Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bereaksi
Setelah menyelesaikan prosesi pernikahan paksa itu, akhirnya mereka kembali ke kediaman Ming terkecuali Noah dan Zoe.
Mommy Moa sudah menyiapkan hotel untuk mereka berdua walau sempat membuat semua orang terkejut akan apa yang wanita paruh baya cantik itu lakukan.
Tapi, apapun keputusan yang ia buat tak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Apalagi, daddy Zhen selalu mendukung apapun yang istrinya mau.
"Tadi mommy sudah kirimkan makanan. Jangan terlalu lelah dan istirahat yang cukup ya sayang!"
"Iya, mom! Terimakasih," Ucap Zoe menyahut sambungan telepon dari mommy Moa yang sigap menghubungi Zoe ketika sudah sampai ke hotel.
"Baiklah, sayang! Mommy tutup dulu."
"Iya, mom! Selamat malam!"
"Malam juga, kelinci!"
Zoe tersenyum menutup panggilannya. Ternyata sang mommy masih belum lupa permainan mereka saat kecil dulu.
Pandangan Zoe teralihkan ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tadi, Noah lebih dulu membersihkan diri karena Zoe mendapat panggilan dari mommy Moa.
"Aku harap ini keputusan yang tepat," Batin Zoe terus memandang kosong sampai ia tak sadar pintu kamar mandi sudah terbuka.
"Mommy bilang apa?" Suara bass khas laki-laki Noah membuat Zoe tersadar.
Mata Zoe terpaku melihat Noah keluar sudah lengkap memakai kaos lengan pendek dan celana longgar panjang dibawah mata kaki.
Tak lupa handuk kecil di tangannya tergerak mengusap rambut coklat kepirangan milik Noah yang menambah pesona pria tampan itu kian meningkat.
"Zoe?"
"A..iya?" Tanya Zoe tersentak kala Noah sudah berjalan dan berdiri tepat di hadapannya.
Aroma shampo dan sabun yang wangi dari tubuh Noah membuat Zoe betah dan sangat nyaman.
"Tadi mommy bilang apa?"
"Mommy hanya mengingatkan untuk makan dan istirahat, kak!" Jawab Zoe jujur karena memang itulah yang terjadi.
Noah mengangguk dengan pandangan beralih ke atas ranjang. Taburan bunga mawar dan boneka sepasang angsa di atasnya membuat Noah risih dan matanya sakit.
"Pergilah mandi. Pelayan akan datang membersihkan hiasan ini."
"Baik," Jawab Zoe juga tak berharap Noah akan melakukan hal itu padanya malam ini.
Zoe berdiri dan mengangkat sedikit pinggir gaunnya menuju kamar mandi.
"Kau bisa melepas gaunmu?" Tanya Noah melihat Zoe kesusahan berjalan dengan gaun serumit itu.
"Bisa, kak! Hanya melepas resletingnya saja."
"Hm. Kakak akan panggilkan pelayan. Tunggu sebentar!"
Zoe hanya pasrah. Jika di pikir-pikir lagi memang gaun ini cukup rumit apalagi ada beberapa renda di bawah perut yang tersambung dengan bagian punggungnya.
Noah terlihat menelepon staf hotel sedangkan Zoe memilih duduk di depan meja rias seraya melepas pernik-pernik aksesoris di kepala dan telinganya.
"Sudah izin ke sekolah-kan?" Tanya Noah duduk di tepi ranjang seraya memainkan ponselnya.
"Sudah."
"Zoe keberatan jika kita tinggal di apartemen kakak saja?"
Tangan Zoe yang tadi tengah melepas anting di telinganya terhenti.
"Atau mau tinggal di rumah sendiri? Kita tak mungkin tinggal di kediaman lama karena mommy akan selalu mengawasi pernikahan kita."
Zoe mengambil nafas dalam lalu meletakan antingnya di meja rias.
"Zoe ikut keputusan kakak."
"Zoe tak keberatan?" Tanya Noah beralih menatap Zoe hingga mata mereka bertemu dari kaca meja rias.
Zoe tersenyum seperti biasanya seakan ia memang tak merasakan apapun.
"Zoe tidak keberatan sama sekali. Asal dengan kakak Zoe ikut."
Noah terdiam sejenak lalu ia berdiri meletakan ponsel dam handuk kecilnya di atas ranjang dan mendekati Zoe yang masih mempertahankan senyumnya.
"Maafkan kakak karena Zoe jadi terlibat dengan semua ini." Memeggang bahu Zoe lembut.
Keduanya hanya saling menatap dari cermin sampai tangan Zoe terangkat mengusap punggung tangan kanan Noah di bahunya.
"Zoe tak menyesal. Asal semuanya bahagia, Zoe ikut bahagia."
"Katakan jika Zoe merasa tak nyaman, hm?"
Zoe mengangguk membiarkan Noah mengecup lama puncak kepalanya penuh kasih. Bagi Noah ia menyalurkan rasa sayang selayaknya seorang kakak pada adiknya tapi yang di terima Zoe adalah cinta dan sayang antara pria dan wanita.
"Pelayannya masih lama. Kakak akan bantu lepaskan gaunmu!"
Deg..
Wajah Zoe langsung bersemu merah menundukan kepalanya. Maksud Noah tidaklah messum tapi yang di tangkap kepala Zoe itu berbeda.
