Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Bentrokan Dua Era
Peta *Underpass* menyambut para pemain dengan suasana yang suram. Terowongan kereta api yang gelap, pilar-pilar beton yang retak, dan genangan air yang memantulkan cahaya lampu remang-remang menciptakan labirin yang mematikan. Di layar monitor ribuan penonton, laga ini bukan lagi sekadar kualifikasi; ini adalah penentuan siapa pemilik gelar "Satu Ketukan" yang sesungguhnya.
"Ingat, jangan terpancing," suara Ardi terdengar di *headset* tim Black Viper. "Sakti akan memancingmu ke area terbuka. Tetaplah dalam formasi."
Reno tidak menyahut. Matanya terpaku pada layar, jari-jarinya menari di atas tombol WASD dengan ritme yang tenang namun mematikan. Di ronde pertama, ia memutuskan untuk menggunakan senapan serbu jarak jauh. Ia ingin menantang Sakti di areanya sendiri: akurasi jarak jauh.
*Bip!* Ronde dimulai.
"Marco, ambil jalur atas. Bimo, jaga *flank*. Aku akan masuk lewat terowongan utama," perintah Reno.
Reno bergerak dengan keheningan seorang predator. Ia tidak berlari, melainkan berjalan perlahan, mendengarkan setiap gema di dalam terowongan. Tiba-tiba, sebuah peluru melesat hanya beberapa milimeter dari telinga karakter Reno.
*Duar!*
"Dia di sana! Pilar nomor empat!" teriak Marco.
Reno langsung melakukan *flick* ke arah sumber suara. Namun, pilar itu kosong. Sakti sudah menghilang.
"Dia memancing kita," gumam Reno. Insting "Anak Genius"-nya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Sakti tidak sedang mencoba membunuhnya, Sakti sedang mempelajari pola gerakannya.
Tiba-tiba, suara tembakan beruntun terdengar dari arah belakang. Bimo dan Leo tumbang seketika. Tim Spectre menyerang dari sudut yang seharusnya tidak mungkin bisa mereka jangkau tanpa terlihat.
"Bagaimana mereka bisa ada di sana?!" seru Bimo kaget.
"Sakti menggunakan pantulan suara granat untuk menutupi langkah kaki timnya," jelas Reno dingin. Ia menyadari bahwa lawan yang dihadapinya kali ini jauh lebih cerdas daripada *cheater* mana pun. Ini adalah strategi tingkat tinggi.
Skor berjalan sengit. Black Viper tertinggal 4-6. Setiap kali Reno mencoba melakukan serangan agresif, Sakti selalu punya cara untuk meredamnya dengan jebakan yang rapi. Reno mulai merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keringat mulai menetes di pelipisnya.
"Reno, kamu mulai goyah," suara Marco terdengar di mikrofon. "Kembalilah ke gaya permainanmu. Jangan ikuti permainannya!"
Reno menarik napas panjang. Ia menutup matanya selama satu detik, membayangkan seluruh peta *Underpass* di kepalanya. Ia mengingat setiap posisi pilar, setiap sudut gelap, dan setiap kemungkinan pergerakan Sakti.
"Kalian semua, mundur ke titik awal," perintah Reno.
"Apa? Kita akan menyerahkan area tengah?" tanya Gideon tidak percaya.
"Mundur saja. Aku akan menyelesaikannya dengan cara penjaga warnet."
Reno melepaskan senapan serbunya dan kembali mengambil senjata andalannya: sebuah pistol semi-otomatis dengan satu magasin peluru. Ia tidak lagi mencoba bermain rapi seperti pemain pro. Ia kembali ke akarnya—permainan yang liar, tak terduga, dan penuh risiko.
Reno berlari kencang menuju terowongan utama, suara langkah kakinya sengaja dibuat keras. Ia menantang Sakti untuk muncul.
*Duar!* Peluru sniper Sakti mengenai bahu Reno. Darahnya tersisa 10%. Satu tembakan lagi, dan Reno akan tewas. Penonton di *live streaming* menahan napas. King dari Golden Wyvern yang ikut menonton pun bergumam, "Habis kau, bocah."
Namun, di saat itulah Reno melihatnya. Sebuah pantulan kecil dari teropong sniper di balik tumpukan kayu tua.
Reno melakukan *sliding* ke depan, lalu melompat sambil memutar badannya di udara. Waktu seolah melambat bagi Reno. Ia melihat kepala Sakti yang hanya muncul sedikit di balik kayu.
*Klik.*
Hanya satu ketukan. Satu peluru pistol melesat lurus, membelah udara, dan bersarang tepat di dahi S_Phantom.
*PHANTOM KILLED S_PHANTOM (HEADSHOT)*
Ruangan tanding seketika meledak oleh sorakan Ardi dan tim akademi. Reno tidak berhenti di situ. Dengan sisa nyawa yang sekarat, ia menghabisi dua pemain Spectre lainnya yang mencoba menyergapnya dari samping dengan tembakan refleks yang tak masuk akal.
*TRIPLE KILL!*
Skor menjadi 7-6. Momentum berbalik. Strategi psikologis Sakti runtuh seketika saat melihat Reno berani mengambil risiko gila seperti itu. Di ronde-ronde berikutnya, Reno tidak memberikan napas sedikit pun bagi tim Spectre. Ia memburu mereka satu per satu seperti hantu yang kelaparan.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan Black Viper 13-10. Reno melepaskan *headset*-nya, punggungnya basah oleh keringat, namun matanya bersinar puas.
Di kolom obrolan, sebuah pesan terakhir muncul dari Sakti sebelum ia keluar dari lobi.
[S_Phantom]: Kamu benar-benar gila, Reno. Kamu tidak bermain seperti pemain pro, kamu bermain seperti iblis yang tidak takut mati. Jaga takhta itu baik-baik, karena dunia akan mencoba merebutnya darimu lebih keras mulai sekarang.
Ardi memeluk Reno dari belakang. "Kamu berhasil! Kita masuk ke liga utama!"
Reno hanya tersenyum tipis. Ia melihat ke arah tangannya yang masih sedikit gemetar. Ia tahu, kemenangan ini barulah pembukaan. Di Liga Utama nanti, ia tidak hanya akan berhadapan dengan legenda lama, tapi dengan predator-predator dari seluruh dunia yang sudah siap menjatuhkan "One Tap God" dari singgasananya.
Malam itu, Reno berdiri di balkon GH, menatap bintang-bintang. Ia mengambil ponselnya dan menghapus semua pesan dari "S". Baginya, masa lalu sudah selesai. Kini, saatnya menulis sejarah baru di bawah gemerlap lampu "Showbiz" yang sesungguhnya.