NovelToon NovelToon
Tolong Nikahi Aku, Paman !

Tolong Nikahi Aku, Paman !

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Black moonlight

Shanna Viarsa Darmawan melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan kehormatannya pada Rivan Andrea Wiratama. Kepercayaannya yang begitu besar setelah tiga tahun berpacaran berakhir dengan pengkhianatan. Rivan meninggalkannya begitu saja, memaksa Shanna menanggung segalanya seorang diri. Namun, di balik luka itu, takdir justru mempertemukannya dengan Damian Alexander Wiratama—paman Rivan, adik kandung dari ibu Rivan, Mega Wiratama.

Di tengah keputusasaan, Damian menjadi satu-satunya harapan Shanna untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi apa yang akan ia temui? Uluran tangan, atau justru penolakan yang semakin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kali Ketiga

Rivan selalu memperlakukan Shanna seperti seorang putri. Apa pun yang Shanna inginkan—atau bahkan yang tak pernah terpikir olehnya—Rivan berikan tanpa ragu.

Barang-barang mewah, makanan favorit, hingga uang bulanan, semuanya mengalir tanpa diminta. Membuat Shanna semakin sulit untuk menolak kehadiran Rivan dalam hidupnya.

"Sayang, aku udah transfer buat jajan bulan ini." Suara Rivan terdengar dari seberang telepon.

"Van, gak perlu. Aku gak enak terus-terusan nerima ini."

"Shanna, jangan nolak apa yang aku kasih. Kalau kamu bisa ngasih hidup kamu buat aku, aku juga harus ngasih segala yang aku punya buat kamu."

Shanna menggigit bibir. Entah kenapa, semakin lama, hubungan ini terasa seperti transaksi.

"Kenapa kesannya kayak… kamu bayar buat tubuh aku, Van?" ucapnya pelan, ragu-ragu.

Sejenak, keheningan mengisi percakapan mereka sebelum Rivan menjawab, suaranya tetap tenang.

"Shanna, aku gak gitu. Kalau cuma itu yang aku mau, aku gak bakal peduli hal lain tentang kamu. Kamu sakit, aku yang ngerawat. Kamu lapar, aku anterin makanan. Kamu ujian, aku temenin belajar. Kamu bad mood, aku hibur. Kalau aku cuma nganggep hubungan kita transaksional, apa aku bakal lakuin semua itu?"

Shanna terdiam. Ada benarnya. Rivan bukan hanya memberi materi, tapi juga perhatian yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain.

"Aku cinta sama kamu, Shan. Salah satu cara aku nunjukin perasaan ya dengan ini. Tapi bukan cuma itu, kan?"

Shanna menghela napas, merasa bersalah atas prasangkanya sendiri. "Iya, Van. Maaf, aku gak seharusnya mikir kayak gitu."

Senyum terdengar dari suara Rivan. "Udah, jangan dipikirin lagi. Nanti aku jemput, ya? Kabari kalau kelas kamu udah selesai."

Sore harinya, Shanna berdiri di depan gerbang kampus, menunggu Rivan. Tak butuh waktu lama sebelum mobil sportnya berhenti di hadapannya. Rivan keluar, tampak rapi seperti biasa, dengan senyum khasnya.

"Nunggu lama?" tanyanya begitu Shanna masuk ke dalam mobil.

"Enggak, baru lima menit."

"Syukurlah." Rivan melajukan mobil, lalu menambahkan, "Pulangnya ke apartemen aku aja, ya?"

Shanna melirik ke arahnya. "Mau ngapain?"

Rivan tertawa kecil. "Gak ngapa-ngapain. Lagian, aku juga kehabisan pengaman kalau mau ngapa-ngapain kamu, hehe."

Shanna mendengus pelan. "Tapi serius, kan? Gak ada maksud lain?"

"Serius. Aku cuma mau ngerjain tugas, temenin aku, ya? Kita makan malam bareng juga."

