Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan tidak Pernah Usai
Greenindia terbangun dengan kejutan yang tidak menyenangkan. Kepalanya terasa berat, pening dan berdenyut, bukan hanya karena sisa demam tetapi juga karena efek mabuk alkohol yang brutal.
Keningnya berkerut. Bukan hanya karena rasa sakit, tetapi juga karena aroma disinfektan yang menusuk hidungnya. Ia benci aroma itu. Itu mengingatkannya pada hal-hal yang tidak ingin ia ingat.
“Kau sudah bangun?”
Suara berat Rex Carson menyambutnya. Greenindia menoleh dan melihat Rex duduk di kursi roda, wajahnya tampak lelah dan sedikit kesal.
“Di mana kita?” tanya Greenindia, suaranya kering dan serak.
“Di Rumah Sakit. Tentu saja,” jawab Rex, nadanya sudah kembali tajam dan mendikte. “Kau membuatku panik, Nyonya Carson. Kau tidur di balkon dalam keadaan demam tinggi. Kau hampir mati kedinginan setelah gagal membunuh dirimu sendiri dengan minuman keras.”
Kalimatnya penuh sindiran tajam.
Greenindia tidak menanggapi omelan itu. Ia mengabaikan semua yang dikatakan Rex. Dia hanya fokus pada satu hal: selang infus di punggung tangannya. Dia harus keluar dari sini.
Dengan gerakan terburu-buru, Greenindia mencoba duduk, tangannya bergerak cepat untuk mencabut selang infus.
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” Rex berteriak panik, kakinya yang terluka otomatis bergerak maju. Dia berusaha berdiri, tetapi rasa sakit yang menusuk memaksanya kembali duduk.
“Aku baik-baik saja! Aku ingin pulang!” Greenindia bersikeras, menarik lengannya dari Rex. “Aku tidak butuh perawatan! Ini hanya demam biasa!”
Trauma masa lalu cukup menyisakan rasa sakit di banyak tempat. Bukan hanya di tebing tapi juga di rumah sakit.
“Kau demam tinggi, Greenindia! Kau tidak sadarkan diri selama berjam-jam! Kau pikir demam adalah hal sepele?” Rex menolak, menatap tajam ke mata Greenindia. “Kau akan tetap di sini sampai kondisimu stabil dan Dokter mengizinkannya.”
Rex mengingat bagaimana semalam dia secara membabi buta memarahi seluruh staf medis yang untuk segera mengobati istrinya. Padahal, Rex masih bisa tenang saat neneknya sakit.
“Aku benci tempat ini! Aku bilang aku baik-baik saja!”
Kepala Rex ikut sakit. Berdebat dengan Greenindia sama melelahkannya dengan mendaki tebing semalam. Ia akhirnya membujuk. “Baiklah. Kita tunggu Dokter. Setelah Dokter bilang kau boleh pergi, kita pergi. Sepakat?”
Greenindia mendengus, tetapi mengalah.
Tak lama kemudian, Dokter yang merawat Greenindia masuk. Setelah memeriksa dan melihat grafik suhu tubuhnya, ia mengangguk puas.
“Nyonya Carson sudah stabil. Demamnya sudah turun total. Namun, tolong hindari alkohol sama sekali untuk beberapa waktu ke depan. Dan pastikan istirahat total,” kata Dokter dengan nada profesional.
Greenindia hanya mengangguk, tetapi tidak memberikan janji apa pun. Rex hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap keras kepala istrinya. Greenindia akhirnya diizinkan pulang dengan banyak syarat dan resep obat yang harus diminum secara teratur.
Di dalam mobil mewah yang dikendarai Antonio, Greenindia terus menggerutu.
“Kau berlebihan! Kenapa kau membawaku ke sini, Rex? Aku sudah bilang aku tidak apa-apa!” Greenindia bersandar ke jendela, melirik kesal ke arah Rex.
Mendengar kekeraskepalaan Greenindia, perasaan khawatir Rex yang tadi malam sudah hilang, berganti dengan kekesalan.
