Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Les Privat
"Aku cuma lewat."
Chisen mengatakannya dengan wajah begitu datar sampai Erlyn hampir percaya, kalau saja arah sekolahnya tidak berlawanan dengan Jalan Kenanga.
Ia menatap profil laki-laki itu dari samping. Hidung lurus, rahang tenang, mata tetap ke jalan. Tidak ada rasa bersalah karena baru saja membuat setengah gerbang sekolahnya diam. Tidak ada keinginan menjelaskan kenapa ia datang tepat ketika Erlyn hampir menjadi tontonan.
Erlyn memeluk ranselnya lebih erat. "Lewat dari mana? Dari Mars?"
Chisen meliriknya sekilas.
"Kamu mulai berani."
"Koh yang mulai bohong."
Sudut bibirnya bergerak sangat tipis. "Aku tidak bohong. Aku lewat."
"Kebetulan."
"Iya."
"Kebetulan sekali."
"Memang."
Erlyn mendengus, lalu menoleh ke jendela. Di kaca, pantulan wajahnya terlihat masih merah. Ia tidak tahu apakah karena marah, malu, atau karena diam-diam merasa lega saat melihat Chisen berdiri di depan gerbang.
Perasaan terakhir itu paling menyebalkan.
Di rumah, Mama langsung bertanya bagaimana sekolahnya. Erlyn menjawab, "Baik," dengan nada yang sudah ia latih di mobil. Jing menatapnya lebih lama, tetapi tidak memaksa. Om Changli belum pulang. Chisen naik ke loteng setelah makan malam, seolah sore tadi tidak pernah terjadi.
Namun malam itu, ketika Erlyn membuka tas untuk mengerjakan PR, ia menemukan kertas latihan matematika dengan nilai merah besar di pojok.
Enam puluh dua.
Ia menutup kertas itu cepat-cepat, tetapi terlambat.
Mama yang baru masuk membawa susu hangat sudah melihatnya.
"Er..."
"Aku baru pindah. Materinya beda."
"Mama belum bilang apa-apa."
"Wajah Mama sudah bilang."
Jing duduk di sampingnya, meletakkan gelas di meja. "Tidak apa-apa kalau nilainya belum bagus. Kita cari guru les."
"Tidak usah. Aku bisa belajar sendiri."
"Kamu juga bilang bisa pulang sendiri kemarin."
Erlyn terdiam.
Mama jarang memakai kalimat tajam. Sekali keluar, biasanya tepat sasaran.
Pintu kamar terbuka sedikit karena Jing tadi tidak menutup rapat. Dari koridor, suara langkah berhenti. Erlyn menoleh dan melihat Chisen berdiri di luar, satu tangan memegang buku sketsa.
Jing juga menoleh. "Chisen?"
Chisen menatap kertas di meja Erlyn. "Nilai berapa?"
Erlyn langsung membalik kertas itu. "Bukan urusan Koh."
"Kalau disembunyikan berarti jelek."
"Enam puluh dua itu tidak jelek. Itu... sementara."
"Sementara menuju remedial."
Erlyn membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak punya jawaban yang cukup kuat.
Jing tampak antara ingin menegur Chisen dan ingin tertawa. "Chisen, jangan begitu."
"Saya bisa bantu," kata Chisen.
Erlyn menatapnya. "Bantu apa?"
"Les."
"Koh?"
"Kenapa?"
"Koh melukis."
"Aku juga bisa baca soal."
Kalimatnya terlalu percaya diri. Menyebalkan karena mungkin benar. Di rumah ini, Chisen seperti orang yang tidak pernah terlihat belajar, tetapi semua orang berbicara seolah nilainya selalu tinggi dan hidupnya selalu rapi.
Jing terlihat lega. "Kalau Chisen tidak keberatan..."
"Mama," protes Erlyn.
Jing menepuk tangannya. "Coba dulu. Kalau tidak cocok, kita cari guru lain."
Chisen sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya tanpa ekspresi. "Mulai besok. Jam delapan. Ruang belajar."
"Koh bahkan tidak tanya aku bisa atau tidak."
"Kamu bisa."
"Aku bisa menolak."
"Bisa. Lalu nilai tetap enam puluh dua."
Erlyn mengambil bantal kecil dari kursi dan melemparkannya ke arah pintu. Chisen menyingkir sedikit. Bantal itu jatuh di koridor.
Jing menutup mulut menahan tawa.
Chisen menatap bantal itu, lalu menatap Erlyn. "Lemparanmu juga perlu les."
Pintu tertutup sebelum Erlyn sempat membalas.
Malam berikutnya, Erlyn datang ke ruang belajar dengan wajah seperti orang menuju ruang sidang.
