Wahyudi seorang dokter berusia 30 tahun. memiliki wajah yang tampan dan begitu humoris membuat ia begitu mudah mendapatkan cinta seorang wanita. namun ketika ia menemukan wanita yang sangat di cintai nya. orang tua nya menolak gadis yang sudah menjalin hubungan selama dua tahun tersebut. dan ia di jodohkan dengan dengan seorang dokter muda.
Wahyudi Al Rasid. seorang dokter sepesialis bedah berusia 30 tahun.
Sasa alindra gadis cantik berusia 26 tahun seorang sekretaris di perusahaan sahabnya.
Lely asmira seorang dokter muda berparas cantik berusia 25 tahun.
mampu kah Lely asmira mendapkan hati dokter Wahyu. bagaimana perjuangan cinta Lely asmira dan dokter Wahyudi. bagaimana kah nasip Sasa yang terkubur dalam luka yang dalam. sehingga menutup hati untuk siapapun.
masih adakah harapan untuk sasa bisa bersama lagi dengan dokter Wahyudi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capter 9
tanpa menghiraukan Lely yang mengeluh kesakitan, Wahyudi pergi begitu saja.
Lely turun ke bawah Ia kemudian duduk bergabung di meja makan.
" Ly kangen banget makan ini Tante." Ucapnya saat ia melihat sayur asem favorit nya.
"Kenapa gak Ly masak kalau kepengen resepnya Tante bisa kirim." ucap Marlina sambil memandang Lely Yang ada di depannya
"Nyari bahan nya yang susah Tante ." jawab Lely yang memasukan nasi ke piring nya. ia benar-benar tidak berani untuk memandang Wahyudi yang duduk di depan nya. perut nya juga terasa amat lapar. sejak ia kembali dari Kanada. ia sampai di Indonesia jam 1 siang. ia belum ada makan sama sekali.
menu yang ada di atas meja, semuanya favorit Lely. ayam semur, sambal terasi, ikan bakar gurami, dan rendang. ia makan dengan begitu lahap. ia tampak begitu menikmati makanan nya. tak ada kata-kata yang di keluarkan nya. hingga nasi di piring nya tandas tanpa sisa.
sebenarnya Lely masih ingin nambah nasinya. namun ia begitu malu. kalau harus nambah. porsi awal yang diambilnya cukup banyak.
Lely menghabiskan air mineral yang ada di gelas bening tersebut.
"Ly, Tante dan Om Rudy ingin mengatakan sesuatu." ucap Marlina Ketika mereka sudah selesai makan malam.
" Apa tan?" tanya Lely sambil tersenyum.
" Tante dan Om mau kamu menikah dengan Wahyudi." ucap Marlina.
Lely menelan air ludahnya dengan sangat kasar. Ia begitu belum bisa mempercayai dengan apa yang di degarnya. diam-diam Ia mencoba untuk melihat Wahyudi. pria itu hanya diam tanpa berkata satu katapun. "Mengapa mas Wahyudi tidak menolak. mengapa dia hanya diam. bukan kah ia begitu membenci ly. "pikirnya dalam hati.
"Tante, Ly mau ambil minum dulu." ucapnya saat ia merasa tenggorokan nya yang terasa kering. Ia begitu gugup.
" Duduk saja biar bik Iyem yang ambilkan. " ucap Marlina.
"Bik Iyem, bawak air putih ke sini." suara melengking Marlina mampu di tangkap dengan jelas oleh bik Iyem.
wanita itu langsung datang ketika mendengar suara merdu Marlina memanggil namanya. bik Iyem membawa segelas air dan meletakkan nya di meja yang ada di depan Lely.
Lely meminum air itu tanpa sisa. keringat nya mulai menetes.
"Boleh di ulang lagi Tante?" ucap Lely yang begitu guhup. ia bertanya kembali saat ia sudah mampu untuk menetralkan rasa terkejutnya.
" Tante mau Lely menikah dengan Wahyudi." ucap Marlina.
Lely diam apa ia sedang bermimpi saat ini?
pikirnya kemudian.
Lely memandang Wahyudi dengan ekor matanya. ia tidak berani menatap wajah pria itu secara langsung. " apa mas Wahyudi sudah tau?
apa dia menerima nya? "
pikir Lely saat ia melihat Wahyudi hanya diam tanpa ada penolakan.
"Untuk acara resepsi, Tante yang urus." ucap marlina kemudian tanpa membiarkan Lely memberikan jawaban.
Marlina dan Rudy meninggal kan meja makan tersebut. mereka membiarkan Wahyudi dan Lely berdua di sana.
Wahyudi masih duduk di tempat yang sama, matanya memandang sinis. dari tatapan nya terlihat jelas ia begitu tidak menyukai Lely. Lely sangat tau akan hal itu. namun yang menjadi pertanyaan nya, mengapa Wahyudi tidak menolak."
