"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kamuflase di Balik Persahabatan
Kamuflase di Balik Persahabatan
Pagi merayap masuk lewat jendela besar rumah sakit, membawa cahaya pucat yang menyilaukan. Mbak Siska sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif setelah melewati masa kritis semalam. Kondisinya stabil, meski masih bergantung pada deretan selang yang rumit.
Aku terbangun di sofa ruang tunggu dengan leher yang terasa kaku. Saat aku membuka mata, orang pertama yang kulihat bukan Mama atau Papa, melainkan Tiara.
Gadis itu berdiri di sampingku, membawa nampan berisi kopi hangat dan beberapa potong roti lapis mewah. Wajahnya tampak segar, meskipun matanya menunjukkan dia kurang tidur.
"Rum, bangun... makan dulu. Lo bisa sakit kalau nggak ngisi perut," ucap Tiara dengan nada yang sangat lembut, bahkan terlalu manis untuk ukuran Tiara yang biasanya blak-blakan.
Aku mengucek mata, menatapnya heran. "Ti? Lo jam berapa nyampe sini? Perasaan tadi malem lo bilang mau tidur."
Tiara tersenyum—senyum yang sedikit dipaksakan. "Gue nggak tenang mikirin lo, Rum. Makanya pagi-pagi banget gue langsung ke sini. Nih, dimakan ya."
Dia duduk di sampingku, merangkul pundakku dengan sangat akrab. Dia bahkan membantuku merapikan rambutku yang berantakan. Sikap "nempel" Tiara pagi ini terasa sangat intens, seolah-olah dia sedang mencoba menebus sebuah dosa besar dengan limpahan perhatian.
Aku tidak tahu kalau di saku celananya, ponsel Tiara terus bergetar menerima pesan dari pria yang fotonya ada di meja kerja rumahku.
Di Pojok Kantin Rumah Sakit - Pukul 09.00 WIB
Tiara izin ke toilet, tapi aku melihatnya berjalan ke arah taman belakang yang sepi. Karena penasaran, aku mengikuti langkahnya pelan-pelan. Aku melihatnya duduk di bangku taman, menatap layar ponselnya dengan wajah yang merona merah.
Chat dari Papa Wirawan:
"Pagi, Manis. Sudah sampai di rumah sakit? Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan sampai Arum curiga kenapa kamu begitu perhatian hari ini. Mas sudah kirimkan sesuatu ke rekeningmu, pakailah untuk memanjakan dirimu setelah lelah menjaga Arum."
Tiara menggigit bibir bawahnya, jemarinya bergerak cepat membalas pesan itu.
Tiara: "Mas... makasih ya. Mas selalu tahu cara bikin aku ngerasa spesial. Tapi jujur, aku ngerasa bersalah setiap kali liat muka Arum. Aku ngerasa kayak pencuri di rumah sahabat sendiri. Ahhhh... Mas sih, pake segala ngasih setruman di mobil semalam. Aku jadi nggak bisa lupa rasa tangan Mas."
Papa Wirawan: "Dunia ini keras, Tiara. Kita hanya mencari sedikit kebahagiaan di sela-sela tanggung jawab yang membosankan. Jangan merasa bersalah. Anggap saja ini rahasia kecil yang memperindah hidup kita. Mas merindukan caramu memanggil 'Mas' di telinga Mas tadi malam. Eumhhh... itu jauh lebih merdu daripada laporan audit mana pun."
Tiara: "Mas nakal banget sih! Aku jadi 'basah' sendiri bacanya di sini. Aku bakal nempel terus sama Arum biar dia nggak curiga kalau ayahnya lagi main rahasia sama aku. Love you, Mas Shadow... 'umhhjhh'."
Tiara menutup ponselnya dengan napas yang memburu. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya sebelum kembali menghampiriku.
"Rum! Bengong aja lo!" Tiara tiba-tiba sudah ada di sampingku, merangkul lenganku erat-erat. "Yuk balik ke atas. Tadi gue liat Raka di depan, kayaknya dia nyariin lo deh."
Aku menatap Tiara curiga. "Lo kok jadi baik banget sih hari ini, Ti? Biasanya lo males banget ke rumah sakit."
"Ya kan lo sahabat gue, Rum! Gue cuma mau mastiin lo nggak sendirian," sahutnya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku—sama persis seperti yang aku lakukan pada Raka semalam.
Kami berjalan beriringan menuju lift. Saat di dalam lift yang sepi, Tiara terus memuji tas Hermès baruku. "Tas lo bagus banget, Rum. Papa lo emang bener-bener sayang ya sama lo."
"Iya, Papa emang paling pengertian," jawabku bangga, tanpa menyadari kalau "pengertian" Papa juga sedang mengalir ke rekening sahabat di sampingku ini.
Saat pintu lift terbuka, kami berpapasan dengan Raka. Raka tampak kacau. Begitu matanya bertemu denganku, dia langsung teringat sensasi kepalaku di bahunya semalam. Dia tampak ingin bicara, tapi melihat Tiara yang menempel terus padaku, dia hanya bisa mengangguk kaku.
"Rum... gue pamit balik dulu. Ada kelas," ucap Raka pendek. Suaranya serak, penuh dengan residu gairah yang tidak tersalurkan.
"Iya, Rak. Hati-hati ya," sahutku sambil memberikan senyum yang paling "mak nyesss" ke arahnya.
Aku melihat Raka berjalan pergi dengan langkah yang sedikit kaku. Aku tahu, bayangan sentuhan semalam akan menghantuinya sepanjang hari.
Tiara semakin erat memeluk lenganku. "Tuh kan, Raka aja sampe nggak berani liat mata lo. Lo emang juara deh kalau soal bikin cowok bertekuk lutut, Rum."
Aku tertawa, merasa di atas angin. "Gue cuma mainin kartu gue aja, Ti."
Tiara ikut tertawa, tapi di dalam hatinya, dia sedang memainkan kartunya sendiri yang jauh lebih berbahaya. Dia terus menempel padaku, menjadi sahabat yang sempurna, sementara di dalam pikirannya, dia sedang membayangkan pertemuan selanjutnya dengan Papa Wirawan di dalam mobil yang gelap itu.
"Ahhhh..." desah Tiara pelan, yang aku kira karena dia kelelahan, padahal karena dia sedang membayangkan "setruman" Mas Shadow-nya.
Permainan ini semakin indah. Arum merasa menguasai Raka dan Gavin, sementara Tiara merasa memenangkan hati sang kepala keluarga. Kami semua sedang berjalan di atas benang tipis pengkhianatan, menunggu siapa yang akan jatuh lebih dulu ke dalam jurang kehancuran.
jngan y thor