Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09.
...~•Happy Reading•~...
"Sekarang Laras dengar Mama. Tidak semua orang bisa jalani hidup sepertimu. Sejak kecil kau hidup dengan baik dan cukup, karna Papamu mengutamakan semua kebutuhanmu."
"Kau tidak pernah merasakan sulitnya berjuang naik angkot, karna diantar jemput. Tapi bukan berarti itu membuat hatimu membatu pada kesulitan orang lain, apa lagi yang sedang kesusahan."
Mamanya mempergunakan kesempatan untuk mengingatkan dan menasehati Laras, karena kesibukannya sering membuat dia sering berada di luar rumah.
"Kau belajar dari kesulitan Papamu. Dulu semua yang kau inginkan terpenuhi, sebab pekerjaan Papamu baik dan bergaji besar. Tapi tidak selamanya seperti itu. Apa kau tidak bisa rasakan itu?"
"Adikmu tidak lagi diantar jemput sepertimu. Dia harus pulang sekolah naik angkot. Dia menerima dan jalani semuanya tanpa protes."
"Mama sedang membandingkan kami? Mama mau menyalahkan aku, karna bisa dapat lebih dari Juan? Apa aku salah kalau yang aku dapat, tidak didapatkan Juan?" Laras tidak terima yang dikatakan Mamanya.
"Laras, lebih baik kau istirahat. Jangan memanaskan situasi dengan pikiranmu yang sempit. Kami tahu kau cerdas, tapi hati dan perasaanmu yang mulai tercemar bisa merusak jalan hidupmu." Mamanya jadi tidak sabar dan emosi dengar pertanyaan Laras.
"Ma, ada apa ini?" Papa Juano yang baru masuk ruang makan, bisa merasakan emosi istrinya.
"Hatinya mulai pahit, Pa. Dia berpikir semua jalan hidup manusia semulus, jalan hidupnya." Mama Juano berbicara sambil menggerakan kepala ke arah Laras.
Papa Juano jadi mengerti topik yang sedang dibahas. Pasti tentang sikap dan penerimaannya pada Rafael dan berhubungan dengan ruangan atas yang dijadikan kamar tidur Rafael.
Papa Juano ikut duduk di samping istrinya. "Laras, kita tidak perlu alami kesulitan baru bisa menunjukan rasa empati pada kesusahan orang lain. Cukup mengerti dan tahu, jalan hidup manusia seperti jalanan yang ada di luar."
"Mungkin sekarang kau sedang berada di jalan tol yang mulus dan lancar. Tapi bukannya jalan tol juga berujung? Kau akan berjalan di jalan biasa."
"Seperti Rafa. Mungkin sekarang dia sedang berada di jalan berliku dan berbatu, bukan berarti kita harus tambah dengan melemparnya dengan batu."
"Jika kau tidak bisa berempati pada kesusahan seseorang dengan membantu, jangan kau melempar batu padanya dengan sikap dan ucapan kasar."
"Dia datang ke kota ini, untuk mengadu nasib. Mungkin bisa dapat sesuatu yang lebih baik dari di kampung."
"Dia tidak pernah berpikir akan alami malapetaka. Apa dia minta dicuri? Dia hanya mau mencari nafkah buat keluarganya."
"Untuk dia tinggal di sini, kau tidak usah khawatir. Papa masih bisa memberi makan satu mulut lagi." Papanya bicara dengan suara pelan penuh tekanan. Suasana hatinya jadi berkecamuk.
"Kau anak kebanggaan kami. Jangan merusak citramu karena peroleh sesuatu yang instan." Papanya jadi gundah, lalu berdiri meninggalkan Laras dan Mamanya.
"Hhhhmmm..." Mamanya menarik nafas panjang dan kuat sambil melihat punggung suaminya. "Laras, seperti yang dibilang Papamu. Kau kebanggaan kami dan itu bukan omong kosong. Papamu berusaha, beri yang terbaik buatmu."
"Jangan kecewakan Papamu yang begitu bangga dan sayang padamu." Mamanya coba menurunkan emosi dan bersabar, karena merasakan ketidaksabaran suaminya.
"Kalau ada sesuatu di kantor yang memberatkan, bicara dengan Papamu. Mungkin Papa bisa bantu, supaya kau bisa menikmati yang kau peroleh." Mamahnya menambahkan tanpa mengungkit hubungannya dengan Jarem dan keberadaan Rafael.
Sejenak mereka duduk diam. Laras tidak mengatakan apa pun, karena melihat Papanya tidak seperti biasanya, sabar dan sayang padanya.
