Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. MENIKAH BUKAN PRIORITAS
Nama: Sagara Mandala
Tanggal lahir: 12 Oktober 2012
Golongan darah: B
Makanan kesukaan: Masakan Mama
Minuman kesukaan: Apa aja asal bukan racun, rasanya manis, dikasih es batu yang banyak!
Cita-cita: Jadi CEO, dan nggak mau punya bapak lagi sampai mati.
Erina masih ingat betul setiap kata yang ditulis Saga sebagai biodata pribadinya di buku album kenangan sekolah dasarnya, ketika anak itu lulus dua tahun lalu. Yang paling menggelitik sekaligus membuat Erina tercenung adalah kalimat terakhir yang tercantum di sebelah potret Saga yang tersenyum lebar sambil mengenakan seragam merah putih itu.
Nggak mau punya bapak lagi sampai mati.
Pernikahan Erina yang kandas delapan tahun lalu itu jelas tak hanya menyisakan luka dan trauma baginya, tetapi juga putra kesayangannya, Saga.
Erina menikah dengan seorang lelaki bernama Tirta Mandala, atasannya dulu saat ia masih bekerja di sebuah perusahaan furniture kayu. Keduanya menikah di usia matang, saling cinta, dengan finansial berkecukupan, dan mengira setelah itu, segalanya akan baik-baik saja.
Sampai akhirnya masalah kehidupan mulai menghantam bertubi-tubi.
Setelah menikah, Erina resign dari pekerjaannya sebagai admin marketing karena perusahaan tempatnya bekerja memberlakukan kebijakan tidak mengizinkan pasangan suami-istri bernaung dan mengabdi dalam satu lingkup pekerjaan, dengan alasan menjaga profesionalitas. Erina pun memutuskan menjadi ibu rumah tangga, melayani suami dan penuh waktu mengurus anak-anak mereka di rumah.
Tetapi suatu ketika, Tirta dipecat secara tak hormat karena ketahuan menggelapkan dana perusahaan. Tirta bahkan terancam dipenjara jika tak mau mengganti uang yang sudah dikorupsinya--yang nominalnya mencapai ratusan juta rupiah.
Perkara itu meretakkan--bahkan menghancurkan segalanya.
Harta benda dan tabungan keluarga kecil mereka habis untuk membayar kesalahan Tirta. Mereka juga sampai harus menjual rumah di kawasan kompleks tengah kota dan pindah mengontrak di gang sempit, dan berusaha mati-matian mencari cara bertahan hidup di tengah situasi ekonomi yang terasa seperti neraka.
Tetapi kekurangan uang bukanlah masalah utama bagi Erina. Sekalipun suaminya menganggur dan sulit mendapat pekerjaan kembali karena track record-nya yang buruk, Erina masih sanggup bertahan dan bahkan menopang kebutuhan rumah tangganya dengan cara berjualan makanan kecil-kecilan di rumah dan secara online. Yang jadi masalah--sejak awal, hingga akhir pernikahan--justru Tirta sendiri.
Satu per satu, sisi gelap Tirta terungkap. Ia gemar berjudi, bahkan main perempuan di belakang punggung Erina. Karena itu ia sampai korupsi dana perusahaan hanya untuk memuaskan kesenangan pribadi, meski dengan licik ia juga beralasan di depan semua orang bahwa ia membutuhkan banyak uang untuk mengobati putrinya Nala yang divonis mengidap autis.
Dan perilaku buruk Tirta semakin buruk ketika ia menganggur dan terhimpit banyak hutang akibat judi. Ia bahkan mulai berani memukuli Erina saat istrinya itu tak mau memberinya uang untuk berjudi atau mengonfrontasinya usai kontrakan mereka didatangi debt collector.
Saga masih berusia enam tahun saat menyaksikan ayahnya memukuli ibunya, dan ia pun berteriak sambil mendorong ayahnya agar berhenti--namun ia justru mendapat pukulan keras juga di wajahnya, hingga lebam dan berdarah.
Erina tak sanggup lagi melihat anaknya terluka. Malam itu juga ia melaporkan Tirta ke polisi dengan tuduhan KDRT. Erina seketika menggugat cerai, membiarkan Tirta meringkuk di penjara, dan pindah keluar kota bersama kedua anaknya--bertekad memulai hidup baru tanpa lagi dibayangi masa lalu yang kelam dan sarat lara.
