NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG BAYANG DAEI MASA LALU

Duaa bulan telah berlalu sejak Kirana pertama kali menginjakkan kakinya di Kota Valerion. Di dalam lingkungan The Velvet Rose, namanya kini telah sejajar dengan para wanita malam senior. Ia bukan lagi sekadar gadis desa yang ketakutan; ia telah bertransformasi menjadi "Mawar Hitam," sebuah nama panggung yang diberikan para tamu karena auranya yang anggun namun dingin dan menyimpan misteri.

​Sore itu, suasana di lantai tiga tampak begitu sunyi. Kirana baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan kini duduk di depan meja rias, menyisir rambut hitam panjangnya yang basah. Di sudut cermin, terselip lima lembar resi pos berwarna kuning—bukti nyata dari setiap tetes keringat, rasa sakit, dan harga diri yang ia gadaikan di tempat ini. Melalui surat pendek yang dituliskan Bu Joko bulan lalu, Kirana tahu bahwa kondisi ibunya mulai stabil karena obat-obatan rutin yang mahal, dan Danu kini sudah memiliki sepeda bekas untuk pergi ke sekolah kecamatan.

​Informasi itu adalah satu-satunya obat penawar bagi jiwa Kirana yang kian hari kian mengeras.

​Tok, tok, tok.

​"Kirana, ini aku," suara Mbak Lastri terdengar dari balik pintu, disusul dengan bunyi gesekan kunci yang diputar.

​"Masuk saja, Mbak, tidak dikunci," jawab Kirana tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.

​Mbak Lastri melangkah masuk, namun langkahnya kali ini terasa buru-buru. Wajahnya tidak lagi menampakkan ekspresi lelah yang biasa, melainkan ada semacam ketegangan yang tertahan di balik riasan tebalnya. Ia menutup pintu rapat-rapat dan langsung berjalan mendekati meja rias Kirana.

​"Ada apa, Mbak? Kok mukanya tegang begitu?" tanya Kirana, meletakkan sisirnya perlahan.

​"Mami Rosa baru saja menerima telepon dari resepsionis bawah," Lastri berbisik, matanya melirik ke arah pintu seolah takut ada dinding yang menguping. "Ada tamu baru yang memesan tempat di bar utama malam ini. Dia datang dari daerah asalmu, Kirana."

​Jantung Kirana seketika berdesir tajam. Gerakan tangannya membeku. "Dari desa saya?"

​"Bukan orang biasa," lanjut Lastri, wajahnya kian serius. "Namanya juragan jaya. Pemilik pabrik penggilingan padi terbesar di kecamatanmu. Orang yang paling kaya dan paling berkuasa di daerah stasiun lama."

​Mendengar nama itu, seolah-olah sebuah palu besar menghantam dada Kirana. Juragan Jaya.

​Ingatannya langsung melesat kembali ke beberapa minggu sebelum bapaknya meninggal. Juragan Jaya adalah lelaki paruh baya bermata licik yang pernah datang ke gubuknya, menawarkan bantuan uang pengobatan untuk bapaknya dengan syarat yang teramat menjijikkan: Kirana harus mau dijadikan istri keempatnya. Saat itu, mendiang bapaknya dengan tegas melempar tongkat kayunya dan mengusir pria tua bangka itu dari halaman rumah mereka. Kematian bapaknya yang tanpa pengobatan layak pun, sebagian besar terjadi karena mereka menolak tunduk pada kesombongan uang Juragan Jaya.

​"Kenapa dia bisa ada di Valerion, Mbak?" suara Kirana berubah menjadi sangat rendah, selembut desis ular.

​"Dia sedang ada urusan bisnis untuk memperluas jaringan distribusi berasnya ke Distrik Utara," jelas Lastri. "Dan salah satu rekan bisnisnya di sini membawanya ke The Velvet Rose untuk merayakan kesepakatan mereka. Masalahnya adalah, Mami Rosa berniat menugaskanmu untuk mendampingi meja mereka malam ini karena mereka memesan tempat di area sofa premium."

​Kirana mencengkeram tepi meja rias hingga jemarinya memutih. Rasa mual yang pekat mendadak naik ke tenggorokannya, bersatu dengan amarah yang selama ini ia tekan di dasar hatinya.

​Bertemu dengan orang dari masa lalunya di tempat jahanam ini adalah mimpi buruk terbesar Kirana. Ia tidak ingin ada satu orang pun dari desanya tahu bahwa Kirana, gadis yang dahulu mereka puji karena kesucian dan keluguannya, kini telah berubah menjadi wanita malam yang tubuhnya bisa dibeli dengan lembaran rupiah di Kota Valerion. Jika Juragan Jaya melihatnya di sini, maka dalam sekejap, kehormatan keluarganya di desa akan hancur lebur menjadi bahan gunjingan di pasar-pasar subuh. Ibunya yang sakit-sakitan tidak akan pernah kuat menahan malu itu.

​"Saya tidak mau, Mbak. Tolong bilang ke Mami, saya sakit. Punggung saya kambuh," kata Kirana, matanya berkilat oleh kepanikan yang jarang ia tunjukkan.

