"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ontong Pisang Emas
"Aki jangan pergi!" cegah si Nenek sesenggukan.
Si Nenek masih saja menangis tersedu-sedu. Deraian air matanya yang terus mengalir membasahi baju si Kakek. Bahkan ingus yang sesekali ia serot turut menempel di sana. Kedua cairan berbeda jenis yang berasal dari lubang berbeda itu berbaur menjadi satu, membuat area basah menyebar dengan lebih cepat.
"Nini, Nini!" ucap si Kakek seraya menepuk-nepuk punggung si Nenek dengan pelan.
Si Nenek masih memejamkan mata, enggan untuk melepaskan pelukannya dari si Kakek. Bahkan si Nenek semakin mengencangkan pelukannya pada kakek yang duduk di sebelahnya.
"Aadudududuh, Nini!" pekik si Kakek saat pelukan erat si Nenek yang melingkar di pinggangnya berangsur menjadi sangat erat dari detik ke detik.
Perut si Aki yang mulai keruyukan lagi pun terasa semakin sengkil karena tekanan kepala si Nenek ke perutnya. Si Kakek pun terus mencoba membangunkan si Nenek. Namun, si Nenek tidak jua terbangun. Si Nenek malah semakin menangis histeris.
"Aki Hua hiks kembalilah Aki hiks! Nini sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Aki," isak si Nenek dalam lelap.
Si Kakek yang tidak tega pun menepuk pipi si Nenek dengan kedua tangannya. Lalu dengan keras ia berteriak, "NINI BANGUN!"
Teriakan itu berhasil membuat si Nenek membuka mata. Pandangan si Nenek bertemu dengan pandangan si Kakek. Senyuman si Nenek mulai mengembang saat melihat wajah normal si Kakek di hadapannya.
"Ini benar Aki, kan? Aki kembali hahaha," ucap si Nenek.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan Aki, hah? Daki?" tanya si Kakek.
Si Nenek hanya tersenyum tipis sembari mengontrol napasnya supaya tidak sesenggukan lagi. Ia memegang tangan hangat si Kakek yang memegang pipinya. Memastikan si Kakek benar-benar masih hidup dengan merasakan kehangatan yang dihantarkan oleh tubuh si Kakek.
"Enak saja Aki disamain sama daki. Memangnya Aki ini kotoran sejelek itu apa?" sambung si Kakek.
"Ih. Bukan begitu. Tadi ontong emas, ontong keluar monyet bayi gigit Aki sampai matititi, ti. Mu-mu-muka Aki jadi da-da-u-un pisang," racau si Nenek mencoba menjelaskan.
Kalimatnya terdengar sangat kacau karena si Nenek belum bisa mengendalikan perasaannya sepenuhnya.
"Hah? Ontong emasnya gigit Aki? Kapan? Orang ontongnya saja dicolong semalem," jelas si Kakek.
"Ta-tapi hari ini sianng otongnya balik terus barusan menggigit Aki, terus Nini buang deh monyetnya," dengan susah payah si Nenek mencoba menyusun kalimat, meskipun otaknya masih kesulitan merangkai kalimat yang baik dan benar setelah kejadian buruk yang ia saksikan.
"Ontong, monyet, err Nini ini ngomong apa sih?" tanya si Kakek.
Si Kakek benar-benar dibuat pusing dengan ucapan tidak jelas si Nenek. Perlahan ia mencoba merangkai ulang kata demi kata yang diucapkan oleh si Nenek, lalu menghubungkan dan memahaminya.
"Hm...jadi, siang hari ini ontong emas kita yang dicolong pulang ke rumah. Terus dari dalam ontong tersebut muncul bayi kera yang menggigit Aki sampai meninggal. Karena itu Nini menangis?" tanya si Kakek memastikan analisanya yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh si Nenek.
"Hahaha. Jadi begitu toh. Aki belum mati kok. Tenang saja, Aki masih hidup, segar, bugar, kekar begini!" sambung si Kakek tertawa terbahak-bahak seraya membusungkan dada dan memukulnya dengan tangannya.
"Itu pasti hanya mimpi Nini. Lagian ya Ni, semalam itu habis kecolongan kita kembali makan di warung. Sepulangnya dari warung Nini ketiduran. Terus Aki bopong saja Nini ke kamar sesampainya di rumah. Karena Aki kasihan sama Nini yang mungkin kecapekan," sambung si Kakek lagi menjelaskan.
"Jadi tadi itu cuma mimpi ?" tanya si Nenek.
"Pasti begitu. Orang dari semalam saja Nini belum bangun. Dan ini masih pagi. Ditambah lagi Aki tidak merasa pernah digigit oleh seekor kera tuh," balas si Kakek cengengesan.
"Oh. Nini nggak lagi mimpi dalam mimpi, kan?" tanya si Nenek yang masih meragukan kenyataan dihadapannya.
