Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Sang Profesor
“Hehehehe!” Adrian terkekeh seolah kepanikan Rina adalah angin lalu. Bukannya menjawab Adrian malah menyesap kopi di cangkirnya membuat Rina makin penasaran.
"Bilang apa, Om?" tanya Rina setengah menekan.
“Aku sudah bilang ke dia kalau aku punya ‘asisten pribadi’ baru untuk mengurus proyek luar kotaku," jawab Adrian dengan wajah datar seolah ini bukan masalah besar. "Dia tidak akan curiga, Rin. Bagi dia, yang penting urusan domestik rumah tangga kami tidak terganggu.”
“Tapi, Om! Teman-temanku di kampus sudah tahu!” suara Rina meninggi. Matanya berkaca-kaca karena frustasi. “Uci melihat kita semalam! Bagaimana kalau gosip ini sampai ke telinga Bu Profesor langsung? Aku bisa dikeluarkan dari kampus, Om!”
Adrian bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat sembari merangkul pundak Rina dengan posesif. “Sayang, dengar. Siapa yang akan percaya pada omongan mahasiswi kosan seperti Uci? Di kampus itu posisi Bu Profesor sangat terhormat. Dia tidak akan merendahkan dirinya hanya untuk mengurusi gosip murahan.”
Rina agak mereda mendengar perkataan dari Adrian meskipun hatinya masih didera kecemasan hebat.
Melihat Rina yang masih cemas, Adrian segera memeluk Rina lebih erat.
Pelukan hangat Adrian malam itu kembali membuatnya luluh dan melupakan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Keesokan paginya Rina kembali ke kampus. Saat tiba di koridor, atmosfernya terasa jauh lebih mencekam bagi mahasiswi tingkat akhir ini.
Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya seolah sedang menelanjanginya dengan penghakiman.
Rina berjalan menunduk sambil mendekap buku-bukunya erat-erat menuju kelasnya pagi ini.
Mata Kuliah Teori Sosial Lanjutan yang sialnya akan diisi oleh Ibu Profesor Eliza.
Saat melangkah masuk tiba-tiba ruangan mendadak hening. Rina mengambil tempat duduk di barisan paling belakang berharap bisa menghilang dari pandangan semua mata.
Tak lama kemudian pintu kelas terbuka. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi bergema ritmis.
Bu Profesor masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Wajahnya yang tegas dengan kacamata berbingkai hitam dan aura cerdasnya membuat seluruh kelas langsung terdiam.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Bu Profesor dingin. “Sebelum kita mulai materi hari ini, saya ingin memastikan semua tugas analisis jurnal sudah dikumpulkan.”
Mata Bu Profesor perlahan menyapu seisi ruangan.
Rina menahan napas saat tatapan tajam wanita paruh baya itu berhenti tepat di wajahnya selama beberapa detik.
Ada senyuman tipis yang misterius di sudut bibir sang profesor sebelum beliau mengalihkan pandangan.
Sepanjang kelas Rina tidak bisa fokus. Jantungnya berdegup kencang dengan tangan yang dingin.
“Baik, kelas saya akhiri sampai di sini,” kata Bu Profesor dua jam kemudian sambil merapikan meja. “Dan untuk Saudari Rina... tolong ikut saya ke ruangan saya sekarang.”
Deg!
Bisik-bisik langsung pecah di antara para mahasiswa. Uci yang duduk beberapa bangku di depan Rina menoleh sambil memasang wajah mengejek yang seolah berkata, “Mampus kamu, Rin.”
Dengan lutut yang lemas Rina mengekor di belakang Bu Profesor menuju ruang dosen di ujung lorong.
Begitu masuk, Bu Profesor menutup pintu rapat-rapat dan duduk di kursi kebesarannya. Beliau melepas kacamatanya lalu menatap Rina yang berdiri mematung di depan meja.
Atmosfer di ruangan itu begitu mencekam. Rina sudah bersiap untuk dimaki atau lebih parah lagi mungkin ditampar bahkan diancam akan dikeluarkan dari universitas.
“Duduk, Rina,” perintah Bu Profesor, suaranya datar tanpa emosi.
Rina duduk dengan ujung kursi, tubuhnya gemetar. “B-Bu... saya bisa jelaskan...”
Bu Profesor mengangkat satu tangannya memberi mengisyaratkan Rina untuk diam.
Beliau kemudian mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
Tangannya nampak mengotak-atiknya sebentar lalu memutar sebuah rekaman suara di atas meja.
Dari pengeras suara ponsel itu terdengar suara yang sangat Rina kenal.
“Ah, santai saja. Seperti apapun dunia memandang kita yang penting kan kita menikmatinya...”
“Tapi gimana kalau Ibu Profesor tahu kita pacaran?”
“Tenang aja aku udah bilang kok.”
Itu adalah percakapan Rina dan Adrian di apartemen tadi malam!
Rina langsung pucat pasi. Air matanya luruh seketika. “Bu... saya mohon maaf... saya... saya dijebak, saya...”
Namun, reaksi Bu Profesor justru di luar dugaan.
Bukannya marah, wanita terpandang itu malah menyandarkan punggungnya ke kursi lalu terkekeh geli. Sebuah tawa yang terdengar dingin sekaligus penuh kepuasan.
“Kamu pikir kamu adalah gadis pertama yang dia bawa ke apartemen itu, Rina?” tanya Bu Profesor dengan nada meremehkan.
Rina tertegun membuat tangisnya terhenti karena bingung. “Maksud... maksud Ibu?”
“Adrian adalah pria yang tidak berguna. Dia hanya hidup dari uang warisan keluarga saya dan memamerkan harta milik saya untuk dia gunakan saat menggaet gadis-gadis polos dan haus kemewahan seperti kamu,” ujar Bu Profesor dengan tatapan tajam yang menusuk.
Beliau memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. “Selama ini saya mempertahankan pernikahan dengannya hanya demi reputasi dan aset gabungan perusahaan keluarga kami. Tapi bulan depan, kontrak perjanjian pranikah kami habis dan saya butuh alasan hukum yang kuat agar dia tidak mendapatkan sepeser pun harta gono-gini saat saya menggugat cerai.”
Rina membelalakkan. Dia tidak menyangka arah pembicaraan akan menjadi seperti ini.
Bu Profesor membuka laci mejanya mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai dan sebuah kunci kecil. Beliau menggeser keduanya ke hadapan Rina.
“Di apartemen tempat kamu tinggal sekarang, ada sebuah brankas kecil di balik lukisan ruang kerja Adrian. Di sana ada dokumen asli kepemilikan saham perusahaan saya yang dia curi. Ambil dokumen itu dengan kunci ini lalu bawa ke saya dan pastikan kamu terus membuatnya lengah di ranjang sampai proses cerai saya matang.”
Rina menelan ludah sambil menatap amplop berisi uang dan kunci itu bergantian.
“Jika kamu berhasil membantu saya menghancurkan Adrian,” lanjut Bu Profesor dengan senyum licik, “Beasiswa penuh untuk S2-mu akan saya urus, dan gosip di kampus ini akan saya hilangkan dalam satu malam. Tapi jika kamu menolak...” Bu Profesor menjeda kalimatnya, matanya menyipit kejam, “...kamu tahu sendiri apa yang bisa dilakukan oleh seorang guru besar terhadap mahasiswi semester akhir.”
"Ta... pi, Bu," Rina didera ragu.
"Pilihan ada di tanganmu, Rina. Putuskan sekarang,"