Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Mendengar ucapan Ana, Laras sempat terkejut, namun ia berusaha menyembunyikannya. Slamet yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu hanya menghela napas. Ia merasa ada yang tidak beres, namun memilih untuk tidak ikut campur jika Laras sendiri belum mau membicarakannya. Ia berharap seiring berjalannya waktu, hubungan pernikahan mereka akan membaik.
Melihat Laras terlihat tidak nyaman, Slamet segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Kamu bawa oleh-oleh dari Swiss untuk kami kan?” tanyanya.
“Ya, aku hampir lupa. Ini dia,” jawab Laras sambil memberikan bingkisan yang ia bawa dari perjalanan bulan madunya.
“Wah, terima kasih banyak, kamu memang sahabat terbaik kami,” ujar Ana dengan senang hati.
Setelah selesai kuliah, Laras langsung menuju rumah mertuanya. Ia ingin belajar memasak sesuai janjinya kepada Raka.
Sari menyambut kedatangan menantunya dengan sangat bahagia. Ia terus bertanya kabar, memastikan apakah Laras sudah makan, bahkan menyuruhnya beristirahat lebih dulu karena khawatir ia kelelahan.
“Belajar masaknya nanti saja, Nak. Istirahatlah dulu, pasti lelah baru pulang dari kampus,” kata Sari lembut.
“Aku tidak capek kok, Ma. Kita mulai saja sekarang. Nanti sore Kak Raka sudah pulang kerja,” kata Laras dengan semangat.
Benar saja, baru selesai memasak, Raka dan Bima sudah sampai di rumah. Sari pun membujuk Raka supaya mereka makan malam bersama. Setelah kenyang, barulah keduanya pulang ke apartemen.
Di jalan, Laras memberanikan diri bicara.
“Kak, besok boleh aku ke rumah Mama dan Papa? Aku ingin menjenguk mereka, soalnya sejak nikah belum sempat bertemu lagi.”
Raka cuma melirik sebentar, lalu jawab singkat, “Terserah saja.”
“Kakak tidak ikut?” tanya Laras agak ragu.
“Kamu kira aku tidak ada kerjaan?” jawab Raka ketus.
“Bukan begitu, Kak. Tapi ini pertama kali aku pulang ke rumah setelah nikah. Takut mereka tanya kenapa suamiku tidak datang,” jelas Laras pelan.
“Kamu bilang saja aku sibuk kerja. Pergi sendiri saja, nanti sore aku jemput,” kata Raka supaya tidak ada yang curiga.
“Terima kasih, Kak,” ujar Laras sambil tersenyum lega.
“Untuk apa?” tanya Raka dingin.
“Karena Kakak mau menjemput nanti,” jawab Laras jujur.
“Hanya karena terpaksa saja,” balas Raka — ucapannya terasa menyakitkan di hati Laras.
****"
Keesokan harinya, Laras sampai di rumah orang tuanya.
“Assalamualaikum,” sapanya lembut sambil masuk.
“Waalaikumsalam, Non! Ternyata non Laras yang datang,” sapa Bibi, pembantu lama di rumah itu. “Kabarnya bagaimana, non,?”
“Alhamdulillah sehat, Bi. Aku kangen sekali di sini. Ini ada oleh-oleh dari Swiss, untuk bibi dan yang lain. Tolong dibagikan ya,” kata Laras sambil memberikan bingkisan.
Laras memang akrab dengan semua orang di rumah itu. Orang tuanya tidak pernah melarangnya bergaul, malah senang supaya dia tidak kesepian. Mengingat kesehatannya, ayahnya selalu membatasi kegiatan di luar supaya dia tidak terlalu capek.
Laras lalu naik ke lantai atas menuju kamar orang tuanya. Dia sengaja tidak bilang dulu supaya kedatangannya jadi kejutan.
“Ya ampun, Nak! Mama kangen sekali sama kamu,” seru Lina sambil memeluk erat putrinya.
“Aku juga kangen banget sama Mama,” jawab Laras sambil membalas pelukan itu.
