Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Baru saja sampai rumah, Maula langsung mendapat tatapan sinis dari Wina.
Wanita setengah baya itu merasa kalau Maula sudah seenaknya sendiri pulang pergi sesuka hati, membuatnya semakin benci pada anak dari suaminya.
"Kenapa bu?" Tanya Maula saat mendapati Wina tak mengedipkan mata ketika menatapnya.
"Jam segini sudah pulang? Kamu nggak kerja?"
"Enggak" Maula melangkah begitu cueknya.
"Eh, kamu benar-benar nggak sopan, ya? Setelah tadi pagi kamu main pergi saja, dan sekarang mau langsung tidur? Enak saja! Tuh, piring bekas ayah kamu makan belum di cuci"
"Kenapa ibu nggak suruh Naomi?"
"Naomi capek"
"Aku juga capek bu"
"Kamu capek memangnya seharian ngapain? Kamu baru saja bilang kalau kamu nggak kerja, iya kan? Terus capek ngapain?"
Menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan kasar. Maula lantas berjalan ke arah dapur hendak mencuci piring.
"Setelah cuci piring, temui ibu di ruang tv. Ibu mau bicara"
Maula sontak berbalik. "Mau bicara apa?"
"Cuci piring dulu, sekalian dapurnya di bersihin, tadi ibu belum sempat bersihin"
Lagi lagi Maula menyentakkan napas kasar. Bertahun-tahun dirinya di jadikan pembantu dan juga mesin uang oleh ibu tirinya.
Sedikitpun dia tak pernah mengeluh ataupun membantah perintah Wina. Tapi kali ini kesabaran Maula sudah tidak bisa ia tolerir, dia sudah bulat akan keluar dari rumah ini dalam satu atau dua hari lagi.
"Apa ibu tidak bisa membersihkannya sendiri? Atau Naomi? Apa dia hanya bisa menghabiskan uangku saja?"
"Hei, Maula! Jaga mulut kamu!"
"Selama ini aku sudah menjaga mulutku dengan baik, tidak pernah membangkang, ataupun membalas perlakuan buruk ibu, tapi ibu dan anak ibu selalu meremehkanku, sekarang tidak lagi. Bukan aku yang menurut apa kata ibu, tapi ibu yang harus menurut padaku"
"Kamu bilang apa?" Tanya Wina seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ibu harus menurut padaku" Jawab Maula, dengan nada tegas.
Wina tersenyum smirk.
"Jangan coba-coba melawanku, Maula!"
"Kenapa?" Mata Maula kian memerah.
"Makin berani kamu, ya?"
"Dan ibu makin menggila"
"KAMU!" Amarah Wina meningkat. Dia yang tadinya duduk, langsung bangkit dengan dada naik turun menahan marah.
"Aku apa? Ibu bisa pergi dari sini jika tidak menurut padaku"
"Aku? Pergi dari sini" Sudut bibir Wina terangkat penuh angkuh."Ini memang rumah ayahmu, tapi sudah di serahkan padaku, jadi jelas siapa yang berkuasa di sini"
"Okay! Aku bisa pergi dari sini jika ibu tidak menurut padaku"
"Oh, jadi gini balasan kamu pada orang yang telah merawatmu dan membesarkanmu, Maula!"
"Jangan pura-pura lupa, bu! Selama ini aku sudah membantu keuangan ibu, membantu menyekolahkan anak kesayangan ibu dari mulai dia SMA hingga kuliah, aku yang mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari rumah ini. Bayar listrik, bayar air, bayar cicilan motor Naomi, aku yang_"
"Sombong kamu ya, Maula!"
"Bukannya aku sombong, bu. Aku hanya mengingatkan kalau aku sudah menjadi anak baik untukmu, tapi apa yang ibu lakukan padaku? Kalian meremehkanku, menyepelekanku, dan parahnya kalian memanfaatkanku"
Wina terdiam, tak mampu membalas ucapan Maula. Sejujurnya tidak ingin Maula pergi dari rumahnya, akan tetapi melihat wajah Maula, kebencian Wina justru semakin mendarah daging.
Apalagi jika teringat kalau mendiang Zazkia selalu lebih unggul darinya, bahkan Yudi pun memilih Zaskia di banding dirinya.
