Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 32
"Tadi nyuruh diam," gumam Lady yang masih enggan menyingkirkan wajah cantiknya dari bantal.
Ace berdecak. Dihampirinya Lady yang sedang merengek di atas kasur sambil memegang sebuah kunci mobil di tangannya.
"Bangun dulu," ucap Ace mendudukkan badannya di sebelah Lady. Lady menggeleng.
"Ngapain bangun? Gue, kan, lagi marah sama lo," ucap Lady.
"Bego, mana ada orang yang lagi marah tapi malah bilang-bilang. Udah, ah. Buruan bangun dulu. Mau kunci mobil nggak?" tawar Ace menunjukkan kunci mobil di tangannya.
Ace berdecak melihat Lady yang langsung berduduk sila di depannya. Kalau soal uang, mobil, harta, cowok ganteng, dan makanan, nih cewek pasti bakal gercep.
"Apaan?" tanya Lady menatap ke arah lain. Tangannya ia lipat di depan dada.
"Nih, gue nggak pelit-pelit amat jadi suami," ucap Ace sambil meletakkan kunci mobilnya ke tangan Lady.
Melihat Lady yang langsung kegirangan, Ace lantas berdecak malas.
"Awas aja lo kalau mobil gue sampai lecet atau kenapa-kenapa," ucap Ace.
Lady mengangguk antusias dan langsung memeluk Ace dengan sangat kencang. "Thanks, ganteng. Kalau gini, kan, lo jadi makin tambah ganteng, nggak sok ganteng lagi kayak tadi."
"Gue kecekek, bego." Ace berusaha menyingkirkan tangan Lady yang malah semakin erat memeluknya.
Ace sedikit tersentak saat Lady menciumi seluruh wajahnya termasuk bibir.
Benar-benar, ya. Cewek kalau dikasih apa yang mereka mau, pasti sikapnya bakal jadi alay dan lebai gini.
*
"Kurk...kurk...sini, Sayang, sama Papa," sahut Atan memanggil David yang sedang bermain-main di pinggir kolam renang rumahnya.
"Keren sih motor baru lo itu," ucap Leon memperhatikan motor baru Ace yang terparkir di halaman rumah Atan.
Saat ini, mereka semua sedang berada di rumah Atan. Sebuah rumah mewah yang terletak di tengah-tengah kompleks elite dan memiliki sebuah kolam renang yang luas di halaman belakang rumahnya.
"Harley Davidson kaya gitu nggak mau lo jual sama gue aja, Es?" tawar Leon dibalas gelengan ogah oleh Ace.
"Belum gue perawanin tuh motor. Enak aja belum gue apa-apain, tapi udah pengen lo embat," jawab Ace ogah-ogahan.
Leon yang tengah bersandar di samping Ace lantas mengangkat acuh bahunya sebelum kembali menatap penuh minat motor baru Ace tersebut.
"BABI!" Teriakan Gaidan tersebut sontak membuat para teman-temannya langsung menoleh dan menatap ke arahnya.
Ace mengernyit saat melihat seekor ular yang ukurannya cukup besar sedang bergelayut manja di kaki Gaidan.
Mungkin rumah Atan bisa dipertanyakan sama Pak RT tentang masalah keamanannya.
"Minggir." Dengan entengnya, Kellan memegang ular tersebut dan kemudian membawanya menjauh dari Gaidan yang sudah hampir kejang-kejang.
Atan cengengesan melihat wajah Gaidan yang menjadi pucat. "Gitu doang kaget."
Gaidan mendengus kesal. "Gitu doang, gitu doang. Kalau jantung gue berubah jadi ginjal ketiga gimana? Lo mau tanggung jawab?"
"Cuman ular doang kali, Dan. Tuh ular nggak bakal bikin lo mati," ujar Ace mengejek Gaidan yang malah semakin kesal.
Bukan nggak bakal mati, tapi belum mati aja. Gimana coba kalau tuh ular tiba-tiba jadi ganas atau bahkan berubah jadi Spiderman? Bisa-bisa Gaidan tewas!
"Adek gue baik-baik aja sama lo, kan?" tanya Leon dengan suara pelannya agar tidak kedengaran oleh yang lain.
Ace menggeleng malas. "Adek lo nyusahin. Mana kerjaannya ngomel-ngomel mulu lagi sambil ngambek kalau nggak dipinjamin mobil."
PUFFT!
Kellan tersentak kaget saat kopi yang diseruput oleh Leon malah terciprat ke lantai. "Kalau masih panas, jangan langsung diminum," kata Kellan geleng-geleng kepala.
"Kaget banget lo kayaknya sampai nyemprot gitu," sindir Ace menghisap rokok di tangannya.
Leon berdecak. "Lo ngomong apa barusan? Serius Lady minjam mobil lo?"
