NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. MAHAR

Robinson yang baru menyadari jarak mereka terlalu dekat segera berdeham pelan. Ia menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. "Sudah terbuka," ucapnya tenang. "Ayo kita turun."

"Eh?" Cika seperti baru tersadar. Pipi gadis itu langsung memanas. "I-iya, Pak."

Dengan gerakan tergesa, Cika membuka pintu mobil dan buru-buru turun. Ia mengembuskan napas panjang begitu kedua kakinya menapak di pelataran butik. "Ya ampun ... kenapa aku malah bengong begitu?" batinnya malu. "Untung Pak Robinson nggak sadar kalau aku memperhatikan wajahnya."

Di sisi lain mobil, Robinson juga turun sambil merapikan kemejanya. Tatapannya sempat mengarah kepada Cika yang masih terlihat salah tingkah. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi ia tidak mengatakan apa pun. "Ayo," ajaknya singkat.

"Iya, Pak."

Keduanya berjalan berdampingan memasuki butik milik Astri. Bel berbunyi pelan saat pintu kaca didorong.

Astri yang sedang memeriksa beberapa gaun langsung menoleh. Wajahnya seketika berbinar. "Pak Robinson! Cika!" serunya ramah. "Akhirnya datang juga."

"Iya, As. Maaf agak lama," ujar Robinson sambil menjabat tangan istri dari sekretarisnya itu.

"Nggak apa-apa, Pak. Yuk, langsung saja. Bajunya sudah saya siapkan." Astri kemudian memanggil beberapa asistennya. "Tolong bawa kebaya dan setelan jas yang kemarin."

"Baik, Bu." Tak lama kemudian, dua orang pegawai datang membawa sebuah kebaya putih gading elegan dan sebuah setelan jas berwarna hitam.

"Silakan dicoba sekali lagi," kata Astri.

"Kalau semuanya sudah pas, besok tinggal masuk proses finishing."

Cika menerima kebaya itu dengan kedua tangan. "Baik, Bu."

"Ruang gantinya di sebelah sana."

Cika mengangguk lalu berjalan menuju ruang ganti. Sementara itu, Robinson juga membawa jasnya ke ruang ganti pria.

Sekitar lima belas menit kemudian, pintu ruang ganti wanita terbuka perlahan.

Cika melangkah keluar dengan kebaya putih gading yang membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana. Meski tanpa riasan berlebihan, kecantikannya justru tampak semakin alami.

Beberapa pegawai butik spontan tersenyum kagum.

"Cantik sekali ..."

"Cocok banget ..."

"Seperti putri."

Mendengar pujian itu, Cika hanya tersenyum malu.

Di saat yang hampir bersamaan, Robinson juga keluar dari ruang ganti.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang dipadukan dengan kemeja putih. Penampilannya terlihat semakin berwibawa dan elegan.

Astri mengangguk puas. "Masya Allah. Coba kalian berdiri berdampingan sebentar."

Cika dan Robinson saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya berdiri bersebelahan.

Begitu melihat mereka berdiri berdampingan, Astri tersenyum lebar. "Pas sekali," gumamnya puas. "Kalian benar-benar terlihat serasi."

Mendengar ucapan itu, Cika langsung menundukkan wajah. Pipi putihnya kembali memerah, sementara Robinson hanya tersenyum tipis tanpa memberikan tanggapan.

Setelah mereka mencoba baju pernikahan, keduanya pun berpamitan. Robinson membukakan pintu mobil untuk Cika, lalu ia pun masuk.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Robinson meninggalkan butik. Sepanjang perjalanan, keduanya sesekali berbincang ringan sebelum akhirnya kendaraan itu memasuki kawasan perumahan elite yang tenang dan asri.

Cika menoleh ke luar jendela. "Pak ... ini kita mau ke mana?"

Robinson menjawab tenang. "Saya ingin mengajak kamu ke salah satu rumah saya sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan."

"Oh ... baik, Pak."

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di halaman sebuah rumah mewah bergaya modern. Robinson turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Cika. "Ayo kita masuk!"

Cika mengangguk pelan dan mengikuti langkah Robinson memasuki rumah yang tampak bersih dan terawat. "Silakan duduk, Cika," ujar Robinson. "Saya ke kamar dulu. Mau ambil sesuatu."

"Iya, Pak." Cika duduk di sofa sambil memandangi sekeliling rumah. Interiornya didominasi warna putih dan cokelat dengan perabotan yang elegan. "Apa ya yang ingin Pak Robinson tunjukkan?" batinnya penasaran.

Tak berselang lama, langkah kaki Robinson kembali terdengar. Pria itu keluar dari salah satu ruangan sambil membawa beberapa kotak perhiasan dengan berbagai ukuran, dari yang besar hingga yang kecil. Di tangannya yang lain terdapat sebuah map dokumen berwarna cokelat. Robinson meletakkan semuanya perlahan di atas meja tepat di hadapan Cika.

