bangsawan atau tumpukan emas di dalam benteng."
Okta tertawa terkekeh seraya menepuk paha tebalnya. "Jawaban yang sangat bagus! Itu baru namanya pemimpin party kita!"
Ken menyilangkan tangan di dada, mengangguk setuju. "Lalu, ke mana arah tujuan kita sekarang? Kerajaan Molten sudah aman dari ancaman naga kuno, dan tempat ini terlalu kecil untuk menampung potensi Petir Ungumu yang terus berkembang."
Zass menunjuk sebuah wilayah di bagian timur peta—sebuah kawasan pegunungan berselimut kabut abadi yang ditandai dengan lambang petir bersilang.
"Lembah Petir Kuno," ucap Zass pelan. "Paman Robert pernah bercerita bahwa di sanalah tempat ayahku, Lion, pertama kali membangkitkan dan menempa Petir Ungu hingga mencapai bentuk sempurnanya. Jika aku ingin menguasai teknik pemungkas dari elemen ini dan menjadi sosok yang benar-benar tak tertandingi, aku harus pergi ke sana."
Robert tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa bangga yang amat dalam. "Lembah itu adalah tempat yang sangat berbahaya. Udara di sana dialiri arus listrik alami yang sanggup meremukkan tulang petualang biasa. Bahkan pahlawan resmi kerajaan pun jarang ada yang berani menjejakkan kaki di sana."
"Itulah kenapa tempat itu cocok untuk kita," sahut Ryu seraya memamerkan senyuman khasnya. "Kita adalah party Tier SSS yang tidak memiliki support dan marksman. Kita biasa menerobos hal-hal yang dianggap mustahil oleh orang lain."
"Setuju!" tambah Kayla penuh semangat. "Lagi pula, kalau kita berhasil menyelesaikan latihan di Lembah Petir Kuno, imbalan dan reputasi kita akan makin meroket. Siapa tahu kita bisa mengumpulkan cukup koin untuk merenovasi bar ini menjadi istana!"
Tawa renyah pecah di antara mereka. Kehangatan itu membuat Zass memunculkan senyuman tipis di bibirnya. Kehadiran rekan-rekannya adalah pilar utama yang membuatnya mampu berdiri tegak melewati kepedihan masa lalu.
Namun, di tengah gelak tawa itu, bayangan wajah Celestia kembali melintas sekilas di benak Zass. Ia mengingat linangan air mata sang putri di balairung istana saat ia menolak ajakan untuk kembali. Penolakan itu sangat menyakitkan baginya, namun Zass tahu bahwa melangkah bersama Celestia saat ini hanya akan menjadikan sang putri sandera politik dari dendam dan ketakutan para bangsawan Imperial.
Tunggulah sedikit lagi, Celestia, batin Zass seraya meremas genggaman tangannya. Aku akan menempa diriku hingga menjadi kekuatan yang tak bisa digoyahkan oleh hukum atau tahta kerajaan mana pun. Saat hari itu tiba, tidak akan ada lagi dinding istana atau perintah raja yang sanggup memisahkan kita.
Sore itu, keputusan besar telah diambil. Kelima anggota party mulai berkemas, menyiapkan perbekalan, senjata, dan perlengkapan untuk perjalanan jauh menuju wilayah timur yang penuh misteri. Robert memilih untuk tetap tinggal menjaga Bar Gurun Perbatasan, menjadi rumah sekaligus tempat pulang bagi para petualang muda tersebut.
Saat matahari tenggelam di ufuk barat, memancarkan sinar merah keemasan di atas padang pasir Kerajaan Molten, Zass berdiri di depan pintu bar. Ia menyarungkan pedang besinya, membetulkan letak jubah karung goni usangnya, lalu menatap lurus ke arah jalan setapak yang membentang luas.
"Ayo berangkat," ujar Zass penuh tekad.
Dengan langkah mantap, Zass bersama Ryu, Ken, Okta, dan Kayla mulai melangkahkan kaki meninggalkan batas kota, menyongsong bahaya baru di Lembah Petir Kuno demi mengukir takdir teragung di Magical World.