Trauma itu, catatan kecil Saga, dan realistis menghadapi kerasnya kehidupan, membuat pernikahan bukan lagi menjadi prioritas Erina di masa sekarang.
Pukul dua belas siang tepat, makanan hangat sudah tersaji di atas meja makan kecil dekat dapur. Erina dan kedua anaknya duduk dan menikmati makan siang bersama--hal yang hanya bisa mereka lakukan di hari Minggu atau libur, sebab saban hari Erina akan sibuk bekerja sebagai admin marketing di sebuah perusahaan distributor suku cadang motor, dan kedua anaknya sibuk sekolah dari pagi sampai sore.
Momen sederhana ini yang sangat menghangatkan hati Erina--menatap kedua wajah menawan anaknya dari dekat, menyaksikan mereka makan dengan lahap apapun yang dimasaknya, bahkan kadang memuji dan minta tambah.
Dan siang ini, sekalipun menunya cuma tahu telur dengan lalapan dan sambal, Saga dan Nala makan sangat lahap--entah karena sama-sama doyan atau lapar. Keduanya bahkan menusuk potongan tahu telur terakhir yang tersisa di piring besar dengan garpu serentak, seakan sama-sama ingin menikmati rasa gurih itu sampai serpihan terakhir.
"Buatmu saja," Saga mengalah dan membiarkan Nala mengambilnya.
Nala tidak menunjukkan ekspresi apapun--berterima kasih pun tidak--dan makan tahu telur terakhir dengan tenang.
"Mau Mama buatin lagi, Ga?" tanya Erina lembut--diam-diam hatinya terenyuh melihat sikap Saga yang begitu berbesar hati terhadap adiknya, meski keduanya jarang saling bicara. "Tapi tunggu, ya..."
Saga menggeleng. Ia menghabiskan segelas air putih dingin dengan cepat, lalu bersendawa keras.
"Nggak usah. Kenyang."
Saga membawa piringnya ke dapur dan mencucinya sendiri di wastafel.
Erina menghela napas panjang dan menatap kedua anaknya bergantian dengan penuh sayang. Meski hidup tak selalu mulus, tetapi melewati waktu bersama permata hatinya seperti ini terasa lebih dari cukup--lebih menenangkan--lebih membahagiakan dari apapun.
Karena itu, sekalipun di luar sana, banyak lelaki mengantri untuk mempersuntingnya, Erina tak mau membuka kesempatan apalagi mempertimbangkannya. Itu sama saja mencari perkara baru--padahal hidup sudah terasa sebaik ini... meski ada masalah, tapi setidaknya bukan yang memperdalam luka apalagi menghancurkan hati.
Apalagi ia juga tahu, kebanyakan laki-laki menginginkannya hanya karena kepincut wajahnya yang memang cantik, berkulit putih bersih sejak lahir. Tapi tabiat asli mereka--siapa yang tahu?
Dan apakah mereka sanggup menghabiskan hidup dengan mengurus dua anak tiri yang setiap hari menguji batas kesabaran dan kewarasan?
Menyadari hal itu, Erina lebih memilih hidup tanpa pasangan sampai tua dan mati nanti, daripada melihat anaknya kembali tersakiti--seperti dulu.
Tapi mungkin juga umurku nggak akan panjang amat kalau kudu jual ginjal habis ini...
Erina mencuci piringnya dengan muram saat ingat besok pagi ia harus hadir di Sidang Komite Disiplin di sekolah Saga. Kepalanya terasa seolah ditusuk-tusuk lagi, bahkan pandangannya sempat berkunang-kunang beberapa detik.
Ada cara nggak ya supaya aku nggak perlu jual ginjal?
Sisa hari itu berlangsung tenang--tetapi kepala Erina yang sudah diberi obat sakit kepala tetap terasa seperti medan perang ketika ia memikirkan segala peluang, segala cara dan pembelaan--untuk bisa memenangkan sidang yang akan digelar kurang dari 24 jam, dari sekarang.
Demi Saga, demi tabungannya, dan demi ginjalnya, ia harus menang.
***