NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Perasaan Yang Sulit Di Jelaskan

"Aku memang sudah di genggaman yang lain, tapi namamu masih bergaung di dada. Mungkin tubuhku berpaling, tapi hatiku belum menemukan arah pulang."

...***...

Pagi hari yang cerah, Rayna bersiap ke sekolah. Ia berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri.

"Cantik banget sih lo, Rayna," gumamnya. "Tapi sekarang udah jadi tunangan orang lain, huft."

Rayna menghela napas, lalu keluar kamar dan menghampiri Mama di meja makan.

"Pagi, Ma," sapa Rayna sambil melirik ke arah meja makan.

Matanya membulat saat melihat Ben sudah duduk manis di sana.

"Loh, Ben, ngapain lo pagi-pagi gini ada di sini?" tanya Rayna dengan nada ketus.

"Apaan sih lo," jawab Ben sambil tersenyum lebar. "Gue cuma mau sarapan dengan masakan mama mertua gue."

"Idih, pasti mau modus ketemu gue kan lo," balas Rayna, mencibir.

"Eh, eh, udah, Rayna," lerai Mama. "Ayo makan bareng di sini. Mama udah masakin nasi goreng buat kita sarapan."

"Iya, Ma," jawab Rayna, lalu duduk dan mulai makan.

"Rayna, nanti kamu berangkatnya bareng Ben ya," kata Mama tiba-tiba.

"Gak mau, Ma, aku mau sama Pak Herman aja," tolak Rayna mentah-mentah.

"Udah, kamu bareng Ben aja. Kasihan dia jauh-jauh ke sini buat jemput kamu," bujuk Mama.

"Dih, tadi katanya ke sini cuma mau numpang sarapan doang, sekarang beda lagi ceritanya," sindir Rayna.

Ben hanya fokus makan, sesekali membuat gestur mata yang meledek ke arah Rayna.

"Udah ah, aku nggak mood makan. Aku mau ke kamar ambil tas," kata Rayna sambil bangkit dari kursinya dan pergi ke kamarnya.

Mama menatap Ben dengan tatapan meminta maaf. "Maafin Rayna ya, Ben. Dia memang udah nerima perjodohan ini, tapi sepertinya dia belum sepenuhnya menerima."

"Gapapa kok, Tante," jawab Ben sambil tersenyum. "Ben malah seneng lihat Rayna gitu, gemes banget."

"Hehe, bagus deh kalau kamu malah seneng," balas Mama sambil tertawa kecil.

"Iya, Tante tenang aja. Bentar lagi Ben akan bikin Rayna klepek-klepek sama Ben, hahaha," ucap Ben dengan nada percaya diri.

Mama dan Ben tertawa bersamaan. Tiba-tiba, Rayna datang kembali dengan tas ransel di punggungnya.

"Kalian kenapa sih ketawa-ketawa gitu? Pasti ngomongin gue ya?" tanya Rayna dengan nada curiga.

"Geer banget sih lo," ledek Ben.

"Udah, ayo ah berangkat," ajak Rayna, berusaha mengakhiri percakapan yang membuatnya tidak nyaman.

Rayna nyamperin Mama, salim, terus ngikutin Ben keluar rumah. Di depan gerbang, Ben udah siap dengan motornya.

"Duluan ya, Ma!" teriak Rayna ke Mama yang berdiri di ambang pintu.

"Iya, hati-hati!" balas Mama.

Rayna ngedeketin motor Ben, rada ragu. "Helmnya mana?"

Ben nyodorin helm ke Rayna sambil nyengir. "Nih, buat tuan putri."

Rayna nerima helm itu, terus make dengan muka datar. Abis itu, dia naik ke motor Ben dengan kaku.

"Pegangan dong, ntar jatoh," kata Ben sambil ngidupin motornya.

"Gak usah, gue bisa sendiri," jawab Rayna ketus.

Ben ngegas motornya, terus jalan. Di perjalanan, Ben tiba-tiba ngomong.

"Peluk kek, gue ini bukan ojek pribadi lo ya," kata Ben sambil ngeledek.

"Dih, apaan sih, modus banget," balas Rayna.

Tiba-tiba, Ben ngerem mendadak yang bikin Rayna otomatis meluk Ben dari belakang.

Rayna kaget, tapi dia gak ngelepasin pelukannya.

"Nah, nyaman juga kan lo posisi itu," gerutu Ben.

"Hah? Apa? Lo ngomong apa? Gak kedengeran," jawab Rayna, pura-pura gak denger.

"Enggak, enggak," balas Ben sambil ketawa kecil. Terus dia ngegas motornya lagi, dan mereka lanjutin perjalanan ke sekolah. Rayna masih meluk Ben erat-erat, tapi dia diem aja, gak ngomong apa-apa.

Sesampainya di sekolah, David ngeliat Ben dan Rayna boncengan. Dia langsung nyamperin mereka dengan muka kaget.

"Wedeh, tumben nih kalian berdua boncengan gini? Biasanya kan kayak Tom & Jerry," kata David sambil ketawa.

