Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Bekas Memar
Theo masih berdiri termenung di ruang makan, menatap kosong ke arah Bik Sumi yang sibuk merapikan kain lapnya.
Setelah menyelesaikan sisa pekerjaannya malam itu, Bik Sumi berpamitan dengan sopan kepada Theo dan Ratna yang baru keluar dari kamar.
"Tuan, Nyonya, saya permisi pulang dulu karena tugas saya hari ini sudah selesai. Besok pagi-pagi sekali saya akan datang lagi untuk membuatkan sarapan," ujar Bik Sumi ramah.
Theo mengangguk kaku tanpa suara. Begitu pintu depan tertutup dan Bik Sumi pulang, Theo langsung berbalik menatap ibunya dengan kening yang berkerut.
"Ibu, kenapa tiba-tiba menyewa pembantu tanpa bilang-bilang aku dulu?" tanya Theo, nadanya terdengar lelah sekaligus kesal karena ekspektasinya barusan dihancurkan realitas.
Ratna mendengkus sambil melipat tangan di dada.
"Theo, kamu lihat sendiri kan rumah ini sudah seperti tempat pembuangan sampah selama dua hari? Ibu tidak bisa hidup di tempat sekotor ini. Lagipula, uangnya Ibu ambil dari sisa uang belanja bulanan yang ditinggalkan si Zarlin di laci. Jadi kamu tidak perlu pusing memikirkan biayanya."
Mendengar nama Zarlin disebut lagi, dada Theo kembali terasa sesak. Dia tidak menyahut dan memilih langsung masuk ke kamarnya, mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang terasa begitu dingin dan sepi.
Keesokan paginya, Bik Sumi menepati janjinya. Ibu paruh baya itu datang pagi-pagi sekali, langsung sibuk di dapur memasak nasi goreng dan menyeduh kopi.
Rumah kembali rapi dan wangi, namun bagi Theo, rasa hangat yang biasa dia rasakan saat Zarlin yang menyiapkan semuanya kini telah hilang. Semuanya terasa mekanis, hambar, dan asing.
Setibanya di kantor Falcon Corp, stres Theo kembali memuncak. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun meja kerja Bianca masih kosong. Padahal, hari ini mereka harus mengecek sisa laporan keuangan fiktif untuk mencari celah dana operasional.
Theo langsung mencari nomor ponsel Bianca. Panggilan itu baru diangkat pada nada dering kelima.
"Halo, Bianca? Kamu di mana? Kenapa belum datang ke kantor? Banyak dokumen proyek yang harus kita periksa!" ujar Theo langsung tanpa basa-basi.
Di telepon, suara Bianca terdengar lemas dan sedikit terbata-bata, padahal sebenarnya dia baru saja bangun tidur di apartemen Reno setelah semalaman berfoya-foya menggunakan uang kas yang dia cairkan kemarin.
"Maaf, Theo... badanku rasanya lemas sekali pagi ini. Aku sepertinya kurang sehat akibat kelelahan menemanimu keliling mencari investor dua hari ini," bohong Bianca, sengaja memasang suara serak agar Theo merasa bersalah.
"Sebentar lagi aku akan menyusul ke kantor setelah meminum obat."
Mendengar alasan itu, rasa bersalah langsung menyayat hati Theo. Dia melembutkan suaranya.
"Oh, begitu ya? Ya sudah, kalau kamu memang kurang sehat, tidak usah terlalu dipaksakan. Istirahatlah dulu sebentar, baru datang kalau badanmu sudah enakan."
"Terima kasih atas pengertiannya, Theo. Kamu baik sekali," ucap Bianca manja sebelum mematikan sambungan telepon dengan senyum licik di wajahnya.
...****************...
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda, di gedung Rahesa Group. Hari ini, Zarlin dan Tristan sengaja memindahkan lokasi pembahasan teknis proyek pelabuhan ke kantor milik ayah Zarlin agar lebih mudah berkoordinasi dengan tim internal Rahesa Group.
Zarlin duduk di balik meja kerja, fokus memeriksa detail draf kontrak yang baru dicetak. Zarlin secara refleks menggulung lengan kemeja putih yang dipakainya hingga sebatas siku agar lebih nyaman bergerak.
Tristan, yang sejak tadi duduk di sofa sambil memperhatikan berkasnya, mendadak menghentikan aktivitasnya. Matanya yang tajam langsung melihat pergelangan tangan kanan Zarlin yang kini terlihat.
Di kulit Zarlin, terlihat jelas bekas merah keunguan yang mencengkeramnya dengan sangat paksa. Memar itu terlihat sangat kontras dan menyakitkan untuk dilihat.
...*Brak*...
Tristan meletakkan berkasnya ke atas meja dengan sedikit kuat, membuat Zarlin tersentak dan menatapnya bingung.
