Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Willie melangkah mendekat ke arah Tisha dan cukup untuk membuat beberapa mahasiswa disana memalingkan kepala.
Begitu ia sampai di depan Tisha, Willie membuka mulutnya dengan suara yang jauh lebih lembut daripada biasanya.
“Sayang, sudah selesai? Ayo pulang.”
Udara di sekitar mereka seperti mendadak berhenti. Tisha seolah masih tidak bisa mencerna suasana saat itu.
Teman-teman Tisha langsung melirik, mulut ternganga, mata membesar, dan tatapan penuh godaan.
Tisha sendiri wajahnya mendadak merona
"Pak Willie memanggilku sayang? Di hadapan teman kampus? apakah ini mimpi?" Pertanyaan itu berkecamuk terus dalam hati hatinya.
Ia membuka bibir, namun tidak ada suara yang keluar. Temannya menyenggol lengannya pelan sambil berbisik, “Eh, suami kamu ngajak pulang, Sha.”
Tisha rasanya ingin menghilang seketika. Melihat reaksi itu, Willie hanya tersenyum simpul dengan sedikit jahil. “Ayo.”
Ia membuka pintu penumpang untuknya. Tisha akhirnya melangkah pelan, masih menunduk dengan wajah memerah.
Sementara teman-temannya berdiri terpaku, saling pandang.
“Gila…” bisik salah satu.
“Suaminya seperti CEO di drama,” timpal yang lain.
Tisha mendengar semuanya sebelum pintu tertutup. Begitu mobil berjalan, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, malu setengah mati.
Willie cuma tersenyum samar sembari melajukan mobil. Di kepalanya, terpikirkan tentang nama-nama pelaku pelecehan Lestari adalah para pemuda dari kampus yang sama.
Dan melihat betapa cantiknya Tisha di lingkungan itu, tidak heran hatinya mendadak lebih ingin menjaganya.
Di dalam mobil terasa hening. Tisha menunduk, kedua jarinya tak sadar memainkan ujung blousenya. Wajahnya masih memerah karena malu, canggung dan kesal. Willie melirik sekilas. Ia mengibaskan tangan di depan wajah Tisha sekadar memastikan.
Tisha terkejut kecil. “A-apa?” tanyanya spontan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Willie.
Tisha mengangkat wajah pelan. Tatapannya datar dan lurus. “Pak Willie, saya mohon jangan seperti itu lagi.”
Alis Willie terangkat. “Huh? Kenapa? Apa itu salah?”
“Ya. Itu salah besar. Anda tidak perlu berakting seperti itu di depan orang-orang.”
Willie memandangnya lama. “Aku hanya ingin...”
Tisha memotong perkataan Willie. “Ini untuk pertama dan terakhir kalinya.”
Willie terdiam. Kata-kata itu seperti jatuh berat di dadanya.
“Kenapa kau tidak suka? Apa aku memalukan?”
Tisha mengangguk. “Iya. Itu memalukan sekali.”
Willie tersentak hampir tak percaya. Ia menatap jalan lagi tapi pikirannya ke mana-mana. Ia ingat jelas, Vira dulu justru berseri-seri bila dipanggil sayang di depan umum. Bahkan bangga ketika ia muncul menjemput.
Niat tadi sebenarnya sederhana, hanya untuk menjaga Tisha sekaligus sedikit menunjukkan bahwa ia punya suami, supaya orang lain berpikir dua kali bila hendak menganggunya.
Tapi ia salah langkah. Ini bukanlah Vira. Ini Tisha, perempuan yang tidak suka menjadi sorotan dan tidak suka hal-hal berlebihan.
Willie menggenggam setir lebih kuat, berdeham kecil untuk menutupi rasa canggungnya sendiri.
“Baik. Maaf.” ucapnya singkat.
Tisha hanya menunduk lagi. Sebenarnya ia tidak marah. Hanya tidak ingin diperlakukan seperti begitu. Willie merasa benar-benar gagal membaca perasaan seseorang.
Setelah percakapan itu, tidak ada satu kata pun yang keluar dari keduanya. Hanya suara mesin mobil yang mengisi perjalanan pulang.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Tisha membuka pintu tanpa menunggu Willie. Ia turun cepat, seolah ingin segera mengalihkan perasaannya.
Ia melangkah masuk ke rumah, suara kecil yang ceria langsung terdengar.
“Ibu!”
Alia berlari kecil menghampiri. Dalam sekejap, ekspresi Tisha berubah total menjadi hangat, manis dan lembut. Tidak ada sisa ketegangan atau datar dingin yang tadi ia tunjukkan di dalam mobil.
