Tara, Si gadis ceria yang jatuh cinta kepada ketua osisnya pada pandangan pertama.
Ketua OSIS itu bernama Andre syahreza, laki laki itu memiliki sifat dingin dan datar sehingga membuat Tara kesulitan mendekatinya.
Lantas bagaimana kisah mereka akan terjalin?, ikuti kisah mereka disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. kim22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tara
Beberapa jam kemudian,bell tanda pelajaran berakhir akhirnya menggema membuat para siswa dan siswi yang tadinya mengantuk, tiba tiba pada segar bugar.
yang tadinya terlihat lemah, lesu dan lunglai, kini tersenyum lebar dengan mata berbinar, terlihat begitu bahagia.
Tidak terkecuali Aku dan Salma, tadi aja pas guru menjelaskan pelajaran kimia mata ini terasa begitu berat, eh sekarang melek pake banget, gak ada sedikitpun rasa kantuk yang tersisa.
Aku dan Salma dengan semangat membereskan alat tulis kami dan memasukkannya ke dalam tas,setelah semuanya masuk, kamipun bergandengan tangan keluar kelas.
"Aduhh, panas banget ya ra." Salma mendongak melihat matahari masih begitu terik, padahal sudah pukul 3 sore.
"Iya nih." Aku menghela napas lesu, karena hari ini memang se panas itu, rasanya gerah banget, jadi pengen berendam air dingin nanti begitu sampai rumah.
"Eh, gimana kalau kita mampir di cafe yang lagi hits itu sebentar, nanti kita ajak Adit sama Dika." Salma menatapku dengan senyum lebar dan penuh harap dan semangat.
"Hmmm, oke deh." Berhubung Aku juga merasa haus, akhirnya Akupun setuju untuk ikut mampir dulu di cafe sebelum pulang, tapi sebelum itu,Aku tidak lupa mengabari ayah dulu,supaya ayah tidak datang menjemputku.
"Yeeyyyy....thanks my love." Salma bersorak kegirangan sambil memberikan heart menggunakan tangannya, ckckck seperti anak kecil saja nih curut satu.
Kami akhirnya segera berjalan menuju parkiran,dan begitu sampai parkiran,kami di sungguhkan dengan pemandangan yang sangat menegangkan.
Kenapa menegangkan? , karena di sana,ada Adit dan Dika yang sedang adu bacot bersama Erlangga dan beberapa siswa yang tidak aku kenal.
Nah, kenapa aku bisa kenal Erlangga?, itu karena Erlangga dulu teman masa kecilku,dulu kami begitu akrab, tapi setelah bunda pergi, keluarga Erlangga tiba tiba menghilang entah kemana, dan kami akhirnya kembali bertemu sekarang, tapi belum sempat berbicara banyak.
"GUE GAK AKAN KAYAK GINI KALAU LO GAK CURANG BANGSAT." Suara Erlangga terdengar menggelegar, urat urat di wajahnya tampak menegang.
"Cuihh...udah kalah gak mau mengakui kekalahan, malah nuduh orang curang heh, dasar pengecut." Adit membalas perkataan Erlangga dengan nada begitu tenang, dan ketenangan itu justru mampu membuat lawan debatnya semakin membara, apa lagi, Adit tersenyum miring di akhir kalimatnya.
"BAJINGAN, MAJU LO SINI SIALAN." Erlangga menarik kerah baju Adit, namun Adit dengan segera menepis tangan Erlangga dengan kasar,sehingga kerah bajunya dengan cepat terlepas dari tangan Erlangga.
"Mau apa lo hah?, mau adu jotos, gak usah lawan Adit, lawan gue dulu,karena kalau lawan Adit lo pasti kalah, hahaha." Suara tawa Dika menggelegar, tawa yang sarat akan ejekan, dan yaps, Erlangga yang memang sudah meledak dari tadi, ya semakin meledak lah.
"MAJU LO SINI BANGSAT." Erlangga dengan segera berlari dan mengayunkan tinjunya ke arah Dika.
Aku dan Salma reflek mundur melihat keributan yang terjadi, ada beberapa siswa dan siswi yang belum pulang ikut menyaksikan keributan itu.
"Aduhh, gimana ini Ra." Salma terlihat Panik melihat Dika terlibat adu pukul bersama Erlangga.
"Gue gak tahu Sal, ini masalah mereka apa sih." Aku tentu saja tidak kalah panik, kalau guru lihat,sudah pasti mereka akan di hukum.
