karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
__________________________________
Sementara itu, Reynard baru saja tiba di mansion. Bibi Rose menyambutnya, namun ia segera menyadari keheningan yang menyesakkan.
"Di mana Annelise?" tanya Reynard, nada suaranya sedikit mendesak.
"Nyonya Annelise belum kembali, Tuan. Dia bilang akan pulang bersama nona Meca," jawab Bibi Rose.
Reynard langsung merasa gelisah. Karena saat ini hujan sangat deras, Ia tahu Annelise tidak suka dingin.
Ia segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Annelise, tetapi tidak ada jawaban. Reynard mulai panik.
Sial! Kenapa aku mengizinkannya!
Tanpa pikir panjang, ia membuka aplikasi GPS yang terhubung ke ponsel Annelise. Lokasinya terdeteksi di Taman Kota.
Wajah Reynard mengeras. Taman Kota saat hujan lebat? Dengan fisik yang rentan? Reynard segera mengambil kunci mobil dan payung besar.
Tiba di area Taman Kota, pandangan Reynard langsung tertuju pada dua sosok di tengah hujan. Satu di antaranya sedang berputar-putar riang Annelise.
"Annelise..." desisnya, cemas dan marah.
Ia melihat istrinya tertawa, terlihat sangat bahagia, namun tubuhnya sudah menggigil. Reynard melihat Annelise bersin beberapa kali, dan ia yakin istrinya sudah kedinginan parah.
Reynard segera meraih payung, lalu melepaskan jas mahalnya tanpa ragu. Ia berlari keluar dari mobil, menerobos derasnya hujan.
"ANNELISE! HENTIKAN!" teriaknya.
Annelise, yang terkejut, berbalik. Senyumnya langsung memudar saat melihat Reynard basah kuyup, berlari ke arahnya dengan ekspresi yang begitu tegang.
Setibanya di sana, Reynard segera membentangkan jasnya, menutupi kepala dan tubuh Annelise.
"Kamu akan sakit, Sayang! Kenapa kamu melakukan ini?!" Suara Reynard terdengar parau, mencerminkan ketakutan terbesarnya. Ia meraih lengan Annelise. Tubuh istrinya terasa sedingin es.
Annelise hanya bisa memeluk erat jas Reynard. "Aku... aku hanya ingin merasakan..."
"Aku tahu. Tapi kamu tidak boleh seperti ini," potong Reynard. Ia menyerahkan payung itu kepada Meca. "Meca, gunakan ini untuk dirimu dan barang belanjaan. Aku akan mengurus istriku."
Sebelum Annelise sempat protes, Reynard sudah mengangkatnya. Ia menggendong Annelise dengan hati-hati ke mobil, lalu menyalakan pemanas mobil hingga maksimal.
Reynard mengantar Meca pulang terlebih dahulu, memastikan Meca selamat sampai di rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju mansion, Annelise terus bersin dan menggigil. Reynard mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk mengelus lengan Annelise.
"Kita akan segera sampai, Sayang. Jangan tidur, bicaralah padaku," bujuk Reynard, matanya fokus pada jalanan.
Setibanya di mansion. Ia menggendong Annelise keluar dari mobil.
"BIBI ROSE! SIAPKAN AIR HANGAT DAN BUBUR! SEKARANG JUGA!" teriak Reynard lantang.
Reynard membawa Annelise langsung ke kamar utama. Ia menurunkannya perlahan di tepi tempat tidur, mengambil handuk paling lembut, dan mulai mengeringkan rambut dan wajah Annelise.
"Kamu harus mandi air hangat sekarang," kata Reynard, suaranya melembut.
"Aku bisa sendiri, Reynard..." Annelise mencoba bangkit, tetapi kepalanya terasa pening, tubuhnya merespons dingin dengan gemetar tak terkontrol.
"Tidak. Biarkan aku membantumu," Reynard menahannya dengan lembut, lalu membawanya ke kamar mandi.
Reynard dengan cepat membantu Annelise melepas pakaian yang basah dan membimbingnya masuk ke bak mandi yang sudah terisi air hangat. Ia membersihkan tubuh Annelise dengan telaten dan sangat lembut, tidak ada pikiran lain selain memastikan istrinya tidak sakit parah. Setelah selesai, Reynard membungkus Annelise dengan jubah mandi tebal, menggendongnya kembali ke tempat tidur, dan menyelimutinya hingga ke leher.
Bibi Rose masuk membawa semangkuk bubur hangat dan obat pereda demam.
Reynard mengambil mangkuk itu. "Anda bisa kembali, Bibi. Terima kasih."
Ia duduk di samping Annelise, meniup bubur itu hingga suhu yang pas, dan mulai menyuapinya dengan sabar.
"Makanlah perlahan. Kamu harus segera pulih," ujarnya.
Annelise merasa terharu. Ia baru saja membuat suaminya panik, tetapi Reynard merawatnya tanpa mengeluh.
"Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir, Reynard," kata Annelise, menggenggam tangan suaminya.
Reynard hanya menggelengkan kepala. "Jangan pernah meminta maaf Sayang. Akulah yang harusnya minta maaf karena tidak ada di sana untuk menjagamu. Sekarang, fokus untuk tidur."
Setelah Annelise selesai makan dan meminum obatnya, Reynard membaringkan dirinya di samping Annelise, menariknya ke dalam pelukan. Ia menyalurkan semua kehangatan tubuhnya.
"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi," bisiknya.
Annelise, yang merasa sangat lelah dan aman, menyandarkan kepalanya di dada Reynard, mendengarkan detak jantung suaminya yang stabil. Dia tertidur, aman dalam pelukan erat Reynard.
Reynard menatap wajah damai Annelise. Ia mencium lembut kening istrinya yang terasa sedikit hangat. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sakit lagi, Sayang. Tidak akan pernah. Janji itu ia ucapkan dalam hati, sambil memeluk Annelise dengan protektif, menikmati kebersamaan yang berharga ini.
orang kaya mereka harus membusuk