Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
"Aduh, sumpah. Aku kaget banget," ucap Liliana sambil melepas napas berat.
"Tentu saja kaget. Kamu sudah lama ingin menikah dengan Rama, tapi saat hari pernikahan sudah di tentukan, kamu malah bilang, kamu ganti pasangan. Jangankan kita berdua yang sangat tahu bagaimana kisah hidupmu bersama dia, semesta yang ikut menyaksikan kisah kalian aja pasti sangat terkejut."
Sinta tersenyum geli dengan apa yang baru saja Lusi katakan. "Apaan sih? Kok malah bawa-bawa semesta. Gak seberat itu juga kali, Lus."
"Aku serius, tau? Aku serius. Kamu bikin kita hampir jantungan. Benar gak, Li?"
"He'eh. Benar banget. Tiba-tiba kamu bilang kamu ganti pasangan. Siapa yang gak kaget coba."
"Ngomong-ngomong, kamu ganti pasangan dengan siapa? Cowok mana?"
"Iya. Kamu ganti dengan siapa? Jangan bilang sama Doren yah. Masa iya kamu pilih anak pecicilan itu buat nikah sama kamu, Sin. Kan nggak wow banget," ucap Lusi agak kesal.
"Nggak wow, atau ada yang akan terluka hati kalo aku pilih dia?"
"Itu .... " Wajah Lusi sedikit berubah selama beberapa detik. "Tentu saja nggak wow. Ngomong apa sih kamu? Jangan bicara yang enggak-enggak."
"Mm ... kalian malah bahas yang lain. Aku ini penasaran tau, siapa yang kamu pilih, Sinta. Tapi, aku rasa, hanya Doren satu-satunya kandidat yang tersisa untuk Sinta. Karena dalam keluarga Hermawan, dia adalah sepupu terdekat yang dibesarkan dengan ketat pula oleh kepala keluarga Hermawan."
Apa yang Lili katakan itu benar. Selain Rahwana dan Rama, masih ada Doren. Sepupu dari kedua pria tersebut. Meskipun tak tinggal satu atap dengan Rama Dan Wana, tapi dia diakui sebagai bagian utama dari dua penerus keluarga Hermawan.
Wajar, jika Lusi dan Lili berpikir Sinta akan memilih Doren. Karena selain Doren, tentu tidak ada yang lebih cocok. Meskipun sikap Doren agak berbeda dari Rama, dan sangat berbanding terbalik dari Wana, tapi Doren termasuk pilihan yang sangat memungkinkan untuk Sinta pilih.
"Sin, ayo katakan! Kamu pilih Doren ya?" Lusi mulai mendesak.
"Iya, Sin. Katakan sekarang. Jangan tambah rasa penasaran dalam hati kami. Kami sudah kamu buat kaget, jadi tolong, jangan bikin hati ini tidak nyaman lagi."
"Yang ku pilih ... kak Wana."
"Apa!" Sekali lagi, dua gadis yang ada di depan Sinta terbangun akibat kaget.
Para pengunjung kembali menjadikan mereka bertiga sebagai pusat perhatian. Sinta sontak langsung menarik tangan kedua sahabatnya.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin kita di usir dari cafe ini ya?"
"Sumpah ya sumpah. Bercandaan mu itu kelewatan batasnya, Sin. Nggak lucu sama sekali tahu nggak."
"Cukup ya, Sin. Jangan bercanda lagi. Jangan bikin kita berdua jantungan. Ini jantung udah nggak kuat lagi. Tolong, jangan main-main. Aku bisa masuk rumah sakit juga hari ini, tau gak sih?" Lusi terlihat agak kesal saat ini.
Kekesalan kedua sahabatnya malah membuat Sinta tersenyum kecil. Bagaimanapun, dia sudah menduga jika sahabatnya akan berekspresi seperti saat ini. Ekspresi tak percaya akan apa yang telah ia katakan.
"Sinta .... "
"Iya-iya. Kenapa sih?"
"Jujurlah!"
"Aku sudah jujur. Kalian berdua saja yang tidak mau percaya. Aku pilih kak Wana."
"Sinta. Jangan gila."
"Apaan sih, Lus? Aku nggak gila. Aku pilih kak Wana, dan itu adalah pilihan yang telah aku buat dengan pertimbangan yang sangat matang."
