Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: HIJAB PERTAMA DAN GETARAN DI DEPAN SPION
Suasana di dalam kamar itu mendadak hening setelah gema suara mengaji Reyhan menghilang. Reyhan melipat sajadahnya dengan gerakan yang sangat rapi, seolah setiap lipatan adalah bagian dari meditasi. Ia menoleh ke arah kasur, mendapati Vanya masih melamun dengan pandangan kosong, mungkin masih mencerna aroma parfum mahal yang tadi memenuhi ruangan.
"Kamu sudah makan?" tanya Reyhan, suaranya tenang, kembali ke mode normalnya.
Vanya tersentak, mencoba memulihkan kesadarannya. "Kenapa memang? Kamu bawa makanan?" jawabnya dengan nada menantang yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Hmmh... Nona Manja," Reyhan menghela napas, setengah jengah setengah geli. "Aku tanya serius. Kamu mau makan tidak? Kalau mau, kita makan di luar."
Vanya melirik ke arah pintu yang gelap. Bayangan Gang Kelinci yang becek dan penuh pria ronda membuatnya bergidik. "Gak. Aku lagi puasa!" ketusnya, asal bicara.
Reyhan menaikkan alisnya, menahan tawa. "Puasa kok malam-malam? Lagipula, kamu kan sedang menstruasi. Ngapain puasa?"
Mata Vanya membelalak sempurna. Wajahnya yang putih mendadak memerah sampai ke telinga. "Kok dia tahu aku lagi mens?!" pekik hatinya panik. Ia langsung menunjuk wajah Reyhan dengan telunjuknya yang gemetar. "Jangan-jangan kamu mengintip ya?! Atau... atau kamu mau ambil kesempatan padaku terus lihat aku sedang mens jadi tidak jadi, kan?! Ngaku kamu, Begal!"
Reyhan memutar bola matanya, benar-benar tidak habis pikir dengan imajinasi liar wanita di depannya. "Ngaco. Aku komitmen dengan janjiku. Aku tidak serendah itu."
"Terus... kamu tahu dari mana?" desak Vanya, masih merasa privasinya terlanggar.
"Itu... kamu masih tidak sholat," jawab Reyhan pendek. "Lalu sedari tadi marah-marah terus seperti orang datang bulan."
Kalimat "tidak sholat" terasa seperti pukulan telak yang mendarat tepat di ulu hati Vanya. Ia merasa harga dirinya tersentil, namun keangkuhannya tetap menjadi tameng utama. "Ya memang aku lagi mens, makanya tidak sholat juga!" jawabnya, mencoba menutupi fakta bahwa ia memang tidak terbiasa sholat.
"Ya sudah. Mau ikut tidak? Makan di luar?" tanya Reyhan lagi, sudah bersiap memakai jaketnya.
"Nggak! Eh, dengarkan ya Begal Syariah, kalau Nona Vanya bilang nggak ya nggak!"
"Oke. Oke. Kamu tiduran saja di sini," Reyhan mengambil kunci motornya. "Hati-hati dengan kecoanya. Mereka itu cowok semua, sukanya sama cewek. Soalnya mereka bukan kecoa homo."
Vanya membeku. Imajinasi tentang serangga terbang yang "genit" langsung menghantuinya. "Hah? Kecoa?!" Ia melihat ke bawah kasur dengan panik. "Tidak! Aku tidak mau ditinggal sendiri!"
"Katanya Nona Vanya kalau sudah nggak... ya nggak?" ledek Reyhan, tangannya sudah memegang gagang pintu.
"Habisnya kamu menakut-nakuti aku dengan kecoa!" teriak Vanya histeris. "Tunggu! Aku ikut! Jangan tinggalkan aku dengan kecoa-kecoa itu!"
Reyhan menahan senyum kemenangannya. "Ya sudah, ganti baju sana. Bukannya Angga memberimu baju kemarin di dalam tas kecil?"
"Iya! Tunggu! Awas ya kalau kamu meninggalkanku!"
Vanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan bantingan keras. Cukup lama ia berada di dalam, membuat Reyhan harus menunggu sambil menyandarkan punggung di motornya di teras depan.
"Awas jangan mengintip!" teriak Vanya dari dalam.
Ketika pintu terbuka, Reyhan nyaris tersedak. Vanya keluar dengan gaun pendek tanpa lengan yang sangat ketat, salah satu koleksi party yang tersisa di tasnya. "Ayok!" ucapnya dengan percaya diri.
