NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja Bercahaya dan kegelapan

Senja menyelimuti kawasan di bawah Gunung Eclipse. Devan, Kinanti, beserta rombongan kecil mereka akhirnya tiba di area kaki gunung. Sebelum memulai pendakian, Kinanti meminta rombongan untuk mampir sejenak ke sebuah danau luas. Danau tersebut merupakan hilir dari seluruh sungai yang mengalir di Central, sekaligus terhubung langsung dengan aliran sungai di bagian barat Pulau Nova.

"Pak Prajurit, tunggu sebentar. Sebelum kita mendaki, kita beristirahat sejenak dulu di sini,"

ujar Kinanti sembari turun dari gerobak kuda.

"Baik, Tuan Putri," sahut sang prajurit patuh.

Devan melangkah ke tepi air, matanya menatap air yang tenang.

"Wah, bagus banget pemandangan senja di sini. Danau ini jernih juga ya."

Kinanti berjalan mendekat ke sisi Devan, ikut memandangi pantulan langit jingga di atas permukaan air. "Gimana, cantik ya danaunya? Nama danau ini Swan Romantic Lake. Nama itu diberikan karena banyak angsa yang mencari pasangannya di sini."

"Memang bagus sih tempatnya," puji Devan jujur.

Kinanti mengembuskan napas pelan, tatapannya mendadak berubah sayu. "Terkadang aku suka pergi ke sini untuk sekedar melamun sambil melihat matahari tenggelam. Dan terkadang juga... Aku berharap apakah aku bisa diakui keberadaannya oleh Kakak."

Devan menoleh, menatap wajah gadis di sebelahnya dengan rasa simpati. "Hmm... Yang sabar ya, Kinanti. Aku yakin suatu saat api kebencian di dalam diri kakakmu akan padam."

"Terima kasih, Devan. Terkadang aku memang harus menceritakan permasalahanku kepada seseorang," ucap Kinanti tulus, matanya masih terpaku pada ujung cakrawala di mana matahari mulai tenggelam perlahan.

Sadar bahwa kegelapan akan segera menjemput, Kinanti menepuk kedua pipinya pelan lalu menoleh ke arah rombongan dengan raut ceria yang dipaksakan. "Aduh, maaf! Aku keasyikan melamun sampai lupa tujuan awal kita di sini. Sekarang saja kita daki gunungnya, takutnya nanti bakal kemalaman."

"Ayo!" sahut Devan bersemangat.

Devan, Kinanti, Bi Eni, beserta kedua prajurit pengawal pun segera merapikan barang bawaan mereka dan melanjutkan langkah untuk mendaki Gunung Eclipse.

Sementara itu, beralih ke istana kerajaan. Alexa rupanya telah tiba di gerbang depan. Kirana yang sejak tadi sudah tidak sabar langsung berlari riang untuk menjemput sahabatnya yang tengah berdiri menunggu.

"Hai, Alexaaaaa! Aku sudah lama menunggumu! Kalau kau tidak mau datang tadi, aku sudah siap mau pergi ke rumahmu loh. Eh, ternyata kamu datang, hehe. Ayo, ayo masuk! Kau pasti capek, ya?! Istirahat saja dulu," sambut Kirana dengan

wajah sumringah.

"Terima kasih, Tuan Putri," jawab Alexa sopan.

"Yaelah, kan aku bilang cukup panggil nama saja."

"Tapi ini kan di dalam kerajaan. Rasanya tidak sopan kalau aku memanggil namamu begitu saja," balas Alexa pura-pura sungkan.

"Gak usah, sudah! Panggil nama biasa saja. Jangan anggap ini kerajaan, anggap saja ini rumahku, oke?" puji Kirana.

"Oke, Kirana..."

Kirana memperhatikan penampilan Alexa dari atas sampai bawah. "Gaunmu cantik juga ya. Bentar... Ini noda merah apaan?! Rasberi?! Apa stroberi?!" tanya Kirana sambil menunjuk bercak merah di bagian kain gaun Alexa.

Alexa sempat menegang sesaat, namun dengan cepat ia menguasai ekspresi wajahnya. "Ya, ini tadi sebelum ke sini aku sempat gak sengaja menumpahkan selai stroberi ke roti. Tadinya mau dibersihkan dulu, tapi karena takut kau menungguku terlalu lama, yaudah aku hanya sekedar menyekanya."

"Oh ya, aku lupa menyuruh prajurit sekalian untuk menjemputmu. Aku malah cuma meminta mereka membawakan pesan saja," sesal Kirana.

"Tidak apa-apa, Kirana. Aku memang lagi kepingin jalan kaki kok, lagipula dekat juga."

"Kecapean gak kamu? Yaudah, ayo kita ke kamarku dulu. Paling tidak kamu rebahan dulu di sana sambil mengistirahatkan kakimu."

Mereka berdua berjalan menyusuri koridor megah istana hingga tiba di depan sebuah pintu kayu besar yang indah.

"Tadaa! Ini kamarku!" Kirana membuka pintu lebar-lebar.

Alexa melangkah masuk dan melihat pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dibuat takjub. "Wah, besar sekali! Ini setara dengan ruangan keluargaku, tidak... Malah lebih besar lagi!"

"Kita akan tidur di sini. Aku sudah menyiapkan beberapa camilan. Silakan rebahan dulu saja sambil mencicipi camilannya, Alexa. Aku ingin pergi ke toilet sebentar ya," pamit Kirana lalu melangkah pergi.

Begitu pintu toilet tertutup, Alexa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk milik sang putri. Sepasang matanya menatap tajam ke langit-langit kamar, sementara otaknya mulai bekerja keras menyusun taktik.

(Aku harus segera menyelidiki planet ini. Aku harus mulai dari mana ya? Oh ya... Perpustakaan! Tempat di mana seluruh ilmu pengetahuan dikumpulkan. Lagipula tidak akan ada orang yang mencurigai kalau aku hanya membaca buku. Baiklah, nanti malam aku akan meminta izin kepada Tuan Putri untuk pergi ke sana dulu. Ilmu akan menjadi kunci kemenangan jika digunakan oleh orang yang bisa memanfaatkannya.)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!