Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serpihan Luka di Balik Pintu
Udara fajar di pesantren selalu membawa ketenangan bagi mereka yang mencari Tuhan, namun bagi penghuni rumah utama, setiap embusan angin seolah membawa pengingat akan waktu yang kian menipis. Cahaya kelabu perlahan menyusup melalui celah ventilasi, menyinari embun yang menempel di kaca jendela.
Najwa terbangun lebih awal. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan pagi ini, meski rasa nyeri di perut bawahnya tetap setia menyapa. Dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkan Arkan yang sudah dipindahkan kembali ke ranjang kecil di kamarnya, Najwa bangkit. Ia mengenakan khimar panjangnya, lalu melangkah menuju dapur.
Di sana, ia menyeduh teh melati hangat dengan sedikit gula batu minuman kesukaan Gus Malik setiap pagi sebelum memulai aktivitas pesantren. Najwa tersenyum kecil. Ia ingin memberikan perhatian kecil ini sebagai tanda terima kasih karena suaminya telah menuruti permintaannya untuk tidur di kamar Lea semalam.
*Semoga ini awal yang baik,* batinnya penuh harap.
Najwa berjalan pelan menyusuri koridor kayu yang berderit halus. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Lea. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengetuk pintu itu perlahan.
"Mas Malik? Lea?"
Tidak ada jawaban. Najwa teringat bahwa ini sudah lewat waktu Subuh beberapa menit. Malik pasti sudah berada di masjid untuk mengimami para santri. Dengan perasaan ragu namun didorong rasa ingin tahu yang besar, Najwa memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci.
Pintu terbuka tanpa suara.
Pemandangan pertama yang ditangkap mata Najwa bukanlah kemesraan sepasang pengantin baru, melainkan sebuah kenyataan pahit yang menghantam dadanya. Di sudut ruangan, jauh dari ranjang empuk, sebuah sajadah masih tergelar di atas lantai kayu yang dingin. Di atas sajadah itu, terdapat sebuah bantal tipis dan selimut kecil yang terlipat asal-asalan bekas tempat seseorang menghabiskan malam.
Najwa terpaku. Teh manis di tangannya nyaris tumpah. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Ia tahu betul kebiasaan suaminya. Malik tidak akan pernah tidur di lantai jika ia merasa diterima di atas ranjang.
Pandangan Najwa beralih ke atas ranjang. Di sana, Lea masih bergelung di balik selimut tebal. Rambut pirangnya berantakan di atas bantal, dan sebagian bahunya yang mengenakan sutra tipis terlihat jelas karena selimut yang melorot.
"Lea..." bisik Najwa, suaranya serak karena sesak yang tiba-tiba datang.
Lea menggeliat. Ia membuka mata perlahan, menyipit karena silau cahaya lampu koridor yang masuk. Begitu melihat sosok kakaknya berdiri di ambang pintu memegang nampan teh, Lea langsung terduduk tegak, menarik selimutnya hingga ke dagu.
"Kak? Ngapain di sini pagi-pagi?" tanya Lea dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Najwa melangkah masuk, matanya tak lepas dari perlengkapan tidur di lantai. "Mas Malik... dia tidur di bawah semalam?"
Lea melirik ke arah sajadah itu, lalu membuang muka dengan gusar. "Dia sendiri yang mau, Kak. Gue udah suruh dia keluar, tapi dia bilang lo yang maksa dia di sini. Ya udah, gue nggak sudi berbagi kasur sama orang yang hobinya ceramah tiap menit."
Najwa meletakkan nampan teh di atas meja rias dengan tangan yang gemetar. Ia duduk di tepi ranjang Lea, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat sedih. "Lea, Kakak minta kalian bersama bukan untuk menyiksa satu sama lain. Mas Malik itu suamimu sekarang..."
"Gue nggak pernah minta jadi istrinya, Kak!" potong Lea tajam. "Dan soal Subuh... gue nggak shalat. Gue lagi halangan."
Najwa menghela napas panjang. Ia sudah sering mendengar alasan itu dari Lea sejak ia tiba di Indonesia. Ia tahu adiknya sedang berbohong demi menghindari kewajiban, namun ia tidak memiliki tenaga untuk mendebatnya pagi ini. Hatinya jauh lebih sakit memikirkan suaminya yang rela kedinginan di lantai demi menuruti keinginannya tanpa ingin menyentuh wanita yang bukan pemilik hatinya.
"Teh ini untuk Mas Malik," ucap Najwa lirih. "Tolong berikan padanya kalau dia kembali dari masjid nanti. Kakak harus kembali ke kamar, napas Kakak mulai sesak lagi."
"Kak, lo nggak apa-apa?" Lea nampak cemas melihat wajah Najwa yang mendadak semakin pucat.
"Nggak apa-apa... tolong ya, Lea. Bicara baik-baik dengan Mas Malik. Jangan buat dia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri."
Najwa keluar dari kamar dengan langkah gontai. Begitu pintu tertutup, Lea membanting tubuhnya kembali ke kasur. Ia menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah pada Najwa mulai menggerogotinya, namun rasa muaknya pada Gus Malik tetap tak tergoyahkan.
"Gus sombong itu..." gumam Lea. "Bikin susah semua orang aja."
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki tegas di koridor. Pintu kamar terbuka sedikit. Gus Malik masuk dengan wajah segar setelah berwudhu, aroma minyak wangi *oud* yang lembut langsung memenuhi ruangan. Ia berhenti tepat di depan sajadahnya, hendak merapikan barang-barangnya sebelum kembali ke aktivitas pesantren.
Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Lea yang masih berbaring.
"Teh itu dari Kak Najwa," ucap Lea tiba-tiba dari balik selimut. "Dia lihat lo tidur di lantai tadi. Lo bikin dia sedih, tahu nggak?"
Malik menghentikan gerakannya. Ia menatap baki teh di meja rias, lalu menarik napas panjang. "Saya tidur di mana pun adalah urusan saya dengan Allah. Jika dia sedih, itu karena kamu tidak bisa menjaga sikapmu di depan suami."
"Suami?" Lea tertawa hambar. "Lo bahkan nggak berani lihat muka gue sekarang. Itu namanya suami?"
Malik tidak menjawab. Ia melipat sajadahnya dengan sangat rapi, mengambil bantalnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa berbalik.
"Minumlah teh itu jika kamu mau. Saya tidak butuh minuman yang disuguhkan dengan rasa terpaksa."
Pintu tertutup dengan suara *klik* yang dingin. Lea meraih bantalnya dan melemparkannya ke arah pintu. "Gue benci lo, Gus Malik! Gue benci banget sama lo!"
Ia kembali menarik selimut, menutup seluruh wajahnya, mencoba melarikan diri kembali ke alam mimpi di mana tidak ada pesantren, tidak ada perjodohan, dan tidak ada pria kaku yang membuatnya merasa seperti wanita paling hina di bumi ini. Di luar, matahari mulai naik, namun kegelapan di dalam hati mereka berdua seolah tak mau beranjak.