Tidak ingin berdebat lebih lama dengan si Nenek, si Kakek pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Hish, Nini ini! Ngomong-ngomong Aki lapar nih, masakin dong!" pinta si Kakek seraya mengelus perutnya.
"Aki mau dimasakin apa?" tanya si Nenek seraya bangun dari pangkuan si Kakek.
"Oseng-oseng ontong," jawab si Kakek seraya menyunggingkan senyum.
"Kita kan nggak punya ontong lagi," kata si Nenek seraya menggelung rambutnya.
"Ada kok di halaman rumah. Tadi Aki lihat. Ontong emasnya juga tumbuh lagi."
Perkataan terakhir si Kakek membuat si Nenek terperanjat dan seketika menoleh ke arah si Kakek.
"Jangan-jangan mimpi Nini itu adalah ramalan masa depan?" kata si Nenek dengan penuh rasa khawatir dan curiga.
"Hish. Nini jangan ngawur lagi deh! Mimpi itu cuma mimpi. Kalau Nini takut, kita nggak usah petik ontong emasnya. Kita petik ontong ungunya saja terus dimasak," ujar si Kakek.
"Oke. Aki langsung petikkan saja ya!" sambungnya lalu beranjak pergi.
*****
Di tempat lain yang berjauhan dari rumah kakek dan nenek. Segerombolan orang berdiri di depan sebuah toko yang masih tertutup rapat. Mereka datang lebih awal agar bisa mendapatkan pelayanan lebih cepat tanpa antri panjang.
Akan tetapi, pada kenyataannya mereka masih harus bersaing dengan orang yang pemikirannya sejalan dengan mereka. Ya. Itulah Toko Emas Akeong. Tempat dimana mereka sedang berkerumun saat ini.
Toko Emas Akeong adalah toko emas yang sudah terkenal mendunia. Toko ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Kualitas yang sangat baik dan kinerjanya yang sangat cepat disukai oleh semua kalangan. Bahkan kalangan bangsawan sekalipun.
Pelayanannya yang ramah tanpa membedakan golongan membuat semua orang merasa nyaman dan suka. Tidak heran bila toko emas ini menjadi toko nomor satu yanng menjadi buah bibir seluruh penjuru dunia.
Tepat pukul delapan pagi. Gerbang toko mulai dibuka. Orang-orang pun berbondong-bondong memasuki toko. Mereka langsung menyerbu mesin generator nomor yang berjajar di samping pintu masuk untuk mengambil nomor antrian.
Para pegawai toko bersiap di posisi masing-masing. Siap menyambut para pelanggan yang antusias dengan kehangatan pelayanan. Mereka yang mendapatkan nomor awal langsung menuju loket yang disediakan. Sementara yang lain menunggu di kursi tunggu yang disediakan.
Kini masing-masing loket pelayanan pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Ini katalog cincin dari toko kami. Silahkan dipilih !" ucap seorang pegawai seraya tersenyum ramah.
Sebuah hologram tiga dimensi muncul di atas meja, memperlihatkan detail perhiasan dengan sangat rinci seperti benda aslinya tanpa cacat sedikit pun. Pelanggan pun bisa menggeser hologram tersebut menuju opsi lainnya dengan sentuhan tangan. Sebuah teknologi virtual yang memanfaatkan fungsi real touch ini benar-benar memanjakan pelanggan.
Terlihat sepasang kekasih sedang sibuk memilih model cincin.
"Hm. Sepertinya ini bagus," ucap si Wanita.
"Baiklah. Kami ambil yang ini saja," ucap si Pria.
"Silahkan masukkan telapak tangan kalian di sini secara bergantian!" ucap si Pegawai seraya menunjuk sebuah kotak di sebelah kiri hologram. Kotak tersebut adalah alat pengukur lingkar jari. Alat tersebut dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi lingkar jari dengan sangat akurat. Sehingga cincin pesanan pelanggan bisa melingkar dengan pas di jari mereka.
Setelah selesai melakukan pengukuran, si Pegawai menekan sebuah tombol untuk mengunci ukuran dan model cincin. Hologram pun menghilang digantikan sekotak cincin yang muncul dari bawah tepat di tempat dimunculkannya hologram sebelumnya. Dirasa puas, mereka pun langsung menyelesaikan administrasi.
Toko ini menggunakan sistem motor yang menghantarkan pesanan dari tempat penyimpanan. Alat pengantar tersebut bergerak terhubung di dalam meja-meja pegawai. Sehingga tidak ada satupun perhiasan yang dipajang di depan toko seperti toko emas pada umumnya. Dengan begitu keamanan pun bisa lebih terjamin.
Waktu semakin berlalu. Dua orang pria yang membawa bungkusan hitam yang cukup besar sampai beberapa kali menjatuhkan kepalanya, tidak kuasa menahan kantuk yang mendera karena terlalu lama menunggu.
"Nomor urut lima lima lima silahkan menuju ke loket tiga!"
