NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Mahesa berlari ke arah gudang saat mendengar ibunya sedang menyiksa Nadira. Mahesa ingat perkataan polisi tadi, jika Nadira bisa saja bukan pelaku pembunuhan. "Dia tidak boleh mati!."

Sementara itu di dalam gudang, Nadira masih di pukuli oleh satpam tanpa jeda. Tubuhnya terkapar di lantai dengan darah keluar dari mulutnya.

" Sepertinya dia sudah mati!." senyum Diana mengembang.

" Periksa dia!." titahnya.

Pak Adi memeriksa Nadira, " Dia..."

"Berhenti!."

Mahesa datang, ia menatap ibunya dan juga satpam dengan marah.

" Mahesa, ibu sudah melenyapkan gadis ini. Dendam kita sudah terbalaskan." ucap Diana dengan santai tanpa rasa bersalah.

Mahesa memeriksa nafas Nadira, ia tak bisa merasakan apa apa.

Tanpa pikir panjang ia langsung menggendong Nadira.

Diana terkejut dengan sikap putranya. " Mau kamu bawa kemana dia Mahesa?" tanya nya.

Namun perkataannya tak di gubris oleh Mahesa, Nadira di bawa pergi oleh Mahesa.

Mahesa memasukkan tubuh Nadira ke dalam mobil, kemudian dengan cepat ia melajukan mobilnya ke rumah sakit.

Mahesa tak bicara apapun, tapi sorot matanya memperlihatkan kekhawatiran besar.

Di malam yang dingin itu, mobil Mahesa melaju kencang dengan harapan besar.

Nadira terbaring di belakang tidak sadarkan diri.

Mahesa semakin melajukan mobilnya. Akhirnya ia sampai di rumah sakit Medika.

Mahesa membawa Nadira masuk dengan panik. Para perawat dengan sigap membantu membawa Nadira ke IGD.

Mahesa menatap Nadira dengan perasaan campur aduk.

Nadira sedang di cek oleh dokter, keadaannya benar benar memprihatinkan.

" Pasien mengalami henti nafas, cepat lakukan CPR." perintah sang dokter.

Mahesa melihat semua tindakan yang dilakukan pada Nadira, tenaga medis membuka bajunya Nadira, mereka terkejut saat melihat luka memar dan berdarah pada lengan dan punggung Nadira.

Setelah cukup lama berjuang, akhirnya Nadira bernafas kembali.

" Syukurlah, segara pasang oksigen!." perintah dokter yang mulai lega.

Mahesa juga ikut bernafas lega, kemudian ia menghampiri sang dokter.

" Bagaimana keadaannya dokter?" tanyanya.

" Pasien sudah selamat dari masa kritisnya, jika telat lima menit saja pasien akan kehilangan nyawanya. Untung saja kita melakukan tindakan tepat waktu. Saat ini pasien sedang diberi oksigen, dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat. Lukanya cukup parah, kami akan melakukan pengobatan pada luka luarnya." ujar sang dokter menjelaskan.

Mahesa terduduk dengan lemah. Jantungnya berdegup kencang. Jika saja ia tak pulang malam ini, maka wanita itu akan tiada.

Mahesa teringat dengan ibunya, tatapannya tajam. Tangannya mengepal menahan amarah. " Tidak ada yang mendengar ucapanku! Sudah aku peringatkan untuk tidak menemuinya, tapi perintahku sama sekali tidak di dengar!." ujar Mahesa dengan penuh amarah.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan benda pipih yang ada di dalam sana. " Dion! pergi ke rumah dan tahan satpam itu! Jangan biarkan dia kabur!. Dan awasi ibuku!. Jangan biarkan dia keluar rumah sebelum aku kembali!."

***

Di desa, buk Lily kembali merasakan firasat buruk. Ia tak tenang, bahkan saat sedang menjahit tangannya tertusuk jarum.

" Ya Allah, lindungilah putriku." ujarnya penuh harapan.

Buk Lily membuka ponsel jadulnya, ia mencari nomor baru yang menelponnya kemarin.

Cukup lama ia menunggu panggilan telepon, tapi tidak diangkat angkat.

Buk Lily merasakan kali ini firasatnya sangat buruk, pasti Nadira sedang kenapa napa.

***

Di kediaman Adiprana, Diana duduk di ruang tamu dengan tatapan tajam. Tingkah putranya sudah di luar dugaan. Diana dapat melihat kekhawatiran dari mata Mahesa. Padahal jelas jelas wanita yang bernama Nadira itu telah membunuh Nayla, tak seharusnya Mahesa se khawatir itu.

" Sebenarnya apa yang telah terjadi? kenapa Mahesa bisa seperti itu?." tanya nya sambil memutar gelas di tangannya.

Tiba tiba satpam yang bernama Adi itu datang menghadap. " Nyonya besar, saya sangat takut. Saya bisa melihat kemarahan besar di mata tuan Mahesa. Sepertinya dia sangat marah. Saya takut di hukum. Malam ini saya akan pergi nyonya." ujar satpam itu dengan tubuh gemetar.

