Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asap di Fiorenza Fashion
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut menembus celah gorden kamar masa kecil Erica di rumah Fiorenza.
Kehangatan sisa malam tadi masih terasa pekat di atas ranjang mungil itu. Erica terbangun lebih awal, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Eshar yang naik-turun secara teratur.
Pria tegap itu masih terlelap, satu tangannya yang kekar dilingkarkan erat di pinggang ramping Erica, yang kini tak lagi membutuhkan topeng dingin seorang jendral atau syarat kontrak dua tahun.
Erica menatap paras tampan suaminya dari jarak dekat. Garis rahangnya yang kokoh dan sisa-sisa tegas militer yang biasa melekat di wajah Eshar kini tampak rileks.
Senyuman mengembang di bibir Erica. Penyatuan mereka semalam bukan hanya menghapus jarak fisik, tetapi juga mematri keyakinan bahwa dirinya tidak lagi berjuang sendirian di Jakarta.
Dengan gerakan pelan, Erica mengurai pelukan Eshar, berhati-hati agar tidak mengusik tidur suaminya yang lelah. Dia menyambar jubah mandi sutranya, merapikan diri, lalu melangkah ke meja rias untuk menyisir rambut hitamnya yang terurai.
Tapi, suasana damai pagi itu tiba-tiba pecah begitu saja ketika dering telepon hitam bergaya putar di meja lorong lantai bawah berbunyi nyaring dan berulang-ulang, memotong sunyinya rumah Fiorenza.
Kring! Kring! Kring!
Erica mengernyitkan dahi. Merasa heran ada yang menelepon Kediaman ayahnya sepagi ini. Erica segera memakai alas kakinya dan berjalan cepat turun ke lantai bawah.
"Hallo? Kediaman Fiorenza di sini," ujar Erica tenang saat mengangkat gagang telepon.
"Nyo-Nyonya Besar! Ini saya, Sindy dari kantor pusat Fiorenza Fashion!" suara bawahannya di ujung telepon terdengar sangat panik, disertai latar belakang suara sirine dan hiruk-pikuk teriakan orang di kejauhan.
"Nyonya, ada kekacauan besar di gudang penyimpanan kain dan studio sampel kita di Tanah Abang! Seseorang... seseorang sengaja membakar dokumen desain dan merusak kain sutra impor persediaan kita pagi ini!"
Mendengar kabar tersebut, raut wajah ceria Erica seketika berubah mengeras. Sorot matanya menjadi sedingin es, tapi mental tegarnya tidak sedikit pun goyah oleh rasa panik.
"Bagaimana dengan para pekerja? Apakah ada korban jiwa?" tanya Erica cepat, memotong kehebohan karyawannya.
"Tidak ada korban jiwa, Nyonya, tapi seluruh arsip paten pola busana baru dan gulungan bahan garmen yang baru dikirim dari perbatasan rusak parah karena air pemadam dan api! Bukan cuma itu, Nyonya... ada perwakilan dari Asosiasi Tekstil dan Polisi Sipil yang baru saja datang membawa surat tuduhan bahwa kita melakukan pelanggaran hak paten desain milik cabang Megantara Corp!"
Erica mengepalkan tangannya di gagang telepon.
"Bianca dan Shofia," bisiknya dalam hati.
Taktik kotor dua wanita itu sangat mudah ditebak. Karena tidak bisa lagi menyentuh Eshar di jalur hukum militer, mereka mencoba melumpuhkan sumber daya finansial dan merusak reputasi nama Fiorenza di dunia bisnis.
"Amankan seluruh area gudang. Jangan biarkan siapa pun menyentuh sisa berkas sampai aku tiba di sana," perintah Erica dengan nada dingin yang tidak dapat dibantah.
"Aku akan ke sana sepuluh menit lagi."
Saat Erica meletakkan gagang telepon, sebuah langkah kaki yang mantap dan tegap terdengar mendekat dari arah tangga.
Eshar berdiri di sana.
Pria itu sudah mengenakan celana bahan dan kemeja hitamnya yang digulung hingga ke siku, mengepalkan jemarinya yang tegap. Telinganya yang tajam telah menangkap seluruh percakapan istrinya di telepon.
"Ulah Bianca?" tanya Eshar singkat, suaranya berat.
Erica mendongak menatap suaminya.
"Ya. Aku tahu, ini trik Bianca. Dengan menggunakan Shofia untuk menyabotase gudang bahan kain dan memalsukan tuduhan hak paten desain di studio Tanah Abang. Mereka ingin mematikan Fiorenza Fashion sebelum tim auditmu menyita beberapa dokumen di Menteng."
Eshar melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Tangan kirinya yang besar terulur, menangkup pipi Erica dengan kelembutan yang terlihat bersamaan dengan aura berbahaya yang mengelilingi tubuhnya.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." bisik Eshar rapat di depan wajah istrinya.
"Aku sudah menduga akan ada hal ini. Menyerang bisnismu di Jakarta sama saja dengan menantang perang terbuka padaku. Aku sudah menempatkan Axelo di sana untuk menyiagakan satu regu Polisi Militer di luar. Aku akan menemanimu ke Tanah Abang."
