Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Butuh waktu hampir satu jam untuk Nadia mengatur ulang emosi yang beberapa waktu lalu sempat di acak-acak lagi oleh keluarga angkatnya. Setelah merasa sedikit lebih baik, barulah Nadia bersiap untuk lanjut bekerja di kafe sore ini.
Matanya melirik jam di layar ponsel yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. "Semoga hari ini aku gak telat." Lirihnya sambil merapikan rambut.
"Gue pulang!" seru Laura yang langsung masuk ke rumah.
"Hmm." sahut Nadia yang dengan cepat mengatur ekspresi wajahnya sebisa mungkin.
"Belum berangkat, beb?"
"Iya, ini baru mau berangkat."
"Tumben." celetuk Laura sambil menggantung tasnya, kemudian mengambil handuk.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Laura duduk sebentar di pinggir kasur Nadia. "Lo gak sakit kan, beb?" selidiknya memperhatikan wajah Nadia.
"Hmm?" Nadia menoleh berpura-pura bingung. "Kenapa?" Kembali menatap cermin didepannya.
"Aneh deh, lo gak seperti biasanya."
"Apanya?"
"Gak tau juga sih. Tapi lo gak lagi sakit kan, beb?"
"Gak kok. Tadi sih waktu baru pulang kuliah, kepala gue agak pusing. Mungkin karena cuaca, terik banget seharian." kilahnya berbohong.
"Iya sih. Tapi sekarang lo baik-baik aja kan? Gak pusing lagi kan?"
"Udah gak pusing kok. Ya udah ya, gue berangkat."
"Oke. Eh tapi beb, nanti malam gue karoke lagi bareng Yuri!" serunya mengejar langkah Nadia yang sudah sampai di depan pintu.
"Iya, hati-hati aja. Bilang Yuri, jangan kemalaman pulangnya."
"Oke deh. Bye..."
"Bye, kunci pintu!" titah Nadia yang sudah berlalu menyusuri koridor menuju tangga.
Begitu punggung Nadia sudah tidak terlihat, Laura segera menutup pintu, tidak lupa menguncinya sebelum dia mandi.
Sementara Laura mandi, Nadia dalam perjalanan menuju kafe, Jeni juga sedang dalam perjalanan menuju restoran tempat Kevin sudah berjanji akan bertemu teman-temannya.
"Mereka sahabat baik aku, sayang. Rio sama aku kenal waktu awal kuliah, terus Rio kenalin aku sama sahabat baiknya dari kecil si Sean dan Sean ini usianya lebih tua dari aku sama Rio. Terus Sean itu punya sahabat baik seorang dokter bernama Bastian, mereka seumuran." Tutur Kevin memberi gambaran tentang teman-temannya pada Jeni.
"Kalian sahabatan sampai sekarang?"
"Iya dong. Kalau dulu sih sering nongkrong bareng, tapi sekarang udah jarang karena sudah punya kesibukan masing-masing. Sayang gak keberatan kan kalau aku kenalin ke mereka?" tanya Kevin pada Jeni yang duduk manis di kursi penumpang.
"Iya gak apa-apa. Aku malah senang dikenalin sama sahabat-sahabat kamu."
"Makasih ya sayang." Kevin mengelus kepala Jeni lembut.
"Makasih buat apa?"
"Buat semuanya. Karena kamu mau menjadi bagian dalam hidup aku. Jujur, aku bahagia banget."
"Aku juga bahagia. Makasih sayang."
Jeni merebahkan kepalanya di pundak Kevin dan Kevin tentu tidak akan menyia-nyiakan momen itu, ia pun mencium puncak kepala kekasihnya.
Mobil terus melaju, menuju restoran yang sudah di pesan oleh Kevin sejak sore tadi setelah memastikan sahabatnya punya waktu luang.
Saat tiba di restoran, mereka sampai paling awal.
"Mereka belum datang ya?"
"Belum. Masih dijalan sepertinya."
Kevin menyiapkan kursi untuk Jeni duduk.
"Mau langsung pesan makanan atau mau nunggu mereka datang dulu?"
"Tunggu mereka datang aja deh. Tapi, boleh pesan minuman duluan gak? Haus."
"Boleh sayang. Mau minum apa?"
"Cappucino aja deh."
Kevin langsung memesankan minuman untuk kekasihnya.
Sebelum minuman datang, seseorang sudah datang lebih dulu. Ia terlihat putih, bersih dan tingginya sama dengan Kevin.
"Halo. Kamu pasti Jeni kan?" sapanya sambil meraih kursi untuk duduk di depan Kevin.
"Hai, kak. Iya, aku Jeni."
"Saya Bastian."
Jeni menanggapi dengan menganggukkan kepala dan tersenyum ramah.
