Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Ayah udah punya istri baru, Keano. Kita gak bisa pulang ke rumah Ayah," celetuk Kaila dengan wajah kesal. "Udah, mendingan kita pulang ke rumah Om Radit aja. Kata Om Radit, rumahnya ada kolam renangnya juga lho."
"Tapi aku kangen sama Ayah, Kak. Gak mungkin Ayah punya istri baru, istri Ayah 'kan Ibu. Kakak pasti boong!" seru Keano dengan mata berkaca-kaca, nada suaranya terdengar lemah dan bergetar.
"Kakak nggak boong, Keano. Kaka udah ketemu sama istri barunya Ayah, mukanya jelek banget kayak Nenek sihir. Pokoknya, Kakak benci sama Ayah!"
"Sudah cukup, Kaila, Keano, kenapa kalian jadi berdebat gini sih?" lerai Aqilla, memandang wajah kedua buah hatinya secara bergantian.
"Gimana, kalian mau 'kan pulang ke rumah Om Radit?" tanya Radit dengan senyum kecil.
"Mau!"
"Nggak!"
Jawab Kaila dan Keano secara bersamaan, dengan ekspresi wajah yang berbeda. Keano nampak murung, selain karena tubuhnya yang lemas dan masih dalam masa pemulihan, ia merasa terkejut dan tertekan dengan ucapan sang kakak yang mengatakan bahwa ayahnya sudah memiliki istri baru. Sedangkan Kaila, sebenarnya anak itu memendam luka, menyembunyikan rasa kecewa setelah mengetahui fakta tentang ayahnya, tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja, tetap tersenyum agar Aqila, sang ibu tidak khawatir kepadanya. Anak sekecil itu dipaksa dewasa oleh keadaan, dan terpaksa menerima keadaan yang sebenarnya sangat menyakitkan.
"Aku benci sama Ayah. Aku gak mau ketemu lagi sama Ayah. Ayah jahat," batin Kaila, seketika menundukkan kepala dengan raut wajah sedih.
Aqilla mengusap kepala Keano dengan lembut dan penuh kasih sayang, mencoba untuk tersenyum. "Keano sayang, kita pulang ke rumah Om Radit dulu, ya. Ibu jamin, kamu pasti suka tinggal di sana."
"Tapi aku pengen ketemu sama Ayah, Bu," rengek Keano, kepalanya menunduk seraya memainkan ujung kuku jari jempolnya sendiri.
"Iya, nanti Ibu bilang sama Ayah."
"Janji?"
Aqilla menganggukkan kepala seraya menahan air mata. Ia tidak yakin Ilham bersedia menemui Keano karena mantan suaminya itu tengah sibuk dengan istri barunya. Apalagi, Dona sedang berbadan dua. Kebanyakan mantan suami akan mengabaikan anak dari pernikahan sebelumnya, bahkan enggan untuk menafkahi karena takut uang nafkah yang diberikan untuk anaknya dinikmati oleh mantan istrinya. Padahal, seorang ibu rela menahan lapar agar anak-anaknya tercukupi.
"Maafin Ibu, Keano. Ibu gak yakin Ayahmu mau ketemu sama kamu," batin Aqilla, menjerit.
"Ya udah, aku mau pulang ke rumah Om Radit, tapi Ibu jangan lupa sama janji Ibu, ya," rengek Keano, mengangkat kepala, memandang wajah sang ibu dengan tatapan sayu.
"Iya, Ibu janji, Sayang," jawab Aqilla dengan senyum kecil.
***
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mobil yang ditumpangi oleh Aqilla dan yang lainnya akhirnya mulai melipir dan memasuki gerbang sebuah perumahan elit yang berada kota Jakarta. Penampakan rumah mewah dua lantai berjejer rapi di sisi kiri dan kanan jalan, memanjakan setiap mata yang memandang.
"Waaah! Kita akan tinggal di sini, Bu?" tanya Keano, seraya memandang ke arah luar jendela mobil.
"Rumahnya bagus-bagus banget, Bu. Eu ... apa Om Radit ini calon suami baru Ibu?" celetuk Kaila, melakukan hal yang sama seperti Keano, menatap rumah-rumah mewah yang berjejer rapi di luar sana.
