Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Mas Arya Kembali
Hari ketika Arya Pradipta kembali berdiri di depan Keira, langit Jakarta sedang terlalu cerah.
Pagi itu Gemilang Tower menerima tim pemeriksa dari dinas kota. Proyek mixed-use Gemilang di Jakarta Selatan masuk tahap audit perizinan, dan Pak Bambang Pradipta memimpin rombongan bersama beberapa staf muda dari unit investasi kota.
Keira sudah membaca daftar nama semalam.
Arya Pradipta.
Nama itu ada di baris ketiga, jabatan tertulis rapi, tanpa tanda apa pun bahwa pemiliknya pernah mengisi sepuluh tahun hidup Keira dengan lampu belajar, keripik pisang, dan luka yang tidak kelihatan.
Ia hampir meminta Ci Lien menggantikannya mendampingi rapat. Hampir. Tapi Keira Khiu tidak pernah kabur dari pekerjaan hanya karena masa lalu muncul memakai batik dinas.
Pukul sembilan tepat, pintu ruang rapat besar terbuka.
Pak Bambang masuk lebih dulu. Rambutnya sudah lebih banyak putih, tetapi posturnya masih tegak. Di belakangnya, Arya melangkah dengan map kulit cokelat di tangan.
Keira lupa cara bernapas.
Tujuh tahun mengubah banyak hal, tetapi tidak cukup untuk membuat Arya menjadi orang asing. Ia lebih tinggi daripada dalam ingatan Keira, bahunya lebih bidang, wajahnya lebih matang. Mata panjang itu masih sama, tenang dan dalam, jenis mata yang dulu membuat Keira percaya semua kesulitan bisa diselesaikan kalau Mas Arya duduk di sebelahnya.
Di sisi meja, Siska yang membantu menyiapkan air minum berbisik terlalu pelan untuk disebut gosip, tetapi cukup jelas untuk didengar Keira.
"Itu siapa? Ganteng banget."
Mei menjawab, "Dari dinas? Aduh, kalau PNS sekarang modelnya begini, aku mau bayar pajak lebih rajin."
Keira menunduk, membuka laptop. Tangannya dingin.
"Pak Rayhan," sapa Pak Bambang. "Terima kasih sudah menerima kami."
Rayhan berdiri dan menjabat tangan. "Sama-sama, Pak Bambang. Semua dokumen sudah kami siapkan."
Lalu mata Arya menemukan Keira.
Tidak ada suara dramatis. Tidak ada musik. Hanya satu tatapan yang membuat ruang rapat penuh orang mendadak terasa seperti halaman rumah Khiu bertahun-tahun lalu.
"Keira," ucap Arya pelan.
Keira memaksa senyum profesional. "Selamat pagi, Pak Arya."
Satu kata "Pak" itu seperti pintu yang ia tutup dari sisi dalam.
Arya menatapnya sedikit lebih lama. Rayhan melihat itu.
Rapat dimulai. Keira berdiri di sisi layar, menjelaskan alur dokumen perizinan, status revisi, dan catatan dampak lalu lintas. Biasanya, ia bisa melakukan semua itu sambil mengingat tiga jadwal lain di kepala. Hari itu, matanya beberapa kali tersangkut pada jari Arya yang memegang pena, pada cara ia menunduk membaca, pada bekas kebiasaan lama ketika ia menyentuh pelipis sebelum bertanya.
"Keira," suara Rayhan memotong, "lampiran lingkungan."
Keira tersadar. "Ya, Pak."
Ia membuka file, tetapi kursor sempat melompat ke folder yang salah. Satu detik. Dua detik.
Rayhan tidak menegurnya. Hanya menatap.
Keira akhirnya menampilkan file yang benar. "Ini lampiran yang sudah disesuaikan dengan catatan dinas minggu lalu."
Arya mengangkat tangan. "Boleh saya lihat versi revisi sebelumnya?"
Suaranya tetap sama. Hangat, tenang, seolah ia tidak pernah meninggalkan Keira di kampus dengan tas laptop dan kata "adik".
Keira membuka folder. "Tentu, Pak."
