Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian dalam Senyap
Aroma minyak telon dan kehangatan alami bayi memenuhi kamar paviliun belakang. Di bawah temaram lampu tidur, Aisha sedang mengayun tubuh Kael yang sudah terlelap di pelukannya. Namun, malam ini ketenangan itu terasa semu bagi Aisha. Ingatan tentang kejadian di ruang kerja Adrian tadi siang—saat tubuhnya didekap erat oleh sang CEO—masih terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Aisha menyentuh dadanya yang berdegup tidak karuan. *"Tidak, Aisha. Kamu harus tahu diri. Dia adalah majikanmu, pria terpandang yang kehilangan istrinya. Kamu hanya wanita malang yang menumpang hidup di sini,"* batinnya ketat, mencoba menekan ego yang mulai lancang tumbuh di lubuk hatinya.
Ia memindahkan Kael ke dalam boks bayi dengan gerakan selembut sutra, lalu menarik selimut wol rajut untuk menutupi tubuh mungil itu. Di bawah pengawasan tim keamanan Adrian yang super ketat, ponsel Aisha kini bersih dari gangguan pesan ataupun telepon Taufik. Semua akses komunikasi dari luar yang mencurigakan telah diputus secara sepihak oleh sistem IT mansion Arkan. Aisha merasa aman, tanpa tahu bahwa di luar sana, sebuah badai besar sedang dipersiapkan oleh majikannya.
---
Pukul tiga dini hari, di saat penghuni mansion lainnya terlelap, ruang kerja Adrian masih memancarkan cahaya lampu temaram. Di atas meja marmer, layar laptop sang CEO menampilkan peta digital wilayah pinggiran ibu kota dengan beberapa titik merah yang berkedip.
Adrian duduk menyandarkan punggungnya, memutar-mutar sebuah pulpen mewah di sela jemarinya. Guratan kelelahan tercetak di bawah matanya, namun kilat tekad di matanya tidak meredup sedikit pun.
Hendra masuk setelah mengetuk pintu dua kali. Langkah kakinya senyap namun membawa aura ketegangan. "Tuan Adrian, tim lapangan kami berhasil melacak pergerakan salah satu makelar yang berhubungan dengan Taufik tiga hari sebelum Aisha diusir."
Adrian langsung menegakkan posisinya, menaruh pulpennya dengan hentikan tajam. "Di mana posisi bayi itu sekarang?"
"Sesuai data transaksi bawah tanah yang kami retas, bayi dari Nona Aisha diduga kuat berada di sebuah yayasan adopsi ilegal berkedok panti asuhan di pinggiran kota Bogor," jawab Hendra sembari menyodorkan sebuah gawai yang menampilkan foto sebuah bangunan tua berpagar tinggi. "Yayasan ini sering menjadi tempat transit bagi bayi-bayi yang dijual oleh orang tua yang terlilit utang sebelum diserahkan kepada pembeli dari luar negeri."
Mendengar kata-kata 'transit' dan 'dijual', rahang Adrian mengeras begitu kuat hingga urat-urat di lehernya menegang. Sebagai seorang ayah yang baru saja kehilangan istrinya dan hampir kehilangan putranya, tindakan menjual darah daging sendiri adalah tingkat kejahatan paling rendah yang tidak bisa ia toleransi.
"Kapan jadwal penyerahan bayi-bayi itu kepada pembeli selanjutnya?" tanya Adrian, suaranya terdengar seperti desisan ular yang mematikan.
"Berdasarkan informasi dari informan kami, transaksi besar akan dilakukan dua hari lagi, tepat pada malam hari, Tuan."
Adrian berdiri, mengancingkan satu kancing kemeja hitamnya dengan gerakan lambat namun penuh intimidasi. "Kita tidak akan menunggu dua hari lagi. Siapkan tim pengawal terbaik besok malam. Kita akan melakukan penggerebekan senyap bersama pihak kepolisian yang sudah bekerja sama dengan firma hukum kita."
"Baik, Tuan. Bagaimana dengan Nona Aisha? Beliau tampaknya masih sangat mengira anaknya telah tiada," tanya Hendra, ragu-ragu.
Adrian menatap ke luar jendela, ke arah paviliun belakang yang gelap dan sunyi. Wajah rapuh Aisha saat menangis meratapi anaknya kembali terbayang di benaknya. Ada rasa tidak tega yang aneh yang menggelitik hatinya.
"Jangan katakan sepatah kata pun padanya. Jika rencana ini gagal atau jika kondisi bayi itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, aku tidak mau memberinya harapan palsu yang akan menghancurkan jiwanya untuk kedua kali," jawab Adrian dengan nada suara yang melembut secara langka, mengejutkan Hendra yang sudah bertahun-tahun bekerja bersamanya. "Pastikan semua rapi. Aku sendiri yang akan membawa anak itu kembali ke pelukannya."
---
Keesokan paginya, saat Aisha mengantarkan pakaian bersih Kael ke gedung utama, ia tidak sengaja berpapasan dengan Adrian di dekat meja makan. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam formalnya, tampak bersiap untuk pergi lebih awal dari biasanya.
Aisha langsung menghentikan langkahnya, menunduk hormat dengan canggung mengingat kejadian kemarin. "Selamat pagi, Tuan Adrian."
Adrian menghentikan langkahnya tepat di samping Aisha. Ia tidak menatap wajah wanita itu, namun pandangannya tertuju pada jemari Aisha yang meremas ujung kain pakaian Kael.
"Hari ini aku mungkin tidak akan pulang hingga larut malam. Jaga Kael dengan baik, dan pastikan dirimu sendiri juga makan dengan teratur," ucap Adrian dengan nada datar, namun ada perhatian tersembunyi di balik kalimat tegas itu.
Aisha mendongak perlahan, menatap sisi wajah tegas Adrian yang terpahat sempurna di bawah cahaya lampu koridor. "Baik, Tuan. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga urusan bisnis Anda hari ini berjalan lancar."
Adrian terdiam sejenak mendengar doa tulus dari Aisha. Ia menoleh sedikit, menatap sepasang mata bulat jernih itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan dan melangkah pergi dengan langkah tegap, bersiap untuk memulai operasi rahasia yang akan membalikkan takdir hidup wanita di hadapannya.
---
Bersambung