Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Keliling Kampung
Suasana pagi saat ini terasa sangat berbeda. Yang biasanya Kamila bisa bangun saat awal shubuh tapi kali ini Kamila merasa sangat malas untuk bangkit dari tidurnya. Hawa dingin di pedesaan membuatnya tetap nyaman bersembunyi dalam selimut yang tebal. Kamila enggan untuk bangun sekedar cuci muka karena airnya dapat dipastikan sangatlah dingin, tapi mengingat ada kewajiban yang belum dia laksanakan dia pun beranjak dari kamar dengan langkah yang cukup berat menuju kamar mandi.
"Ven, bangun. Udah jam 5 pagi nih, ayo sholat dulu!," ajak Kamila sambil menggoyang-goyangkan tubuh Veni tapi tak ada respon.
Kamila pun memilih sholat sendiri keburu matahari terbit duluan sebelum dia sempat menunaikannya. Setelah sholat dia pun bergegas ke dapur ingin membantu Ibunya Veni memasak.
"Pagii bu, masak apa hari ini?," tanya Kamila bersemangat.
"Masak yang simpel aja ndok, pecel masakan khas daerah sini," ucap bu Minah lembut keibuan.
"Wah enak tuh pagi-pagi gini makan pecel," Kamila terlihat berbinar mendengar makanan khas daerah yang identik dengan sambel kacang dan sayuran itu.
"Oh iya, Veni mana ndok? Anak itu belum bangun ya?," tanya bu Minah sambil celingukan mencari anaknya.
"Belum bu, tadi udah coba aku bangunin tapi dia nggak bangun-bangun. Ya udah aku tinggal," jawab Kamila jujur.
"Kebiasaan tu anak, emang paling susah dibangunin kalau sudah tidur," bu Minah bergegas menuju kamar Veni.
"Oh iya tolong tempenya dibalik ya ndok, biar ibu yang bangunin Veni," lanjutnya sambil berjalan cepat.
"Oke bu, siap," dengan cekatan Kamila melanjutkan menggoreng tempe yang belum selesai.
Kalau hanya memasak sederhana sih dia masih bisa. Untuk masak besar dia belum berani karena belum pernah melakukannya.
"Aduuh bu, sakiiit," suara teriakan Veni mengagetkan Kamila yang akan mengangkat tempe. Untung nggak tumpah tu tempe hihi.
"Rasain, anak perawan kok susah banget dibangunin. Tuh lihat Kamila sudah bangun dari tadi bahkan sekarang bantuin ibu memasak," omel bu Minah pada anak perawannya yang meringis menahan sakit di telinganya.
"Iya iya bu, ini aku udah bangun. Aku sholat shubuh bentar ya keburu siang," Veni ngeloyor ke kamar mandi dengan wajah manyun.
"Shubuh apanya, dhuha iya jam segini," bu Minah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak gadisnya.
"Maaf ya ndok, Veni emang gitu anaknya. Entah gimana waktu dikota kalau nggak ada yang bangunin," lanjut bu Minat merasa tidak enak dengan Kamila.
Kamila hanya tersenyum mendengar curhatan bu Minah. Walau dia sahabatnya Veni tapi baru kali ini dia tahu kebiasaan buruk sahabatnya itu.
Setelah selesai sarapan, Kamila dan Veni pun bersiap untuk keliling kampung sesuai janji Veni semalam.
"Gimana udah siap Mil?," tanya Veni yang sudah siap dengan pakaian kasualnya tanpa make up berlebihan, dan nggak ketinggalan sandal jepit.
"Lah, Ven. Kamu mau pergi jalan-jalan pakai pakaian kayak gitu?," tanya Kamila heran.
"Ini di desa Mil, pakai gini aja udah bagus. Lagian jalan disini masih belum bagus, kalau kita pakai sepatu yang ada nanti cepet kotor sepatu kita," ucap Veni menjelaskan.
"Oh gitu," Kamila pun mulai memilah bajunya yang dirasa paling sederhana. Tapi rata-rata bajunya bermerek semua, dia melihat satu sweater yang kayaknya paling cocok dipakai untuk santai.
Walau Kamila memakai pakaian sederhana tapi aura kecantikan alaminya tetap memancarkan keistimewaan.