“Aku berlebihan?” Rex tertawa sinis. “Kau hampir mati kedinginan setelah menenggak alkohol sebanyak air putih, dan kau bilang aku berlebihan? Kau benar-benar tidak menyayangi tubuhmu sendiri, Green. Kau minum dalam jumlah sangat banyak dan cukup sering.”
Rex tidak mau kalah dan membalas perkataan istrinya. Beraninya dia mengatakan dirinya bersikap berlebihan.
“Aku sudah dewasa! Aku tahu batasan diriku!” balas Greenindia dengan nada meninggi.
“Dewasa?” Rex menoleh, pandangannya menusuk. “Sikap dewasa seperti apa yang kau miliki? Apakah orang dewasa yang sering menceracau tentang pencuri, ketakutan akan disalahkan atas kematiannya, dan mencoba membunuh dirinya sendiri dengan alkohol?”
Perdebatan Greenindia yang keras kepala seketika terhenti. Matanya yang marah melebar, seluruh tubuhnya menegang.
“Apa… apa maksudmu?” Greenindia bertanya, suaranya berubah dingin dan sangat rendah.
Semua hal yang mengganggu pikirannya semalam seketika muncul kembali satu persatu. Pesan kakaknya, pertemuan dengan ibunya. Satu persatu menghantam pikirannya.
Rex menyadari bahwa ia telah memancing terlalu jauh. Kata-kata Greenindia yang melantur saat mabuk ternyata adalah kunci trauma yang ia sembunyikan. Rasa penasaran Rex semakin membesar, tetapi ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan secara langsung.
Rex memilih mengalihkan pembicaraan. “Maksudku, hentikan dramamu. Aku tidak peduli dengan omongan orang mabuk. Sekarang berterima kasihlah padaku karena sudah menyelamatkan nyawamu. Kau tahu aku harus menghubungi Antonio saat kakiku terluka parah. Itu sungguh menyakitkan!”
Greenindia terdiam. Ia baru menyadari hal itu.
“Itu artinya, Antonio yang menyelamatkan nyawaku.”
Astaga!
Rex tidak menyangka bahwa Green akan mengalihkan pembicaraan secepat itu dan dia hanya menangkap apa yang ingin didengarnya.
“Terserah kau saja. Dasar tidak tahu Terima kasih.” Rex benar-benar kesal.
Di depan, Antonio hanya mengendarai mobilnya berpura-pura tidak mendengar apa pun dari arah belakang.
Green berpikir, Rex benar. Dia panik karena dirinya dan harus mengorbankan diri untuk berjalan pincang di tengah malam.
“Aku… aku minta maaf,” bisik Greenindia, nada suaranya sedikit melunak. Ia merasa bersalah karena sudah menyalahkan Rex yang membawanya ke rumah sakit, padahal pria itu sendiri sedang terluka.
“Permintaan maaf tidak diterima,” jawab Rex dingin.
Mobil berhenti tepat di depan apartemen kecil Greenindia. Antonio segera membuka pintu.
“Nyonya Green,” Antonio menyela dengan suara tenang sebelum Rex sempat melanjutkan perdebatan mereka. “Tuan Rex harus segera mengganti perban. Luka tusukan itu sedikit berdarah lagi karena panik tadi malam. Nyonya, tolong rawat lukanya. Saya harus pergi.”
Greenindia tersadar. “Luka…mu.”
Antonio segera pergi setelah meletakkan Rex yang duduk di kursi roda tepat di ambang pintu, meninggalkan pasangan itu.
Rex mengangkat bahu. “Nah, kau dengar dia. Antonio menyuruhmu merawatku. Jadi, rawatlah.”
Greenindia menghela napas pasrah. “Kau terluka lagi?”
Rex mengangkat kepalanya, menantang. “Tentu saja, kau pikir badanmu seenteng kapas?”
Green segera merasa bersalah.
“Di mana kotak P3K?”
“Di dalam tas itu,” jawab Rex. Menunjuk kantong yang diberikan Antonio. “Tapi sebelum itu… kau harus melepaskan celanaku terlebih dahulu.”
Greenindia menatapnya dengan mata terbelalak.
“Kau!”
semangat up