"Iya dong, kan Rayna calon istri gue," jawab Ben sambil ngerangkul Rayna.

"Hah? Calon istri?" David melongo gak percaya.

"Ben!" ucap Rayna dengan nada kesel. "Apaan sih lo!" lanjutnya sambil ninggalin mereka berdua dan jalan cepet-cepet ke kelas.

"Eh, kenapa tuh calon istri lo?" tanya David ke Ben.

"Gatau, gue susul dulu ya," jawab Ben sambil nyengir.

Ben langsung lari ngejar Rayna. David ngeliatin mereka sambil ngedumel sendiri. "Tumben banget tuh orang, biasanya cuek bebek sama cewek."

Tiba-tiba, Friska datang menghampiri David. "Eh, David, Ben mau kemana tuh?" tanyanya penasaran.

"Mau nyamperin pacarnya lah," jawab David cuek.

"Siapa?" tanya Friska lagi, makin penasaran.

"Rayna," jawab David singkat.

"Dih, lo gak usah ngarang deh!" kata Friska gak percaya.

"Gue gak ngarang, dia sendiri yang ngomong ke gue," jawab David sambil ngangkat bahu.

"Dih, sebel ah!" kata Friska sambil menghentakkan kakinya dan pergi ninggalin David. David cuma geleng-geleng kepala ngeliatin Friska yang ngambek.

...***...

Di sisi lain,

Ben menarik tangan Rayna, menghentikan langkahnya.

"Tunggu!" ucap Ben.

Rayna berbalik, menatap Ben dengan wajah kesal. "Apasih, Ben?"

"Kenapa sih lo sewot banget kalo ngomong sama gue?" tanya Ben, sedikit jengkel.

"Ya, abisnya lo sih," jawab Rayna, membuang muka.

"Apa? Emang salah kalo gue bilang yang sebenernya? Lo kan emang calon istri gue," kata Ben, tersenyum menggoda.

"Iya sih, tapi gak usah diumbar juga kali. Malu tau," jawab Rayna pelan.

"Jadi, lo malu gitu punya tunangan kayak gue?" Ben pura-pura memasang wajah terluka.

"Bukan gitu, Ben! Tapi gue belum siap aja semua orang tau kalo kita udah tunangan," jelas Rayna.

"Tunangan doang, Rayna, bukan hamil juga. Kenapa harus malu segala?" Ben tertawa kecil.

"Ben! Please deh..." Rayna menatap Ben dengan memohon.

"Oke, oke, fine, tuan putri," Ben mengalah.

Ben tersenyum melihat Rayna yang akhirnya sedikit melunak. "Yaudah, sekarang kita masuk kelas yuk? Bentar lagi bel bunyi," ajak Ben sambil menggenggam tangan Rayna.

Rayna sedikit terkejut dengan tindakan Ben. Dia melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang melihat mereka bergandengan tangan. "Eh, lepas dulu dong. Ntar ada yang liat," bisik Rayna panik.

Ben terkekeh pelan, lalu melepaskan tangannya. "Iya, iya, bawel," godanya. "Kayak lagi selingkuh aja."

Rayna mencibir, lalu berjalan mendahului Ben menuju kelas. Dia merasa risih dengan tatapan penasaran siswa lain, tapi berusaha untuk tidak menghiraukannya.

Sesampainya di depan kelas, Rayna berhenti dan menarik napas dalam-dalam. "Lo duluan aja deh," bisiknya pada Ben. "Gue takut kalo kita masuk barengan, pada curiga."

Ben mengangguk mengerti. "Oke deh. Gue masuk duluan, lo nyusul ya," jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Ben masuk ke kelas dengan santai, sementara Rayna menunggu beberapa saat di luar. Setelah memastikan suasana aman, dia pun masuk ke kelas dengan langkah pelan.

Singkat cerita, jam pulang pun tiba, Rayna hendak merapikan alat tulisnya. Namun tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Sebuah pesan dari nomor yang tak ia kenal dan tak ada foto profil nya pula.

Isi pesan itu:

["Rayi"]

Rayna sedikit terkejut melihat pesan itu.

"Rayi? Hah itu kan panggilan... Seseorang untuk aku.. Vando? Apa benar itu kamu?" gumam Rayna pelan.

Setelah sekian lama menunggu kabar dari Vando, pesan singkat dari nomor tak dikenal itu membuatnya tertegun.

Mungkinkah ini benar Vando yang menghubunginya setelah sekian lama?

Kebimbangan melandanya, antara rasa penasaran dan kerinduan pada masa lalu dengan komitmennya pada Ben, tunangannya kini, membuatnya bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan.

Bersambung...

1
Nuri_cha
kamu sakit gara2 mikirin si vando. tapi Bennyg bikin tersenyum... ya udah sih ya Ama Ben aja
Nuri_cha
aiishhh... mimpi! kirain beneran!
Nuri_cha
iih .. kamu yg ke mana. kok malah marah sama Rayna? Bukannya kalian pernah berhubungan saat pertama kali Rayna pindah ke jakarta
Nuri_cha
Ya ampuuuun, Vandooo kamu ke manaaaaa ajaaa?
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!