NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Jangan Panggil Polisi

Ruang fakultas mendadak terasa seperti ruang sidang.

Bu Ratri duduk di depan meja panjang. Kepala keamanan kampus berdiri di samping pintu. Empat laki-laki luar kampus duduk di kursi terpisah dengan wajah kusut. Vira menangis di sebelah Alina. Dimas berdiri dekat jendela, seperti orang yang ingin menghilang.

Nisa duduk di samping Ayla, kakinya tidak berhenti bergerak.

Ayla menyodorkan permen mint.

Nisa menerima tanpa sadar. “Makasih.”

“Untuk tanganmu. Dari tadi gemetar.”

“Ini bukan obat gemetar.”

“Tapi mulutmu sibuk.”

Nisa menatap permen itu, lalu benar-benar memasukkannya ke mulut. “Aku nggak tahu kenapa aku nurut.”

Bu Ratri mengetuk meja. “Kita mulai.”

Semua diam.

Kecuali Vira yang masih terisak.

Bu Ratri menatapnya. “Vira, kamu mengakui mengenal empat orang ini?”

Vira menunduk. “Iya, Bu.”

“Kamu meminta mereka datang ke kampus?”

“Saya cuma... saya cuma cerita. Mereka datang sendiri.”

Salah satu laki-laki langsung memprotes, “Loh, Vir, kamu yang bilang anak itu harus dikasih pelajaran.”

Vira menatapnya tajam. “Aku tidak bilang pukul!”

“Kami juga belum pukul.”

Ayla mengangkat alis. “Pencapaian.”

Bu Ratri memandang Ayla. “Diam dulu.”

Ayla mengangguk patuh.

Kepatuhan itu membuat Bu Ratri curiga, tetapi dia memilih lanjut.

Alina berbicara dengan suara lembut. “Bu, saya tahu Vira salah. Tapi dia mungkin terbawa emosi karena kejadian siang tadi. Saya mohon jangan langsung lapor polisi. Ini bisa merusak masa depannya.”

Vira menangis lebih keras. “Lin...”

Dimas akhirnya berkata, “Tapi ini sudah serius.”

Alina menoleh padanya, matanya basah. “Aku tahu. Tapi bukankah kita bisa menyelesaikan secara internal? Ayla juga tidak terluka.”

Ayla tertawa.

Semua menatapnya.

“Maaf,” kata Ayla. “Kalimat itu lucu.”

Alina menahan suara. “Apa yang lucu?”

“Kalau aku terluka, baru boleh serius?”

Alina menggigit bibir. “Bukan begitu maksudku.”

“Lalu maksudmu apa?”

“Aku hanya tidak ingin hidup Vira hancur karena satu kesalahan.”

Ayla menopang dagu. “Menarik. Tadi pagi dia menyebarkan cerita pribadiku. Sore ini dia memanggil orang luar. Satu kesalahan yang mana?”

Vira menunduk.

Bu Ratri mencatat sesuatu. “Unggahan menfess juga dari kamu?”

Vira tidak menjawab.

Alina cepat berkata, “Bu, soal unggahan itu Vira memang salah, tapi dia melakukannya karena salah paham. Saya sudah memaafkan.”

“Kamu bukan korban utamanya,” kata Bu Ratri.

Alina terdiam.

Ayla hampir ingin memuji dosen itu.

Hampir.

Bu Ratri menatap Ayla. “Kamu mau melapor polisi?”

Ruang itu tegang.

Vira menatap Ayla dengan mata memohon. Alina juga menatapnya, tetapi tatapan itu lebih rumit. Ada permintaan, ada ancaman halus, ada harapan agar Ayla terlihat kejam jika menolak.

Ayla bersandar.

“Saya mau tanya dulu.”

Bu Ratri mengangguk.

Ayla melihat Vira. “Kamu dapat nomor mereka dari mana?”

Vira mengusap air mata. “Mereka teman nongkrong.”

“Nongkrong di mana?”