“Wah, sepertinya putri kesayangan Papa cuma kangen mamanya saja. Kasihan aku ini,” goda Darma sambil tersenyum pura-pura cemburu.
“Siapa bilang? Aku juga kangen Papa kok. Papa itu pahlawan terbaik dalam hidupku,” jawab Laras sambil langsung memeluk ayahnya juga.
“Bagaimana kabarmu disana? Apakah Raka memperlakukanmu dengan baik?” tanya Darma dengan perhatian.
Setelah melepas pelukan, Darma tetap merasa khawatir. Sebagai ayah, dia tidak rela kalau putrinya diperlakukan dengan buruk.
Tapi Laras tidak mau membuat orang tuanya tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah tangganya. Dia berusaha menutupi semuanya. Lagipula, dia dan Raka masih dalam masa penyesuaian. Laras yakin, lambat laun suaminya akan mencintainya, bahkan takut kehilangan dirinya.
“Papa tenang saja, kak Raka baik kok. Kami baru saja memulai, mungkin rasa sayang belum tumbuh sekarang. Tapi aku yakin nanti dia akan menyayangiku. Dia juga sudah bilang mau belajar menerima aku sepenuhnya,” kata Laras.
“Syukurlah kalau begitu. Kalau sampai dia berbuat macam-macam, langsung bilang saja ke Papa. Biar Papa yang urus dia,” jawab Darma tegas.
Laras hanya tersenyum melihat sikap ayahnya yang selalu siap melindungi dia. Lina hanya menggeleng-geleng kepala, lalu menegur suaminya.
“Pa, jangan begitu. Biarkan mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Kita tidak boleh terlalu ikut campur. Lagipula sekarang Raka yang bertanggung jawab atas Laras. Tapi ingat, Nak, kalau suatu saat dia sudah keterlaluan, kamu boleh cerita ke kami,” nasihat Lina.
_____
Sesuai janjinya, Raka datang menjemput Laras sepulang kerja. Dia agak terlambat karena terjebak macet di jalan. Keluarga Laras menyambutnya dengan hangat, dan Raka pun tidak enak hati menolak ajakan makan malam bersama.
“Ayo, Nak Raka, kita makan malam dulu. Makanannya sudah siap,” ajak Lina.
“Iya, Ma,” jawab Raka, lalu mengikuti mertuanya ke meja makan.
Darma dan Lina senang melihat Laras melayani suaminya dengan baik. Mereka tidak menyangka putrinya bisa melakukan tugas itu dengan rapi. Keduanya berharap Laras akan hidup bahagia bersama Raka, lelaki yang sangat dicintai putrinya.
Setelah makan malam, Darma mengajak Raka bicara berdua saja. Raka merasa sedikit tegang, sepertinya mertuanya ingin membahas hal yang serius.
Mertua dan menantu itu duduk di teras sambil menikmati kopi yang dibuatkan Laras. Gadis itu sudah meminta ibunya mengajari cara membuat kopi kesukaan ayahnya.
“Ma, ajari aku cara bikin kopi andalan Mama dong,” pinta Laras.
“Ingat, Nak, jangan sampai terlalu capek. Nanti tidak bagus buat kesehatanmu. Lagipula Raka orang mampu, bisa menyuruh pembantu saja. Mama yakin kalau dia tahu soal sakitmu, pasti dia akan menjagamu dengan baik,” kata Lina.
“Aku tidak mau dia tahu, Ma. Aku cuma tidak mau dipandang lemah dan sakit-sakitan. Aku juga tidak mau hidup dengan belas kasihan orang lain. Jadi tolong ajari aku, ini cuma bikin kopi saja, tidak akan bikin capek,” bujuk Laras.
Akhirnya Lina mengajari Laras meracik kopi. Setelah jadi, Laras menyajikannya untuk ayah dan suaminya.
“Papa, Kak Raka, silakan diminum kopinya,” kata Laras sambil tersenyum.
Raka hanya mengangguk dan mengucap terima kasih, dia pura-pura semuanya baik-baik saja.