" Tidak perlu takut, dia tidak akan memarahi mu. ini adalah perintahku, dan aku adalah Ibunya. Kembali ke tempatmu dan bekerja seperti biasa." Ujar Diana dengan santai.

Satpam yang sudah ketakutan itu tak punya pilihan selain kabur diam diam. Ia tahu, Mahesa sangat marah, ia bisa melihat tatapan tajam itu dan kekhawatiran nya.

Satpam yang bernama Adi itu melangkah keluar dari rumah. Namun ia menelan ludah dengan susah payah saat melihat asisten pribadi Mahesa sudah berdiri di ambang pintu.

" Jangan kabur! Berani berbuat berani bertanggung jawab!."

Deg

Adi langsung berlutut memohon pengampunan, tapi Dion yang menyeramkan tak memperdulikan hal itu. Dion membawa satpam itu dan mengurungnya ke dalam gudang.

Diana yang melihat Dion hendak menanyakan apa yang dia lakukan, tapi melihat tatapannya saja sudah membuat bulu kuduk Diana merinding. Dion adalah asisten sekaligus sahabat yang paling dekat dengan Mahesa. Jika Dion sudah marah seperti ini, itu tandanya Mahesa lebih marah darinya.

Diana memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, ia tak bisa membantu satpam yang sedang di kurung itu.

Dion duduk di ruang tamu sambil mengawasi Diana dan juga satpam itu.

***

Ke esokan harinya, Mahesa tertidur di samping Nadira yang sudah di pindahkan ke ruang rawat.

Mahesa terbangun saat mendengar suara gelas jatuh.

" Nadira, kamu sudah siuman?." ujarnya.

Nadira menatap ke arah nya, tatapan wanita itu kosong, tak ada harapan disana, yang ada hanya kehampaan dan keputusasaan.

" Apa kamu menginginkan sesuatu?." tanya Mahesa.

Tak ada jawaban dari Nadira, wanita itu hanya diam.

" Bicaralah, apa kamu butuh sesuatu?." tanya Mahesa lagi.

" Kenapa lagi lagi...kamu membiarkan aku hidup? kenapa kamu menyelamatkan aku?."

Nadira bicara dengan pelan sambil menatap datar ke arah Mahesa.

Mahesa tak bisa menjawab, ia juga tak tahu mengapa ia sangat khawatir saat Nadira tidak sadarkan diri.

" Apa kamu menyelamatkan aku untuk kembali di siksa? Apa semua ini belum cukup?." ucap Nadira terbata.

" Kenapa tidak biarkan aku mati? kenapa? Bicaralah Mahesa!."

Deg

Jantung Mahesa berdetak kencang saat Nadira memanggil namanya untuk pertama kali.

" Aku... tidak ingin kamu..."

" Mati terlalu cepat?..." tanya Nadira memotong pembicaraan Mahesa.

Mahesa terdiam.

" Aku...datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Ibuku sakit sakitan di desa, aku datang ke tempat ini untuk mencari uang demi pengobatan ibuku. Tapi setelah sampai di sini, aku malah terjebak dan tak bisa melakukan apa apa. Aku bagaikan hewan yang masuk dalam perangkap manusia keji... Aku tidak membunuh tapi aku diperlakukan seperti seorang pembunuh. Aku hanya ingin berbuat baik tapi...aku diperlakukan seperti seorang penjahat yang kejam. Apa kamu sanggup menanggung dosamu nanti di hadapan Tuhan? Kamu telah menyiksa orang yang tidak bersalah!."

Deg

Kata kata Nadira menusuk ke dalam hati Mahesa. Ucapannya penuh dengan kebenaran. Mahesa tak mampu bicara apapun sekarang. Ia tak bisa menunjukkan sisi kejamnya dihadapan Nadira saat ini. Ia seolah di tahan untuk tidak melakukan apapun.

" Aku sangat menyesal datang ke kota... Bayanganku tentang kota telah berubah seutuhnya. Dulu saat kecil aku membayangkan kota adalah tempat yang indah, penuh dengan lampu lampu bersinar. Tapi ternyata aku salah, kehidupan di kota bagaikan neraka!. Tapi aku juga sadar, aku telah memasuki neraka seperti yang kamu katakan saat di kantor polisi. Satu hal yang harus kamu tahu Mahesa Adiprana...jika terjadi sesuatu pada ibuku kamu akan membayar mahal!. Ingat itu!."

Mata Nadira merah, ia menatap Mahesa tanpa berkedip hingga air mata menetes pada pipinya.

" Tidak akan ada yang terjadi pada ibumu!."

" Bagaimana kamu bisa menjaminnya?." tanya Nadira dingin.

" jangan bicara lagi, istirahatlah!."

Mahesa meninggalkan ruangan Nadira.

Saat di luar, Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar. Kata kata Nadira masih terekam jelas dalam pikirannya.

"Apa yang terjadi padamu Mahesa? kenapa kamu seperti ini? Kamu seolah terhipnotis dengan kata katanya.""

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!