Panggilan suara dari intercom itu membuat kedua lelaki pembawa bungkusan itu bernapas lega. Akhirnya giliran mereka pun tiba. Mereka langsung berlari kecil menuju loket yang dimaksud.
Tanpa basa-basi mereka langsung duduk di kursi yang disediakan. Kemudian, salah satu dari mereka menyodorkan bungkusan hitam seraya berkata, "Kami ingin menjual ini."
Si Pegawai pun membuka bungkusan tersebut, mengecek keaslian emas sebelum menimbangnya. Kemudian ia menyuruh mereka untuk menunggu. Dan si Pegawai pun beranjak pergi dari tempatnya sejenak.
"Kita pasti dapat banyak uangg dari penjualan emas sebesar itu," kekeh serakah salah seorang pria.
"Kita kaya mendadak, Bro!" timpal pria lainnya.
Sementara itu, di salah satu sisi ruangan toko yang luas itu terlihat seorang lelaki berusia dua puluh tujuh tahun sedang mengamati jalannya toko.
"Hm. Lancar seperti biasa. Aku bersyukur toko ini bisa maju pesat. Tapi terkadang aku bosan dengan rutinitasku yang monoton. Hm," gumamnya.
Wage Wangsa Waluya itulah namanya. Sang Pendiri sekaligus pemilik toko.
"Os Gege!" panggil seorang pegawai seraya mendekat kepadanya.
Os adalah panggilan bos yang sering digunakan oleh pegawai Gege. Sementara panggilan Gege diambil dari namanya Wage.
"Kenapa kau kemari, bukankah sedang ada pelanggan di tempatmu?" tegur Gege.
Pegawai tersebut pun membisikkan sesuatu ke telinga Gege. Setelah mendengar bisikan itu, tanpa banyak bicara Gege pun berjalan menuju meja pegawai itu diikuti oleh si Pegawai.
Sesampainya di loket tiga, Gege memperhatikan bongkahan emas yang tergeletak di atas meja.
Lalu, dengan penuh selidik ia bertanya, "Tuan-tuan mau apa ke sini?"
"Kami ingin menjual emas kami," jawab salah seorang pria.
" Hm. Apa benar ini milik kalian?" tanya Gege lagi dengan nada ditekankan.
"Tentu saja itu milik kami. Karena itu kami ingin menjualnya," jawab salah seorang pria dengan tenang, karena belum menyadari bahwa dirinya sedang dicurigai.
Sementara rekannya yang menyadari itu langsung menyahut dengan nada menyolot.
"Pelayanan macam apa ini? Buruk. Benar-benar buruk. Tidak apa bila kalian tidak mau membeli emas kami. Kami bisa menjualnya ke toko lain. Tidak perlu menuduh kami sebagai pencuri. Mengecewakan, sungguh mengecewakan!"
Teriakan yang disertai gebrakan meja itu menjadi sorot perhatian semua orang.
"Aku tidak mengatakan bahwa kalian pencuri. Yeah, baguslah kalian sadar," ujar Gege.
Si Pria yang tersulut emosi pun kembali menggebrak meja seraya berdiri.
"Kalian tidak akan pergi ke toko emas lain. Tidak akan pula menjual emas ini kepada orang lain. Karena kalian akan pergi ke penjara," lanjut Gege seraya tersenyum sinis.
Memahami kalimat bosnya itu, si Pegawai pun langsung menekan tombol pemanggil keamanan.
"Sial !" umpat si Pencuri.
Kedua pencuri yang panik itu pun mencoba mengambil bongkahan emas itu kembali, namun Gege menahannya. Gagal meluncurkan aksinya, mereka pun memutuskan untuk langsung kabur.
Naasnya, beberapa petugas keamanan langsung menyergap kedua pencuri itu sebelum mereka berhasil keluar dari toko. Para petugas itu pun langsung menyeret mereka ke kantor polisi setempat.
Setelahnya, diucapkan permintaan maaf atas keributan yang terjadi melalui intercom. Dijelaskan pula penyebab keributan agar pelanggan tidak salah paham.
Begitu semua tenang kembali, Gege pergi dari tempat itu sambil membawa bongkahan emas yang hendak dijual oleh kedua pencuri itu.
"Kek Aki, Kek Aki, ckckckck kok bisa sampai kecolongan sih ?" gumam Gege seraya berjalan menuju ruangannya.
Si Pegawai yang memanggil Gege tadi adalah pegawai yang sama dengan pegawai yang membantu Gege melayani si Kakek dan si Nenek di hari sebelumnya. Karena itu ia bisa mengenali bahwa bongkahan emas itu bukan milik kedua pria tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk melapor kepada bosnya.
"Coba saja kalau mereka tidak menjual ke tempatku, pastii sudah hilang emas ini."
Gege terus saja berbicara sendiri di sepanjang jalan.
"Sekarang aku jadi khawatir apakah kalian baik-baik saja. Hm...mungkin besok pagi saja kukembalikan emas ini ke rumah Kek Aki sekalian berkunjung."
Mari saling mendukung