NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Bangkit Lebih Kuat & Ujian Kesehatan

Sejak Dimas dan kelompoknya tersingkir, jalan Bagas terbuka lebar tanpa hambatan. Kejujuran, ketepatan janji, dan harga yang adil membuat namanya semakin dikenal dan dipercaya di seluruh kawasan. Dalam waktu singkat, usahanya melesat pesat. Ia berhasil membangun jaringan distribusi sendiri, memiliki armada kendaraan pengangkut, dan menyewa gudang besar yang cukup untuk menampung stok barang dalam jumlah banyak. Bagas yang tadinya hanya seorang pendatang yang dulu hanya bisa bermimpi, kini ia berdiri sebagai pengusaha muda yang mapan dan disegani banyak orang.

Namun, di tengah kesuksesan yang mulai ia raih, takdir kembali memberikan ujian yang menyentuh sisi paling dalam hatinya. Kesehatan Ibu.

Selama bertahun-tahun menahan rasa takut, kekhawatiran, dan kelelahan batin akibat gangguan serta ancaman dari Dimas dan anak buahnya, kondisi fisik Ibu yang sudah rapuh perlahan merosot. Awalnya hanya sering mengeluh pusing dan sesak napas, namun suatu malam, tubuh Ibu tiba-tiba lemas tak berdaya dan jatuh pingsan. Bagas seketika panik, segera membawa Ibu ke rumah sakit terdekat.

Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa jantung dan paru-paru Ibu mengalami penurunan fungsi yang cukup serius, akibat penumpukan stres dan ketegangan yang tak pernah sempat hilang selama berbulan-bulan. Ibu harus dirawat secara intensif, membutuhkan pengobatan rutin, perawatan khusus, dan biaya yang jumlahnya tidak sedikit. Jumlah yang cukup besar hingga membuat keuangan usaha Bagas terguncang seketika.

Suatu sore, di ruang tunggu rumah sakit, Bagas duduk termenung memegang selembar rincian biaya perawatan. Angka yang tertera di sana membuat pikirannya berputar keras. Seorang rekan bisnis pernah menyarankan:

"Bagas, kalau keadaan mendesak, tidak ada salahnya menjual sebagian aset atau kendaraan. Nanti kalau Ibu sudah sehat, bisa dibangun lagi pelan-pelan."

Bagas menggeleng pelan, matanya menatap pintu ruang perawatan tempat Ibu beristirahat.

"Tidak," jawabnya tegas namun lembut. "Aset itu memang bernilai uang, tapi itu adalah alat untuk menjamin kelangsungan hidup kami dan masa depan. Kalau aku menjualnya sekarang, usahaku bisa terhenti, dan ke depannya justru akan lebih sulit membiayai pengobatan jangka panjang Ibu. Aku tidak akan menjual apa pun. Aku akan bekerja lebih keras lagi, siang dan malam, agar semuanya tercukupi tanpa harus melepaskan apa yang sudah aku bangun dengan keringat dan air mata."

Sejak hari itu, Bagas kembali membagi waktunya dengan sangat ketat. Pagi hingga sore ia mengurus segala urusan bisnis, mengecek stok, mengatur pengiriman, dan bertemu mitra dagang. Sore hingga malam ia habiskan di rumah sakit, menemani Ibu, menyuapi makan, dan berbicara hal-hal yang menyenangkan agar hati wanita itu tetap tenang. Saat Ibu sudah terlelap, ia duduk di sudut ruangan, membuka catatan keuangan, mempelajari cara mengatur arus kas, memotong pengeluaran yang tidak perlu, dan menyusun strategi agar keuntungan bisa dimaksimalkan untuk ditabung sebagai dana cadangan kesehatan.

Ia belajar dengan cepat. Bukan hanya soal mencari uang, tapi bagaimana mengelolanya dengan bijak, memisahkan dana usaha, dana operasional, dan tabungan khusus untuk kebutuhan mendesak seperti ini. Setiap rupiah yang masuk ia catat dengan teliti, tidak ada lagi pemborosan sedikit pun. Ia sadar, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya soal seberapa banyak yang didapat, tapi seberapa bijak ia menjaganya untuk hal-hal yang paling berharga.