Tristan berdiri, berjalan mendekati meja kerja Zarlin dengan aura yang berubah menjadi sangat dingin dan menekan.
"Tristan? Ada apa dengan wajahmu—"
Sebelum Zarlin menyelesaikan kalimatnya, Tristan langsung meraih tangan kanan Zarlin, membalikkan pergelangan tangan itu ke atas dengan gerakan yang sangat lembut namun tidak bisa dibantah.
"Apa ini, Zarlin?" tanya Tristan, suaranya terdengar berat, menahan amarah yang luar biasa di dalam dadanya.
Zarlin panik. Dia berusaha menarik kembali tangannya, namun genggaman Tristan terlalu kuat.
"Bukan apa-apa, Tristan. Ini... aku hanya tidak sengaja terbentur pintu lemari saat berkemas waktu itu."
"Jangan berbohong padaku!" potong Tristan tegas.
"Aku ini lelaki, Zarlin. Aku tahu perbedaan antara memar karena benturan benda tumpul dan memar akibat cengkeraman paksa jari seorang pria yang menggunakan kekerasan fisik!"
Insting kelakiannya berteriak murka.
"Katakan padaku... apa si Theo yang melakukan ini padamu sebelum kamu pergi?!"
Mendengar nama Theo disebut bersamaan dengan kenyataan pahit yang berusaha dia lupakan, Zarlin kembali melemah.
Dadanya terasa sesak, sesak yang teramat sangat. Matanya seketika berkaca-kaca, digenangi air mata. Luka hati akibat dikhianati dan dikasari oleh pria yang dia cintai selama tiga tahun.
Zarlin menggigit bibir bawahnya dengan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak jatuh menetes. Dia tidak ingin terlihat lemah.
"Iya... dia yang melakukannya pagi itu," bisik Zarlin akhirnya, suaranya bergetar namun dia mencoba tetap terdengar tegar.
"Dia mengamuk saat tahu aku ingin pergi."
Melihat mata Zarlin yang memerah penuh genangan air mata yang ditahan, hati Tristan rasanya seperti disayat.
Pria itu perlahan melonggarkan genggamannya, lalu mengusap memar di tangan Zarlin dengan ibu jarinya.
"Kenapa kamu tidak bilang pada Pak Bramasta?" tanya Tristan dengan suara yang melembut, penuh dengan rasa protektif.
Zarlin menggelengkan kepalanya, "Jangan, Tristan. Aku mohon... rahasiakan ini dari Ayah dan Ibu. Mereka sudah agak lemah, jantung Ayah tidak kuat jika harus menerima syok berat kalau tahu aku mengalami KDRT. Biarkan ini menjadi urusanku. Aku ingin menghancurkan Theo dengan caraku sendiri, lewat tanganku sendiri di dunia bisnis."
Tristan menatap mata Zarlin yang penuh dengan tekad balas dendam di balik kerapuhannya. Perlahan, Tristan mengangguk.
"Baik. Aku akan merahasiakannya dari orang tuamu. Tapi ingat, Zarlin... jangan pernah menahan beban ini sendirian lagi. Mulai hari ini, aku ada di belakangmu untuk memastikan pria itu membayar setiap rasa sakit yang dia berikan padamu."
Tepat saat suasana di antara mereka berubah menjadi sangat emosional, terdengar suara langkah kaki dari arah luar. Pintu ruangan itu terbuka, dan Bramasta Rahesa melangkah masuk dengan senyum hangat khasnya.
"Bagaimana progres pembahasan proyek pelabuhannya, Tristan, Zarlin?" tanya Bramasta ramah tanpa curiga sedikit pun.
Dengan gerakan yang sangat profesional, Zarlin langsung menarik kembali tangan kanannya, menurunkan gulungan lengan kemejanya hingga ke pergelangan tangan, dan memaksakan senyum terbaiknya seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Tristan pun dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi rekan bisnis yang dingin dan berwibawa. Tidak ada satu pun pergerakan aneh yang terlihat oleh sang ayah.
"Semua berjalan lancar, Ayah. Kami baru saja menyelesaikan draf final untuk jalur logistiknya," jawab Zarlin dengan suara yang sudah kembali tenang dan stabil.
Bramasta mengangguk, berjalan mendekati meja untuk ikut memeriksa berkas, sama sekali tidak tahu bahwa di balik kemeja putrinya ada luka yang sedang disembunyikan, dan di samping putrinya, ada seorang Tristan Avalanka yang sudah bersumpah di dalam hati untuk menenggelamkan Theo Falcon ke dasar penderitaan terdalam.
"Sebentar lagi, Ibu akan mengantarkan makan siang untuk kita." ujar Bramasta
Zarlin mengangguk dan tersenyum, sudah lama Ia tidak merasakan masakan ibunya lagi.
itu justru malah menguatkan kebenaran...