NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Nyaris dua minggu Juan hidup dalam serpihan. Pengkhianatan itu telah memecah hatinya, menjadikannya pria yang dipaksa belajar menerima, jika Laras sudah pergi. Hidupnya, meski terasa keras, wajib diteruskan.

Setiap sore, sehabis tugas kuliahnya selesai, Juan menarik langkah ke kedai kopi Teteh Ayu. Tempat itu hanya bangunan sederhana di ujung desa, namun aroma kopi hitam yang pekat dan tawa yang sesekali pecah adalah penenang terbaik bagi hari-hari Juan yang kini sepi.

Di sudut kedai, hampir setiap malam, dua bayangan setia menantinya, Tarjo dan Heri. Mereka adalah karib lama, tiga serangkai yang sejak kecil akrab dengan lumpur lapangan bola, tertawa tanpa peduli beban hidup.

Hanya mereka yang kini menatap Juan tanpa iba atau cibir. Di mata Tarjo dan Heri, Juan bukan pecundang. Ia hanya lelaki yang tengah tersungkur dan butuh tarikan tangan untuk kembali berdiri.

“Sudahlah, Jo,” ujar Tarjo tegas, menyeruput kopinya. “Cewek macam Laras itu tidak pantas buat elo. Cewek matre cuma kenal isi dompet, hati tidak ada harganya.”

Heri menimpali cepat, membenarkan. “Benar. Lo orang baik. Dunia cuma sedang menguji kesabaran lo. Jangan jadi lemah.”

Juan mengulas senyum tipis. Ia menghargai kata-kata itu, meski ia tahu persis, luka tidak sesederhana itu sembuhnya.

“Tapi sulit, Bro. Setiap gue memejamkan mata, adegan itu masih jelas. Gue merasa… gagal.”

Tarjo menepuk bahunya. “Kalau lo gagal, lantas siapa di dunia ini yang berhasil? Lo masih hidup, masih bernapas, masih bisa ngopi bareng kita. Itu bukti bahwa lo kuat.”

Juan terdiam. Kata-kata itu sederhana, namun berhasil menciptakan kehangatan yang merambat ke dadanya. Ia menoleh ke luar jendela kedai. Hujan rintik mulai turun, membasahi aspal jalan desa. Suara air menghantam atap seng kedai terdengar seperti melodi penenang yang dingin.

Malam mulai menua, dan kedai perlahan ditinggalkan pengunjung. Teteh Ayu, janda pemilik kedai yang terkenal ramah, berjalan mendekat. Tubuhnya bohay, payudara besarnya, boba yang menggoda iman melambai pelan di balik kaosnya.

“Nih, gratis buat kalian. Udah sering nongkrong tapi enggak pernah bikin ribut, Teteh senang,” ujarnya sambil tersenyum menggoda.

"Ah Teh Ayu, sudah cantik, Bohay... Mana baik lagi, nanti saya jadi tambah sayang, Teh," goda Tarjo, senakal biasanya.

Pletak!

"Gombal melulu! Teh Ayu mana mungkin suka sama orang enggak benar kayak Luh," sahut Heri, disusul tawa ketiganya.

Keceriaan itu sempat membuat Juan lupa pada luka yang menggerogoti. Namun, jarum jam menunjuk angka sebelas lewat. Waktunya pulang telah tiba.

Ia berpamitan, lalu melangkah menembus gerimis. Jalanan desa sunyi mencekam. Hanya bunyi air hujan dan gesekan kaki Juan yang menjadi teman setia.

Namun di tengah perjalanan, telinganya menangkap sesuatu, sebuah suara. Pelan, tapi penuh desahan. Memikat, dan entah mengapa, terasa familiar.

Juan menghentikan langkah. Ia menajamkan pendengaran. Sumber suara itu datang dari rumah besar di ujung jalan, rumah yang berusaha ia hindari sejak pengkhianatan itu. Rumah keluarga Laras.

“Tidak mungkin…” gumamnya, bibirnya bergetar.

Rasa penasaran mengalahkan nalar. Juan melangkah mendekat, menyelinap melewati pagar kecil yang terbuka separuh. Dari balik jendela yang hanya tertutup tirai tipis, cahaya lampu kamar terlihat redup.

Dan dari sanalah suara itu berasal, suara seorang perempuan yang tengah memuaskan dirinya sendiri, terengah, menenggelamkan diri dalam kenikmatannya yang tersembunyi.

Juan tanpa pikir panjang merogoh ponselnya, mengaktifkan kamera, dan merekam semua yang ia saksikan.