“Terima kasih, Nak. Sampaikan ke Mama, kopinya enak sekali seperti biasa,” kata Darma, mengira itu buatan istrinya.
Laras langsung meluruskan kesalahpahaman itu, sedikit kesal karena tidak dipuji.
“Papa tahu tidak, ini bukan buatan Mama,” kata Laras.
“Lalu buatan siapa?” tanya Darma penasaran.
“Ini buatan aku, Pa,” jawab Laras sambil tersenyum.
“Benarkah? Jangan bercanda,” kata Darma yang masih ragu.
“Papa ini bagaimana sih! Aku sudah berusaha bikin, bukannya dipuji malah diejek,” cemberut Laras.
“Maaf, Papa cuma bercanda. Terima kasih ya, sayang. Ternyata anak Papa sudah besar dan dewasa. Kamu rela belajar demi membahagiakan suamimu,” puji Darma agar tidak membuat hatinya kecewa.
“Hehehe, ya sudah. Silakan lanjut ngobrolnya, aku masuk dulu ke dalam,” kata Laras sambil pergi.
Laras pergi ke dalam dengan pipi yang memerah malu karena dipuji ayahnya.
Raka cuma diam saja melihat keakraban mereka berdua. Dalam hatinya dia merasa tidak nyaman melihat tingkah itu, tapi dia tetap memaksakan senyum supaya niat aslinya tidak ketahuan oleh Darma.
“Lihatlah istrimu itu, dia kelihatan sangat senang bisa jadi pendamping hidupmu. Sampai rela belajar bikin kopi khusus buat kamu. Ayo diminum dulu,” kata Darma bangga.
“Rasanya enak, Pa,” jawab Raka setelah mencicipi. Kali ini dia tidak berbohong, kopi itu memang terasa nikmat.
Mereka berdua terdiam sejenak sambil menyeruput kopi. Raka sesekali melirik Darma yang masih tenang, menunggu topik apa yang akan dibahas selanjutnya. Akhirnya Darma membuka percakapan.
“Apakah kamu merasa bahagia menikah dengan anakku?” tanyanya langsung.
“Belum bisa dibilang begitu, Pa. Aku butuh waktu untuk bisa membuka hati sepenuhnya,” jawab Raka jujur.
“Papa paham itu tidak mudah. Tapi satu hal yang Papa minta, jangan sampai menyakiti hati Laras. Cobalah perlahan menyayanginya dan jaga dia baik-baik buat kami. Kamu mungkin belum tahu, dia sudah lama menyukaimu, bahkan cuma kamu satu-satunya pria yang ada di hatinya. Dulu cuma Papa yang paling dia sayang, sekarang Papa harus ikhlas berbagi perhatiannya sama kamu,” kata Darma sambil tersenyum kecil.
“Baik, Pa. Aku akan menjaganya,” jawab Raka asal saja.
“Terus kenapa kalian memutuskan pindah ke apartemenmu sendiri?” tanya Darma lagi.
“Kami cuma butuh ruang untuk berdua, Pa. Di rumah terasa kurang leluasa. Kami juga ingin belajar mengurus rumah tangga sendiri,” jawab Raka dengan alasan yang dibuat-buat.
“Kamu tahu kan, Laras tidak pandai mengurus rumah atau memasak. Sejak kecil kami selalu menjaganya dan memanjakannya. Tapi Papa tetap menghargai kamu yang mau menerima dia apa adanya,” kata Darma, membuat Raka agak bingung.
“Apa maksud Papa?” tanyanya.
“Laras cerita kalau kamu sudah menyuruh orang untuk membersihkan apartemen supaya dia tidak terlalu capek. Dia juga bilang kamu tidak keberatan kalau dia memesan makanan instan,” jelas Darma.
“Iya benar, Pa. Aku cuma menyuruh orang datang bersih-bersih saja, tidak sampai menginap di situ. Aku tidak suka ada orang asing yang tinggal di tempat tinggalku,” jawab Raka.