Suatu malam, saat Ibu terbangun dan melihat putranya yang tampak lelah dengan kantung mata yang mulai menghitam, ia menggenggam tangan Bagas erat-erat. Wajahnya tampak sedih melihat pengorbanan anaknya.

"Nak... maafkan Ibu ya... Ibu jadi beban bagimu. Kalau Ibu tidak sakit, kamu tidak perlu bersusah payah seperti ini." ucap Ibu dengan suara lirih.

Bagas segera tersenyum, mendekatkan wajahnya dan mencium punggung tangan keriput itu dengan penuh kasih sayang. Air matanya hampir menetes, namun ia tahan agar Ibu tidak semakin cemas.

"Bu, jangan pernah bicara begitu. Merawat Ibu bukanlah beban bagiku. Ini adalah kewajiban dan kebahagiaanku. Dulu saat aku kecil, Ibu bekerja keras, menahan lapar, dan mempertaruhkan segalanya agar aku bisa tumbuh sehat. Sekarang giliranku. Biarkan aku membuktikan bahwa setiap tetes keringat dan pengorbanan Ibu dulu tidak pernah sia-sia. Ibu harus kuat, harus sembuh. Ibu harus ada di sampingku saat usahaku semakin besar nanti, saat impian-impianku tercapai, dan saat aku pulang membawa kebahagiaan yang utuh. Ibu harus melihat semuanya, Bu. Janji ya?"

Ibu mengangguk pelan, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Ibu berjanji, Nak. Ibu akan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh, demi melihat kau sukses dan bahagia."

Ujian itu tidak mudah, namun justru membuat Bagas semakin dewasa, semakin kuat, dan semakin cermat dalam mengelola hidup dan usahanya. Ia sadar, kesuksesan tanpa kemampuan menjaga dan merawat apa yang dimiliki tidak akan bertahan lama. Kini, di samping tekad untuk terus memajukan usaha dan mempersiapkan perjalanan pulang ke Jakarta, ia juga memiliki satu tujuan yang tak kalah penting. Menjaga kesehatan Ibu, memastikan wanita itu selalu sehat, dan selalu ada di sisinya untuk menyaksikan setiap langkah kesuksesan yang ia raih.

1
🌺⃟ SasMaya
Wahhh... modal nih 🤭
Lenny Utami
semangat gus
Agatha soul
kasian banget
arsyila putri
sayang sekali padahal pintar
mama Al
semangat Bagas siapa tahu hari esok adalah keberhasilan kamu
Tulisan__mawar
Otak gue langsung sakit mikirinya. langsung merinding yah gas, betul juga sih kata Naya. nasib karyawan bergantung di perusahaan ini soalnya, Yupz.... sangat rumit🥱🫠
🌺⃟ SasMaya
resiko di berduit begitu ya, di pandang sebelah mata
🌺⃟ SasMaya
bagas ini cinta pada pandangan pertama
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: betul. cinta pertama tapi beda kelas. jd penuh tantangan
total 1 replies
🌺⃟ SasMaya
yupz.... pd aja dulu
🌺⃟ SasMaya
Wahh... kesempatan ini ...
🌺⃟ SasMaya
Ayo Bagas tunjukan kejeniusanmu
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: siaaap kaka😄
total 1 replies
Aii Flow🌷
Baru baca udah terharu sama Bagas🥲 semoga sukses ya, dan ibumu panjang umur
Mingyu gf😘
kasihan banget😭semoga kamu sukses ya gus
🌺⃟ SasMaya
tentunya ga lepas dari dukungan ortu
🌺⃟ SasMaya
pendidikan sepenting itu sih untuk merubah nasib... ga selalu, tapi seringnya begitu
🌺⃟ SasMaya
dilema menjadi tulang punggung sejak muda
🌺⃟ SasMaya
berat bgt ini kehidupan Bagas sama Bu siti
M. T🌻
serap semua ilmunya bagas, karena itu akan menjadi bekalmu.
🌺⃟ SasMaya
astagaa... dalem bngt
"Tidak lagi hanya menjadi debu yang di lewati."
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: di sini tekad bagas kuat bngt
total 1 replies
🌺⃟ SasMaya
Naya ini FL nya kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!