​Lastri menggelengkan kepala dengan pasrah. "Tidak bisa, Kirana. Rekan bisnis Juragan Jaya itu adalah Tuan Bramanto. Kamu ingat kan, pria tambun yang memesanmu di malam pertamamu? Dialah yang meminta Mami Rosa secara khusus untuk menurunkanmu malam ini sebagai bentuk 'pameran' kepada Juragan Jaya. Jika kamu menolak, Mami akan tahu ada yang tidak beres, dan kamu tahu sendiri apa akibatnya jika membuat Mami Rosa rugi di depan tamu penting."

​Ruangan itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu menuju kehancuran Kirana.

​Kirana memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya berputar cepat seperti gasing. Melarikan diri malam ini berarti memancing kecurigaan Mami Rosa dan berisiko menghentikan aliran uang untuk keluarganya. Namun menghadapi mereka berarti membuka kedoknya di depan musuh lamanya.

​Ketika ia membuka matanya kembali, kepanikan di wajah Kirana telah lenyap. Tatapan matanya berganti menjadi kekosongan yang sedingin es—sebuah mekanisme pertahanan diri yang telah ia sempurnakan di dalam sangkar derita ini.

​"Jam berapa mereka datang, Mbak?" tanya Kirana datar.

​"Jam sembilan malam," jawab Lastri, sedikit terkejut melihat perubahan drastis pada sikap Kirana.

​"Baik. Berikan saya gaun yang paling menutup wajah, Mbak. Sesuatu yang memiliki penutup kepala atau renda wajah yang tebal. Dan... tolong siapkan segelas minuman khusus untuk saya di meja bar sebelum saya turun," tutur Kirana, sebuah rencana kelam perlahan mulai terbentuk di dalam benaknya.

​Tepat pukul sembilan malam, bar utama The Velvet Rose telah dipenuhi oleh kilatan lampu neon merah dan ungu yang sensual. Di sudut sofa premium yang paling luas, Tuan Bramanto duduk sembari tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak seorang pria paruh baya yang mengenakan batik sutra mahal namun tampak udik dengan cincin batu akik besar di hampir setiap jarinya. Pria itu adalah Juragan Jaya. Matanya yang kecil terus mengedar ke sekeliling kelab dengan binar kekaguman yang norak, terpesona oleh gemerlapnya kemaksiatan Kota Valerion.

​"Hahaha! Bagaimana, Jaya? Kota Valerion tidak ada tandingannya, kan? Di desamu mana ada pemandangan seindah ini!" seru Tuan Bramanto sembari menuangkan wiski ke gelas rekannya.

​"Benar sekali, Tuan Bramanto. Benar-benar luar biasa. Di desa saya, jam segini orang-orang sudah tidur berselimut sarung," sahut Juragan Jaya dengan logat daerahnya yang kental, membuat beberapa wanita malam yang duduk di sekitarnya menahan tawa ejekan.

​Dari arah tangga marmer, Kirana mulai melangkah turun. Malam ini, ia tampil sangat berbeda. Ia mengenakan gaun panjang berbahan brokat hitam ketat yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke pergelangan tangan. Rambut hitamnya ditata menyamping, dan separuh wajah bagian atasnya tertutup oleh fascinator hat—topi renda hitam khas bangsawan Eropa yang jaring-jaringnya menjuntai hingga ke batas hidung, menyamarkan struktur wajah dan matanya dengan sempurna dari kejauhan.

​Setiap langkah Kirana terasa berat, seolah ia sedang menyeret rantai besi yang tak terlihat. Di dalam dadanya, kebencian bergolak hebat saat melihat wajah Juragan Jaya yang tersenyum menjijikkan di bawah temaram lampu kelab. Pria tua itulah salah satu penyebab bapaknya harus meregang nyawa dalam kemiskinan.

​"Ah, ini dia! Primadona kita sudah datang!" Tuan Bramanto berdiri, menyambut Kirana dengan rentangan tangan terbuka. "Jaya, kenalkan, ini Mawar Hitam. Permata paling berharga di kelab ini."

​Kirana melangkah mendekati sofa, membungkuk hormat dengan anggun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi luar sofa, menjaga jarak sedapat mungkin dari Juragan Jaya, namun tetap berada di dalam lingkaran obrolan.

​Juragan Jaya langsung menatap Kirana dari balik jaring renda hitamnya. Matanya yang licik menyipit, mencoba menembus kegelapan dan samaran wajah Kirana. Ada kerutan samar di dahi pria tua itu, seolah ia merasakan sesuatu yang akrab dari bentuk tubuh atau aroma gadis di depannya.

​"Mawar Hitam... nama yang eksotis," ujar Juragan Jaya, suaranya membuat bulu kuduk Kirana meremang karena jijik. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Kirana, menyemburkan bau napasnya yang khas. "Tapi rasanya... saya seperti pernah melihat potongan tubuh sepertimu di suatu tempat. Logat jalanmu, tinggi badanmu... sangat mirip dengan anak perawan musuh saya di desa."

​Jantung Kirana berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang, namun wajahnya di balik renda hitam tetap mematung sedingin patung marmer. Permainan psikologis di dasar neraka Valerion ini baru saja dimulai, dan Kirana tahu, satu kesalahan kecil malam ini bisa menghancurkan seluruh sisa kehidupannya di dunia luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!