Wahyudi berdiri dari tempat duduknya.
" Mas. " Lely mencoba untuk berbicara dengan nya.
" Ada apa?" tanya nya
jantung Lely berdetak dengan sangat kuat.
ia tidak menduga bahwa Wahyudi mau menjawab nya.
" Mas apa?"
" Sudah dengarkan apa yang katakan mama?" tanyanya tanpa membiarkan Lely berbicara.
Ia kemudian pergi meninggalkan meja makan tersebut. hanya Lely yang masih duduk di meja makan itu.
*****
Lely mengetuk pintu kamar Marlina, Ia membuka pintu kamar tersebut saat ia mendengar Marlina menjawab dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
Marlina tersenyum melihat Lely yang berada di ambang pintu. iya kemudian menepuk tempat tidur di sebelah nya. Lely datang ke kamar Marlina karena ia mengetahui Rudy berada di dalam ruangan kerja nya.
" Tante." ucap Lely saat duduk di tepi tempat tidur.
"Ada apa sayang?" tanya Marlina.
" Apa keputusan Tante menikahkan Ly dengan mas Wahyudi gak bisa di batalkan Tante?
Lely bertanya dengan sangat berhati-hati
" Kenapa harus di batalkan?" tanya Marlina yang masih terus mengusap rambut Lely yang panjang. ia mengambil sisir rambut yang ada di nankas di samping tempat tidur nya, dan mengambil tali rambut yang ada di atas nankas tersebut.
Marlina duduk di belakang Lely. ia menyisirkan rambut Lely dan kemudian mengikat rambut tersebut ke atas.
" Ly sudah dewasa, tapi masih malas ngikat rambut sendiri. "ucapnya sambil tersenyum melihat wajah cantik gadis itu.
Lely kemudian Tersenyum. " Mas Wahyudi gak suka, apa lagi cinta sama ly Tante. Tante tau seperti apa sikap nya sama Ly. dia begitu benci Ly Tante. " keluh gadis itu dengan tatapan nya yang sendu.
" Ly cintakan sama mas Wahyudi?" tanya Marlina.
Lely menelan air ludahnya. bagaimana mungkin Tante Marlina mengetahuinya?
" I i iya Tante. ta tapi mas Wahyudi gak suka sama Ly Tante. Ly gak mau egois dengan perasaan Ly. ucapnya kemudian.
"Cinta akan datang dan tumbuh di saat nanti kalian sudah menikah." ucap Marlina sambil tersenyum tanganya mengusap pundak Lely.
" Ly tau, bagi Tante kalian berdua adalah harta yang paling berharga bagi Tante, dan Tante ingin memastikan kalian bahagia." ucap Marlina.
Lely masih terlihat ragu akan keputusan Marlina.
pintu kamar itu terbuka mereka melihat siapa yang datang. ternyata Rudy masuk ke dalam kamar tersebut. Ia tersenyum melihat Lely yang duduk di tepi tempat tidur.
" Ada apa?" tanya nya saat ia sudah mendekati tempat tidur.
" Ly cuman mau nanya Masalah pernikahan itu om." jawab Lely.
" Kenapa, bukankah Lely sangat mencintai Wahyudi?" tanya Rudy.
wajah Lely memerah, ia menunduk wajah nya.
" Kelihatan ya om?" tanyanya kemudian.
Rudy Tertawa" kelihatan gak, terbaca iya." jawab Rudy. yang membuat wajah gadis itu semakin memerah dan menundukkan kepalanya.
Rudy Tersenyum melihat gadis tersebut. ia kemudian memeluk gadis tersebut. gadis kecil dulu kini sudah dewasa dan cantik.
" Bukan kah sampai usia mu yang menginjak 25 tahun ini. Ly tetap tidak memiliki pacar?
itu karena Ly hanya mencintai Wahyudi bukan?" ucapan Rudy benar-benar membuat Lely membeku.
Lely tidak mampu menjawab pertanyaan itu. ia hanya diam dan menundukkan kepalanya.
" Om Tante, Ly mau ke kamar. " ucapnya sambil menunjuk ke kamar nya.
Marlina memeluk nya. " Bentar lagi Ly jadi minantu Tante." ucap Marlina yang mengodanya.
*****
Lely duduk di meja belajar yang ada di kemar nya. ia membuka halaman baru di buku diary nya. ia kemudian kembali menulis di buku diary tersebut.
Lely menuliskan apa yang terjadi dengan nya malam ini. dan di akhir kalimat nya ia menulis.
percaya lah Ly akan setia dan selalu bersabar menunggu hingga mas bisa mencapai ly. my love Wahyudi. Lely memberikan emotion Tersenyum.
****
like , komen dan votenya ya reader
terimakasih kasih ya atas dukungan nya. 😊😊😊🙏🙏🙏
maaf baru up