Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Anak Hilang
Pagi hari suasana rumah semakin ramai mempersiapkan acara siang nanti. Ibu Jelita terus menanyakan kepulangan Dita pada Kania sejak subuh tadi. Kania pun di buat gemas pada adiknya itu karena ponsel Dita tidak bisa di hubungi. Kania tak habis fikir pada adiknya itu. Bagaimana mungkin dia tidak menyaksikan acara penting dirinya. Kesal bercampur sedih menghantam dadanya membuat Kania menitikkan air matanya.
"Udah ngga usah di telfon terus. Nanti juga adek pulang." Ucap Hendrik duduk di meja makan.
Semua anggota keluarga sudah siap menikmati sarapan. Kania masih saja uring-uringan.
"Tapi ini telfonnya mati malah Bang. Adek ngga bisa di hubungi." Rengek Kania.
"Di pesawat kali dia Dek." Tambah Nanda.
"Nah, bisa jadi begitu dek." Tiara.
"Emang adek bilang kemarin pulang jam berapa?" Sintya.
"Ngga tau. Cuma bilang iya nanti pulang." Kania.
"Sudah. Makan aja dulu. Nanti Papa coba hubungi adek lagi." Pak Wirawan.
Semua pun menurut dan memulai sarapan mereka. Suapan demi suapan masuk kedalam mulut masing-masing. Walau dengan muka di tekuk Kania tetap makan. Saat semua terlena dengan masakan Ibu Jelita yang berkolaborasi dengan Bi Idah tiba-tiba terdengar langkah kaki menuruni tangga semua pun setempat menoleh kecuali Hendrik yang tau siapa pemilik langkah tersebut.
"Pagi semuanya..." Sapa Dita santai sambil menghampiri Papa dan Mama nya kemudian mencium pipi kanan dan kiri masing-masing.
Semua mendapatkan ciuman selamat pagi dari Dita tak satupun lolos. Setelah itu Dita duduk di kursinya dan meminta Bibi mengambilkan piring untuknya. Kemudian Dita merasa ada yang aneh. Dirinya menyapu satu persatu anggota keluarga nya yang masih saja diam memperhatikan dirinya.
"Kenapa diem? Ayo makan lagi. Pamali nasinya jangan di cuekin." Ucap Dita santai tak berdosa.
"Ya Allah... Kira-kira enaknya di apain ya anak kecil ini." Gerutu Kania yang masih bisa di dengar semuanya termasuk Dita.
"Di peluk sama di cium aja ngga sih." Jawab Dita santai kemudian memasukkan suapan pertamanya.
"Kamu itu mbok ya kasih kabar kalo pulang bikin semua khawatir aja." Kania.
"Heh... Siapa yang kemarin mencak-mencak di telfon. Gimana mau hidup tenang coba. Ya wis pulang. Ini sekarang malah di aniyaya." Dita.
"Hidup tenang apa?" Kania.
"Kakak,, ayo lanjut makan dulu. Biar Dita juga bisa sarapan dulu." Putus Pak Wirawan.
Semua merasa senang Dita akhirnya mau pulang. Si anak hilang yang entah kenapa tak mau pulang. Jika Pak Wirawan dan Ibu Jelita tak menyusulnya mungkin mereka semua tak akan bertemu dengan Dita selama ini.
"Masya Allah anak ilang ketemu juga akhirnya..." Goda Agung anak tertua dari kakak Ibu Jelita.
"Apa sih Bang... Sana ah jangan ganggu.." Jawab Dita yang fokus pada ponselnya.
"Dih,,, sini peluk dulu." Goda Agung lagi.
"Ngga mau..." Teriak Dita yang berhasil masuk ke dalam pelukan Agung.
"Agung... Aduh kamu itu kalo ketemu Dita pasti di usilin." Tegur Bude Raya Kakak Ibu Jelita.
"Tolong Bude amankan ini anaknya.." Teriak Dita.
"Heh, kamu fikir aku apa harus di amankan." Agung.
Keusilan Agung belum selesai datang adik bungsu Agung Rahman membuat Dita semakin menjerit karena ke usilan keduanya.
"Abang Agung, abang Rahman ih... Kalian ini malah bikin rusuh..." Teriak Kania melerai abang sepupu dan adiknya.
"Mas ih bikin malu. Kasian itu adiknya ampun banget deh. Ngga malu itu di liatin anaknya loh." Tegur Nina istri Agung.
"Iya Mas Rahman ih.. Anak-anak ngeliatin kamu itu." Gemas Mika istri Rahman.
Sementara semua hanya bisa menggelengkan kepala melihat ketiga Kakak beradik itu.
"Tuh, denger kalian udah tua inget pinggang..." Ledek Dita yang semakin membuat kedua sepupunya malah semakin menjadi menggodanya.
"Ish... Dua orang ini ampun deh...