"Jika menunggu lagi Zoe akan mandi tengah malam dan itu tak baik untuk kesehatan."
"I..iya, kak!" Gumam Zoe berusaha tak menunjukan kegugupannya.
Wajah Noah tetap datar tak menunjukan ekspresi lebih. Ia mengalihkan pandangan ke arah samping sementara tangannya terulur memeggang resleting gaun Zoe.
Suasana yang hening kala tangan Noah bergerak menarik pelan resleting itu ke bawah tapi jari Noah juga tentu akan menyentuh punggung mulus lembut Zoe hingga sang gadis itu menunduk malu karena rasanya begitu geli dan meremangkan bulu kuduknya.
"Sudah."
"T..terimakasih, kak!"
Noah mengangguk. Ia mengambil ponselnya lalu pergi ke balkon tanpa menoleh pada Zoe atau bicara apapun lagi.
"Ya tuham!" Zoe memeggangi kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus.
Jantungnya berdegup kencang dan tak bisa di tahan lagi bagaimana hebohnya di dalam sana.
Padahal, dulu saat masih kecil sampai usianya menginjak 10 tahun, Noah-lah yang memandikan, memakaikan baju bahkan memasak untuk Zoe yang memang sangat manja padanya.
Tapi, sekarang ntah kenapa Zoe merasa respon tubuhnya terhadap sentuhan pria dewasa itu kian menjadi aneh.
"Kenapa punggungnya terasa gemetar bersentuhan dengan jari kakak?! K..kenapa aku jadi begini?" Panik Zoe merasa ia sudah begitu jauh dari kepribadiannya selama ini.
Setelah menenagkan jiwa dan raganya yang bergejolak, barulah Zoe melepaskan semua aksesoris dan menghapus riasannya. Setelah itu, Zoe melepas gaun yang melekat di tubuhnya dan berjalan cepat dengan tubuh full naked ke dalam kamar mandi.
Sementara di balkon sana, Noah terdiam seraya menatap ke arah langit gelap yang di temani taburan bintang dan bulan.
Setelah pernikahan tadi Noah lebih banyak diam. Ia masih memikirkan ucapan Ximen di gedung tadi lalu perkataan uncle Jio yang tadi sempat menemuinya sebelum pergi.
"JAGA SELAGI DIA MASIH ADA DI GENGGAMANMU!"
Sungguh, perkataan itu sangat mengusik Noah. Semua orang begitu serius akan pernikahannya sedangkan Noah tak berniat sama sekali melampaui batas prinsip yang ia buat selama ini.
"Kenapa mereka begitu berharap dengan pernikahan ini?!" Decah Noah benar-benar pusing memikirkannya.
Lama ia berdiri disini sampai 30 menit lamanya. Pelayan yang tadi ia hubungi juga sudah datang dan dengan terpaksa Noah membuka pintu.
"Permisi, tuan!"
"Hm."
Noah membiarkan dua pelayan wanita itu membersihkan hiasan ranjang dan beberapa lilin di ruangan ini. Noah beralih duduk di sofa tak peduli akan tatapan bingung antara dua wanita itu.
"Kenapa di bersihkan?"
"Apa mungkin mereka menikah tanpa dasar cinta?"
Begitulah kira-kira isi kepala keduanya yang akhirnya tak lagi ambil pusing dan bergegas membersihkan ranjang itu.
Setelah semuanya bersih mereka pamit pergi. Noah hanya mengangguk datar tanpa memandang kepergian mereka karena ia fokus pada ponselnya.
Krett..
Suara pintu kamar mandi terbuka. Pandangan Noah terangkat ke arah sumber suara hingga matanya terpaku melihat Zoe keluar menggunakan handuk pendek bahkan menunduk sedikit saja selang**kangannya akan terlihat.
Zoe tampak berjinjit seperti kebiasannya setiap selesai mandi. Zoe belum sadar jika Noah ada di sofa sudut ruangan jadi ia membungkuk mengambil gaun yang tadi ia lepas di dekat kursi meja rias hingga handuk itu terangkat naik menampilkan separuh bokong bulat kencang milik Zoe yang membuat Noah nyaris mimisan.
"Gaunnya berat juga," Gumam Zoe kembali berdiri.
Noah buru-buru bersandar ke sofa pura-pura tidur karena ia tak akan bisa menghadapi Zoe ketika tertangkap melihat hal seperti itu.
Mata Zoe beralih ke arah ranjang yang sudah bersih lalu tak sengaja menangkap keberadaan Noah yang ada di sini.
"Astaga!!" Zoe terperanjat sadar.
Ia memindai handuk yang ada di tubuhnya dimana handuk ini sangat pendek bahkan dada Zoe hanya bisa di tutup setengah.
"U..untung kakak tidur. Aku sangat ceroboh," Gumam Zoe buru-buru mengambil paper-bg yang ada di dekat ranjang lalu kembali masuk ke kamar mandi berganti pakaian.
Mendengar suara pintu tertutup, mata Noah kembali terbuka dan saat itulah wajahnya mulai panas.
"Siall!! Kau tak pantas melihat tubuh adikmu sendiri," Maki Noah tertahan pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya bagian bawahnya bereaksi padahal selama ini tak pernah begitu sensitif.
Jelas tak sensitif karena Noah tak pernah memanfaatkan kedekatannya dengan Zoe. Noah tahu batasan yang harus ia jaga.
...
Vote and like sayang