Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar, lemah!
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Bintang masih belum membuka matanya, seluruh keluarga nampak panik sementara Damian terlihat hanya duduk dengan raut wajah yang mengutuk kepada gadis yang masih terbaring lemah di tempat tidur itu.
‘Dasar nyusahin, gue mau cari Lidya dia malah pingsan.’ Ujarnya di dalam hati.
“Bintang belum sadar juga pa, yakin vitamin aja cukup?”Tanya Raisa dengan nada penasaran.
“Apa kita perlu bawa dia ke rumah sakit aja ya ma?”Wicaksono juga nampak sedikit ragu dengan keputusannya beberapa jam yang lalu.
“Nggak usah pa, percaya deh sama Damian. Bintang nggak apa apa, dia cuma capek kok.”Damian kembali meyakinkan.
“Tapi kamu yakin kan?”Wicaksono memastikan.
“Tentu saja, kami melakukannya hingga hampir pagi. Jadi dia memang benar benar kelelahan.”Jawab Damian dengan santainya.
“Makanya lain kali mainnya tu tahu waktu, kasihan dia!”Ujar Wicaksono tak habis pikir.
“Ya gimana lagi, namanya baru pa.”Ujar Damian berlagak bodoh ketika mendapatkan teguran dari Wicaksono.
“Ya tapi nggak gitu juga dong, kasihan istrinya.”Ujar Wicaksono dengan nada pelan. Dia benar benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya ada di pikiran anaknya itu.
“Iya pa, nanti aku kontrol lagi.”Ucap Damian. Sejujurnya dia benar benar muak dengan semua kebohongan ini, tapi dia harus melakukannya karna jika dia mengatakan Bintang sakit karna dirinya membiarkan Bintang tidur di luar ketika cuaca hujan yang ada masalahnya akan semakin runyam dan mungkin Wicaksono akan murka kepadanya.
“Kalau begitu papa istirahat dulu saja, biar Damian yang jaga Bintang.”Ujar Damian dengan nada pelan, dia sudah terlalu lelah untuk berakting kepada ayahnya.
“Kamu yakin?”Tanya Wicaksono penasaran.
“Iya pa, aku yakin.”Balas Damian dengan nada pelan.
“Baiklah, kalau begitu papa istirahat dulu. Jagain dia ya, jangan kamu biarin.”Ujar Wicaksono memperingatkan.
“Iya pa, aman..”Balas Damian dengan nada yang meyakinkan.
Setelah mengatakan itu, Damian pun akhirnya langsung mengantarkan Wicaksono untuk keluar dari kamarnya dan benar benar meninggalkan keduanya di kamar yang entah sejak kapan terasa sangat asing bagi Damian.
“Dia ini benar benar menyusahkan, kenapa nggak mati saja sih? Kan lebih simple.”Ujar Damian dengan nada kesal, dia menatap wajah Bintang yang pucat pasi dan sama sekali tidak merasa bersalah atas itu.
Baginya, Bintang berhak mendapatkan penindasan ini karna dialah yang sudah membuat Lidya pergi dari pernikahannya dan meninggalkan Damian dengan patah hati yang tak akan pernah berujung.
“Air….” Di tengah keheningan itu terdengar suara Bintang yang lirih, matanya masih tertutup tapi bibirnya mengucapkan satu kata yang nampak seperti sangat dia dambakan.
“Ambil sendiri aja, punya tangan kan?”Ujar Damian, dia tentunya sama sekali tidak berniat untuk membantu Bintang yang saat itu masih sakit karna ulahnya.
Bintang hanya bisa diam saat suara dingin itu menghatam hatinya, tangannya terangkat untuk memegang erat kepalanya yang terasa sangat sakit. Tubuhnya lemas seolah tak memiliki tenaga sama sekali dan dia hanya membutuhkan minum untuk sedikit meredakan rasa sakit di kepalanya.
Dengan susah payah, Bintang akhirnya memaksakan diri untuk bangkit dari posisinya. Tuuhnya terasa tak bertenaga, seolah hembusan angin bisa membuatnya jatuh tanpa adanya usaha sedikit pun.
“Maaf tuan, saya izin mau ambil minum.”Ujar Bintang, dengan berbagai macam usaha dia akhirnya mampu membawa tubuhnya untuk berdiri tegak. Menyeret kakinya perlahan sampai akhirnya dia tiba di meja sudut ruangan yang terdapat teko di sana.