Kedua sahabat Sinta memberikan tatapan lekat penuh selidik. Dia seolah sedang berhadapan dengan polisi yang sedang mengintrogasi maling yang baru saja selesai melakukan pencurian besar.
Sinta membalas tatapan dua sahabatnya sambil menyipitkan sedikit mata. "Kalian, masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan?"
Dua gadis yang ada di depannya langsung menggelengkan kepala dengan kompak.
Dengan kompak pula keduanya memberikan jawaban secara serentak. "Tidak."
Sinta pun menyentuh dahinya dengan satu tangan. "Aduh, ya Tuhan. Harus bagaimana lagi aku supaya bisa bikin kalian percaya. Aku pilih kak Wana sebagai suamiku."
"Sungguh?" Lusi bertanya dengan suara agak pelan.
"Ya iya. Sungguh, beneran, betul, apa lagi ya? Intinya, apa yang aku katakan itu benar. Ku pilih tuan muda pertama sebagai suami? Kok kalian gak percaya-percaya juga sih?"
"Sinta. Saat memilih, aku yakin kamu sedang emosi berat. Kamu sedang sangat marah sampai harus memilih dia sebagai suami kamu."
"Apaan sih? Ngomong apa sih sebenernya kalian berdua? Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku pilih dia setelah aku pertimbangkan dengan sangat matang. Kalian kok masih, aduh .... Bingung aku gimana cara menjelaskannya pada kalian berdua. Gak tahu aku cara agar bisa bikin kalian percaya dengan apa yang aku katakan barusan."
Dua sahabat itu akhirnya saling bertukar pandang sejenak. Lalu kemudian, mereka saling angguk-anggukan pelan.
"Oke. Kami percaya," ucap Lusi mantap.
"Iya. Kita percaya dengan apa yang kamu katakan. Tapi, ya Tuhan, kenapa kamu pilih dia sih, Sin?"
"Kenapa?"
"Ya Tuhan, Sinta .... Seorang gadis cantik, bak dewi yang baru turun dari kahyangan milih Rahwana yang ... iya ... paham sendiri deh apa maksudnya itu," ucap Lili akhirnya tidak bisa menjelaskan apa yang ingin ia katakan pada sahabatnya ini.
Sekarang, giliran Lusi yang menjelaskan. "Sin, gini deh. Kamu cantik. Bisa di bilang, sangat cantik malahan. Siapapun lelaki yang kamu sukai, pasti akan bisa kamu dapatkan. Kenapa harus memilih Rahwana yang wajahnya ... iya, maksud aku, kenapa pilih pria yang tidak sempurna untuk kamu jadikan pasangan."
Sinta sedikit menarik bibir untuk tersenyum. Pujian yang sahabatnya berikan memang tulus. Tapi, dia tidak ingin memikirkan hal tersebut. Sebaliknya, kata-kata Lusi barusan membuat hatinya sedikit terusik.
"Lusi, Lili. Cantik tidak menjamin jadi pilihan setiap pria bukan? Lihatlah ke sana," ucap Sinta sambil menatap ke arah luar cafe dari kaca bening yang menjadi pembatas dari cafe tersebut.
Kedua sahabat itupun langsung melihat ke arah mata Sinta melihat. Mata mereka membulat saat melihat pria yang sangat mereka kenal sedang berjalan dengan bahagia bersama seorang wanita dengan tampilan sederhana. Sederhana, tidak cukup menggoda. Singkatnya, tampilan gadis itu sangat jauh berbeda dari apa yang Sinta punya.
Cantik, jauh lebih cantik Sinta. Modis, tentu saja jauh lebih modis Sinta. Meskipun Sinta tidak memperlihatkan kekayaan yang ia miliki secara jelas, gadis yang ada di sana tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Sinta yang sejak waktu sekolah hingga kuliah selalu di sebut putri atau bahkan bidadari surga yang turun ke bumi.
Tapi, cinta memang tidak memandang fisik atau kemewahan. Buktinya saja, pria yang tak lain adalah Rama itu tertarik pada gadis sederhana itu. Pria yang Sinta cintai, malah mengabaikan Sinta yang di sebut bidadari kampus hanya untuk gadis biasa atau lebih tepatnya, rakyat jelas.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️