Kehidupan Elizah baik-baik saja sampai dia dipertemukan dengan sosok pria bernama Natta. Sebagai seorang gadis lajang pada umumnya Elizah mengidam-idamkan pernikahan mewah megah dan dihadiri banyak orang, tapi takdir berkata lain. Dia harus menikah dengan laki-laki yang tak dia sukai, bahkan hanya pernikahan siri dan juga Elizah harus menerima kenyataan ketika keluarganya membuangnya begitu saja. Menjalani pernikahan atas dasar cinta pun banyak rintangannya apalagi pernikahan tanpa disadari rasa cinta, apakah Elizah akan sanggup bertahan dengan pria yang tak dia suka? sementara di hatinya selama ini sudah terukir nama pria lain yang bahkan sudah berjanji untuk melamarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN PAKSA
🍃🍃🍃
Elizah menatap potret dirinya yang menyedihkan di cermin. Berbalut pakaian serba putih dengan riasan yang terus dibanjiri dengan air matanya. Ia tidak peduli riasan itu luntur ataupun tidak. Sebentar lagi dia akan terpaksa menikah dengan Natta. Pernikahan siri yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya akan menjalani pernikahan seperti itu. Pernikahan mewah megah dan berkesan seumur hidup terkubur dalam-dalam, impiannya bersanding dengan Ali pujaan hatinya sirna sudah. Elizah bahkan sengaja mematikan ponselnya, dia tidak akan sanggup jika Ali sudah mendengar kabar memalukan itu kemudian mengiriminya pesan. Harus menjelaskan bagaimana jika Ali menghubunginya?
Elizah menoleh sebatas ekor mata ketika suara langkah kaki terdengar. Itu adalah Anita dan Hasan, mengajaknya untuk lekas turun karena semuanya sudah siap.
Elizah merasakan kedua kakinya lemas tak bertenaga, ketika dia berdiri, ia hampir terjatuh dan Anita yang membantunya.
“Jangan terus membuat masalah! Selesaikan masalahmu, apa kamu nggak kasihan melihat Abi?” tegas Hasan menegurnya kasar, Elizah menunduk sedih dan Hasan pergi sambil mencak-mencak.
“Sabar, Nak.” Anita hanya mampu mendukung sebatas itu. Bukan Anita tidak percaya kepada Elizah tapi apa yang terjadi juga tidak bisa dia abaikan, apalagi Mirza terus-terusan dipermalukan.
Akhirnya Elizah turun dan Natta yang sudah rapi dengan jas hitam lengkap dengan peci itu terpaku ketika melihat Elizah. Pernikahan paksa ini mungkin bagai penjara bagi Elizah. Tapi Natta sudah memahat janji dalam hatinya untuk bertanggungjawab penuh atas kehidupan Elizah.
Elizah duduk di sebelah Natta dengan lesu, tak terlihat berselera sedikitpun. Sementara Mirza berusaha menguasai diri dari amarah dan kesedihan.
Sampai ijab qobul pun dikumandangkan..
“Saya terima nikahnya Elizah Naura Hayati.....”
Telinga Mirza terasa berdengung mendengar nama anaknya disebut oleh laki-laki yang tidak dia inginkan. Apakah ini mimpi? Melihat tangan kekar bertato yang berjabat tangan dengannya itu membuat rasa tak terima hadir, Mirza merasa semuanya adalah mimpi buruk.
Elizah menitikkan airmata, penghulu mengesahkan pernikahan mereka. Disusul oleh saksi, Elizah tidak menyangka akan mengalami pernikahan sedramatis ini.
Kemudian Natta dan Elizah bergantian menandatangani kertas putih itu. Kini, mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.
🍃🍃🍃🍃
Dua jam setelah pernikahan, Elizah diminta untuk segera pergi. Natta bebas membawanya kemana pun. Mirza mempersilakan tanpa mau banyak bicara, apalagi menanyakan anaknya akan dibawa kemana. Rasa kecewa dan malunya membutakan kasih sayangnya kepada anaknya sendiri. Tapi, Mirza tidak akan pernah tahu bahwa bisa saja di lain waktu dia akan menyesali keputusannya.
Elizah hanya menatap lemari pakaiannya yang terbuka, harus dia bawa yang mana? Dia tidak mau pergi kemana pun.
Sementara Natta, dia sedang berdua dengan Hasan. Hasan sangat ingin meluncurkan bogem mentah ke wajah pria yang ternyata seumuran dengannya itu. Ia sebenarnya belum rela melepaskan Elizah untuk pria seperti Natta.
“Bawa Elizah kemana pun kamu mau. Kamu berhak atas Elizah mulai sekarang, kami sudah tak mau terlibat masalah apa pun lagi.” Hasan berbicara dengan ketus dan Natta hanya diam saja. Hasan kemudian pergi, dan Natta mengurut keningnya.
Usapan lembut di bahunya dari belakang membuat Natta menoleh. Anitta mendatanginya dengan mata yang basah. Wanita paruh baya itu memberikan sekotak perhiasan kepada Natta.
“Bawa ini untuk bekal kalian. Tolong jaga Elizah,” pinta Anita dan Natta merasa tersentuh mendengarnya.
Natta tersenyum lembut.
“Akan saya lakukan. Pasti,” kata Natta tapi dia menolak pemberian Anitta. “Akan saya pastikan Elizah tidak akan kekurangan apa pun.”
Anita tetap khawatir tapi dia juga tidak bisa memaksa. Anita kemudian tersenyum kaku dan meminta Natta lekas menemui Elizah di kamar.