Ace mengangguk malas. "Iya."
Leon menggeleng dan menatap Ace yang terlihat santai. Ia sudah hafal betul bagaimana isi otak Lady. "Lo bakal nyesel minjamin mobil Aston Martin lo ke Lady."
Ace mengernyit. "Kenapa emang?"
"Gue yakin tuh anak bakal keluyuran berdua sama Zena," ujar Leon menyeruput kopinya.
"Kalau cuman buat shopping mah nggak apa-apa," balas Ace terlihat santai. Yang penting, mobilnya kembali ke garasi dengan keadaan utuh.
Leon terkekeh. "Ternyata lo belum paham Lady sepenuhnya."
Ace mengernyit. "Nggak paham gimana maksud lo? Emang dia pergi kemana pakai mobil gue?"
*
Suara musik DJ terdengar menggema menghiasi sebuah club malam yang terletak di pinggir kota.
Puluhan atau bahkan ratusan muda-mudi terlihat sedang asyik-asyiknya menikmati alunan DJ dengan bergoyang di bawah gemerlap lampu diskotik.
Asap rokok, aroma alkohol, serta dentuman musik DJ yang sangat keras, terlihat menjadi satu dan menghiasi seisi club malam ini.
Sementara itu, terlihat 2 gadis cantik yang sedang duduk di depan meja bartender sambil memegang segelas minuman di tangan masing-masing.
"Dy, jangan minum kebanyakan," ujar Zena saat Lady kembali menyesap minuman beralkohol di tangannya.
Lady menepis tangan Zena yang ingin mengambil gelasnya. "Santai aja kali, Zen."
Zena menggeleng dan memperhatikan penampilan Lady yang sudah sedikit linglung. Ingat, ya, Lady itu udah minum banyak alkohol dari tadi. Belum lagi dress gadis itu yang terlalu terbuka sampai membuatnya menjadi pusat perhatian sejak tadi.

"Oh my god. Apaan, sih? Ganggu aja," ujar Lady saat melihat layar handphonenya yang terdapat panggilan masuk dari Ace.
Lady mematikan handphonenya dan memasukkannya ke dalam tas. Masa bodoh sama spam telfon dan juga pesan yang terus-terusan dikirimkan oleh Ace.
"Ke dancefloor, yuk?" ajak Lady, membuat Zena menggeleng. Sok-sokan mau ke dancefloor, padahal cara berdirinya aja udah nggak seimbang.
Zena hanya bisa pasrah saat Lady menyeret tangannya menuju dancefloor.
Lady menjerit heboh dengan tubuhnya yang mulai bergoyang mengikuti musik DJ. Kibasan rambut gadis itu membuat para cowok-cowok di sana tercengang menatapnya.
Dengan wajahnya yang cantik serta bentuk badan yang sangat hot, Lady berhasil menggaet perhatian semua orang malam ini.
Lady berdecak sebal saat lengannya dipegang oleh seseorang. "Tangan lo, sialan!" Lady mencoba menepis tangan kekar itu namun tak bisa.
"Zena, tolongin gue! Ada om-om pedofil yang mau gangguin gue!" teriak Lady. Saking kerasnya musik DJ, suaranya jadi tenggelam dan tidak kedengaran oleh siapapun.
Lady meronta-ronta. Jangan sampai dirinya diculik sama om-om.
"Om. Jangan, Om. Saya masih kecil, Om!" teriak Lady saat pria itu membawanya ke pojokan. Tempat yang sepi dan jauh dari kerumunan.
Zena kemana, sih?!
Seketika Lady tersentak saat orang yang menariknya itu memutar tubuh mungilnya kebelakang hingga mereka berhadapan. Lady dibuat tak berkutik saat melihat sosok pria di depannya ini.
Cowok yang sedang menghisap rokok di depannya ini adalah Ace.
"Lady!" panggil Zena yang berdiri dari kejauhan. Gadis itu terlihat berdiri di pojokan sambil diawasi oleh Leon di belakangnya.
Sorot mata Ace semakin memerah dan tajam saat memandangi penampilan Lady dari atas sampai bawah. Begitu pendek dress hitam cewek itu sampai memamerkan lekukan badannya.
Ace mengepal kedua tangannya dengan rahangnya yang semakin mengeras. "Sialan lo."
"Ace. Gue tadi lupa jalan pulang, makanya nyasar kesini."
"BACOT BANGET LO, SIALAN! SENANG LO PERGI KE TEMPAT GINIAN PAKAI BAJU SEKSI KAYAK GINI?! HAH?! MAU JADI PEREK LO DI SINI?!" bentak Ace dengan emosi. Dentuman musik DJ yang terlalu keras seharusnya tidak akan membuat suaranya sampai ke telinga semua orang.