NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Murid Baru

Waktu mulai beradu dengan Dira. Ketika sinar matahari mulai meninggi menandakan jika dirinya kesiangan. 

Kriet… kriet! 

Suara ayunan sepeda tua yang rantainya membutuhkan olesan oli. Selalu menemani keseharian Dira mulai dari mengantar makanan hingga ke sekolah. 

“Waaaah, akhirnya Dira datang juga,” teriakan Narti pemilik warung saat melihat kedatangan Dira mengalihkan para pembeli. 

“Ayo cepetan bawa kesini nasi uduknya, Dira! Ini orang-orang sudah pada ngantri nasi uduk bikinan mbahmu.” 

Mungkin bagi orang lain ucapan Narti terdengar berlebihan. Namun, tidak bagi warga yang memang sudah langganan. 

“Nasi uduk bikinan Mbah Sekar sudah ditunggu-tunggu sama pembeli dari tadi. Ibu kirain hari ini gak jualan. Gak biasanya kesiangan,” ucap Narti sambil kantong kresek berisi nasi uduk. 

“Maaf, Bu,” ucap Dira tidak enak hati. 

“Semua ini ada berapa?” tanya Narti memastikan 

“Dua puluh bungkus.” 

“Besok ditambah lagi nasi uduknya. Banyak yang suka, katanya nasi uduk Mbah Sekar wangi dan tentu rasanya mantap,” puji Narti sambil menunjukkan dua jempolnya. Lalu menghitung nasi uduk untuk diberikan pada pembeli. 

“Insyaallah ya, Bu. Dira sampaikan ke Mbah.” 

“Iya, ini lihat sendiri. Orang-orang pada berebut,” balas Narti. 

“Tuh lihat, nasi uduknya tinggal dua,” ucap Bu Narti senang sambil menunjuk bingkisan nasi uduk tinggal dua. 

“Ibu kasih uangnya sekarang saja ya. Tinggal dua ini,” lanjut Bu Narti sambil memberikan uang ke Dira. 

“Boleh, Bu. Terserah Bu Narti saja.” 

“Ini uangnya 160 ribu rupiah.” 

“Terima kasih banyak Bu. Assalamualaikum.” 

“Wa'alaikumussalam, hati-hati naik sepedanya, Dira!” 

“Iya, Bu.” 

Setelah selesai mengantar pesanan Bu Ida dan juga titipan di warung Bu Narti. Kini Dira kembali mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. 

Karena waktu sudah siang dan bahaya jika sampai pintu gerbang tertutup. Dira semakin cepat mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya pintu gerbang menjulang tinggi mengelilingi sekolah tempat Dira belajar terlihat. 

“Alhamdulillah belum ditutup,” ucap Dira semakin cepat mengayuh. 

Jika dilihat dari bentuk bangunannya, jelas tidak akan ada yang menyangka Dira bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. 

Karena faktor biaya yang dikenal sangat mahal. Jadi, hanya dari kalangan orang kaya lah yang mampu bersekolah di tempat tersebut. 

Namun, untuk Dira jelas hal berbeda. Dira bisa sekolah di tempat itu karena beasiswa prestasi. 

“Bapak, jangan ditutup dulu!” teriak Dira dari kejauhan. 

“Waduh, baru datang, Neng Dira. Ayo cepat masuk!” pinta satpam sekolah. 

“Terima kasih banyak, Bapak.” 

“Gak biasanya Neng Dira kesiangan,” ucap satpam sekolah. 

“Nganterin nasi uduk dulu, Pak. Banyak pesanan,” ucap Dira. 

“Iya, nasi uduk bikinan Mbah Sekar rasanya memang mantap.” 

“Terima kasih  banyak atas pujiannya, Pak.” 

“Bukan pujian. Namun, kenyataannya memang seperti itu.” 

Karena tidak ingin terlambat masuk kelas. Dira langsung menuju ke kantin terlebih dahulu. 

“Ibu, ini nasi uduknya ada 20 bungkus. Dira taruh di meja sini ya,” teriak Dira. 

“Iya, Neng.” 

Setelah mengantar nasi uduk ke kantin. Dengan langkah kaki cepat Dira menuju ke kelasnya. 

Bugh… bugh!

Suara langkah kaki terdengar cukup keras saat Dira berlari. Takut jika sampai menerima hukuman saat terlambat masuk. 

“Alhamdulillah,” syukur Dira saat guru belum masuk ke kelas. Lalu cepat-cepat duduk di kursinya. 

Huff… huff! 

Bunyi nafas terdengar cukup jelas keluar dari mulut Dira. Lalu berjalan menuju ke bangkunya. Duduk sambil mengatur nafasnya. 

Hingga suara langkah kaki mendekat. Membuat Dira langsung duduk siap. Karena tahu betul suara langkah kaki siapa itu. 

“Selamat pagi semua. 

“Selamat pagi, Miss Panda.” 

“Miss senang melihat semangat kalian di pagi ini. Tetap pertahankan.”

