NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Teluk Hantu

Theron bergabung dengan rombongan Nana.

Perjalanan pulang ke Aequoria ditempuh dalam dua hari — lebih cepat karena Theron tahu jalur rahasia lain yang lebih pendek. Jalur itu melewati Teluk Hantu.

Nana merasa jantungnya berdetak lebih kencang saat Zara menyebut nama itu.

"Teluk Hantu?" ulang Nana. "Tempat di mana ayahku disebutkan berada?"

"Iya," jawab Zara, wajahnya tegang. "Tapi itu bukan tempat yang aman, Yang Mulia. Siren yang masuk tidak pernah kembali."

"Aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Ayahku mungkin ada di sana."

Jeno meraih tangan Nana. "Kita tidak punya persiapan. Kita tidak tahu apa yang menunggu di sana."

"Kita tidak akan masuk jauh-jauh. Cukup di tepian. Untuk melihat."

Jeno menatap Nana lama. Lalu ia menghela napas.

"Baik. Tapi jika ada tanda-tanda bahaya, kita pergi."

"Setuju."

 

Teluk Hantu terletak di antara dua tebing karang hitam yang menjulang tinggi.

Air di teluk itu hitam — bukan hitam karena gelap, tapi hitam karena tidak ada kehidupan. Tidak ada ikan. Tidak ada rumput laut. Tidak ada karang. Hanya air hitam pekat yang bergerak pelan, seperti raksasa yang sedang tidur.

"Aku tidak suka ini," bisik Zara.

"Aku juga," kata Theron.

Jeno memegang trisulanya erat-erat. "Nana, kita—"

"Sebentar lagi," potong Nana. Matanya tertuju pada sesuatu di kejauhan.

Sebuah cahaya.

Cahaya biru pucat — redup, berkedip-kedip — di dasar teluk. Seperti bintang yang jatuh ke dasar laut dan tidak bisa keluar.

"Aku akan melihatnya," kata Nana.

"Tidak," kata Jeno.

"Jeno—"

"Aku bilang tidak. Aku yang akan pergi."

Jeno melepaskan tangannya dari Nana. Ia berenang menuju cahaya biru itu — pelan, waspada, trisula siap sedia.

Nana menahan napas.

 

Jeno mendekati cahaya itu.

Bukan bintang. Bukan ikan. Bukan Siren.

Sebuah batu. Batu bundar berwarna biru pucat, berdenyut lembut — seperti jantung Aequoria, tapi lebih kecil, lebih redup, dan sepiiii.

"Apa itu?" bisik Jeno pada dirinya sendiri.

Ia mengulurkan tangan.

"Jangan sentuh!"

Suara itu dari belakang. Nana. Ia berenang cepat menuju Jeno, melupakan janjinya untuk tidak ikut.

"Kenapa? Apa—"

"Itu jebakan!"

Tapi sudah terlambat.

Ujung jari Jeno menyentuh batu biru itu.

Dan dunia mereka gelap.

 

Ketika Nana membuka mata, ia tidak lagi di Teluk Hantu.

Ia berada di... ruang kosong. Tidak ada air. Tidak ada arus. Tidak ada Jeno. Tidak ada Zara. Tidak ada Theron.

Hanya ia sendiri — dan suara.

"Nanara..."

Nana membeku. Suara itu... suara ayahnya.

"Ayah?"

"Nanara... anakku... maafkan ayah..."

"Ayah, di mana kau? Aku akan mencari—"

"Jangan cari ayah, Nak. Ayah sudah... terjebak. Tidak bisa keluar."

Air mata Nana jatuh — di ruang tanpa air, air matanya masih bisa jatuh.

"Jangan bilang begitu. Aku akan membebaskan ayah—"

"Satu-satunya cara untuk membebaskan ayah... adalah kau mengambil tempat ayah."

Nana terdiam.

"Jangan kau lakukan itu, Nak. Ayah tidak tega melihatmu—"

"Apa?" potong Nana. "Apa yang akan terjadi padaku jika aku mengambil tempat ayah?"

Suara ayahnya terdiam.

"Ayah akan mati di sini?" tanya Nana. "Ayah sudah terjebak sepuluh tahun? Di ruang kosong ini? Sendirian?"

Tidak ada jawaban.

"Ayah..." bisik Nana. "Aku janji. Aku akan mencari cara lain. Aku tidak akan meninggalkan ayah di sini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kerajaanku."

"Kerajaanmu..." suara ayahnya pecah. "Bagaimana keadaan Aequoria?"

"Aequoria selamat, Ayah. Aku mengalahkan Aramis. Aku ratunya sekarang."

Diam.

Kemudian — tawa.

Tawa ayahnya — lemah, tapi lega.

"Ruenna... kau dengar itu?" bisik suara ayahnya — bukan pada Nana, tapi pada seseorang yang tidak bisa Nana lihat. "Anak kita... dia ratu... dia mengalahkan Aramis..."

Nana menangis lebih keras.

"Ayah, aku janji. Aku akan kembali. Aku akan mencari cara. Aku tidak akan meninggalkan ayah di sini selamanya."

"Ayah tahu, Nak. Ayah percaya padamu."

"Tapi sekarang... ayah harus pergi. Kau harus kembali ke teman-temanmu. Sebelum mereka panik."

Cahaya mulai muncul di sekitar Nana.

"Ayah—"

"Jaga dirimu, Nanara. Ayah bangga padamu. Ayah selalu bangga."

Cahaya itu menyilaukan.

Dan Nana terbangun.

 

Ia berada di pelukan Jeno.

"Nana! Nana, kau sadar!" Jeno memeluknya erat — terlalu erat, tapi Nana tidak protes.

"Berapa lama aku pingsan?" bisiknya.

"Beberapa detik. Tapi kau tidak bergerak. Matamu kosong. Aku—"

Suara Jeno pecah. "Aku takut kau tidak akan sadar."

Nana membalas pelukannya.

"Aku bertemu ayahku," bisiknya. "Dia terjebak di ruang kosong. Dia sendirian. Selama sepuluh tahun."

Jeno membeku. "Apa?"

"Tapi aku janji akan kembali. Aku janji akan mencari cara untuk membebaskannya."

Nana melepaskan pelukan. Ia menatap Teluk Hantu yang masih hitam pekat.

"Dan aku akan menepati janjiku."

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!