🍃🍃🍃🍃🍃
Ketika Natta memasuki kamar Elizah, dia sudah melihat Elizah berkemas. Natta tak menyangka Elizah bersikap begitu pasrah.
Elizah menoleh, mereka bertatapan.
“Apa kamu berbicara dengan ibuku?” tanya Elizah dan Natta mengangguk. Elizah berdiri, melangkah mendekatinya, “apa Abi membiarkanku tinggal di sini?”
Pertanyaan itu membuat Natta merasa sakit. Seburuk itukah dirinya sampai sudah menikah pun, Elizah enggan pergi bersama dengannya.
“Kita harus tetap pergi....”
Elizah berpaling berjalan mengambil barang-barangnya. Ketika Elizah akan melewatinya, dengan berani Natta menahan dengan meraih tangannya. Secepat kilat Elizah menepis tangan suaminya itu dengan kasar.
“Kita perlu bicara sebentar,” ajak Natta dan Elizah menatapnya kesal.
“Apalagi yang perlu dibahas? Semua orang di sini ingin kita lekas pergi, banyak bicara tidak akan mengubah situasi!” tegas Elizah dan Natta menatap kepergiannya.
🍃🍃🍃🍃
Mirza tidak mau ditemui walaupun hanya untuk sekadar berpamitan. Tapi dia memantau dari balkon saat-saat anak perempuannya dibawa pergi dengan sepeda motor. Hanya berjarak dua meter darinya, Anita memperhatikan dengan berlinang air mata. Sedih ditinggalkan Elizah dan suaminya tidak mau berbicara dengannya. Suaminya diam, memendam dan mengambil keputusan yang membuatnya kecewa.
Menempuh perjalanan 7 jam, 4 kali berhenti tapi keduanya hanya minum saja. Natta menawari Elizah untuk makan tapi Elizah terus menolak dengan kasar. Sepanjang perjalanan, Elizah tidak mengeluarkan suara sebelum Natta memulainya.
Sekarang, Elizah menyapu sekeliling. Melihat tempat asing yang baru dia singgahi. Banyak mata yang menatap ke arahnya dan hal itu membuatnya tak nyaman.
Natta menghentikan motornya di sebuah parkiran rumah susun. Satpam menatapnya dan seolah sudah mengenal lama, Natta tidak didekati untuk ditanyai apa maksud kedatangannya.
Natta mengambil alih dua tas Elizah, menentengnya dan menuntun arah. Elizah mengikuti dari belakang sambil terus mengamati sekitarnya. Sampai Natta berhenti di lantai dua, pintu nomor 19.
“Ini rumah siapa?” tanya Elizah, Natta tersenyum karena pertama kalinya Elizah membuka percakapan dengan sangat lembut.
“Ini rumah kita mulai sekarang,” katanya membuka pintu. Elizah membeku di bibir pintu. Dia benar-benar akan tinggal berdua saja dengan seorang pria? Elizah merinding tak berani menyusul masuk.
Natta mendekat, mengajak Elizah tanpa menyentuh dan akhirnya gadis itu mau. Elizah terlihat begitu waspada ketika Natta menutup pintu. Semakin Elizah masuk, dia terus mengamati seisi ruangan. Langkahnya kian mendekat pada pintu geser menuju balkon, dia menginjakkan kakinya di sana, melihat pesona malam tempat asing dengan seksama.
Natta, sesekali memperhatikan. Takut gadis itu melakukan hal gila saking frustrasinya. Natta kemudian membuka ponsel, dia memesan makanan. Tak lama Elizah kembali dan duduk di sofa.
“Aku akan mandi. Ada dua potong roti di dalam tas kalau kamu lapar,” ucapnya dan Elizah hanya diam.
Ada dua kamar di rumah tersebut. Elizah memasuki salah satunya, dia akan tidur di sana. Sebuah kasur juga sudah tersedia. Elizah tak tahu bahwa kamar itu adalah kamar Natta.
Seusai Natta membersihkan diri. Makanan datang, Natta tidak melihat Elizah di tempatnya tadi duduk.
“Elizah,” panggil pria itu panik. Elizah bisa saja pergi meninggalkannya.
Natta melihat pintu kamarnya yang tadi terbuka sedikit sekarang tertutup rapat. Natta mendekat, memegang handle pintu kemudian memutarnya. Elizah menguncinya dari dalam.
“Elizah,” panggilnya pelan. Mengetuk pintu beberapa kali tapi di dalam, Elizah hanya menangis tak mau menimpali.
Natta mendengar suara tangisan gadis itu sekilas, dia tidak akan memaksa. Natta juga merasa butuh istirahat saat ini. Lelah fisik dan juga pikiran. Apa yang mereka berdua alami tidak mudah diterima begitu saja.
Setelah makan, Elizah tetap tidak mau keluar. Natta pun pergi ke kamar sebelah, kamar tanpa kasur sampai akhirnya dia merebahkan tubuhnya di atas sofa sampai terlelap.
Dua jam berlalu, Elizah yang tak tahan dengan perihnya perut yang belum dia isi itu pun memaksakan diri untuk keluar. Elizah terdiam melihat Natta terlelap di sana, tanpa memakai atasan. Elizah melihat luka pria itu dijahit, terlihat jelas masih basah dan juga bengkak.
“Aku lapar,” pekik Elizah ketika melihat makanan di atas meja. Dia mendekat dan membukanya.
Semangat
Tulisanmu sdh semakin terasah