"Betul sekali, Om ini calon suami Ibu kalian," jawab Radit, menoleh dan menatap wajah kedua anak itu yang tengah duduk di jok belakang, dengan senyum lebar.
Aqilla seketika terkejut, menatap wajah Radit dengan kening mengerut. "Maksud Pak Radit apa? Ko dia bilang kayak gitu di depan anak-anak?" batinnya.
Bagaimana mungkin dirinya menikah dengan pria yang baru dikenal? Terlebih, ia tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Sementara Keano yang duduk di pangkuan ibunya seketika menoleh dan menatap wajah sang kakak yang duduk di jok mobil yang sama, keduanya saling menatap wajah satu sama lain, tanpa sepatah katapun seolah tengah berbicara lewat tatapan mata. Sampai akhirnya, Kaila tiba-tiba mengangkat kedua bahunya seakan memberi jawaban atas pertanyaan sang adik yang bahkan tidak diucapkan.
"Nah, kita sudah sampai," ujar Radit, saat mobil tersebut berhenti tepat di depan pintu gerbang yang masih tertutup.
Beberapa detik kemudian, gerbang dengan cat keemasan itu pun terbuka dan mobil yang mereka tumpangi melaju memasuki halaman luas dengan rumah dua lantai berada di dalamnya.
"Wuaaaah! Rumah Om Radit besar banget, kayak di film-film," celoteh Keano seketika berdiri seraya menempelkan kedua telapak tangan di kaca jendela mobil.
"Gimana, kalian suka? Rumah ini akan menjadi rumah kalian juga lho," ucap Radit, memandang wajah Kaila dan Keano secara bergantian.
"Suka, Om, sukaaaa banget," jawab Kaila, untuk pertama kalinya tersenyum kepada pria bernama Radit, sebelumnya ia kerap menunjukkan sikap cuek dan jutek kepadanya.
Sedangkan Aqilla hanya terdiam, larut dalam lamunan. Memikirkan ucapan Radit yang mengusik perasaanya. Rasanya mustahil, pria kaya raya seperti dia bersedia menikahi wanita biasa saja seperti dirinya, meskipun di awal pertemuan mereka sudah sepakat akan saling membantu. Radit akan membantunya balas dendam dengan imbalan satu ginjalnya, tapi dirinya menyesalkan mengapa pria itu tidak pernah mendiskusikan masalah pernikahan.
"Ko Ibu diem aja?" tanya Keano, kembali duduk di pangkuan sang Ibu.
Aqilla tersenyum paksa, seraya melingkarkan kedua telapak tangan di perut sang putra. "Nggak ko, Ibu gak apa-apa."
Mobil Pajero berwarna hitam itu pun berhenti tepat di depan teras rumah, di mana dua pilar besar nampak berdiri kokoh, menopang antara lantai satu dan lantai dua rumah bercat putih itu. Aqilla membuka pintu mobil, membantu anak-anaknya turun kemudian melakukan hal yang sama.
Baik Keano maupun Kaila, seketika tertegun, menatap penampakan rumah besar dan mewah yang berada dihadapannya. Kedua mata mereka seketika beralih ke halaman luas dengan hamparan rumput hijau tergerai bak permadani.
"Boleh aku main di taman, Bu?" tanya Keano dengan senyum lebar.
"Aku juga mau," seru Kaila dengan senyuman yang sama dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Aqilla.
"Yeeey!" sorak keduanya, berlarian di taman dengan perasaan gembira.
Radit menarik napas dalam-dalam, memandang wajah kedua anak itu dengan senyum kecil. "Akhirnya bisa ngeliat mereka ketawa," gumamnya, merasa senang entah mengapa.
"Maaf, Pak Radit. Eu ... maksud Anda apa bilang sama anak-anak kalau Anda adalah calon suamiku? Aku takut mereka kecewa, Pak," tanya Aqilla dengan wajah datar.
"Hmm ... ini adalah langkah pertama misi balas dendam kamu, Aqilla."
"Maksudnya?"
"Mantan suami kamu pasti akan meradang kalau dia tau kamu menikah sama saya, Bosnya sendiri. Saya baru ingat, ternyata mantan suami kamu itu adalah salah satu karyawan di perusahaan saya."
Bersambung ....