NovelToon NovelToon
Impoten Sang Singa Madrid

Impoten Sang Singa Madrid

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Action
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan di atas altar katedral

Hari pernikahan itu tiba dengan ketegangan yang bisa dirasakan di udara Madrid. Leonardo tidak membiarkan satu celah pun terbuka untuk kesalahan. Rute menuju Katedral Santa Maria la Real de la Almudena dijaga oleh pria-pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka. Ini bukan sekadar pernikahan; ini adalah proklamasi kekuasaan klan De Luca.

Di dalam ruang tunggu katedral yang berbau dupa dan kayu tua, Olivia berdiri mematung. Margaret membantu merapikan kerudung transparan yang menutupi wajah putrinya. Arthur, yang mengenakan setelan jas abu-abu pemberian Leonardo, berdiri di dekat pintu dengan tongkat penyangga. Wajahnya tampak jauh lebih segar, meski matanya berkaca-kaca melihat putri tunggalnya akan menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh di Spanyol.

"Kau sangat cantik, Olivia. Ayah tidak pernah menyangka akan melihatmu seperti ini," bisik Arthur, suaranya parau.

"Terima kasih, Ayah. Aku melakukannya untuk kita," jawab Olivia jujur, meski hatinya berdegup kencang karena kegelisahan.

Pintu besar katedral terbuka. Musik organ yang megah mulai menggema, mengisi setiap sudut bangunan gotik yang tinggi itu. Olivia melangkah masuk, lengannya bertaut pada lengan Arthur. Di ujung altar, Leonardo berdiri tegak. Ia mengenakan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuhnya yang tegap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya keras dan tanpa ekspresi, kecuali matanya yang berkilat tajam saat melihat Olivia melangkah mendekat.

Leonardo tidak menatap tamu-tamu penting yang hadir—para politisi, pengusaha, hingga pemimpin organisasi dari luar negeri. Matanya terkunci pada mawar Inggris-nya. Denyutan gairah di tubuhnya yang selama ini ia tekan dengan disiplin militer kini mencapai puncaknya. Ia merasa seperti predator yang akhirnya melihat mangsanya masuk ke dalam jangkauan tangannya secara legal.

Saat Arthur menyerahkan tangan Olivia kepada Leonardo, tangan pria Spanyol itu terasa panas dan sangat protektif. Leonardo mencengkeram jemari Olivia dengan tegas, seolah sedang menandai wilayahnya.

"Aku memegang janjiku, Sir," ucap Leonardo pelan kepada Arthur sebelum ayahnya itu duduk di bangku terdepan bersama Margaret dan Isabella.

Upacara berlangsung dalam bahasa Spanyol yang kaku namun sakral. Saat tiba waktunya mengucapkan janji, Leonardo menatap lurus ke dalam mata biru Olivia.

"Aku, Leonardo De Luca, mengambilmu, Olivia, sebagai istriku. Untuk memilikimu dan menjagamu, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, hingga maut memisahkan kita," suara Leonardo berat dan mantap, bergema di seluruh katedral.

Itu bukan sekadar kata-kata bagi Leonardo. Itu adalah pernyataan kepemilikan.

Olivia membalas janji itu dengan suara yang sedikit bergetar, namun tegas. Ia telah menerima takdirnya. Begitu cincin emas bertahtakan berlian besar melingkar di jarinya, Leonardo tidak menunggu instruksi pendeta lebih lama. Ia menyentakkan kerudung Olivia ke belakang, mencengkeram tengkuk leher istrinya, dan mencium bibirnya dengan tekanan yang posesif di depan ratusan saksi mata.

Tepuk tangan menggema, namun Leonardo tidak peduli. Ia hanya peduli pada kenyataan bahwa sekarang, secara hukum dan agama, Olivia adalah miliknya.

Resepsi diadakan di mansion De Luca, namun Leonardo tidak membiarkan acara itu berlangsung terlalu lama bagi mereka berdua. Setelah menyapa tamu-tamu utama dan memastikan orang tua Olivia merasa nyaman di paviliun mereka, Leonardo memberikan isyarat pada Marco.

"Bawa tamu-tamu ke aula dansa bawah. Pastikan minuman terus mengalir. Aku dan istriku akan undur diri," perintah Leonardo lugas.

Leonardo menuntun Olivia menuju sayap utama mansion, lantai atas yang selama ini terlarang bagi siapa pun kecuali dirinya. Ia tidak membiarkan Olivia berjalan sendiri; ia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar utama yang luas, yang kini sudah dipenuhi dengan ribuan kelopak mawar merah dan aroma lilin aroma terapi yang menenangkan.

Leonardo menurunkan Olivia di tengah ruangan, lalu mengunci pintu ganda dengan suara klik yang sangat final. Ia melepaskan dasi dan tuksedonya, membuangnya ke lantai tanpa peduli. Kemeja putihnya menyusul, memperlihatkan otot punggung dan dadanya yang dipenuhi bekas luka lama—saksi bisu dari masa lalunya yang berdarah.

"Dua minggu," gumam Leonardo, melangkah mendekati Olivia yang masih berdiri dengan gaun pengantinnya. "Dua minggu aku menahan diri untuk tidak menghancurkanmu, Olivia."

Leonardo berdiri tepat di depan Olivia, tangannya yang besar mulai membuka kancing-kancing kecil di punggung gaun istrinya satu per satu dengan ketelitian yang menakutkan.

"Malam ini, tidak ada lagi kontrak. Tidak ada lagi ancaman soal ayahmu," bisik Leonardo tepat di ceruk leher Olivia. "Malam ini hanya ada aku, suamimu, yang akan membuktikan padamu bahwa sepuluh tahun kutukanku telah berakhir sepenuhnya di dalam dirimu."

Olivia bisa merasakan kejantanan Leonardo yang menekan perutnya, keras dan nyata. Gairah primitif yang terpancar dari suaminya membuatnya gemetar, namun kali ini ia tidak melawan. Ia membiarkan gaunnya jatuh ke lantai, menyisakan dirinya dalam pakaian dalam sutra putih di bawah tatapan lapar sang Singa Madrid.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Ani Jumadi
terlalu berlebihan sih bisa ga jangan terlalu mengekang
chiara azmi fauziah
aku kasih gift ya thor😍
Isti Mariella Ahmad: makasih😍
total 1 replies
chiara azmi fauziah
mantap thor ceritanya mau dong di cintai ugal-ugalan 🤣🤣🤣
falea sezi
lanjut q ksih bunga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!