Dua puluh menit kemudian, dua jip militer hitam membelah kemacetan pagi kawasan pasar Tanah Abang.
Asap tipis masih membubung dari lantai dua bangunan studio dan gudang Fiorenza Fashion.
Beberapa petugas pemadam kebakaran terlihat tampak sedang merapikan selang, sementara kerumunan warga dan pedagang berkumpul di sekitar garis polisi.
Di depan pintu utama studio, tampak tiga orang pria bersetelan jas murah bersama dua polisi pamong praja sedang berkacak pinggang, mencegat para pekerja konveksi Erica yang ketakutan.
"Sudah kami katakan, seluruh aktivitas di bangunan ini ditutup sementara!" seru pria berkacamata yang mengaku sebagai utusan hukum Megantara Corp.
"Kalian telah menyalin secara ilegal desain eksklusif milik Nyonya Bianca Megantara! Mana pimpinan kalian?!"
"Pimpinannya ada di sini," sebuah suara lantang yang begitu mengintimidasi bergaung dari arah belakang kerumunan.
Kerumunan warga seketika terbelah saat Erica Fiorenza melangkah tegap, dibalut blazer krem yang anggun dan kacamata hitam.
Di sampingnya, Jenderal Eshar Megantara berjalan dengan wibawa penuh seorang jendral perbatasan disusul oleh Axelo dan empat prajurit Polisi Militer dengan senjata lengkap yang langsung mengepung area depan studio.
Melihat kedatangan sang Jenderal bersama pasukan bersenjata, utusan hukum Megantara Corp itu seketika menelan ludah dengan susah payah.
Keberanian mereka menciut drastis.
Erica melepaskan kacamata hitamnya, menatap utusan tersebut dengan senyuman manis nan dingin yang sangat memikat sekaligus mengerikan.
"Anda mencari saya?" tanya Erica ramah.
"Tuduhan pelanggaran hak paten desain? Sangat menarik. Mengingat seluruh desain busana Fiorenza Fashion telah saya daftarkan di Departemen Perdagangan atas nama pribadi saya sejak dua tahun lalu, jauh sebelum Bianca Megantara mencoba menyalinnya untuk pameran di Menteng." jelasnya dengan tegas.
"Tapi... tapi Nyonya Bianca memiliki surat hak paten asli yang ditandatangani oleh pejabat kementerian!" kilah pria berkacamata itu, suaranya gemetar.
Axelo melangkah maju dari belakang Eshar, menyodorkan sebuah lembaran telegraf yang baru saja dicetak.
"Maksud Anda, pejabat kementerian yang baru saja ditangkap oleh Tim Pemberantasan Korupsi Kodam Jaya satu jam yang lalu karena menerima suap dokumen palsu dari Shofia dan Bianca Megantara?"
Pria berkacamata itu membelalakkan mata, tubuhnya gemetar hebat.
Eshar melangkah lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit untuk menatap utusan kotor itu dengan mata coklatnya yang sedingin maut.
"Bawakan pesan ini pada Bianca dan Shofia," bisik Eshar, tapi suaranya berat dan menggelegar seperti guruh.
"Jika ingin berbuat jahat, pintar-pintarlah dan jangan membuat celah sedikitpun." kata Eshar dengan tersenyum remeh.
"Oh iya, satu lagi hal yang lebih penting. Percobaan kejahatan dan pembakaran di wilayah hukum ibu kota adalah tindak pidana berat. Dalam waktu 1x24 jam, aku sendiri yang akan memimpin penggeledahan menyeluruh di rumah Menteng dan menyita seluruh aset yang mereka sembunyikan."
Tanpa menunggu balasan lagi, Eshar memberikan isyarat tangan. Para prajurit Polisi Militer segera mengamankan utusan kotor tersebut dan membubarkan kerumunan dengan disiplin.
Erica berbalik menatap studio dan gudangnya yang hanya mengalami kerusakan kecil di bagian depan. Dia sangat berterimakasih atas respon cepat seluruh timnya di Fiorenza Fashion.
Serangan panik dari Bianca dan Shofia ini justru menjadi pemicu yang sempurna bagi mereka untuk segera mengeksekusi serangan pamungkas di kediaman utama Menteng.
"Terima kasih atas bantuanmu, Suamiku." ujar Erica, menatap suaminya dengan binar cinta dan rasa sayang yang semakin membesar.
"Jangan berterima kasih, ini memang sudah kewajibanku, Istriku. " balas Eshar, menggenggam jemari Erica dengan erat di hadapan semua orang.
"Dan sekarang, saatnya kita mempersiapkan diri dan siasat baru untuk menjemput sisa-sisa dosa mereka di Menteng."
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂
tp dtggu pake banget kelanjutan ny yx kak ,,
niat hati mau menjatuhkan ,,
eeeh malah jatuh sendri sejatuh2nya ,,
emnk anda berdua cocok menjadi mertua Dan menantu ,,
😒😒😒😒