“Lemah banget jadi cewek, nggak kayak Lidya dia bahkan menerjang api buat selamatin aku.”Hardik Damian, dia menyilangkan kakinya dan menatap cemooh kepada Bintang yang hanya bisa diam membisu.
Satu hal yang tidak Damian ketahui, penyelamat itu bukanlah Lidya tapi Bintang. Sejak awal Bintang tahu dengan fakta ini tapi dia sama sekali tidak ingin mengungkapkannya dan lebih memilih untuk diam seperti yang Widya inginkan.
Bruk! Trang!
Terdengar cangkir yang di pegang Bintang tiba tiba jatuh saat dirinya tidak bisa memegangnya bersamaan dengan itu, kakinya juga kehilangan tumpuan dan berakhir jatuh dengan sangat tak elegan ke lantai kamar yang dingin itu.
“Kamu tuh bener bener nyebelin banget ya! Nyusahin juga!”Kesal Damian, dia yang awalnya hanya diam dan mengamati sembari mengutuk itu akhirnya dengan terpaksa harus bangun dari posisinya. Perlahan lahan dia mulai mendekati Bintang dan mengangkat gadis itu ke dalam gendongannya.
Untuk yang kedua kalinya dia menggendong Bintang dan hanya satu hal yang dia sadari setiap kali dia menggendong Bintang, gadis ini sangat kurus dan ringkih. Itu membuatnya merasa sedikit bersalah setiap kali dia bersikap jahat tapi dia merasakan itu hanya sekilas karna di detik selanjutnya dia akan kembali teringat dengan kata kata dari Widya yang menjelaskan tentang seberapa jahatnya Bintang bagi Lidya.
Bruk!
“Damian melemparkan Bintang sembarangan ke atas ranjang, membuat kepala Bintang yang sakit semakin sakit saat berbenturan langsung dengan kasur pria itu.
“Kamu pantas dapat perlakuan kayak gitu, kamu jahat dan serakah! Kamu sudah membuat Lidya pergi dariku.”Tuduh Damian. Bintang hanya diam mendapati tuduhan dari pria itu, baginya tidak akan ada yang mendengarnya meskipun dia membantah yang ada dia akan semakin di hajar dan itulah yang dia pelajari sejak dia tinggal di keluarga Bramono.
‘Aku pantas?’ Gumam Bintang di dalam hatinya, dia benar benar merasa sedih tentang tanggapan buruk orang lain kepadanya atas apa yang bahkan tidak dia lakukan.
Tapi dia bisa apa? Selain menerima dan membiarkan mereka menindasnya.
‘Aku akan mengembalikan Lidya ke sisi pria ini, setidaknya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa bebas darinya.’Batin Bintang bergejolak.
Ceklek!
Di tengah tengah keheningan di antara keduaya, tiba tiba saja knop pintu di buka dari luar. Dalam sepersekian detik, posisi keduanya nampak sangat ambigu. Jelas terlihat Damian yang sedang menindas Bintang saat ini.
“Shit! Minggir!”Ujar Damian, dia tidak punya waktu lagi untuk duduk di sofa dan dengan penuh keterpaksaan dia pun akhirnya membaringkan dirinya di samping Bintang dan menyelimuti tubuh mereka hingga dada.
“Pura pura tidur.”Bisiknya pada Bintang, tak ingin menambah masalah Bintang pun akhirnya melakukan apa yang di inginkan oleh Damian dan memejamkan matanya.
Posisi mereka agak canggung, Damian yang berbaring miring ke arahnya sementara Bintang yang berbaring telentang. Pada posisi ini telinga Bintang jelas merasakan dengan sempurna helaan nafas berat dari pria itu.
“Tuh kan apa mama bilang, papa tuh khawatirnya berlebihan.”Ujar Raisa, dia merasa sedikit kesal saat suaminya bersikeras untuk melihat sepasang suami istri ini sebelum mereka terlelap.
“Ya papa kan cuma khawatir aja,ma.”Ujar Wicaksono pelan.
“Tapi udah kelewatan, gimana kalo mereka lagi ehem ehem? Kan jadi keganggu. Udah kita tidur aja, jangan ganggu mereka lagi.”Ujar Raisa dengan nada pelan.
“Iya ma,maaf.”Balas Wicaksono. Setelah mengatakan itu mereka pun akhirnya meninggalkan Bintang dan juga Damian yang masih berada di atas ranjang yang sama.