Cika mengernyit bingung. "Pak ... ini apa?"

Robinson membuka salah satu kotak terbesar. Di dalamnya tersusun satu set perhiasan berlian yang berkilau terkena cahaya lampu. "Ini untuk mahar." Ia lalu membuka kotak kecil yang berada di sampingnya. Sepasang cincin dengan desain elegan tampak tersimpan rapi di dalamnya. "Kalau yang ini cincin pernikahan kita."

Mata Cika langsung membulat. "Pak ... kenapa banyak sekali?" tanyanya dengan suara pelan. Tatapannya berpindah ke map dokumen di atas meja. "Kalau ini dokumen apa?"

Robinson mendorong map itu pelan ke arah Cika. "Itu sertifikat dan surat-surat rumah ini."

Cika kembali menatap Robinson dengan wajah penuh keterkejutan. "Rumah ini ...?"

"Iya," jawab Robinson mantap. "Rumah ini juga akan saya jadikan bagian dari mahar untuk kamu."

"Apa?" Cika sampai menegakkan duduknya. "Pak Robinson ... jangan bercanda."

"Saya tidak sedang bercanda."

"Tapi ... ini rumah, Pak. Nilainya pasti puluhan atau mungkin ratusan miliar."

Robinson mengangguk pelan. "Saya tahu."

"Lalu ... kenapa harus diberikan kepada saya?"

Pria itu menatap Cika dengan sorot mata yang tenang. "Karena saya ingin memberikan mahar terbaik untuk wanita yang akan menjadi istri saya."

Cika terdiam. Dadanya bergemuruh hebat. Ia menatap kembali kotak-kotak perhiasan, cincin pernikahan, lalu map berisi surat-surat rumah itu secara bergantian. Semuanya terasa begitu sulit dipercaya. "Pak ... saya benar-benar tidak menyangka," ucapnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mahar sebanyak ini, terlalu besar untuk saya."

Robinson menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Tidak besar, Cika. Ini biasa saja."

Cika langsung mengangkat wajah. "Biasa bagaimana, Pak?" ujarnya lirih. "Bapak sudah banyak sekali membantu saya. Mulai dari biaya pengobatan Sinta, sampai biaya kuliah saya yang juga akan Bapak tanggung." Ia menundukkan kepala dengan rasa sungkan yang begitu besar. "Saya benar-benar merasa sudah terlalu banyak merepotkan Bapak."

Robinson menatap gadis itu dengan penuh ketenangan. "Itu sudah menjadi kewajiban saya."

"Kewajiban?" Cika mengulang pelan.

"Iya." Robinson mengangguk. "Sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya. Sudah seharusnya saya bertanggung jawab atas kehidupan istri saya dan keluarganya."

Cika masih tampak ragu. "Tapi tetap saja, Pak ..."

"Tolong jangan menolak, Cika."

Ucapan itu membuat Cika terdiam. Ia kembali menatap kotak-kotak perhiasan dan map berisi surat-surat rumah di hadapannya. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia mengembuskan napas panjang. Perlahan, Cika mengangguk. "Baik, Pak."

Robinson tersenyum tipis. "Terima kasih."

Cika menatap pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau begitu ... bagaimana saya membalas semua kebaikan Bapak?"

Robinson menggeleng. "Tidak perlu dibalas."

"Lalu ...?"

"Kamu cukup membuat Rebeca berubah."

Cika berkedip pelan. "Berubah?"

"Iya." Tatapan Robinson menjadi lebih dalam. "Saya ingin dia menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijaksana, dan tidak lagi memandang orang lain dari status maupun harta." Cika mendengarkan dengan saksama. "Selain itu ..." Robinson melanjutkan, "Tolong dampingi dia."

"Maksud Bapak?"

"Setelah pernikahan kita nanti, saya akan lebih sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ada banyak proyek dan kerja sama yang harus saya tangani secara langsung." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Saya tidak mungkin selalu berada di dekat Rebeca." Sorot mata Robinson berubah menjadi seorang ayah yang penuh harap. "Karena itu, saya berharap kamu bisa menjadi seseorang yang menemani, membimbing, dan mengingatkannya ketika dia berbuat salah."

Cika terdiam. Ia dapat merasakan betapa besar kepercayaan yang sedang diberikan kepadanya. "Pak ..."

"Saya tahu itu bukan hal yang mudah," ujar Robinson lembut. "Apalagi hubungan kalian selama ini tidak baik."

Cika menundukkan kepala. "Itu memang benar."

"Tapi saya percaya, kamu mampu melakukannya."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Akhirnya Cika mengangkat kepalanya dan mengangguk mantap. "Insya Allah, Pak. Saya akan berusaha melakukan apa yang Bapak minta.Saya juga akan berusaha menjaganya selama Bapak tidak ada."

Senyum lega pun mengembang di wajah Robinson. Baginya, janji sederhana dari Cika itu jauh lebih berharga daripada balasan apa pun. "Terima kasih, Cika."

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!