“Siap, Miss Panda.”

“Mari kita awali pagi cerah ini dengan doa. Silahkan ketua kelas dipimpin.”

“Baik, Miss.” 

“Sebelum kita memulai aktivitas pembelajaran mari berdoa bersama-sama sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!” 

“Selesai.” 

“Ucapkan salam.” 

“Selamat pagi lagi “ jawab Miss Panda dengan senyum berkembang. 

“Sebelum pelajaran dimulai. Miss ingin mengenalkan teman baru kalian.”

“Laki-laki atau perempuan, Miss?” tanya murid centil di kelas Dira dengan penuh semangat. 

“Nanti kalian akan tahu sendiri,” jawab Miss Panda sambil tersenyum melihat semangat muridnya. Lalu mengarahkan pandangan matanya ke pintu masuk. 

“Silahkan masuk!” 

Semua murid yang ada di kelas langsung mengarahkan pandangan matanya ke pintu kelas tanpa terkecuali. Saat pintu mulai terbuka, tampak sosok laki-laki dengan tubuh tinggi serta wajah tampan masuk ke kelas. 

Karena tidak ingin membuang kesempatan emas. Para murid perempuan langsung bersikap centil merapikan penampilan. Sedangkan sosok laki-laki yang baru masuk ke kelas, hanya bersikap biasa saja tanpa ekspresi. 

“Ganteng banget, Miss,” ucap murid paling centil di kelas tersebut. Lalu mengusir teman samping bangkunya untuk memberikan tempat duduk ke murid baru. 

“Cepat pergi sana!” usir murid centil yang diketuai bernama Sisil. 

“Rese banget jadi orang. Gantengan juga aku,” gerutu laki-laki yang diusir dari tempat duduknya. 

“Dasar gak punya cermin di rumah.” 

“Punya.” 

“Pergi, gak?”

“Iya.”

“Asal kamu tahu aja. Yang duduk di sampingku hanya orang ganteng saja. Kalau wajahnya pas-pasan minggir!” usir Sisil.

Tok… tok! 

“Tolong jangan ribut kalian semua!” 

“Maaf, Miss,” ucap semua murid di kelas tersebut. 

Setelah kondisi di kelas sudah mulai kondusif. Miss Panda langsung mengarahkan pandangan matanya ke murid baru. 

“Silahkan perkenalkan namamu.” 

“Baik, Miss,” ucap laki-laki itu yang kini menatap semua siswa di kelas itu. 

“Perkenalkan nama saya Faza.” 

“Kok irit banget sih namanya. Yang lengkap dong,” potong Sisil cepat. Membuat Miss Panda langsung menengahi. 

“Faza, tolong sebutkan nama lengkapmu.” 

“Baik, Miss. Perkenalkan nama lengkap saya Faza Idam Manggala. Kalian bisa memanggil Faza.” 

“Aaaaaaa!” teriak Sisil saat tahu nama lengkap Faza. 

“Kenapa Sisil?” tanya cepat Miss Panda saat mendengar Sisil menjerit. 

“Tidak kenapa-kenapa, Miss. Namanya secakep orangnya. Tinggi, ganteng, dan tentunya gak buluk,” jawab Sisil sambil melirik laki-laki yang sebelumnya di di sampingnya. 

“Faza silakan duduk di…”

“Di sebelah saya saja, Miss,” potong cepat Sisil sebelum Miss Panda menyelesaikan ucapannya. 

“Ya sudah, Faza silakan duduk di samping...” 

“Saya duduk disini saja, Miss,” potong cepat Faza menuju kursi kosong di sebelah Dira. Membuat Sisil yang sudah menyiapkan tempat duduk langsung cemberut. 

“Aduh neng Sisil, Abang Faza ingin duduk disamping Dira. Kasihan deh,” goda teman bangku Sisil yang sebelumnya diusir secara paksa. 

“DIAM KAMU!” geram Sisil.

Tok… tok! 

“Sudah jangan berisik! Semuanya menghadap kedepan! Kita mulai pembelajaran. Faza silakan duduk di bangku sebelah Dira.”

“Baik, Miss.”

“Maaf Miss, tapi bangku ini sudah ada yang menempati. Lebih baik di bangku samping Sisil saja,” ucap Dira yang enggan mencari masalah dengan Sisil. Mengingat Sisil merupakan putri pejabat yang memiliki pengaruh. 

“Untuk sementara, Dira,” potong Miss Panda tidak ingin dibantah. Mengingat waktu terus berjalan dan tak ingin terbuang begitu saja. 

“Baik, Miss.” 

Sesuai dengan arahan dari Miss Panda. Faza langsung duduk di bangku samping Dira. Tangannya terulur untuk mencoba mengenal teman sampingnya. 

“Namaku Faza, kalau boleh tahu. Siapa namamu?”

“Pelajaran sudah dimulai,” potong Dira tanpa sedikitpun menatap kearah Faza. 

“Oke,” ucap Faza sambil tersenyum. Lalu menarik lagi tangannya. 