Saat ia berjalan membagikan hard copy, Arya sengaja menahan kertas lebih lama. Ujung jari mereka hampir bersentuhan. Keira menarik tangan cepat, tetapi sebuah lipatan kecil sudah terselip di bawah dokumen yang ia bawa kembali ke meja.
Kertas itu baru ia buka di pantry setelah rapat sesi pertama selesai.
Nomor lamanya masih aktif?
Tulisan tangan Arya tidak berubah. Rapi, sedikit miring ke kanan.
Keira menatap kertas itu terlalu lama. Ia seharusnya merobeknya. Seharusnya membuangnya. Seharusnya ingat rekaman suara Nadia dan kata "adik" yang membuatnya berhenti makan.
Tapi jari Keira malah mengambil pulpen.
Masih.
Ia menulis satu kata itu di balik kertas, lalu saat mengantar kopi ke ruang tunggu, ia meletakkannya di samping map Arya tanpa ada orang melihat.
Atau ia pikir tidak ada orang melihat.
Rayhan berdiri di ujung koridor, memegang cangkir kopi yang belum diminum. Matanya mengikuti gerakan Keira, lalu berhenti pada Arya yang menyelipkan kertas itu ke saku dada.
Perasaan aneh yang pernah muncul saat melihat Kevin kini kembali, tetapi lebih tajam.
Sesi kedua lebih buruk. Arya beberapa kali mengajukan pertanyaan yang sebenarnya bisa ditanyakan staf lain. Setiap kali Keira menjawab, ia menatap seolah ingin membaca sesuatu di balik wajahnya. Keira menjawab dengan data, dengan angka, dengan nada kantor. Di dalam, ia seperti duduk di tepi sumur lama dan mendengar suara sendiri memantul dari dasar.
Menjelang makan siang, tim dinas turun ke restoran hotel sebelah untuk jamuan singkat. Keira ikut karena Rayhan memintanya membawa dokumen tambahan.
Di lift, Arya berdiri di belakangnya.
"Keira," katanya pelan.
Keira menatap angka lantai. "Ada yang perlu direvisi, Pak?"
"Kamu harus memanggilku seperti itu?"
"Ini jam kerja."
"Setelah jam kerja?"
Pintu lift terbuka. Keira keluar sebelum menjawab.
Di restoran, staf perempuan Gemilang tidak berhenti mencuri pandang ke arah Arya. Bella, yang entah bagaimana muncul sebagai pendamping vendor untuk acara kecil itu, langsung mengenali kesempatan.
"Oh, itu Arya?" Bella berbisik kepada Siska dengan nada yang jelas sengaja dibuat terdengar. "Teman masa kecil Keira. Dulu Keira suka banget sama dia."
Siska terkejut. "Serius?"
"Satu kampus tahu, kok. Sayangnya Arya pilih Nadia. Keira sampai kurus waktu itu."
Garpu di tangan Keira berhenti.
Mei yang duduk di dekatnya langsung menoleh, wajahnya tidak enak. Beberapa orang pura-pura tidak mendengar, tetapi meja bundar punya cara kejam untuk membuat gosip berputar.
Bella tersenyum kecil, seolah ia hanya menceritakan nostalgia.
"Bel," kata Keira pelan.
"Apa? Aku cuma cerita masa kuliah."
"Kalau kamu kekurangan bahan bicara, bahas cuaca."
Bella mengangkat bahu. "Jangan sensitif. Semua orang punya masa lalu."
Sebelum Keira menjawab, Rayhan meletakkan gelasnya sedikit lebih keras di meja.
"Nona Bella," katanya tanpa menaikkan suara, "vendor event dibayar untuk memastikan acara berjalan rapi, bukan membuka arsip pribadi karyawan saya."
Senyum Bella menghilang.
Seluruh meja diam.
Rasa panas yang tadi naik ke wajah Keira perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih aneh. Ia sudah terbiasa membela diri sendiri. Kalau orang menyinggung tubuhnya, ia bisa tertawa. Kalau orang mengungkit masa lalu, ia bisa menusuk balik. Tapi saat Rayhan bicara lebih dulu, semua tatapan yang tadi menempel di kulitnya seperti terangkat paksa.