Tak ada alasan untuk menolak. Lagipula, Shanna memang belum ingin pulang.

Langit mulai gelap ketika mereka tiba di apartemen. Setelah memesan makanan dan makan bersama, Rivan langsung tenggelam dalam tugas-tugasnya.

Sementara itu, Shanna hanya duduk di sofa, merasa sedikit bosan.

"Kalau kamu BT, ini ada snack sama minuman. Terus aku udah langganan Netflix, jadi kamu bisa nonton apa aja." Rivan menaruh setumpuk camilan di meja dan menyerahkan remote TV padanya.

Shanna tersenyum kecil. "Makasih, Van."

"Aku yang harusnya makasih. Kamu udah mau nemenin aku." Rivan mengecup keningnya sekilas sebelum kembali fokus ke laptopnya.

Shanna memperhatikannya sebentar. Saat Rivan sudah sibuk dengan tugas, hampir tak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Pukul sebelas malam, Shanna mulai menguap.

"Ngantuk?" tanya Rivan, meliriknya sekilas.

Shanna mengangguk.

"Nginep di sini aja, ya? Bilang ke ayah sama ibu kamu kalau kamu nginep di rumah temen buat ngerjain tugas."

Bukan pertama kalinya Shanna menginap di apartemen Rivan. Orang tuanya pun tak pernah curiga, sudah terlanjur percaya pada Rivan.

Tanpa banyak pikir, ia mengiyakan.

"Pindah ke kamar, yuk. Biar kamu bisa tidur lebih nyaman."

Rivan menyerahkan kaos oversize miliknya. "Bersih-bersih dulu, ya? Habis itu langsung tidur."

Shanna mengambilnya dan masuk ke kamar mandi. Setelah berganti pakaian, ia buru-buru naik ke tempat tidur dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

Beruntung, Rivan masih sibuk dengan laptopnya. Tak ada gelagat aneh darinya.

"Selamat tidur, sayang." Rivan mengecup bibirnya singkat sebelum kembali bekerja.

"Jangan terlalu malam, ya?" ucap Shanna pelan.

"Iya, Shan." Rivan mengusap rambutnya lembut.

Shanna memejamkan mata. Tak butuh waktu lama sebelum ia tertidur.

Saat ia membuka mata, wajah Rivan adalah hal pertama yang dilihatnya. Pria itu tengah menatapnya lekat, dengan tangan melingkar di pinggangnya.

"Pagi, sayang."

Shanna mengerjap pelan. "Pagi, Van. Kamu cepet banget bangun."

Rivan tersenyum kecil. "Lebih tepatnya, aku belum tidur."

Shanna mengernyit. "Kamu serius?"

"Tugasnya baru kelar tadi pas matahari udah mulai naik."

Shanna mendesah, menatapnya dengan sedikit kesal. "Kamu harus istirahat, Van."

Rivan hanya tertawa pelan, lalu menariknya dalam pelukan. "Nanti. Sekarang, aku mau menikmati pagi dulu… sama kamu."

Shanna tak bisa menahan senyumnya. Meski terkadang terasa membingungkan, bersama Rivan selalu terasa… nyaman.

"Nikah sambil kuliah bisa kan Shan?" Tiba tiba saja kata itu keluar dari mulut Rivan. Shanna tak pernah mengira Rivan akan membicarakan hal seserius itu.

"Bisa aja emang kenapa?"

"Aku kayanya gak bisa deh kalau kepisah pisah terus sama kamu. Aku pengennya tiap bangun lihat kamu gini."

"Maksud kamu, kamu pengen nikah Van?" Shanna menelisik.

"Iya Shan, apa yang kita lakuin sehari hari ini juga udah kaya pasangan nikah kan?"

Shanna mengangguk menyadari itu.

"Orangtua aku udah kenal dan percaya sama kamu. Tapi orangtua kamu belum tentu Van."

