Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Rindu
Dalam kesunyian ditemani suara hujan, Arinta bisa berpikir lebih jernih daripada sebelumnya.
Yang ia pikirkan sejauh ini adalah alasan mengapa ia menjadi orang lain di tahun ini. Jawabannya mungkin, untuk menyelamatkan hidup gadis bernama "Arinta Syafira."
Bayangan singkat tentang sesuatu kembali berputar. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar psikopat. Manusia mana yang mau membunuh orang dengan cara seperti itu?
Dalam ingatan sekilas itu, Arinta bisa merasakan rasa sakit ketika dirinya ditusuk oleh pecahan kaca. Ia juga mengingat beberapa kalimat yang diucapkan orang-orang disekitarnya ketika ia sekarat.
"Arinta.. Kenapa? Kenapa kamu-" ucap Andre tak kuasa.
"B4jingan!!" cerca Rido yang suaranya terdengar sangat emosi.
Sementara itu Deri hanya memusatkan perhatiannya pada Arinta. Ia Menangis?
Arinta menggeleng untuk menyadarkan dirinya kembali. Ia memegang dadanya yang masih terasa nyeri seolah benar-benar ditusuk.
"Ta?"
"Aku mau pulang. Besok aku balikin jaket kamu di sekolah," ucap Arinta sambil bangkit dan melangkah pergi.
Hujan mulai reda. Arinta tak ingin berlama-lama dengan psikopat gila itu. Persetan dengan tidak pamit kepada Mak Edah, ia sudah tak mau berurusan lebih lama dengan tempat dan penghuninya.
Dalam perjalanan pulang, Arinta berandai-andai kalau saja sudah ada Google Maps, Arinta pasti bisa dengan mudah menemukan banyak lokasi, termasuk daerah tempat tinggal orang tuanya.
Kini, ia sedang menatap jalan sepi dengan sisa-sisa hujan dari balkon rumahnya. Hal ini baru pertama kali ia rasakan—punya rumah tingkat.
"Arinta… Aku bakal bantu kamu supaya bisa hidup lebih lama," gumamnya dengan tatapan lurus entah ke mana.
Tiiin…
Suara mobil mengalihkan atensinya. Ternyata, Miza sudah pulang.
Mereka melakukan kontak mata sebentar sebelum akhirnya Arinta yang memutus kontak lebih dulu.
Hah… Arinta jadi merindukan kakak laki-lakinya, Ghifari.
Berbicara soal Ghifari, ia bertanya-tanya bagaimana keadaan sang kakak jika tahu dirinya kecelakaan lalu koma. Pasti sangat stres. Pasti dia sedang sendirian sekarang.
Tunggu! Bagaimana kalau Arinta tidak bisa kembali ke tahunnya?
Bagaimana kalau ia benar-benar bertukar kehidupan dengan "Arinta Syafira"? Bagaimana kalau hanya si kembar yang bisa kembali, sementara ia terjebak di sini selamanya?
Di tengah kegundahan, suara seseorang mengagetkannya.
"Kenapa lagi?" tanya Miza yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Besok Arinta sekolah, ya?"
"Emang udah ngerasa enakan?"
Arinta mengangguk.
"Udah kelas 12, nggak boleh banyak nggak masuk."
"Ya udah. Nanti abang anter, ya? Atau mau dijemput Deri?"
Untuk saat ini, Arinta hanya ingin menjalani hari seperti biasa, tanpa gangguan dari pihak lain—terutama Deri. Ia ingin menjauh dari orang yang menjadi pemantik kemarahan psikopat gila yang membunuh Arinta Syafira.
"Dianter abang aja."
"Ya udah. Abang mau bersih-bersih dulu."
Arinta kembali sendirian. Pikiran-pikiran tak diundang kembali menyelimuti dirinya.
Bagaimana kalau ia bunuh diri saja di sini?
Supaya bisa langsung kembali ke tahun asalnya. Ia tak ingin mengubah takdir siapa pun. Ia hanya ingin menerima segala yang sudah Tuhan gariskan.
***
Arinta melambaikan tangan untuk melepas kepergian sang kakak.
"Sekolah yang bener!" ucap Miza.
"Bang, jangan lupa tengok si kembar di rumah sakit!" teriak Arinta pada mobil yang mulai melaju.
Smansa, i'm ready!
Arinta berjalan dengan langkah tegas, meskipun sambil sedikit melirik papan keterangan kelas. Berdasarkan buku-buku pelajaran milik "Arinta," ia duduk di kelas 12 IPS 2.
Ia tersenyum sumringah saat berhasil menemukan kelasnya setelah sekian menit berputar-putar di lingkungan sekolah.
Saat memasuki kelas, ia merasa terasingkan. Arinta Syafira sepertinya tidak punya teman dekat sama sekali. Karena datang agak telat, ia langsung tahu bangku mana yang harus ditempati. Hanya ada dua kursi kosong di paling belakang. Hah… Padahal biasanya ia lebih suka duduk di depan.