Kini perhatian semua murid menuju ke arah Miss Panda. Tapi, tidak dengan Faza yang lebih memilih mengawasi sekitar. 

Tapi, saat pandangan mata itu tidak sengaja mengarah ke Sisil. Faza langsung melonjak kaget. 

“Astaga,” gumam Faza kembali fokus dengan pelajaran. Membuat perhatian Dira teralihkan sebentar untuk menatap laki-laki tampan di sebelahnya. Lalu kembali fokus ke pelajaran lagi.

Teet… teet! 

Bunyi bel istirahat menandakan jika pelajaran sudah selesai. Para murid langsung merapikan buku maupun alat tulis. 

“Untuk pertemuan selanjutnya kita akan membahas tentang kalor dan termodinamika. Tolong dipelajari dan kita akan membahas di pertemuan selanjutnya.” 

“Baik, Miss.” 

“Sampai ketemu kembali. Selamat pagi.” 

“Selamat pagi menjelang siang Miss Panda yang cantik.” 

Setelah keluarnya Miss Panda dari kelas. Dira langsung membuka kotak bekalnya. Menikmati makanan yang selalu membutuhkan para pelanggan ketagihan. 

Sedangkan Faza masih enggan berpindah dari tempat duduknya. Karena dirinya masih merasa nyaman di dalam kelas. Hingga perhatiannya teralihkan saat Sisil kembali mendekati mejanya. 

“Dira, bolehkah aku duduk di bangkumu?” tanya Sisil sambil menatap ke arah Faza. Membuat Dira langsung menghentikan suapan nasi uduk ke mulutnya.

“Bolehkah aku menyelesaikan makananku terlebih dahulu?” tanya Dira merasa enggan menghentikan acara makannya yang masih berjalan. 

“Tapi aku ingin sekarang, Dira,” ucap Sisil dengan suara lembut namun tatapan matanya tajam. Membuat Dira mencoba menghembuskan nafasnya. Karena tahu maksud dari tatapan Sisil. 

“Baik, aku akan pindah.”

“Kamu tetap makan saja,” potong cepat Faza yang langsung menghentikan Dira. 

“Biarkan aku yang pindah bangku,” lanjut Faza sambil mencangklongkan tasnya ke bahu. 

“Bangku sebelah kamu masih kosong, bukan?” tanya Faza kepada Sisil. Tapi, pandangan matanya ke Dira. 

“Tentu saja kosong. Karena aku sengaja mengosongkan bangku itu untukmu.” 

“Aku akan duduk di bangku itu.” 

Sambil mencangklong tasnya, Faza langsung duduk di kursi sebelah Sisil. Tentu saja hal tersebut membuat Sisil bahagia. 

“Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan,” gumam Sisil sambil tersenyum yang masih dengan jelas didengar oleh Dira. 

Karena tidak ingin mencari masalah dengan Sisil. Dira memilih melanjutkan makannya, meskipun rasanya sudah berbeda dari sebelumnya. 

Sedangkan Faza langsung keluar kelas setelah meletakkan tasnya. Melewati bangku Dira tanpa sedikitpun menoleh ke siapapun. Entah pergi ke kantin atau ke tempat yang lainnya Dira tidak tahu. 

“Ingat, Faza itu sudah aku teken menjadi milikku. Jangan pernah tebar pesona maupun mencari perhatian padanya!” tekan Sisil. 

“Kalau sedikit saja kamu tebar pesona padanya. Aku akan membuat semua orang tahu tentang identitasmu yang…,” Sisil tidak menyelesaikan ucapannya. Sebagai tanda tekanan jika dirinya bisa berbuat nekad. 

“Tenang saja. Jangan khawatir. Karena aku sama sekali tidak tertarik padanya,” potong cepat Dira sambil menahan nafas. Sebab, tahu arah pembicaraan Sisil. 

“Baguslah kamu tahu diri. Jadi orang miskin dan keturunan haram memang harus tahu diri.” 

Dengan wajah penuh senyum Sisil melangkahkan kakinya keluar kelas untuk menyusul Faza. Meninggalkan Dira yang diam sambil memegang sendok.  

Rasa lapar serta enaknya nasi uduk yang disukai banyak orang. Kini berubah rasa menjadi hambar, serta rasa lapar itu menghilang meninggalkan rasa kenyang. 

Meskipun baru satu sendok nasi masuk ke mulutnya. Karena Dira tahu, jika ancaman itu bukan hanya sebatas gertakan semata.

“Tenang saja, sejak kakiku menginjakkan tempat ini. Aku tahu diri siapa diriku sebenarnya,” gumam Dira tertahan. Lalu memasukkan kembali bekal makanannya. 

Mengalihkah kesedihannya dengan menatap ke arah jendela. Tanpa sengaja arah pandangannya menatap sosok laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan dengan Sisil. 

Faza, laki-laki tampan yang sudah mencuri hati Sisil. Laki-laki tampan yang sudah membuat dirinya dalam masalah sejak pertama bertemu. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!