"Kalau ibu baik padaku, aku akan baik pada ibu" Kata Maula, nadanya tak seketus sebelumnya. "Selama ini aku sudah sabar menerima sikap ibu, tapi makin hari ibu makin tak terkendali. Aku bisa pergi dari sini jika ibu menginginkannya, ibu bisa bebas bisa hidup tenang tanpa aku di rumah ini"
"Banyak omong kamu!" Tatapan Wina kian tajam. Bertahan sampai lima detik, sebelum kemudian dia beranjak dari hadapan Maula.
"Astagfirullah" Lirih Maula, mengusap wajahnya pelan usai kepergian Wina.
Ia lantas berbalik untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terjeda menuju dapur.
***
Paginya, beberapa warga berkumpul di depan rumah Maula. Mereka kompak berteriak penuh emosi memanggil nama Maula agar secepatnya keluar.
Maula sudah bisa mengira kalau Jamal pasti sudah memberitahu tetangganya yang lain.
Sementara Wina, Yudi, dan juga Naomi saling tatap karena keheranan.
Hatinya bertanya-tanya kenapa mereka berteriak dengan sangat marah.
Melihat Maula keluar dari kamar, tiga pasang mata itu langsung tertuju ke wajah Maula.
"Kenapa mereka memanggilmu sambil marah-marah begitu, La?" Tanya Yudi.
"Nggak tahu, yah"
"Kamu nggak bikin onar kan?" Itu pertanyaan Wina, dengan sepasang mata tajamnya.
"MAULA, KELUAR KAMU! JELASKAN SEJELAS-JELASNYA APA YANG SUDAH JAMAL LIHAT DI HOTEL!"
"Apa yang Jamal lihat, Maula?" Tanya Yudi lagi.
"Bukan apa-apa, yah. Ayah tetap di sini, biar Maula yang hadapi mereka"
"Hati-hati"
"Iya, yah" Maula melangkah, seraya menyusun kalimat untuk menjelaskan apa yang Jamal lihat tadi malam.
Tak butuh waktu lama, Maula sudah berdiri di hadapan beberapa orang yang wajahnya merah padam.
"Sejak kapan kamu jadi pelacur, Maula?" Tanya salah satu warga.
"Apa maksud ibu?"
"Ckckk.. Jangan pura-pura bego, Maula. Kamu menginap di hotel bersama seorang pria, kan?"
"Jamal yang sudah salah paham, bu!"
"Salah paham gimana? Jelas-jelas kamu sedang tidur di hotel"
"Jangan asal menuduh tanpa bukti bu, ibu bisa kena pasal karena sudah memfitnahku"
"Kami punya bukti, dan pria itu sendiri yang sudah memberikan buktinya pada Jamal"
Mendengar kalimat salah satu tetangganya, Maula menelan ludahnya dengan kasar.
Benar-benar tak paham dengan bukti yang mereka maksud.
"Apa buktinya, bu?" Tanya Maula setenang mungkin.
"Bu RT, tunjukkan buktinya, bu!" Perintah warga yang lain.
Ibu berbaju pink pun memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Maula.
Maula membatu melihat foto dirinya tengah tertidur pulas. Tubunya memang tertutup selimut, namun hanya batas dada ke bawah.
Foto itu di ambil di pagi hari. Jelas pria itulah yang sudah mengambilnya dan memperlihatkan pada Jamal.
"Kamu nggak mengelak Maula, yang di foto itu benar kamu, kan?"
Tentu saha Maula tak sanggup menjawab.
"Udah bu, pak, nggak usah berbelit-belit, usir aja Maula dari sini, kita nggak sudi ada pelacur tinggal di kompleks sini, nanti kita bisa ikut kena azabnya"
"Ya, lebih baik kamu keluar dari kampung ini, Maula, kalau tidak kami akan melaporkanmu ke polisi"
"Kita tunggu sampai sore ini, jika kamu belum juga pergi, terpaksa kita akan melaporkan tindakanmu ke kepala desa" Kata warga lainnya.
Dalam hati, Maula menyimpan marah pada pria yang merenggut keperawanannya. Kurang ajar dan lancang, hanya karena Maula tidak mau melayaninya, pria itu dengan berani menyebarkan privasinya.
"
sama aku pun juga
next Thor.... semakin penasaran ini
maaf kalo suuzon ya Rin
abisnya kamu jahat seh