"Aura orang kaya emang beda ya? Walau dibuat sederhana sekalipun kamu tetap cantik Mil," puji Veni melihat penampilan Kamila yang menurutnya paling sederhana itu.
"Kamu bisa aja Ven, udah ah ayo berangkat keburu siang ini," ajak Kamila pada Veni karena tidak sabar ingin keliling kampung.
Veni mengeluarkan motor matic berwarna merah miliknya. Sepeda motor yang dijanjikan ayahnya kalau dia berhasil lulus dari Universitas.
"Asyik, pakai motor baru nih," seru Kamila menggoda Veni.
"Ya dong, walau second tapi masih kayak baru ini," jawab Veni antusias.
Mereka sangat antusias mengelilingi keindahan kampung yang masih asri. Di kiri kanan jalan masih banyak hamparan sawah. Ada juga bukit yang hijau tidak jauh disana, terlihat kokoh dengan ukiran alam sempurna. Pohon-pohon rindang memberi kesan sejuk. Burung-burung bebas berterbangan dilangit biru. Awan putih beriringan tertiup angin. Dan sang surya yang terasa menyengat saat di kota tapi menghangatkan saat di desa. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya.
"Segerrrnya Ven," Kamila memejamkan mata sekejap menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Iya, jauh banget kan dengan suasana di kota?," tanya Veni butuh Validasi.
"He'em, rasanya jadi pengen pindah kesini aja Ven," ucap Kamila spontan membuat mereka pun tertawa lepas.
Disela tawa mereka yang begitu ringan, Veni merasa motornya sedikit berbeda. Mulai berjalan pelan walau gas sudah diputar cukup kencang.
"Aduh Mil, kenapa nih motor?," ucap Veni panik.
"Kok tiba-tiba berhenti Ven?," Kamila malah bertanya balik.
"Nggak tahu Mil, aku cek tadi bensinnya full tuh. Jangan-jangan mogok lagi. Akh sial!," Veni mengumpat frustasi.
"Sabar Ven, coba kita tunggu sebentar. Minta tolong siapa gitu," Kamila mencoba menenangkan Veni.
Veni terlihat meraba saku celananya. "Ya ampun, hp ku ketinggalan lagi. Lengkaplah sudah penderitaanku hari ini," Veni mengusap wajahnya kasar.
"Ya udah kita dorong aja kalau gitu. Kira-kira ada bengkel nggak yang terdekat dari sini?," tanya Kamila memastikan.
"Dulu sih ada Mil disebelah sana tapi agak masuk tempatnya, entah sekarang masih buka apa nggak bapaknya. Aku kan jarang pulang akhir-akhir ini,"
"Kita coba aja dulu, siapa tahu masih buka Ven," usul Kamila belum menyerah.
"Ya udah deh, maaf ya Mil niatnya mau seneng-seneng e malah harus susah kayak gini gara-gara motor aku," ucap Veni merasa nggak enak hati.
"Udahlah Ven, ini kan juga musibah. Siapa yang tau coba?," Kamila tersenyum lembut sambil mengedikkan bahunya. Dia tidak tega melihat wajah menyesal sahabatnya itu.
Veni pun dengan semangat mendorong motornya di ikuti Kamila yang mendorong dari arah belakang motornya. Saat baru berjalan sekitar 50 meter ada seorang pemuda dengan motor modifnya berhenti didekat Veni dan Kamila.
"Motornya kenapa?," tanyanya dengan nada datar.
Veni dan Kamila saling berpandangan sebentar kemudian memperhatikan lagi pemuda yang tadi bertanya pada mereka.
"Hei, kok bengong? Aku tanya baik-baik juga," pemuda itu menggerakkan telapak tangannya didepan wajah Veni dan Kamila yang terlihat bengong.
"Eh i-itu mas, motornya mogok," jawab Veni tergagap.
"Oh, coba aku lihat. Siapa tahu bisa. Bengkel masih jauh soalnya," pemuda itu menurunkan standart motornya. Kemudian berjalan mendekati motor Veni.
"Kayak pernah lihat nih orang, tapi dimana ya?," batin Kamila bertanya-tanya. Tapi dia nggak berani bertanya takutnya salah orang.