"Bu, minumannya sudah siap. Mau disajikan?" Tiba-tiba Bibi memecahkan kebisuan di antara mereka.
"Iya, Bi. Sajikan di sini. Tolong ke atas panggil Juan dan Kak Rafa, ya." Mama Juano sengaja membahasakan Rafael seperti Juano.
Laras tidak berani beranjak saat Mamanya berdiri ke kamar memanggil Papanya. Dia berusaha duduk dan mengambil minuman, tanpa melihat Rafael dan Juano masuk ke ruang makan.
~••
Ke esokan pagi ; Semua orang bangun pagi dan sibuk mempersiapkan diri untuk beraktivitas. "Wiiiih, Kak Rafa tampan sekali." Juano senang melihat Rafael sudah berpakaian lengkap, siap ke kantor.
"Benarkah?" Tanya Rafael yang mandi di kamar mandi Juano dan sekaligus berpakaian.
"Benar, Kak." Juano mengangkat dua jempol dengan wajah ceria.
"Mungkin pengaruh baju baru ini." Ucap Rafael sambil menunjuk celana dan kemeja yang dibeli orang tua Juano dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Kak. Ayo, kita sarapan." Juano menarik tangan Rafael yang sedang tertegun dengan keadaannya.
Hatinya sangat terharu, walau belum pasti bisa bekerja. Tapi usaha orang tua Juano untuk membantunya telah menyentuh hatinya. Sehingga sepanjang malam dia hampir tidak bisa tidur, hanya berdoa dan bersyukur untuk yang akan dilakukan bersama Papa Juano.
Ketika mereka keluar, Mama Juano tersenyum dalam hati melihat penampilan Rafael dan pakaian yang mereka beli sangat pas pada tubuhnya dan cocok.
Laras yang melihat sepintas, tidak berkomentar. Tapi hatinya bertanya. 'Mengapa dia berpakaian rapi pagi ini? Oh, mungkin mau pergi urus dokumennya.' Laras bertanya dalam hati dan menjawab sendiri.
Ketika mereka masuk mobil, hatinya makin bertanya-tanya. "Rafa, duduk di depan sini. Mereka berdua turun duluan." Papa Juano berkata cepat melihat Rafael mau menuju pintu belakang bersama Juano.
"Oh, iya, Pak." Rafael jadi mengusap kepala Juano yang akan duduk di kursi belakang.
"Rafa, ini lupa botol minumannya." Mama Juano berlari keluar bersama Bibi yang akan membuka pagar.
Rafael membeku dan tidak jadi membuka pintu. Dia menerima paper bag berisi botol minuman dengan kedua tangan dan salim. "Terima kasih, Bu. Mohon doanya." Ucap Rafael sambil menunduk dan meletakan tangan Mama Juano di dahinya.
Papa Juano mengalihkan wajah, sebab hatinya tercekat. Agar tidak terhanyut oleh sikap Rafael. "Juan, botol minummu gak ketinggalan?" Papa Juano menanyakan, agar Juano tidak bertanya atau berkomentar tentang yang dilakukan Rafael pada Mamanya.
"Gak, Pa. Ini sudah dalam tas." Juano menjawab sambil menepuk tas sekolahnya.
"Ok. Mari kita jalan. Jangan lupa berdoa, supaya semua tiba tepat waktu." Papa Juano mencairkan suasana, setelah Rafael naik mobil.
Setelah melewati jalanan yang padat, mobil Papa Juano berhenti di depan sebuah kantor tinggi dan mega. "Terima kasih, Pa." Ucap Laras sebelum turun.
"Iya. Kerja hati-hati." Ucap Papanya sambil mengangkat tangan.
Juano menurunkan kaca mobil. "Semangat Kak Laras cantik." Ucap Juano saat kakaknya sudah turun.
"Belajar yang benar. Jangan main mulu." Ucap Laras lalu mengangkat tangan.
Rafael hanya menyaksikan dan menyadari, Laras memang bekerja di kantor besar dan punya jabatan bagus, sebab beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa sopan dan hormat.
Beberapa waktu kemudian, mobil Papa Juano berhenti di depan sebuah sekolah SMPN. "Terima kasih, Papa."
"Iya. Hati-hati di sekolah." Ucap Papanya sambil memegang kepalanya. Tiba-tiba Juan mengambil tangan Papanya dan salim. Papanya terkejut, tapi menyimpannya dalam hati. 'Juan telah mengikuti yang dilakukan Rafa pada Mamanya.'
...~•••~...
...~○♡○•~...