“Iya, sayang,” jawab Tisha sambil berjongkok dan memeluk Alia erat.
Willie yang baru masuk ke teras, berhenti di ambang pintu. Ia mengedip pelan, seolah tak yakin melihat transformasi itu.
Beberapa menit lalu, Tisha begitu tegas, dingin, bahkan menakutkan.Sekarang lembut seperti matahari pagi.
Willie menyandarkan satu tangan di kusen pintu, menatap keduanya.
“Dia benar-benar tidak bisa ditebak, atau jangan-jangan ia tak sesuka itu padaku?" gumamnya dalam hati.
Dan anehnya, bukannya kesal ia justru merasa semakin penasaran. Willie segera masuk ke kamarnya. Setelah mandi, ia keluar dengan handuk melilit di pinggang. Ia berhenti di depan cermin, menatap pantulan dirinya.
Ia masih kepikiran dengan sikap Tisha tadi, harga dirinya jatuh begitu saja di depan gadis itu. Ia mengerutkan alis, memperhatikan wajah dan postur tubuhnya sambil mengembuskan napas pendek.
“Mengapa Tisha sekesal itu tadi, apa aku terlihat jelek?” gumamnya setengah heran.
“Tapi tadi teman-temannya bilang aku seperti CEO.”
Willie terkekeh tertawa sendiri. “Yah, mungkin itu. Dia tidak suka penampilan CEO, seleranya pasti sangat jelek." gumamnya
Tawanya terhenti perlahan. Senyum itu turun, berganti datar dan kosong. Ia membungkuk membuka laci meja samping tempat tidurnya, mengambil bingkai kecil foto pernikahan mereka.
Wajah Tisha di foto tampak canggung, sedangkan dirinya terlihat terlalu tegang. Ia menatap foto itu lama.
“Tisha, aku juga tidak menyukaimu.” gumamnya tajam pada foto itu.
Kalimat itu seperti keluar lebih dingin daripada niatnya. Namun ia tetap menatap foto itu tanpa goyah.
“Aku melakukan semua ini hanya karena ingin melindungimu.”
Ia meletakkan kembali bingkai itu ke dalam laci dengan sedikit lebih keras, lalu menutup laci itu.
Willie berdiri tegak, wajahnya kembali datar, matanya meredup menahan emosi.
“Baiklah,” ucapnya singkat.
“Aku tidak akan memedulikanmu lagi. Terserah kau mau apa.”
Setelah makan malam, Tisha menemani Alia belajar berhitung di kamar gadis kecil itu. Suara lembut Tisha terdengar samar ketika ia membantu Alia menyusun angka-angka.
Sementara itu, Willie berdiri di ambang pintu beberapa detik, memperhatikan pemandangan itu tanpa mereka sadari. Tisha duduk bersila di karpet, wajahnya serius namun hangat saat membimbing Alia.
Dari tadi Willie memang berbicara hanya pada Alia. Dan diam-diam, ia melirik ke arah Tisha, mencoba mencari reaksi. Tetapi Tisha sama sekali tidak menoleh, tidak peduli, bahkan tidak sadar ia sedang diamati.
Willie mengembuskan napas pendek, miringkan kepalanya sedikit. “Oke, Akan kuturuti permainanmu.” batinnya dingin.
Ia berbalik, melangkah menuju ruang tengah. Dengan sengaja ia menyalakan televisi dan menaikkan volumenya lebih keras dari batas toleransi biasanya. Nada bising itu sengaja ia gunakan untuk memancing kekesalan Tisha.
Namun yang terjadi justru jauh dari dugaan. Tidak ada omelan, teguran bahkan tidak ada tatapan marah.
Tisha hanya berdiri, menutup pintu kamar Alia dengan tenang, lalu kembali mengajar seperti tidak terjadi apa-apa. Seolah suara TV itu bukan masalah.
Willie memicingkan mata, bingung sekaligus kesal. Bi Ratih yang sedang berberes di dapur ikut menoleh. Tatapannya kepada Willie sedikit heran.
Setahunya, tuannya itu sangat tidak suka suara berisik. Namun malam ini, pria itu justru menaikkan suara TV seperti seseorang yang sengaja memancing pertengkaran. Namun ia tidak berkomentar apa-apa.
Willie duduk di sofa, melempar remote ke samping, dan mencondongkan tubuh ke depan dengan rahang mengeras. Cara Tisha diam ternyata lebih menusuk daripada kemarahannya.