Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Hujan deras kembali turun. Suasana di ruangan teknisi tua itu terasa makin sempit dan pengap. Sunyi, radio kecil sudah lama dimatikan, hanya suara air hujan yang terdengar di atap seng.
Arga masih sibuk menyeduh mi instan ketiganya malam itu.
“Kalau besok gue mati,” katanya sambil menuang air panas, “tolong kuburin gue dengan makanan yang lebih layak.”
“…mie instant satu dus cukup kan buat bekal,” jawab Malik sambil tertawa di dekat pintu.
Arga hanya mendengus, sementara Nara tersenyum kecil mendengarnya. Han tetap berdiri dekat jendela, tidak bergerak sejak tadi. Nara mulai sadar kalau Han jarang duduk dengan santai. Bahkan saat diam pun, tubuhnya terlihat selalu siap untuk bergerak kapan saja.
“Apa kamu ngga capek?” tanyanya tiba-tiba.
Han melirik sekilas, lala menjawab, “…Aku capek.”
“Bohong. Mukamu kayak orang yang ngga pernah tidur.”
Arga langsung tertawa pendek.
“Nah….bener itu.”
Han mengabaikan mereka dan tetap melihat keluar jendela. Nara duduk sambil memeluk lututnya sendiri di kursi. Rasa takut masih ada, tapi rasa bingung sekarang terasa lebih dominan. Semua ini sangat jauh dari kehidupannya.
Organisasi rahasia, pembunuh, orang hilang atau data misterius.
Dan yang paling aneh, ia sekarang duduk dengan orang-orang yang berbicara tentang semua itu seperti sedang membahas cuaca.
“Han.”
Pria itu menoleh pelan.
“Kamu bilang tadi, mereka ngga akan bunuh orang sembarangan.”
Han mengangguk kecil.
“Biasanya.”
“Jadi… mereka bakal mencoba mengambil sesuatu dariku dulu?”
“Itu pun kalau mereka yakin, kamu tahu sesuatu.”
Nara menatap lantai, lalu bergumam. “Aku bahkan ngga yakin kalau yang kulihat itu penting.”
Han berjalan mendekat lalu duduk di kursi di depannya.
“Coba kamu ceritakan lagi detailnya.”
Nara menghela napasnya perlahan sambil mencoba mengingat ingat kejadian beberapa minggu lalu.
“Waktu itu aku sedang lembur sendirian.” Ia mengusap pelipisnya pelan. “Server kantor sempat error, jadi ada beberapa folder internal perusahaan lain yang masuk ke sistem kami.”
Han mendengarkan tanpa menyela.
“Aku ngga sengaja buka.” Nara menatap mereka satu per satu. “Awalnya kupikir itu cuma data medis biasa.”
“Tapi?” tanya Malik.
“Ada kode banyak kode yang sama berulang-ulang.” Nara menggambar pola kecil di meja dengan jarinya. “Nomor pasien beda, nama beda… tapi simbolnya tetap sama.”
Han langsung fokus.
“Simbol apa?”
“Aku ngga ingat jelas.”
“Coba ingat pelan pelan.”
Nara memejamkan mata sebentar. Ruangan kantornya yang berwarna putih. Layar komputer. Folder biru. Dan sebuah simbol kecil di pojok file. Sebuah lingkaran tipis dengan garis vertikal di tengah.
Mata Nara langsung terbuka.
Ruangan itu langsung diam. Arga perlahan menurunkan garpunya.
“Ah…itu.” Sambil mengangkat telunjukya ke samping pelipis. “Simbol yang sama seperti orang tadi kan?”
Han mengangguk. Napas Nara mulai terasa berat lagi.
“Aku pikir itu logo perusahaan.”
“Buat sebagian orang,” kata Han pelan, “itu hal yang buruk.”
Malik duduk bersandar di kursinya.
“Kalau simbol itu ada langsung di file…” Ia menggeleng pelan. “Berarti datanya memang bukan level biasa.”
Nara menatap Han.
“Simbol itu sebenarnya apa?”
Han terdiam cukup lama, lalu akhirnya menjawab, “Penanda internal.”
“Internal apa?”
Han menatapnya lurus.
“Orang-orang yang berada terlalu dekat dengan internal Helios.”
“Aku cuma lihat beberapa detik saja kok…”
“Terkadang beberapa detik itu cukup.”
Sunyi lagi. Suara hujan terdengar makin deras. Arga mencoba memecah suasana yang tegang itu.
“Oke….”kata Arga sambil mengangkat mi instannya. “Kabar baiknya, kita masih hidup.”
“Kabar buruknya?” tanya Nara lelah.
“Kita masih hidup.”
Malik tertawa kecil dengan nada serak. Bahkan Han terlihat hampir tersenyum tipis. Nara memperhatikan itu. Tipis sekali dan itu nyata. Dan itu membuat pria itu terlihat lebih manusiawi.
Ponsel milik Malik tiba-tiba bergetar di atas meja. Semua langsung terdiam. Malik mengangkatnya pelan dan melihat layar ponselnya. Ekspresinya sedikit berubah.
“Hmm.”
“Apa?” tanya Han.
“Info jalanan.”
Malik membaca pesan itu dengan cepat, lalu mengangkat pandangannya ke arah Han.
“Mereka mulai nyebar foto.”
Arga langsung memaki.
“Cepat banget?”
“Belum resmi.” Kata Malik sambil meletakkan ponselnya. “Masih level internal.”
Han mengulurkan tangannya, “…coba aku lihat.”
Malik menyerahkan ponselnya. Di layarnya terlihat foto CCTV yang buram.
Foto Han dan Nara, yang sedang berjalan keluar dari area apartemen beberapa jam lalu. Jantung Nara langsung berdebar cepat.
“Itu kita…” kata Nara panic.
“Mereka gerak cepat.” Kata Han sambil memperbesar gambarnya.
Arga berdiri dari kursinya, lalu ikut melihat.
“Aku ngga ada ya…” ucap Arga.
“Kalau foto itu udah menyebar, tempat ini ngga aman buat berlama-lama.” Sambung Malik sambil meminum kopinya.
Han tahu itu. Masalahnya, pilihan mereka semakin sedikit. Malik memandang Han selama beberapa detik.
“Kamu masih punya akses tempat lama?”
Han diam. Itu pertanyaan yang buruk dan Arga langsung tersadar. “Oh tidak.”
“Tempat lama?” tatap Nara bingung
“Ada satu,” jawab Han sambil mengusap rahangnya dengan pelan.
“Kedengarannya ngga yakin banget,” kata Arga.
“Karena tempat itu bukan tempat yang bagus.”
Malik menatap Han tajam.
“Kamu yakin mau ke sana lagi?”
Selama beberapa detik Han tidak menjawab. Dan Nara melihat ada sesuatu di mata pria itu yang belum pernah muncul sebelumnya. Keraguan bukan takut mati. Tapi lebih seperti seseorang yang tidak ingin mengingat kembali masa lalunya.
“Mungkin itu satu-satunya tempat yang belum mereka sentuh,” kata Han.
Arga langsung menghela napas panjang.
“Kalau kalimatmu mulai ada kata ‘mungkin’, biasanya hidup kita bakal memburuk.”
Han bergerak mengambil jaketnya. “Kita jalan sepuluh menit lagi.”
Nara berdiri perlahan, tubuhnya masih terasa lelah dan kepalanya masih penuh dengan pertanyaan. Tapi ada satu hal yang mulai jelas. Ia tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan normalya begitu saja. Dan semakin lama ia bersama Han, semakin terasa kalau pria itu membawa masa lalunya, yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun yang mengejar mereka malam ini.