Siska segera menunduk ke piring. Mei mengambil air minum dengan gerakan kaku. Dua staf pria dari Optima pura-pura membahas parkir, jelas-jelas terlambat.
Bella membuka mulut. "Pak Rayhan, saya tidak bermaksud..."
"Maksud tidak menghapus akibat." Rayhan mengambil serbet, mengusap ujung jarinya. "Minta maaf."
Bella memucat.
Keira sendiri ikut kaget.
"Kei," Bella berkata pelan, suaranya tidak lagi manis, "maaf."
"Diterima," jawab Keira, walau dadanya masih berdenyut.
Keira menatap Rayhan, kaget. Rayhan tidak melihatnya. Ia hanya melanjutkan makan seolah baru saja mengoreksi kesalahan format laporan.
Arya, di seberang meja, melihat semuanya.
Setelah jamuan selesai, Pak Bambang berbicara dengan Rayhan di dekat pintu. Keira berdiri agak jauh, menunggu instruksi pulang. Arya mendekat.
"Terima kasih nomornya," katanya.
"Kalau soal dokumen, bisa hubungi kantor."
"Aku tidak hanya ingin bicara soal dokumen."
Keira menatapnya. Dekat begini, ia bisa melihat garis halus di sudut mata Arya, tanda tujuh tahun yang tidak mereka lalui bersama.
"Mas Arya," katanya akhirnya, suara itu keluar lebih lembut daripada yang ia rencanakan, "kita tidak punya urusan pribadi."
Arya tersenyum tipis. Senyum lama. Senyum yang dulu membuat Keira menyerahkan keripik pisang dan semua kepercayaannya.
"Kalau tidak punya urusan, kenapa kamu menghindar sejak dulu?"
Dada Keira seperti ditekan.
"Saya harus kembali ke kantor."
"Malam ini makan bersama? Aku ingin bicara. Sebagai kakak, sebagai teman lama."
Kata "kakak" membuat sesuatu di wajah Keira menutup.
"Pacar saya tidak suka saya makan malam berdua dengan pria lain," katanya.
Arya terdiam.
Keira sendiri ikut terdiam. Ia tidak punya pacar. Semua orang di rumah tahu. Tapi kebohongan itu keluar karena ia membutuhkan pagar yang cukup kuat untuk menahan Arya, dan harga dirinya sendiri tidak lagi terasa cukup.
"Pacar?" ulang Arya.
Dari belakang mereka, Rayhan berjalan mendekat. Ia mendengar kata itu. Ekspresinya tidak berubah, tetapi langkahnya melambat.
"Keira," katanya, "mobil sudah siap."
"Baik, Pak Direktur."
Keira pergi bersama Rayhan tanpa menoleh.
Sepanjang perjalanan kembali ke Gemilang, Rayhan tidak bertanya siapa pacar itu. Keira tidak menjelaskan. Di dalam mobil, udara dingin AC terasa terlalu tipis.
Sore harinya, pesan WhatsApp masuk dari nomor tak dikenal.
Ini Arya. Kamu benar-benar punya pacar?
Keira menatap layar sampai huruf-hurufnya kabur.
Pesan kedua datang.
Keira, aku cuma ingin tahu kenapa kamu tiba-tiba tidak pernah datang lagi. Apa salahku?
Tujuh tahun lalu, pertanyaan itu mungkin akan membuatnya menangis semalaman.
Hari ini, ia hanya mematikan layar.
Namun pukul sembilan malam, saat Keira sedang duduk di meja makan rumah, ponselnya berdering. Nomor yang sama.
Mama Lina menatapnya dari dapur.
Keira mengangkat telepon dan berjalan ke teras.
Di seberang, suara Arya terdengar lebih rendah, lebih dekat.
"Keira, jangan tutup. Aku cuma mau tanya satu hal."
Keira menggenggam ponsel begitu kuat sampai jarinya memucat.
"Kenapa kamu tiba-tiba tidak mau bicara denganku lagi?"
Angin malam bergerak di halaman rumah Khiu. Keira membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Dik," kata Arya pelan, memakai panggilan lama yang dulu ia gunakan saat membujuknya belajar, "malam ini kita makan bersama?"
Keira menutup mata.