Reyhan memandangi Vanya dari ujung rambut hingga kaki, lalu menggelengkan kepala dengan mantap. "Hmmh... Nona. Jangan pakai baju seperti itu lagi. Kamu mau dibegal lagi? Di sini bukan kelab malam Jakarta."
"Terus aku pakai baju yang mana? Punya kamu kegedean semua!" Vanya menghentakkan kaki, mulai frustrasi.
"Sebentar. Aku lupa." Reyhan membuka tas ransel besarnya—tas yang tadi siang dibawa dari rumah ibunya. Ia merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah setelan gamis modern berwarna nude lengkap dengan kerudung instan senada yang tampak sangat berkualitas. Bahannya jatuh dan modelnya elegan, bukan barang pasar murahan. "Nih. Siapa tahu cukup. Aku lihat ukuran tubuhmu tidak jauh dari adikku."
Vanya menerima baju itu dengan ragu. "Aku harus pakai ini? Gak mau! Nanti aku terlihat seperti ibu-ibu pengajian!"
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sendiri. Selamat bercengkerama dengan para kecoa," sahut Reyhan dingin, mulai menghidupkan mesin motor.
"Hiiih! Dasar Begal tidak memberiku pilihan!" Vanya menggerutu, namun tangannya tetap membawa baju itu kembali ke dalam. "Awas ya kalau nanti kita pindah ke rumahku, aku balas kamu!"
Hampir lima belas menit berlalu. Akhirnya Vanya keluar. Gamis itu pas sekali di tubuhnya, memberikan kesan anggun yang belum pernah terlihat sebelumnya. Namun, kerudungnya tampak berantakan, miring ke kiri dan beberapa bagian rambutnya masih menyembul keluar.
"Belum pernah pakai kerudung yang benar ya?" tanya Reyhan, menatap Vanya yang sibuk membetulkan kain di kepalanya.
"Kenapa lagi?! Banyak aturan banget sih jadi orang!" semprot Vanya, mulai emosi karena merasa penampilannya gagal.
"Maaf ya... aku tidak menyentuh kulitmu. Aku cuma membetulkan ini," ucap Reyhan lembut.
Reyhan melangkah mendekat. Ia meraih bagian depan kerudung Vanya, menariknya sedikit ke depan untuk menutupi rambut yang keluar, lalu merapikan lipatannya di dekat pipi Vanya. Posisi mereka sangat dekat. Jarak napas mereka hanya terpaut beberapa senti.
Tiba-tiba, mata mereka bertemu.
Deg.
Jantung Vanya berdegup kencang, seolah-olah ada genderang yang ditabuh di dalam dadanya. Ia bisa melihat dengan jelas bulu mata Reyhan yang lentik dan tatapan matanya yang sangat dingin namun menenangkan. Untuk pertama kalinya, Vanya tidak melihat seorang "begal" di depannya, melainkan seorang pria yang penuh kendali.
Sementara itu, Reyhan tetap bersikap dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi emosional, seolah merapikan kerudung Vanya hanyalah tugas teknis seperti membetulkan rantai motor.
"Selesai. Coba lihat di spion," ucap Reyhan, mundur selangkah dan menunjuk ke arah spion motor matiknya.
Vanya melangkah maju dan melihat pantulan dirinya di kaca kecil yang cembung itu. Ia terpaku. Wajahnya yang biasanya terlihat "berani" dan angkuh, kini tampak jauh lebih lembut, bercahaya, dan... cantik dengan cara yang suci. Hijab itu seolah membingkai kecantikannya dengan sempurna.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" bisiknya takjub pada dirinya sendiri.
"Sudah, jangan kelamaan mengagumi diri sendiri. Ayo naik," ajak Reyhan sambil memakai helmnya.
Vanya menaiki jok belakang motor matik itu dengan kikuk. Saat motor mulai melaju membelah malam, Vanya terpaksa memegang pundak Reyhan agar tidak terjatuh. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum Reyhan yang tertiup angin, dan untuk pertama kalinya sejak malam horor itu, ia merasa... aman.
Ia tidak tahu bahwa perjalanan makan malam ini akan membawanya pada pertemuan dengan orang-orang dari masa lalu Reyhan yang akan mulai membuka tabir siapa suaminya sebenarnya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan