NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta Naura

Cahaya Cinta Naura

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:301.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: rahma khusnul

Naura Fina Mudya, seorang anak yang diharapkan menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarganya, dipandang telah menorehkan noda bagi orang tuanya, keinginan untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik ternyata dipandang salah oleh lingkungannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Syetan...

HAPPY READING... 🌹🌹🌹

Empat hari berlalu, tak sekalipun dia menampakan wajahnya di hadapanku. Seharusnya aku senang bukan? karena tak perlu repot-repot menghindarinya. Tapi, entah kenapa hatiku justru uring-uringan sendiri merasa ada yang hilang dalam kehidupanku saat ini. Berkali-kali aku mencuri pandang ke arah jendela kamarnya, dimana dia biasa duduk di sana sambil memainkan gitarnya. Namun, aku tak juga menemukan sosoknya.

Rutinitas keseharian ku kembali seperti semula, begitu pun dengan keluargaku. Mereka telah pergi menuju tempat rutinitasnya sehari-hari, dan kini aku sendiri di rumahku.

Setelah selesai menjemur pakaian, kepalaku mendongak, menatap sekilas ke arah jendela kamarnya, namun aku hanya menghela nafas panjang saat lagi-lagi aku kecewa karena tidak menemukan dirinya di sana.

Aku kembali masuk ke dalam rumah untuk menyapu dan membereskan serpihan kain sisa Ibu menjahit pakaian pesanan tetangga semalam di sekitar mesin jahit yang sudah tampak usang. Setelah semua pekerjaan rumahku selesai, aku kembali masuk ke dalam kamarku dan duduk di depan meja belajarku sambil membuka diary ku.

Di tengah aku menulis, aku mendengar seseorang mengucapkan salam dan mengetuk pintu depan rumahku, aku segera bangkit dan menyembulkan kepalaku ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang tanpa melepaskan tanganku dari buku diary ku.

Nampak seorang pria berseragam oranye dengan tas selempang di sana, aku pun berjalan menghampiri pintu depan, dan saat hendak membuka pintu aku baru sadar kalau tanganku masih memegang pulpen dan buku diary ku. Aku segera menyimpannya terlebih dahulu di atas mesin jahit usang milik ibuku yang terletak di samping kursi panjang di ruang televisi.

Aku membuka pintu dan menjawab salam. Pria itu tersenyum ramah sambil memperkenalkan diri sebagai orang yang bertugas mengantar surat dari kelurahan. Dia pun memberikan sebuah amplop berwarna coklat ke arahku. Aku menerimanya, ku perhatikan amplop coklat tersebut sambil membolak-balik nya di tanganku. Di Sana tertera kop surat yang bertuliskan Universitas Negri Yogyakarta, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA).

"Terimakasih, A!" ucapku sambil tersenyum dan membungkuk ke arahnya.

"Sama-sama, Neng! Saya permisi, Assalamualaikum," ucap Pria itu kemudian sambil berlalu dari hadapanku.

"Waalaikum salam," Jawabku, mataku berbinar menatap amplop itu, mengingat nama Universitas yang tertera di amplop ini adalah salah satu nama Universitas yang pernah aku ikuti test ujian masuknya waktu di SMU 4 bulan yang lalu.

Dengan hati berdebar, tangan gemetar dan senyum merekah yang terus tersungging dari bibirku, aku membuka amplop coklat itu sambil berjalan menuju kursi tamu dan mendudukkan diriku di sana, tanpa menutup pintu rumah terlebih dahulu.

Dan saat mataku tertuju pada tulisan bahwa diriku di terima sebagai mahasiswa penerima beasiswa dan mendapat living kost juga, bibirku langsung menganga, seketika mataku mengeluarkan tangis bahagia seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. "MasyaAlloh, Walhamdulillah..." Ucapku seraya menjatuhkan amplop itu lantas diriku ambruk di lantai rumahku tenggelam dalam sujud syukur sambil sesenggukan, mengeluarkan rasa bahagiaku.

Ku angkat kembali kepalaku, sambil duduk bersimpuh, ku raih amplop coklat yang tergeletak di sampingku, aku pun memeluknya di dadaku dengan senyuman yang terus tersungging membayangkan kebahagiaan Bapak dan Ibuku saat aku memberitahu mereka tentang berita bahagia ini nanti.

"Ekhem...," Terdengar suara deheman seseorang dari arah pintu yang terbuka, Aku menoleh ke arah sumber suara, mulutku ternganga karena ternyata Kak Galih sedang berdiri tegap diambang pintu sambil menatap ke arahku.

Aku segera bangkit dan mengusap air mata bahagiaku dengan kerudung instan yang terjuntai di dadaku, dan aku pun tidak dapat menyembunyikan rasa bahagiaku sehingga ku sunggingkan senyumku ke arahnya.

"Kenapa? seneng banget ampe nangis segala?" tanyanya.

"Oh..., itu..., Aku baru saja dapat surat panggilan dari Universitas," jawabku jujur.

"Dari Jogja?" tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

"Iya," Jawabku sambil menunduk melihat kertas dan amplop di tanganku.

"Coba lihat," Dia mengulurkan telapak tangannya meminta kertas yang ku pegang.

Aku menatapnya sesaat, lalu dengan ragu aku memberikan kertas dari amplop itu kepadanya.

"Wow..., keren...! Selamat ya!" ucapnya kemudian sambil terus membaca tulisan dari surat panggilan itu. "Jadi dong kamu berangkat ke Jogja?"

"InsyaAlloh, Nanti aku bicara dulu dengan Bapak dan Ibu, semoga mereka mengizinkan," ucapku sambil menerima kembali kertas itu dari tangannya, dan memasukannya ke dalam amplop coklat yang masih setia di tanganku.

"Wah..., sepi dong nanti gak ada kamu, La!" ucapnya lagi membuat aku sadar kalau ternyata dia sudah masuk ke dalam rumah, di mana hanya ada aku seorang diri di rumah ini.

"Eh...? Kak Galih mau ngapain kesini?" tanyaku kembali jutek kepadanya.

"Yaelaaaah..., aku kan mau bertamu, suruh duduk kek, kasih minum kek, bukannya di tanya mau ngapain," ucapnya sambil mendudukkan dirinya di kursi tanpa aku persilahkan.

"Idih...! Tamu kok nawar!" ucapku sambil mendelik ke arahnya.

"Udah! simpen dulu gih amplopnya! simpen baik-baik, nanti hilang jadi berabe kan, sekalian ambil minum untuk tamu!" ucapnya seenaknya.

"Yeeeey...," Ledekku kepadanya, namun kakiku tetap berjalan ke kamarku untuk menyimpan amplop berharga ini, lalu aku pun pergi ke dapur hendak mengambilkan minum untuknya.

Selesai membuat teh, aku kembali ke ruang depan, dan saat sampai di pintu ruang depan, langkahku terhenti, tangan yang memegang secangkir teh tiba-tiba gemetar, kakiku kaku tak kuasa untuk melanjutkan langkahku. Hawa panas terasa naik mulai dari kakiku hingga wajahku yang mungkin saat ini sedang sangat memerah karena rasa marah sekaligus malu, dan entah apa lagi yang kurasakan saat ini. Ku lihat dia berbalik menatap tajam ke arahku sambil berdiri dengan tangan memegang buku pribadiku yang masih terbuka dan tak sengaja ku simpan di atas mesin jahit milik ibuku tadi.

Ku simpan cangkir itu di atas meja, lalu berjalan ke arahnya sambil berusaha merebut buku diary ku dari tangannya. "Berikan buku itu!" Perintahku dengan nada marah.

"Tidak!" ucapnya sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Matanya masih tak beralih dari mataku.

"Berikan...!!!" ucapku lagi sambil berjinjit di depan tubuhnya, berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya.

"Tidak!" ucapnya lagi tetap pada posisinya.

"Berikan...!!!, kau tidak berhak membaca buku pribadiku...!!!" ucapku dengan air mata panas yang mulai keluar dari tempatnya karena kesal, tak mampu menjangkau tangan panjang dan tubuh tingginya itu.

"Apa ini?" tanyanya sambil menatapku tajam. "Kenapa kau tidak jujur dengan hatimu? kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?" ucapnya, dengan menatap penuh tanya ke arahku.

Aku semakin frustasi mendengar semua pertanyaannya, tak satu kata pun keluar dari mulutku, aku hanya bisa menangis sesenggukan di hadapannya, untuk mengungkapkan semua perasaanku saat ini, rasa malu, marah, benci, dan entah apa lagi, aku sendiri sulit untuk mengartikan semuanya. Yang pasti saat ini harga diriku benar-benar hilang, aku terasa di telanjangi di hadapannya.

"La...," Panggilnya pelan, saat melihatku hanya tertunduk sambil menangis dalam posisi berdiri tepat di hadapannya. "Kenapa kau tidak jujur padaku? kau tahu? kupikir cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, ku pikir kau itu bagaikan bintang di atas sana yang tak mungkin dapat ku jangkau dengan tanganku. Kau tahu? betapa bahagianya aku saat ini? aku tak menyangka seorang gadis baik-baik, pendiam, cerdas dan solehah sepertimu bisa menyukai pemuda slengean dan bobrok sepertiku. Jika kau memiliki rasa yang sama denganku, lalu kenapa akhir-akhir ini kau menghindar dariku? bukankah itu hanya akan menyakiti hati kita berdua, La?" ucapnya lagi sambil menyimpan buku diary ku di atas meja, lalu kedua tangannya sudah memegang pundakku yang masih tertunduk.

Aku terdiam dan mulai berhenti dari tangisku.

"La...," panggilnya lagi. "Lihat mataku!" ucapnya tiba-tiba, tangannya mengangkat daguku, agar wajahku menghadap ke arahnya, jari telunjuknya mengusap sisa air mata di kedua pipiku. Kini kami saling bertatapan, entah mengapa, pandanganku enggan berpaling sedikitpun dari tatapannya, pandangan kami seakan terkunci untuk beberapa saat.

"La..., tidak kah kau lihat ada banyak cinta di mataku untukmu? kenapa kau menyiksa dirimu dengan menyembunyikan semua ini dariku?" Kakinya melangkah ke arahku, dan aku pun mundur beberapa langkah, tapi dia terus melangkah hingga tubuhku mentok di dinding rumahku.

Tatapan kami terus terkunci, hingga bisikan syetan datang merasuki jiwa dan ragaku, membuatku tak mampu mengendalikan diriku untuk sekedar memalingkan pandanganku dari tatapannya, "Kau tahu, rasaku ini tumbuh seiring berjalannya waktu kebersamaan kita, La! meski rasa kurang percaya diriku terus menahan ku, tapi rasa cintaku padamu terus saja mendorongku untuk ingin selalu bersamamu," dia berhenti sejenak dan menarik nafasnya dengan teratur, "Aku...aku sangat mencintaimu, Naura...Fina...Mudya" bisiknya pelan di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri merasakan hembusan nafas hangatnya di telingaku.

Kini wajah kami sangat dekat, dekat dan semakin dekat hingga hampir tak menyisakan jarak, tubuhku bergetar saat tangan kirinya yang dingin memegang tengkukku, dan tangan kanannya mengangkat daguku, kini hawa nafsuku tak mampu menolak semua yang di lakukannya. Hembusan nafas hangatnya berdesir di wajahku, hingga perlahan aku mulai memejamkan mataku.

"Ola...!!!" tiba-tiba sebuah suara menggelegar terdengar memekik gendang telingaku, Aku tersentak dan langsung membuka mataku.

"Deg...!" jantungku berhenti sejenak menyadari perbuatan syetan yang hampir saja aku lakukan. Sekuat tenaga Aku mendorong tubuhnya yang sudah menempel di tubuhku. Nafasku tersengal di sela ucapan kalimah istighfar yang berkali-kali aku ucapkan sambil terus mengusap-usap wajahku. "Astaghfirullloh...! Astaghfirulloh...! apa yang aku lakukan?" jeritku dalam hati.

Ku lihat dia tersungkur ke lantai karena dorongan ku yang sangat kuat terhadapnya, dia nampak lemas dan tertunduk. Ku alihkan pandanganku pada sesosok tubuh yang berdiri tegak di depan pintu yang terbuka sambil menatapku tajam penuh dengan kekecewaan.

*************************

Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Godaan Syetan akan datang seiring adanya kesempatan, Ola! Jangan biarkan dia tertawa karena berhasil merasuki jiwa-jiwa muda yang sedang labil karena dorongan perasaan kuat yang di sebut Cinta.

Tetap, like, vote, dan komentar ya Readers...

I LOVE YOU ALL... 😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘

By : Rahma Husnul.

1
Rahma Husnul
menarik
@InunAnwar
olla hamidun nich😁
@InunAnwar
aaaa.... mas Azzam,,,, kangen sama kamu mas😅😅
@InunAnwar
waduh kok ikutan grogi😅😅😅😅
@InunAnwar
iya bener itu bunda,,,, saya juga merasakan begitu😁
@InunAnwar
aaaa so sweet 😘😘😘
@InunAnwar
ah Mas Azzam bbrp thn ini sdh menjaga jodohnya Galih😅😅
@InunAnwar
sekarang kepergok ibu😅
@InunAnwar
pasti ini ibunya Galih
@InunAnwar
MasyaAllah, tar ketemu nya Naura n Galih di Tanah Suci kah????,,,, ini yg dinamakan Manusia yg berencana tp Allah SWT lah Yg menentukan....

ya.... siapa jodoh sesungguhnya yg baik utk Naura. jika niat Galih utk memantaskan dirinya, maka disaat sdh pantas Allah pasti mempertemukan mrk ber dua😷
@InunAnwar
jadi bingung mau milih, jd tim Galih atau Azzam 😅😅
@InunAnwar
ah Galih ternyata hadir di acara itu,,,,, huhuhu....
@InunAnwar
haduh ga cuma meleleh, tp bisa sesenggukan 😭😭😭😭
@InunAnwar
ah kannnn... air mata jadi meleleh 😭😭
@InunAnwar
jadi terharu 😂😂
@InunAnwar
nah benerkan itu si "DIA".... 😅😅
@InunAnwar
apakah taufiq ini si "DIA"....... wekaweka 😂😂
@InunAnwar
Galih masih dlm Fase memantaskan diri utk muncul kepermukaan 😅😅
@InunAnwar
ndok????
nduk kali ya thor? , tp ini utk sebutan anak perempuan,
kalau laki² itu kan Le😁
@InunAnwar
haduh serasa naik rollercoaster 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!