NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepotong Kue

Rana menatap lekat-lekat bungkusan kotak kardus yang baru saja diterimanya dari Rinta. Setelah kakak sepupunya itu pamit untuk kembali ke kelas pelatihan operator, Rana langsung menelepon Mutia.

Melalui sambungan suara, Rana mengucapkan terima kasih dengan suara yang bergetar menahan haru. Di ujung telepon, Mutia mengucapkan doa-doa terbaik, meminta Rana untuk selalu menjaga kesehatan dan tidak terlalu memikirkan omongan ibunya.

Setelah panggilan berakhir, Rana menyandarkan punggungnya ke dinding kontainer. Ia kembali merasakan sudut hatinya memilu, menyisakan rasa miris yang teramat dalam.

Selama ini, selalu Mutia dan keluarganya yang mengingat hari lahirnya. Dan sekarang ada Rinta. Sang ibu kandung? Tidak pernah sekalipun. Jangankan membelikan kue atau memasak makanan spesial, sekadar ucapan “Selamat ulang tahun, Na” pun tidak pernah meluncur dari bibir Bu Retno.

Rana terkadang berpikir dengan dada sesak, apakah kelahirannya ke dunia ini juga merupakan sebuah kesalahan atau beban masa lalu bagi sang ibu, sehingga tanggal 19 Mei dianggap sebagai hari yang tidak penting untuk diingat?

Rana mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir pikiran negatif itu dari kepalanya. Ia menghapus sisa air mata di sudut matanya, lalu melangkah kembali ke dalam kontainer Oil and Fuel sambil membawa kotak kardus pemberian Mutia.

"Apa ini, Na?" tanya Dino yang baru saja kembali dari area fuel station dengan seragam yang agak basah oleh cipratan solar. Ia meletakkan papan jalan di atas meja konter.

"Kue, Mas," jawab Rana singkat seraya meletakkan kotak tersebut di atas meja bundar yang biasa digunakan untuk area santai staf, lalu perlahan membuka lipatan kardusnya.

"Kamu ulang tahun?" tanya Dino dan Budi secara bersamaan.

Keduanya langsung menghentikan aktivitas mereka dan menatap Rana dengan pandangan terkejut.

Rana hanya menganggukkan kepalanya pelan, tersenyum canggung karena merasa tidak terbiasa menjadi pusat perhatian.

Mengetahui hal itu, suasana di dalam kontainer yang tadinya sunyi langsung berubah riuh. Segera saja beberapa rekan kerja lain; termasuk Tinus dan dua orang staf magang yang sebelumnya sedang sibuk mengorganisir lembar data part di rak belakang, meninggalkan pekerjaan mereka.

Mereka berbondong-bondong mengerubungi Rana untuk mengucapkan selamat.

"Wah, selamat ulang tahun, Rana! Semoga makin sukses, panjang umur, dan cepat dapat jodoh anak site sini!" seru Dino bersemangat.

"Selamat ulang tahun ya, Na. Semoga sehat selalu dan tetap sabar menghadapi urusan kerjaan kita yang gila-gilaan ini," tambah Budi sambil menepuk bahu Rana ramah.

Rana tersenyum lebar, rasa hangat menjalar di dadanya melihat ketulusan rekan-rekan kerjanya.

"Terima kasih banyak, Mas Budi, Mas Dino, dan semuanya." Ia kemudian mengambil pisau plastik yang sudah disiapkan Mutia di dalam kotak, bersiap memotong kue tersebut untuk dibagikan.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan yang cukup keras dan tegas pada permukaan meja konter luar seketika memutus keriuhan di dalam ruangan. Kepala semua orang yang ada di dalam kontainer spontan melongok ke arah sumber suara, menembus kaca pembatas.

"WO," kata Pradika singkat sambil melambaikan beberapa lembar kertas Work Order di tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kerja setengah terbuka.

Tinus segera berjalan ke konter dan menerima berkas WO tersebut untuk memeriksa daftar sparepart yang dibutuhkan oleh tim mekanik dealer.

Pradika yang sedang menunggu proses verifikasi dokumen, mencuri-curi pandang melewati bahu Tinus. Sepasang matanya yang tajam bergerak memindai seisi ruangan kontainer, mencari keberadaan satu sosok yang sejak tadi mengusik pikirannya setelah kejadian di dekat gudang hose.

"Cari siapa, Mas?" tanya Tinus menyadari pandangan Pradika yang tidak fokus, sembari tangannya cekatan mengumpulkan beberapa komponen seal dari rak.

Pradika berdeham kecil, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak kentara.

"Tidak cari siapa-siapa. Itu... kenapa di dalam ramai sekali?"

"Oh, itu. Rana sedang ulang tahun hari ini. Anak-anak di dalam lagi berkumpul makan kue bersama," jawab Tinus santai sembari menyerahkan bungkusan seal dan menandatangani lembar WO.

Mendengar jawaban Tinus, Pradika tertegun sejenak. Tangannya secara spontan merogoh saku celana seragamnya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka aplikasi kalender digital. Layar ponselnya menampilkan angka: 19 Mei.

