NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Minta Maaf

BAB 19 — Ciuman Minta Maaf

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menerangi debu-debu kecil yang berterbangan di udara. Suasana kamar terasa hangat dan sunyi.

Alena membuka matanya perlahan, masih merasa berat dan sedikit pusing karena semalam habis menangis. Saat dia menoleh ke samping, tempat tidur di sisi Adrian sudah kosong dan dingin.

Hati Alena mencelos sedikit. Apa dia marah dan pergi duluan?

Tapi rasa khawatir itu segera lenyap saat dia mencium aroma aneh yang berasal dari arah dapur. Bukan aroma masakan enak seperti biasanya, tapi lebih ke arah bau gosong dan mentega yang terbakar.

Kring... kring... suara benda jatuh terdengar jelas.

Dengan rasa penasaran, Alena turun dari ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal, lalu berjalan pelan menuju sumber suara itu.

Dan pemandangan yang dia lihat di depan matanya... sungguh pemandangan yang sangat langka dan tak ternilai harganya.

 

🍳 Koki Pemula yang Kacau

Di tengah dapur kecil yang kini berantakan itu, berdiri sosok Dr. Adrian Vale.

Pria yang biasanya tampak sempurna dengan setelan jas rapi, kini hanya mengenakan kaos putih polos dan celana panjang santai. Lengan bajunya digulung tinggi memperlihatkan lengan kekar yang berotot.

Tapi yang paling lucu... wajahnya tampak panik dan kewalahan luar biasa!

Tangannya memegang spatula besi yang digenggam erat seperti memegang kapur tulis, mukanya mengerut fokus menatap wajan di atas kompor yang mengeluarkan asap tipis. Di meja sampingnya, ada telur yang pecah di lantai, tepung yang tumpah, dan piring-piring yang ditumpuk sembarangan.

"Ya ampun..." desis Alena tak sengaja, menutup mulutnya menahan tawa.

Adrian tersentak kaget dan menoleh cepat. Wajahnya tampak memerah sedikit—entah karena panas api atau karena malu—saat melihat Alena sudah berdiri di ambang pintu menontoninya.

"Kau... sudah bangun?" tanya Adrian, suaranya sedikit gagap, dia buru-buru mematikan kompor.

Alena mengangguk, matanya berbinar menahan geli. "Iya... Bau apa ini sih? Seperti ada yang mau meledak."

Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak sangat canggung. "Aku... aku mau bikinin sarapan. Kau kan suka telur dadar dan roti panggang. Tapi... entah kenapa apinya terlalu besar."

Dia menunjuk ke arah wajan, di mana terlihat sebuah telur dadar yang warnanya sudah berubah menjadi cokelat kehitaman, gosong di pinggirnya, dan bentuknya tidak beraturan sama sekali.

Alena tidak bisa menahannya lagi. "Hahaha!!"

Tawa renyahnya meledak memenuhi ruangan dapur itu.

"Maaf ya Pak Chef, tapi ini kayaknya bukan buat dimakan, ini buat bahan bakar perapian aja deh," ledek Alena sambil tertawa lepas, menunjuk masakan gagal itu.

Awalnya Adrian tampak sedikit kesal dan malu, tapi melihat tawa Alena yang begitu ceria dan bebas, melihat wajah gadis itu yang bersinar bahagia tanpa ada beban... senyum tipis pun akhirnya terbit di bibir Adrian.

Dia menghela napas pasrah, lalu melempar spatulanya ke wastafel. "Ya sudah, gagal. Memang aku tidak pandai melakukan hal-hal konyol seperti ini."

 

🙏 Cara Minta Maaf yang Manis

Alena berjalan mendekat, masih tersenyum-senyum kecil. Dia berdiri di samping Adrian yang kini bersandar di meja dapur dengan wajah masam tapi tidak menakutkan.

"Serius nih mau masak buat aku?" tanya Alena pelan, suaranya melembut.

Adrian menoleh, menatap wajah gadis itu dalam. Tatapannya lenyaplah kemarahan semalam, lenyaplah ego yang tinggi. Yang tersisa hanya rasa sayang dan rasa bersalah.

Dengan perlahan, tangan besarnya terulur, mengusap kepala Alena lembut, lalu turun memegang kedua pipi gadis itu dengan hati-hati.

"Maaf..." bisik Adrian pelan, suaranya berat dan tulus. "Maaf soal semalam. Maaf kalau aku keras kepala, maaf kalau aku bikin kau nangis."

Alena menunduk, jari-jarinya memegang pergelangan tangan pria itu di pipinya. "Aku juga maaf... mungkin aku terlalu menuntut."

"Bukan." Adrian menggeleng pelan, ibu jarinya mengusap bibir Alena lembut. "Kau berhak menuntut. Kau berhak ingin jelas. Cuma saja... aku ini pria yang rumit, Len. Aku tidak terbiasa dengan semua ini."

Adrian menarik napas panjang, lalu mulai membuka hatinya, menunjukkan sisi rapuh yang jarang dilihat orang.

"Aku tidak pandai main cinta-cintaan. Aku tidak pandai merayu, tidak pandai masak, tidak pandai mengerti perasaan wanita sepertimu. Selama hidupku, aku terbiasa sendirian, terbiasa mengandalkan logika dan angka. Semuanya hitam putih, benar atau salah."

Dia mendekatkan wajahnya, napas mereka bersatu.

"Tapi saat kau datang... semuanya jadi abu-abu. Semuanya jadi berantakan. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana. Aku takut salah langkah, takut menyakiti hatimu, takut kehilangan kau... tapi justru karena takut itu, aku malah sering berbuat salah dan bersikap dingin."

 

❤️ Ciuman Penuh Makna

Alena menatap mata cokelat tua itu yang memancarkan ketulusan murni. Dadanya terasa hangat sekali mendengar pengakuan itu.

Jadi selama ini pria itu bukan tidak cinta, tapi dia hanya tidak tahu caranya. Dia hanya butuh waktu untuk belajar mencintai dengan benar.

"Jadi..." Alena berbicara pelan, matanya berkaca-kaca haru. "Bapak tidak bosan sama aku?"

"Bosan?" Adrian tersenyum kecil, senyum yang sangat lembut. "Aku gila karenamu, Alena. Setiap detik terasa kurang kalau tidak memikirkanmu."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Adrian menundukkan wajahnya dan menyambungkan bibir mereka.

Ciuman minta maaf.

Bukan ciuman yang lapar atau penuh gairah. Ini ciuman yang sangat lembut, sangat pelan, dan penuh rasa syukur. Seolah dia sedang mencium sesuatu yang sangat berharga dan takut rusak.

"Mmm..." Alena memejamkan mata, menyerahkan dirinya sepenuhnya, membalas ciuman itu dengan penuh perasaan.

Saat mereka melepaskan ciuman itu, napas mereka memburu pelan. Wajah mereka masih saling menempel.

Dengan suara sangat pelan, bergetar penuh penekanan, Adrian berbisik tepat di bibir gadis itu.

"Tapi aku sedang mencoba untukmu..."

"Aku sedang belajar menjadi lebih baik. Belajar mengerti hatimu. Semuanya... demi kau"

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!