Ruang belajar berada di lantai satu, dekat perpustakaan kecil keluarga. Meja kayunya panjang, lampunya terang, rak buku tinggi menutup satu sisi dinding. Chisen sudah duduk di sana ketika ia masuk. Di depannya ada buku catatan, beberapa kertas kosong, dan pensil mekanik. Ia tidak membawa cat, kuas, atau apa pun yang membuatnya terlihat seperti penghuni loteng.
Ia terlihat seperti guru privat yang sangat mahal dan sangat tidak ramah.
"Duduk."
Erlyn duduk di seberangnya.
"Materi yang kamu tidak paham?"
"Banyak."
"Bahasa Inggris?"
Erlyn ragu sebentar, lalu mengeluarkan buku latihan lain. Chisen membuka halaman esai pendeknya, membaca tiga baris, kemudian berhenti.
"Kamu menerjemahkan dari bahasa Indonesia satu per satu."
Erlyn tersinggung karena itu benar. "Memangnya kelihatan?"
"Sangat."
"Koh bisa bilang lebih halus."
"Bisa. Tapi nilaimu tidak akan naik."
Ia mencoret satu kalimat, menulis ulang di bawahnya, lalu mendorong buku itu kembali ke depan Erlyn. Bukan hanya memperbaiki grammar, ia juga mengubah urutan kalimatnya sampai terdengar lebih hidup. Erlyn membaca hasilnya dua kali dan terpaksa mengakui dalam hati bahwa versi Chisen memang lebih bagus.
"Mulai dari yang paling banyak salah."
Ia menyerahkan kertas ulangannya. Chisen memeriksa tanpa komentar. Semakin lama ia diam, semakin Erlyn merasa lebih baik dimarahi saja.
Akhirnya, ia meletakkan kertas itu di meja.
"Kamu bukan tidak bisa. Kamu loncat langkah."
"Maksudnya?"
"Kamu hafal rumus, tapi tidak tahu kapan dipakai."
Erlyn ingin membantah, tetapi Chisen sudah menarik kertas kosong dan menulis soal baru. Tulisannya rapi, miring sedikit ke kanan.
"Kerjakan."
"Sekarang?"
"Tidak. Tahun depan."
Erlyn menatapnya tajam. Chisen menatap balik, datar. Ia kalah duluan.
Satu jam pertama terasa seperti diseret melewati jalan berbatu. Chisen tidak banyak bicara, tetapi setiap kali Erlyn salah, ia langsung menunjuk bagian yang salah dengan ujung pensil.
"Di sini."
"Kenapa pindah ruas?"
"Satuanmu hilang."
"Baca soalnya lagi."
Tidak ada pujian. Tidak ada kalimat penghibur. Tetapi anehnya, setelah dua jam, soal yang tadi tampak seperti bahasa asing mulai punya bentuk. Erlyn mengerti satu langkah, lalu langkah berikutnya. Ketika akhirnya jawabannya benar, ia menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu jelas.
Chisen melihatnya.
"Baru satu soal."
Senyum Erlyn langsung hilang. "Koh pelit sekali."
"Dengan pujian, iya."
Mereka belajar sampai hampir pukul sebelas.
Di luar ruang belajar, rumah sudah sepi. Mama dan Om Changli sudah naik. Hanya lampu meja yang membuat lingkaran terang di antara mereka. Erlyn mencoba membaca soal terakhir, tetapi huruf-hurufnya mulai kabur. Kepalanya berat. Suara Chisen yang menjelaskan perubahan satuan terdengar semakin jauh.
"Erlyn."
"Hmm."
"Soalnya dibaca."
"Aku baca."
"Matamu tertutup."
"Aku membaca dalam hati."
Tidak ada jawaban.
Erlyn menahan senyum kecil, lalu membiarkan kepalanya turun ke atas lengan. Hanya sebentar, pikirnya. Ia hanya ingin mengistirahatkan mata beberapa detik.
Kursi di seberangnya bergerak pelan.
Erlyn tidak benar-benar tidur.
Ia mendengar Chisen merapikan kertas, menutup buku, lalu langkahnya mendekat. Aroma sabun dan sedikit terpentin yang selalu menempel padanya berhenti di samping meja. Sesuatu yang hangat dan berat jatuh perlahan di atas bahunya.
Jaket Chisen.
Erlyn tetap memejamkan mata.
Lampu meja dimatikan. Ruang belajar menjadi gelap lembut, hanya tersisa cahaya dari koridor. Langkah Chisen menjauh, pelan, seperti takut membangunkannya.
Pintu ditutup tanpa suara.
Erlyn membuka mata sedikit dalam gelap, menggenggam ujung jaket di bahunya, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke Jalan Kenanga, ia tidak merasa rumah ini terlalu dingin.