"Meski aku masih kuliah, aku juga ikut bantu Om Damian di perusahaan, aku punya kerjaan dan penghasilan. Harusnya mereka gak masalah."

"Aku gak ngira kamu seserius ini Van."

"Menurut kamu, aku ngelakuin ini dengan segala resikonya cuman karena aku mau? Engga Shan, aku juga pertimbangin kalau sesuatu terjadi ke kamu. Aku udah siap buat tanggung jawab."

Sungguh ucapan Rivan membuat Shanna terlena, rasa nya keraguan itu lenyap seketika. Perlahan Rivan menelusupkan tangannya masuk ke baju kaos yang Shanna kenakan. Menyentuh bagian bagian sensitif nya dengan lembut.

"Van .. Katanya kamu kehabisan pengaman."

"Tenang Shan, toh aku akan nikahin kamu. Pake atau engga. Aku jamin semuanya aman."

"Tapi Van .." Sebelum Shanna bicara lebih jauh, Rivan membungkam mulut Shanna dengan bibirnya. Memberikan lumatan hangat dan dalam. Tak ada kesempatan untuk Shanna menolak.

Rivan menarik kaos oversize itu dengan mudah, melemparnya sembarang. Shanna sudah terlihat polos, hanya di tutupi selimut yang menggulung mereka.

Shanna sudah terbuai dengan kata kata manis Rivan, hingga dirinya hanya mengikuti ritme permainan tanpa berpikir panjang lagi tentang apa yang akan terjadi kedepannya.

Rivan meremas, menyesap, mengecap menikmati setiap inci bagian tubuh Shanna, membuat Shanna semakin tak berdaya hanya bisa mencengkram punggung Rivan menyalurkan kenikmatan yang dirasakannya.

"Ke atas sayang." Rivan menarik Shanna ke pangkuannya.

Dengan arahan dari Rivan, Shanna bisa melakukannya. Mereka menggunakan berbagai cara dan posisi hingga akhirnya sama sama mendapatkan kepuasan.

Sudah terhitung kali ketiga mereka melakukannya dalam enam bulan terakhir. Jika di pikir, Rivan memang tidak terlalu terobsesi pada sek*s. Rivan hanya melakukannya saat sudah benar benar tak mampu menahannya. Itu lah yang membuat Shanna semakin yakin bahwa Rivan tidak sekedar menginginkan tubuhnya.

1
Lina
di sini yg paling sakit Damian ,yg banyak berkorban ,jngn lah senan kembali pada Riva othor
Dian Fitriana
up
Risma Waty
Keep strong Shan...
Risma Waty
Nemu istilah kedokteran yg baru nih ..
Elza Febriati
Laaaa koq kesannya seperti damian yg keras nikahin dia, 😩 rada2 ngelunjak, semestinya banyak2 sadar diri,, dan mengambil hati damian,! Lucuuuuuu
Narata: Iyaaa ya damian duluan yang bucin wkwk karena damian udah suku duluan gasiii dari pas ketemu di kampus
total 1 replies
Dian Fitriana
update
Narata: ok kak jam 00 yaa
total 1 replies
Risma Waty
Kasihan juga sih dgn Rivan.. bukan keinginannya ninggalin Shanan. Dia dipaksa dan dibawa kabur bapaknya ke luar negeri. Rivan kan janji akan kembali menjemput Shanan. Semiga Damian ntar mengembalikan Shanan ke Rivan krn bagaimanapun anak yg dikandung Shanan adalah anaknya Rivan, otomatis cucunya Damian.
Narata: Iya sih kasihan .. Yang jahat di cerita ini adalah takdir mereka. hikss🥹
total 1 replies
Dian Fitriana
up LG thor
Dian Fitriana
update
fran
klu up yg bnyk dong .., krn klu kelamaan jd membosankan
Narata: hi kak fran, nanti author up jam 12 ya kak
total 1 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto
menarik
Narata
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!