Seketika, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus mengembang di wajah Pradika. Rasa penasaran dan kegelisahan yang sempat bersarang di dadanya setelah melihat kedekatan Rana dan Rinta tadi langsung luruh berhamburan. Ternyata, tangisan dan usapan kepala yang ia saksikan di sela sekat gudang tadi adalah bentuk perayaan hari lahir, bukan hal lain seperti yang sempat ia khawatirkan.

"Mas Pradika," panggil sebuah suara lembut dari arah dalam kontainer, tepat saat Pradika baru saja memasukkan kembali ponselnya dan bersiap untuk membalikkan badan pergi.

"Ya?" Pradika menoleh kembali.

Rana berjalan mendekati pintu konter pembatas dengan langkah agak ragu.

"Apa... Mas Pradika suka makanan manis?"

Pradika menatap wajah Rana yang kini terlihat jauh lebih segar, meski sisa-sisa rona merah di matanya akibat menangis tadi masih sedikit berbekas.

"Suka. Kenapa, Rana?"

"Tunggu sebentar, Mas," ucap Rana.

Ia berbalik kembali masuk ke dalam ruangan, lalu semenit kemudian kembali dengan membawa sepotong kue ulang tahun di atas piring plastik kecil, lengkap dengan sebuah garpu kecil. Ia mengulurkan piring itu melewati loket pembatas.

Pradika menerima piring kecil tersebut, matanya menatap potongan kue berbalut krim putih di tangannya, lalu beralih menatap Rana.

"Dalam rangka apa ini, Rana?" tanya Pradika, pura-pura tidak tahu tentang hari ulang tahun gadis itu.

"Ini... sebagai ucapan terima kasih untuk yang kemarin, Mas." jawab Rana dengan suara lirih, sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung sepasang mata Pradika yang terasa begitu intens menatapnya.

Pradika tersenyum lebar, senyuman yang membuat garis-garis tegas di wajah maskulinnya melunak.

"Tidak perlu sungkan denganku, Rana. Tapi terima kasih untuk kuenya." Rana hanya mengangguk kaku.

Saat Rana hendak melangkah mundur untuk kembali ke mejanya, Pradika menahan langkah gadis itu dengan sebuah pertanyaan yang meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Rana... Apakah boleh tambahkan WhatsApp?"

Rana menghentikan gerakannya, menatap Pradika dengan tatapan sedikit terkejut. Namun, mengingat Pradika adalah mekanik yang membutuhkan koordinasi urusan unit, Rana merasa tidak ada alasan untuk menolak.

"Boleh, Mas."

Rana kembali masuk ke mejanya, meraih ponsel lama pemberian Mutia, lalu berjalan kembali ke loket. Ia mendiktekan deretan angka nomor WhatsApp-nya dengan perlahan, sementara Pradika mengetiknya dengan cekatan di layar ponsel miliknya.

Setelah selesai di dikte, Pradika langsung menekan tombol kirim untuk mengirimkan satu pesan singkat sebagai tanda pengetesan.

Ting.

Ponsel di tangan Rana bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor baru dengan teks sederhana: 'P'.

"Terima kasih, Rana," ucap Pradika sambil mengangkat piring plastiknya sedikit.

"Sama-sama, Mas Pradika," jawab Rana tulus.

Setelah sosok tegap Pradika menghilang di balik pintu gerbang workshop luar, Rana berbalik arah untuk kembali ke mejanya. Namun, langkahnya langsung dihadang oleh Budi, Dino, dan Tinus yang rupanya sejak tadi memperhatikan interaksi di depan loket dengan mata berbinar-binar penuh selidik.

"Cie... ada yang tukaran nomor WhatsApp nih di hari ulang tahun," goda Dino dengan senggolan siku yang sengaja dibuat-buat ke arah Budi.

"Apasih, Mas Dino. Cuma tukar nomor untuk urusan koordinasi saja," kilah Rana cepat, wajahnya yang putih kini sudah sepenuhnya memerah karena menahan malu digoda di depan banyak orang.

Budi tertawa lepas, meletakkan garpu kuenya ke piring.

"Halah, Na. Koordinasi part kan biasanya lewat radio atau lewat telepon kantor. Ini sampai minta WhatsApp pribadi. Lagipula, kalian itu kan sama-sama single. Mas Pradika itu orangnya mapan, sopan, dan kerjanya rajin. Apa salahnya kalau kami sebagai senior di sini menjodohkan kalian? Siapa tahu beneran berjodoh sampai pelaminan."

"Benar itu! Aku dukung seratus persen kalau sama Mas Pradika. Daripada didekati orang macam Romi, mendingan sama mekanik dealer," dukung Tinus ikut menimpali, memicu tawa riuh di dalam kontainer yang sejuk itu.

"Kenapa pula aku yang kena?" tanya Romi tak terima.

"Kamu memang single, Rom. Sayangnya, kamu belum mapan dan kurang rajin." Romi hanya diam merasa tertohok, sementara yang lain tertawa.

Rana hanya bisa menundukkan kepala, memainkan ujung kemeja garis-garisnya dengan jemari yang gugup. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus merespons perjodohan sepihak dari rekan-rekan kerjanya ini.