Juan menelan ludah kasar. Jantungnya berdebar kencang, menggila. Ia tahu persis siapa pemilik suara itu, Tante Hena, ibu dari Laras. Wanita paruh baya yang masih tampak muda, dengan bokong semok nan montok, serta boba yang sangat besar.

Juan bisa melihat jelas, Tante Hena tengah meremas boba besarnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menjelajahi gua rahasia yang tersembunyi. Pemandangan itu adalah hal pertama dan paling mengejutkan yang pernah disaksikan Juan tentang Tante Hena.

Ia berdiri kaku di bawah jendela. Niatnya yang semula hanya ingin memastikan berubah menjadi gairah yang menjalar dengan aneh. Ia tahu ia tidak seharusnya di sana, tetapi tubuhnya enggan beranjak.

Dalam keheningan yang tegang itu, seekor kucing tiba-tiba melompat dari pot bunga di dekat kakinya. Juan terperanjat, dan tanpa sengaja kakinya menyenggol pot lain hingga jatuh pecah.

Suara pecahan itu memotong malam, mematikan desahan.

Dari balik jendela, suara aktivitas berhenti seketika. Lalu terdengar langkah cepat. Tirai tersibak dan pandangan mereka bertemu.

Juan terpaku.

Tante Hena berdiri di balik jendela. Wajahnya menunjukkan keterkejutan akut, daster yang dikenakannya berantakan dan kusut.

Tatapannya tajam, namun di matanya tersimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar marah, campuran antara syok dan rasa ingin tahu yang membara.

“Juan?” suaranya terdengar parau, namun tetap lembut dan memikat. “Kamu sedang apa di sini malam-malam begini?”

Juan panik. “A-aku… maaf, Tante. Aku cuma lewat. Aku dengar suara, kukira ada yang butuh bantuan, tapi aku tidak melihat apapun tadi…”

Tante Hena memandang pemuda itu lama. Kemudian, dengan nada yang berubah, ia berkata, “Masuklah dulu. Hujan makin deras. Kita bicara di dalam.”

Juan ingin menolak, tetapi hujan benar-benar menyambar deras. Dengan keraguan besar, ia mengikuti wanita itu masuk. Aroma melati yang kuat menyambutnya di ruang tamu, aroma yang sama yang dulu sering ia cium dari rambut Laras.

Mereka duduk berhadapan di sofa. Udara terasa canggung dan berat.

“Jadi,” Tante Hena membuka suara pelan, tatapannya tidak lepas dari Juan, “kamu dengar suara tadi? Dan kamu pasti melihat semuanya juga, bukan?”

Juan menunduk. “Maaf, Tante. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku cuma… penasaran. Aku pikir ada yang terjadi.”

Wanita itu menatapnya dengan tatapan yang semakin sulit diartikan. “Kamu lihat apa saja?”

“Tidak ada, Tante,” jawab Juan cepat, berbohong. “Aku janji, aku tidak lihat apa-apa.”

Keheningan panjang menyelimuti.

Lalu, perlahan, senyum samar muncul di wajah Tante Hena, sebuah lengkungan bibir yang terlihat lebih berbahaya daripada marah. “Kamu anak yang jujur, ya… atau mungkin terlalu jujur.”

Juan menegakkan tubuhnya. “Aku… tidak mengerti maksud Tante.”

Tante Hena bangkit dan berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tapi setiap langkahnya seolah memadatkan udara yang Juan hirup. Ia berhenti tepat di hadapan Juan, menatap mata pemuda itu dalam-dalam, menerobos semua pertahanan Juan.

“Aku tahu apa yang kamu lihat. Kamu lihat semua yang Tante lakukan tadi.”

Nada suaranya melunak, berubah menjadi seperti rayuan yang memabukkan. "Tante yang salah, harusnya tante tutup jendela tadi."

Juan menunduk, otaknya mati rasa. “Tante tidak perlu merasa bersalah. Juan yang salah karena terlalu penasaran.”

Tante Hena tersenyum pahit, menatap mata Juan tanpa kedip. “Tapi kamu sudah terlanjur melihatnya dan Tante lihat kamu merekam aksi Tante tadi... Apa kamu ingin merasakan punya Tante?”

Juan mendongak. Di mata wanita itu, kini bukan lagi keterkejutan atau amarah, melainkan kesepian yang dalam dan gairah yang kembali menyala.

“Juan…” suaranya kini nyaris berbisik, memohon, “kamu mau membantu Tante, kan? Jika kamu tidak mau, maka Tante tidak akan memaafkanmu.”

Mata Tante Hena semakin tajam, mengunci Juan. ”Juan, kamu itu mengintip mama mantan pacarmu loh... Apa kamu berselera dengan mama mantanmu ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!