“Kafe dekat kampus.”

“Siapa yang membayar?”

“Tidak ada.”

Ayla tersenyum.

“Kamu pikir aku bertanya biaya kopi?”

Vira pucat.

Salah satu laki-laki mengumpat pelan. “Kami belum dibayar.”

Vira menoleh tajam. “Diam!”

Bu Ratri menutup mata sebentar. Kepala keamanan kampus langsung mencatat nama mereka.

Ayla melanjutkan, “Berapa?”

Pria itu ragu, lalu menjawab, “Dua juta. Cuma untuk nakut-nakutin.”

Nisa hampir menjatuhkan permen dari mulut.

Dimas menatap Vira seolah baru mengenalnya.

Alina memegang tangan Vira. “Vira, kamu benar-benar...”

“Jangan lanjutkan adegan itu,” kata Ayla.

Alina menegang.

Ayla menatap Bu Ratri. “Saya ingin laporan resmi kampus dibuat. Kalau perlu polisi, biar kampus yang memutuskan sesuai aturan. Saya tidak mau diseret ke drama permintaan maaf di grup WhatsApp.”

Bu Ratri tampak lega karena jawaban itu waras.

“Baik.”

Vira menangis. “Ayla, tolong. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.”

Ayla melihatnya.

“Permintaan maafmu datang setelah gagal.”

Vira tidak bisa menjawab.

Alina berkata lirih, “Kak Ayla, kamu tahu rasanya masa depan dihancurkan karena satu keputusan buruk?”

Ayla menatapnya.

“Aku tahu.”

Alina tampak berharap.

“Makanya aku membiarkan kampus memutuskan. Kalau aku yang memutuskan, dia tidak perlu memikirkan masa depan.”

Ruangan kembali diam.

Nisa menunduk dan berbisik, “Itu terdengar ilegal.”

Ayla menjawab pelan, “Aku sudah bilang pakai versi kampus.”

Setelah itu proses berjalan cepat. Kepala keamanan mengambil ponsel sebagai bukti. Empat laki-laki dibawa ke pos untuk menunggu pihak berwenang. Vira diskors sementara dari kepanitiaan. Dimas juga kena teguran karena gagal mengawasi dan terlalu bias.

Alina tidak kena apa-apa.

Tentu saja.

Dia selalu berdiri cukup dekat untuk menikmati hasil, tetapi cukup jauh untuk menghindari darah.

Saat semua bubar, Alina mengejar Ayla di koridor.

“Kak.”

Ayla berhenti.

Nisa langsung berkata, “Aku tunggu di depan.”

“Tidak perlu.”

Ayla tetap menatap Alina. “Bicara saja. Dia bukan orang jahat.”

Nisa membeku karena tiba-tiba dipuji dengan cara yang tidak terasa seperti pujian.

Alina melihat Nisa sebentar, lalu kembali ke Ayla. Suaranya pelan. “Aku tahu kamu membenciku. Tapi jangan melibatkan orang lain.”

Ayla hampir tertawa. “Itu kalimatku.”

“Vira melakukan itu karena peduli padaku.”

“Maka pilih orang yang pedulinya tidak bodoh.”

Wajah Alina memerah. “Kamu selalu merendahkan semua orang.”

“Tidak. Aku hanya menyesuaikan kualitas lawan bicara.”

Nisa menutup mulut.

Alina menggenggam tali tasnya. “Kamu pikir setelah semua ini orang akan berpihak padamu? Mereka hanya takut. Tidak ada yang benar-benar menyukaimu kalau kamu terus seperti ini.”

Ayla diam sebentar.

Untuk orang lain, kalimat itu mungkin menyakitkan.

Bagi Ayla, itu hanya informasi tidak penting.

“Alina.”

“Apa?”

“Kamu hidup dari disukai orang. Aku tidak.”

Alina terdiam.

Ayla mendekat setengah langkah. “Itu sebabnya kamu lebih takut dariku.”

Wajah Alina benar-benar berubah.