Di satu sisi, pikirannya masih terpaku pada sosok Veri di Bojonegoro yang memberinya perhatian ambigu, namun di sisi lain, kehadiran Pradika yang tegas dan protektif perlahan mulai menuntut ruang tersendiri di dalam benaknya.

Beruntung bagi Rana, sebelum godaan Dino dan Budi semakin melenceng jauh, suara statis yang nyaring dari panggilan radio HT di bawah meja konter tiba-tiba memecah suasana.

"Oil and Fuel office, masuk. Ini dari pit stop 2, unit DT-05 membutuhkan pengisian fuel darurat karena indikatornya sudah kritis. Mohon koordinasikan unit fuel truck segera."

Budi langsung menyambar HT, mengubah mode santainya kembali menjadi profesional.

"Copy, pit stop 2. Segera kami luncurkan fuel truck ke lokasi."

Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi email tugas baru dari manajemen atas juga berkedip di layar komputer Rana, menuntut penyelesaian laporan pengambilan bahan bakar oleh subcon. Pembicaraan mengenai hubungan asmara dan perjodohan itu pun akhirnya tidak berlanjut, digantikan oleh kesibukan ritme kerja tambang yang kembali bergerak cepat.

Sementara itu, ribuan kilometer menyeberangi lautan, Bu Retno sedang berdiri di depan warung langganannya, memilih beberapa ikat kangkung dan bumbu dapur untuk makan malam mereka. Saat sedang menghitung uang kembalian, sebuah suara wanita paruh baya yang cukup akrab menyapa dari arah belakang.

"Eh, Bu Retno! Sudah lama sekali ya kita tidak saling bertemu," sapa wanita itu ramah.

Bu Retno membalikkan badan, mendapati Bu Jumadi, istri dari seorang mandor pertanian terpandang di desa sebelah.

"Eh, iya, Bu Jumadi! Benar sekali, sudah lama tidak kelihatan di arisan lingkungan juga," jawab Bu Retno, langsung memajukan tubuhnya dengan senyuman lebar, senang karena memiliki teman mengobrol.

"Iya, Bu. Saya baru saja kembali dari kampung halaman di Jawa Tengah, menengok cucu yang baru lahir di sana. Makanya baru sempat belanja hari ini," jelas Bu Jumadi panjang lebar.

"Oh, pantas saja, pantesan absen terus dua bulan ini," sahut Bu Retno mengangguk-angguk paham.

Bu Jumadi memilih beberapa ikat bayam, sambil menatap Bu Retno dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang khas dari ibu-ibu pedesaan.

"Oh ya, Bu Retno. Omong-omong, si Rana anak sulungmu itu, sekarang bekerja di mana, Bu? Kok sudah jarang sekali kelihatan lewat di depan rumah kalau sore hari?"

Mendengar pertanyaan tentang anak sulungnya, dagu Bu Retno spontan terangkat sedikit, ekspresi wajahnya berubah menjadi agak pamer dan bangga.

"Rana sekarang kerjanya jauh, Bu. Dia kerja di Kalimantan, jadi staf admin di salah satu perusahaan tambang besar di sana."

Bu Jumadi membelalakkan matanya sedikit, tampak terkesan.

"Kalimantan? Wah, jauh sekali ya, Bu. Berani sekali si Rana merantau sendirian ke pulau seberang."

"Iya, dia ikut dan kerja di area yang dekat dengan kakak sepupunya, si Mutia itu, yang suaminya jadi orang penting di tambang juga," tambah Bu Retno, sengaja membumbui ceritanya agar status keluarga mereka terlihat terpandang di mata istri mandor tersebut.

"Oh, ikut Mutia ya..." Bu Jumadi mengangguk-angguk paham, merasa rasa penasarannya telah terjawab.

Setelah menyelesaikan transaksi pembayarannya dengan pemilik warung, ia berpamitan kepada Bu Retno.

"Ya sudah kalau begitu, Bu Retno. Saya duluan ya, mau buru-buru pulang memasak untuk Bapaknya anak-anak."

"Iya, Bu. Mari, hati-hati di jalan," jawab Bu Retno ramah sembari melambaikan tangan lambat.

Setelah sosok Bu Jumadi menjauh, senyuman di wajah Bu Retno perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. Menyebut nama Rana dan Mutia entah mengapa mengingatkannya kembali pada kiriman uang satu juta rupiah yang baru saja masuk ke rekeningnya tadi siang setelah ia mengamuk di telepon.

Di dalam kepalanya, Bu Retno sama sekali tidak peduli bahwa hari ini adalah tanggal 19 Mei; hari di mana ia melahirkan Rana ke dunia dengan taruhan nyawa bertahun-tahun lalu.

Baginya, satu-satunya hal yang penting dari keberadaan Rana di pulau Kalimantan adalah aliran uang yang stabil demi memenuhi gaya hidup Rani dan kenyamanan rumah tangga mereka, tanpa pernah mau tahu seberapa keras jerih payah dan penderitaan batin yang harus ditanggung oleh anak sulungnya itu sendirian.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!