Bugh...bugh...bugh....
Suara pukulan demi pukulan membuat kami semua bergidik ngeri, serem juga ya cara laki laki menyelesaikan masalah, adu tonjok sampai berdarah darah, coba aja saling tarik rambut pasti seru, ehhh enggak bercanda hehehe.
"BERHENTI...."
Tiba tiba, dari arah belakang terdengar suara yang begitu menggelegar, bukan hanya terdengar keras, tapi juga terdengar tegas dan tidak ingin di bantah.
Seketika, Dika dan Erlangga berhenti saling menyerang setelah kak Andre yang tadi berteriak datang bersama beberapa anggota osis yang lain.
"Kenapa berantem di sekolah hah." Kak Andre menatap Dika dan Erlangga dengan tatapan mengintimindasi, sehingga membuat dua orang itu terdiam.
"Merasa kren kalian jadi tontonan banyak orang?" Mata tajam kak Andre yang berada di balik kacamata itu terlihat begitu tajam.
Anak anak lain, tidak ada sedikitpun yang berani membuka suara, bahkan Adit pun ternyata ciut di depan kak Andre, tahu takut juga anak itu ternyata.
"Kalian berdua ikut saya, sekarang juga." Kak Andre memberikan perintah mutlak yang tidak ingin di bantah.
"Yang lain silahkan pulang." Ucap kak Andre sebelum berlalu menuju entah kemana bersama Dika dan Erlangga.
Kami semua akhirnya bubar setelah mendengar perintah kak Andre, Aku dan Salma dengan cepat menghampiri Adit yang masih berdiri di samping motornya.
"Dit...kalian kenapa berantem." Aku langsung menanyakan masalah yang terjadi begitu sampai di depan Adit.
Adit tampak membuang napas dengan kasar sebelum menjawab pertanyaanku. "Gue gak tahu masalah anak setan itu, tiba tiba aja dia berteriak gak jelas sama gue dan Dika."
Wajah Adit terlihat seperti sedang menahan emosi, kedua tangannya terkepal erat hingga urat uratnya terlihat sedikit menonjol.
Salma dengan segera mengusap lengan Adit dengan lembut untuk meredakan emosi yang mungkin sudah berada di ubun ubunnya.
"Ya udah,kamu jangan emosi, kita tunggu Dika aja disini ya." Salma mencoba berbicara dengan lembut, dan untungnya Adit mengangguk, sehingga kamipun akhirnya diam di parkiran yang sudah sepi untuk menunggu Dika.
Kami bertiga duduk di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari parkiran.Tidak ada yang bersuara sama sekali, Aku dan Salma memilih diam karena tidak ingin mengganggu Adit.
Tiba tiba, kak Andre muncul dan berjalan ke arah kami, sehingga kami bertiga refleks langsung berdiri.
"Aditya Pratama, ikut gue."
Kak Andre menatap Adit dengan wajah terlihat begitu datar, mata setajam silet itu benar benar sangat menyeramkan jika sedang marah seperti ini.
Fiks, ini pasti Adit akan di marahi,huh tamat sudah riwayat sahabat baikku ini, gak kebayang giman seremnya kak Andre kalau sedang marah, Aku sampai bergidik ngeri membayangkannya, padahal yang akan di marahi bukan Aku.
"Iya bang."
Nahkan...ternyata Adit memang manut kalau sama kak Andre, hoho sekarang Aku tahu kelemahan anak ini hehe.
Setelah itu, kedua laki laki itu pergi meninggalkan kami berdua, entah apa yang terjadi di sana, yang pasti setelah menunggu hampir satu jam, Adit dan Dika akhirnya kembali juga, jangan lupa ada Erlangga juga.
Mereka memang tidak berkelahi lagi, tapi mereka masih tetap saling tatap dengan tajam seolah masalah mereka belum selesai sampai disini.
Erlangga terlebih dahulu melajukan motornya meninggalkan kami ber 4 , barulah setelah itu, kami akhirnya segera pulang dengan Aku kembali di bonceng oleh Dika.
Hufttt, ada aja kelakuan para laki laki ini, tapi mohon di maklumi ya guys, kenakalan remaja, btw kami akhirnya gak jadi deh ke cafe, orang sekarang udah mau jam 5 sore,jadi niat ke cafenya di tunda dulu jadi kapan kapan deh.
tapi knp munculnya lagi momen begini