Tiba-tiba kepalanya kembali terasa sakit. Ah, beberapa hari ini sepertinya banyak sekali ingatan yang muncul.
"Deri itu lebih brengsek dari gua, Ta. Harus berapa kali aku bilang?"
"Ndre.. Gua tau."
"Terus kenapa? Kenapa masih mau?"
"Gua.."
"Dia nggak suka lu. Dia cuma mau ngasih unjuk ke gua kalo dia pemenangnya."
"Tapi dia baik," cicitnya.
Andre mengacak rambutnya gusar.
"Terserah lu deh!"
Satu kebenaran lagi yang Arinta dapat. Entah benar atau tidak, tapi itu mungkin.
Arinta memperhatikan sekitar. Bel belum berbunyi, jadi ia memutuskan mencari Andre terlebih dahulu untuk mengembalikan jaket yang ia pinjam kemarin. Ia pun bangkit dengan membawa Paper bag di tangannya.
Klise sekali hidup Arinta ini, kalau memang benar anak seintrovert itu bisa dipacari anak seterkenal dan seaktif Deri.
Ah, panjang umur sekali—orangnya muncul tepat saat Arinta berada di ambang pintu kelas.
"Arinta? Lu beneran udah sembuh?" tanyanya.
"Udah," jawab Arinta ogah-ogahan.
"Bisa minggir dulu nggak? Gua mau nyari Andre. Oh, atau lu tadi lihat dia nggak?"
"Gua? Lu? Sejak kapan kita pake bahasa itu?" wajah Deri terlihat sedikit mengeras, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
Arinta hanya mengerikan bahu.
"Enggak, aku nggak lihat. Ngapain nyari dia?"
"Mau balikin sesuatu." Arinta mendorong Deri supaya tidak menghalangi jalannya.
"Nanti keburu bel, minggir!"
Deri menahan Arinta agar tidak pergi.
Arinta bisa merasakan atmosfer di sekitarnya berubah menjadi dingin. Tatapan dan bisikan orang-orang mulai bersahutan.
"Kamu masih sakit ya?" Deri mengangkat sebelah tangannya hendak memegang kening Arinta, sementara satu tangannya masih mencekal.
"Apaan sih?!" Arinta langsung menepis tangan itu.
"Aku udah sembuh. Kayaknya kamu deh yang sakit."
Tatapan mata Deri sudah tak sebersahabat sebelumnya. Mungkin emosinya sudah tak terbendung.
"Kenapa?! Mau marah?! Marah aja, marah! Gua emang pacar lu, tapi gua juga punya hak buat ngelakuin sesuatu yang nggak harus selalu lu tahu!" ucap Arinta, menantang.
Bisikan-bisikan di sekitar semakin ramai.
"Eh, si Arinta kayaknya ngilang seminggu jadi makin sadar ya kalo si Deri itu cowok nggak bener."
"Si pendiem mulai bersuara, coi. Pasti seru."
"Lagian mau aja pacaran sama anak begitu, mereka kan nggak setara."
Deri melepaskan cekalan tangannya dengan kasar dan melenggang pergi tanpa merespon ucapan terakhir Arinta.
Di tengah kerumunan itu, ternyata ada orang yang Arinta cari sejak tadi.
"Andre!" panggil Arinta saat melihat Andre yang mulai ikut membubarkan diri.
Andre menoleh, menatap ke arah Arinta yang memanggil namanya.
Arinta sempat salah fokus memperhatikan wajah Andre. Pertemuan pertama mereka kemarin mungkin tidak memberinya kesempatan untuk mengamati dengan detail.
Wajah Andre tampak sangat lokal: kulit sawo matang, tinggi—mungkin bawaan anak basket—tidak terlalu tampan, tetapi manis. Berbanding terbalik dengan Deri, yang memiliki kulit putih bersih terawat, tinggi dengan postur tubuh atletis, memancarkan aura orang kaya.
"Ta?!" Andre melambaikan tangan di depan wajah Arinta, membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya." Arinta tersadar seketika.
"Ini. Gua mau balikin jaket lu yang kemarin. Makasih ya." Arinta menyodorkan paper bag yang sedari tadi digenggamnya.
Andre menerimanya tanpa banyak basa-basi, lalu berbalik hendak pergi.
"E-" Arinta hampir memanggil Andre kembali, tetapi urung melakukannya.
Ia menghela napas pelan, lalu kembali ke kelas dengan langkah malas. Kini ia duduk sendirian dikursinya. Ia jadi semakin merindukan teman-temannya.
Aguil, Aru, dan si kembar. Kalau Tama dan Tami masih bisa ia temui, tapi Aru dan Aguil? Tidak ada yang bisa mengobati rindunya pada mereka. Apalagi Aguil—jika ia ada di sini, pasti ia tidak akan membiarkan Arinta merasa kesepian seperti ini.
Bel masuk berbunyi. Arinta benar-benar duduk sendirian di bangku paling belakang, persis seperti anak introvert yang terbuang.
***