"Sayang, Bastian ini dokter yang tadi aku ceritakan." bisik Kevin.
"Dokter?!" ulang Jeni lantang.
"Iya. Kenapa?" sahut Bastian sambil tersenyum.
"Oh gak kak. Aku cuma gak nyangka aja punya kenalan seorang dokter, masih muda pula."
"Kamu bisa aja."
Minuman Jeni datang berbarengan dengan dua teman Kevin yang lainnya.
Dua orang itu sama tinggi, hanya saja mereka lebih tinggi dari Bastian dan Kevin. Mereka tampan tentu saja, rambut mereka agak panjang. Mereka memakai pakaian kasual, santai tapi tetap terlihat rapi dan nyaman di pandang.
"Halo!" sapa mereka sambil melambaikan tangan kearah Jeni.
"Hai kak." sambut Jeni senang.
Lalu empat orang itu menyapa dengan tos secara bergantian. Dua orang yang baru datang itu duduk saling berhadapan.
"Jadi ini yang namanya Jeni!" ucap pria dengan kumis tipis berhidung mancung.
"Iya kak, aku Jeni."
"Salam kenal, Jeni. Aku Sean."
Jeni mengangguk. "Salam kenal juga kak Sean."
"Gue Mario. You can call me Rio. salam kenal sweetie." sambung pria berpakaian casual yang cukup membuatnya terlihat tampan dan matang.
"Jaga mata dan mulut lo, Rio!" Peringatan tegas Kevin yang merasa terancam.
"Santai bung. Lagi pula lo kan tau prinsip gue. Nih ya, gimanapun situasinya gue pastikan gue gak suka menikung teman gue sendiri." bantahnya dengan nada santai.
Bastian dan Sean yang duduk bersebelahan pun hanya bisa tersenyum sambil saling sikut melihat tingkah dua manusia yang memang selalu berdebat setiap kali ngumpul bareng.
Jeni ikut tersenyum melihat cara mereka berkomunikasi.
"Jeni, mahasiswa ya?" tanya Bastian kemudian membuka percakapan sembari menunggu makanan mereka datang.
"Iya kak."
"Jurusan apa?"
"Ekonomi."
"Oh bagus itu. Sekarang semester berapa?"
"Semester tiga kak."
"Tahun kedua berarti, kan!" timpal Rio.
"Iya."
"Besok kalau magang di perusahaan Sean aja, Jen." celetuk Rio ngasal.
"Wah, boleh juga kalau diterima." sahut Jeni senang.
"Ya boleh-boleh aja selama Jeni punya tekad dan kemauan untuk benar-benar belajar mengenal dunia perkantoran." sambung Sean menanggapi.
"Asyik, makasih kak Sean."
Sean tersenyum sambil mengangguk senang.
"Sayang, Sean itu CEO SENA group." bisik Kevin yang membuat mata Jeni melotot.
"Serius! Aku lagi duduk di meja yang sama dengan pemilik SENA Group?"
"Iya sayang." bisik Kevin.
"Ya ampun, mimpi apa aku bisa kenal sama orang-orang hebat seperti kalian!" seru Jeni terharu.
"Itu karena kamu beruntung, sayang." ucap Kevin sambil mengelus pelan kepala Jeni.
"Uluh uluh, romantisnya..." ledek tiga orang itu yang berhasil membuat Jeni merona.
Meninggalkan restoran. Di kafe, Nadia sedang duduk melamun di dapur. Nadia sengaja meninggalkan meja kasir untuk istirahat makan malam sebentar.
Adit menghampiri Nadia yang tampak diam melamun. "Nadia!" panggil Adit lembut.
"Iya, bang?" sahut Nadia langsung menoleh kearah Adit berdiri.
"Kamu sakit?"
"Gak kok bang. Kenapa?"
Adit melangkah masuk ke dapur, duduk di kursi yang berhadapan dengan Nadia. "Kalau sakit ngomong. Jangan disembunyikan."
Alis Nadia menekuk. "Tapi, aku benaran gak sakit kok bang."
Adit mengangguk paham. Sebenarnya sejak awal Nadia tiba di kafe, Adit sudah memperhatikan gerak-gerik Nadia yang tidak seceria biasanya. Jadi, Adit menyimpulkan sendiri dengan beranggapan Nadia mungkin sedang sakit.
"Ya sudah. Kamu lanjut makan lagi. Setelah itu kembali ke depan, pelanggan sudah mulai ramai."
"Iya, bang."
Adit menghela napas pelan sebelum melangkah keluar dari ruang dapur. Nadia melanjutkan makan malamnya. Adit diam-diam melirik lagi pada Nadia. "Andai..." lirihnya terhenti saat Nadia menoleh sambil tersenyum padanya.
Bersambung...