Nisa melihat perubahan itu dan tanpa sadar mundur sedikit.

Namun sebelum Alina bisa membalas, ponsel Ayla berbunyi.

Arga Wiratama.

Ayla mengangkat di depan Alina.

“Pak Arga.”

Alina, yang awalnya marah, langsung menegang mendengar nama itu.

Ayla menangkap reaksinya.

Menarik.

Suara Arga terdengar dari seberang. “Kamu masih di kampus?”

“Ya.”

“Jangan pulang lewat gerbang belakang.”

Ayla melihat koridor kosong.

“Terlambat. Aku sudah bertemu hiburan kecil.”

Arga diam sesaat. “Ada insiden?”

“Beberapa orang ingin bicara pakai tangan. Mereka kurang latihan.”

“Ayla.”

Nada itu seperti peringatan.

Ayla tersenyum. “Saya tidak melanggar hukum. Ada video.”

Arga menghela napas pelan. “Saya di depan kampus. Kita perlu bicara sekarang.”

“Tentang?”

“Mayat keempat ditemukan.”

Senyum Ayla hilang.

Alina berdiri tidak jauh, mencoba mendengar.

Ayla menatapnya, lalu berkata ke telepon, “Lima menit.”

Dia memutus panggilan.

Alina bertanya terlalu cepat, “Arga Wiratama?”

Ayla memasukkan ponsel ke saku.

“Kenal?”

Alina langsung menyesal. “Tidak. Aku cuma pernah dengar.”

“Dari mana?”

“Dia keluarga Wiratama. Siapa yang tidak tahu?”

Ayla tersenyum.

“Benar.”

Dia berjalan pergi bersama Nisa.

Di belakang mereka, Alina berdiri kaku. Tangannya gemetar saat membuka ponsel. Dia mengetik pesan cepat ke seseorang.

Ayla tidak perlu melihat layar untuk tahu.

Alina sedang panik.

Dan kalau Alina panik karena nama Arga, berarti jalur yayasan bukan sekadar kesalahan administratif.

Di depan kampus, mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Arga berdiri di sampingnya, wajah tetap dingin meski udara Jakarta panas.

Nisa melihatnya dan berbisik, “Itu siapa?”

Ayla menjawab, “Orang yang pernah kutembak.”

Nisa tersedak permen.

“Apa?!”

Ayla menepuk punggungnya sekali.

“Tenang. Dia masih hidup.”

Nisa masih batuk ketika Arga membuka pintu mobil. “Kamu bercanda, kan?”

Ayla berpikir sebentar. “Sebagian.”

“Bagian mana yang bercanda?”

“Nada bicaraku.”

Nisa terlihat ingin pingsan sungguhan.

Arga menatap gadis itu, lalu berkata lebih lembut daripada biasanya, “Saya tidak akan menahan temanmu. Saya hanya perlu bicara.”

“Orang yang bilang begitu di film biasanya tetap menahan,” gumam Nisa.

Ayla menepuk bahunya. “Kamu terlalu banyak menonton.”

“Aku jurusan animasi. Itu tugasku.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arga bergerak sedikit. Hampir seperti senyum, tetapi terlalu cepat hilang.

Ayla melihatnya. “Pak Arga bisa senyum juga?”

“Masuk mobil.”

“Sayang. Senyumnya pendek.”

Nisa melihat mereka bergantian. Ketakutannya belum hilang, tetapi rasa penasarannya menang sedikit.

“Ayla,” katanya pelan, “kamu yakin aman?”

Ayla menatapnya dengan lebih serius. “Pulang. Jangan ikut siapa pun dari panitia. Kalau ada yang mengganggumu, kirim lokasi.”

Nisa mengangguk cepat.

Baru setelah gadis itu pergi, Ayla masuk ke mobil Arga. Di balik kaca gelap, wajahnya tidak lagi santai.

Jika Arga datang sendiri sampai depan kampus, berarti mayat keempat bukan kabar biasa.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!